Bab 10

712 Words
Pintu tertutup pelan di belakang Eros, meninggalkan Lysandra dalam keheningan yang menyesakkan, ditemani aroma mint dan aftershave Eros. Liontin kunci perak kecil, yang selalu dikenakan Eros, kini terasa dingin dan berat di lehernya—bukan sebagai jimat, melainkan sebagai belenggu simbolis. Kata-kata Eros kembali bergaung di benaknya, "Jangan pernah mencari validasi atau 'perlindungan' dari otoritas luar. Itu bukan hanya tidak efisien, tapi juga sebuah penghinaan terhadap tatanan yang sudah kita miliki." Ia telah menantang Lysandra untuk memilih. Memilih tatanan yang mengikat dan kepastian palsu yang ditawarkan Eros, atau memilih kekacauan yang berpotensi membebaskan di luar kendalinya. Lysandra menatap liontin kunci itu, lalu beralih menyentuh bros kamellia yang tersembunyi di dalam laci. Bros yang melambangkan keunggulan dan kesempurnaan abadi. Ia tidak bisa mundur. Perjodohan dengan Adnan Pramudya adalah harapan terakhir, dan Eros telah menempatkan dirinya sebagai penghalang tak tertembus. Lysandra bangkit. Keputusan sudah dibuat. Melanggar tatanan adalah satu-satunya jalan keluar. Pukul 03.30 pagi. Rumah itu benar-benar gelap, hanya diterangi oleh lampu sensor di lorong utama. Lysandra sudah mengganti pakaiannya menjadi sweater longgar dan celana jeans. Pakaian yang paling tidak mencolok. Ia melangkah keluar dari kamar, bergerak selembut bayangan. Sayap timur, tempat Nenek Hera tinggal, jarang dikunjungi. Itu adalah tempat yang sunyi, penuh dengan artefak antik dan aura kuno yang dihormati. Bahkan Eros, dengan semua arogansinya, menghindari bagian rumah itu. Perjalanan Lysandra terasa seperti menembus garis musuh. Ia harus melewati lorong utama, tangga kayu berderit, dan ruang makan yang gelap. Tempat di mana Eros biasa memasang jebakannya. Setiap langkahnya dipenuhi ketakutan akan ditemukan. Bukan ketakutan pada Ayah atau Ibu, melainkan ketakutan pada Eros. Ia membayangkan Eros muncul dari balik bayangan, matanya menyala, menanyakan mengapa Lysandra menghina tatanan mereka. Ketika Lysandra mencapai pintu yang memisahkan sayap utama dari sayap timur, ia terhenti. Pintu itu adalah pintu baja yang didesain untuk keamanan. Biasanya dikunci. Lysandra teringat kata-kata Eros. "Kunci ini adalah jaminan. Itu berarti, apa pun yang terjadi, kau akan selalu memiliki otoritas dan kepastian yang kuberikan di sini." Dengan tangan gemetar, Lysandra melepaskan liontin kunci perak itu. Liontin itu terasa berat di telapak tangannya. Ia harus menggunakannya. Ia memasukkan kunci itu ke lubang kunci pintu baja. Terdengar bunyi klik yang samar. Pintu itu terbuka. Lysandra terperanjat. Liontin kunci Eros adalah kunci fisik yang membuka pintu rahasia di rumah itu. Eros tidak hanya memberikan simbol, ia memberikan alat kontrol fisik yang sempurna, sambil meyakinkannya bahwa itu hanyalah 'jimat'. Ia telah mengklaim kepemilikan bahkan atas akses fisiknya. Lysandra masuk, menutup pintu di belakangnya, dan mengembalikan kunci ke lehernya. Pengepungan mental Eros jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Sayap timur berbau kayu tua, lavender, dan sejarah. Cahaya di lorong itu sangat redup, hanya berasal dari lampu minyak kuno yang menyala. Lysandra akhirnya sampai di kamar Nenek Hera. Ia mengetuk pintu perlahan. "Masuk," suara Nenek Hera terdengar serak, tetapi jelas, seolah ia sudah menunggunya. Lysandra masuk. Kamar Nenek Hera dihiasi dengan kekayaan yang kuno, bukan kemewahan modern. Nenek Hera duduk di kursi beludru tinggi di dekat jendela, memegang cangkir teh porselen. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Lysandra. "Aku tahu kau akan datang, Lysandra," kata Nenek Hera tanpa basa-basi. "Dan aku tahu siapa yang mengirimmu." Lysandra terkejut. "Nenek Hera ... Aku ...." "Circe. Istri yang malang dan bosan itu. Dia selalu suka memprovokasi keponakanku yang menyedihkan," potong Nenek Hera. "Kau datang untuk meminta perlindungan. Melawan Eros. Melawan Incestus. Aku benar, bukan?" Lysandra mengangguk, air mata menggenang di matanya. "Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, Nek. Kak Eros ... obsesinya semakin mencekik. Dia menyabotase perjodohanku." Nenek Hera menghela napas panjang. Ia menunjuk ke kursi di seberangnya. "Duduk, Nak. Sebelum aku mendengarkan, biarkan aku memberimu satu fakta yang harus kau pahami tentang anak itu." "Eros tidak terobsesi padamu karena kau diadopsi. Eros terobsesi padamu karena kau adalah satu-satunya hal di dunia ini yang ia yakini tidak bisa ia beli atau hancurkan. Dan itu membuatnya merasa rentan." Nenek Hera mengangkat tangannya. "Dan sebelum kau mulai merengek, aku melihat apa yang kau lakukan di taman kemarin. Aku melihatmu." Lysandra merasakan harapan membanjirinya. Nenek Hera melihat kode rahasianya. "Kau datang padaku, melanggar tatanan yang Eros ciptakan untukmu. Itu adalah keberanian, tapi juga kebodohan. Katakan padaku, Nak. Apa yang bisa kau tawarkan padaku agar aku mempertaruhkan perang terbuka dengan Eros demi dirimu?" Nenek Hera telah menetapkan harga. Lysandra sekarang harus bernegosiasi untuk kebebasannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD