Nenek Hera menunggu jawaban, matanya yang tajam menembus Lysandra, tidak memberikan ruang bagi kepalsuan. Cahaya lampu minyak di ruangan itu membuat bayangan mereka menari, menambah kesan teatrikal pada perundingan tengah malam itu.
"Apa yang bisa kau tawarkan padaku agar aku mempertaruhkan perang terbuka dengan Eros demi dirimu?" ulang Nenek Hera, suaranya mengandung otoritas yang bahkan Eros pun tidak berani tolak.
Lysandra menarik napas, mengingat peran barunya sebagai wanita yang harus berjuang untuk kelangsungan hidup dan kebebasan. Ia menyentuh liontin kunci perak di lehernya, tetapi segera menyadari bahwa senjata Eros tidak akan berguna di sini. Nenek Hera tidak tertarik pada drama kepemilikan.
"Nenek Hera, aku tidak bisa menawarkan uang atau kekuasaan yang Nenek sudah miliki," ujar Lysandra, memaksakan suaranya terdengar mantap.
"Aku hanya bisa menawarkan hal yang paling dicari oleh nama keluarga ini, dan yang paling ditakuti oleh Kak Eros."
Nenek Hera mengangkat alisnya sedikit, isyarat pertama yang menunjukkan ketertarikan.
"Lanjutkan."
"Aku tahu fokus keluarga ini adalah melanggengkan garis keturunan yang kuat. Kak Eros ... ia hanya melihatku sebagai properti, sebagai kepastian emosionalnya," kata Lysandra. Ia sengaja memberikan penekanan tajam pada panggilan Kak Eros untuk menegaskan tatanan yang ia coba putuskan.
"Sementara Kak Eros asyik bermain-main dengan obsesi yang tidak sehat dan mengancam stabilitas keluarga, aku akan menawarkan hal sebaliknya."
Lysandra maju selangkah.
"Aku akan menikah dengan Adnan Pramudya. Aku akan tunduk sepenuhnya pada kehendak Nenek Hera dan Ayah dalam hal pernikahan, aliansi bisnis, dan yang paling utama, keturunan. Aku akan memastikan nama keluarga ini mendapatkan aliansi yang kuat dan pewaris yang terjamin dari darah yang terhormat, melalui pernikahan yang sah dan diakui secara sosial."
Ia berhenti sejenak untuk membiarkan kata-kata itu meresap.
"Aku akan membuktikan bahwa aku adalah aset yang lebih berharga bagi warisan keluarga dibandingkan dengan Eros yang tidak stabil dan terobsesi."
Nenek Hera diam selama beberapa saat yang terasa abadi. Ia menyesap tehnya, matanya meneliti Lysandra dari ujung kepala sampai ujung kaki, menilai kejujuran dan determinasi di balik gaun tidur yang kusut.
"Kepatuhan dan garis keturunan," gumam Nenek Hera.
"Itu adalah bahasa yang kumengerti. Kau menawarkan dirimu menjadi bidak yang stabil untuk mengimbangi bidak yang rusak."
"Ya, Nek," jawab Lysandra.
"Eros melanggar batas, merusak tatanan sosial, dan mengancam reputasi. Ia menggunakan aku sebagai objek, bukan sebagai aliansi. Aku akan menunjukkan bahwa aku dapat menjadi perisai reputasi dan pilar warisan yang jauh lebih kuat daripada yang pernah ia bayangkan."
Nenek Hera meletakkan cangkir porselennya dengan hati-hati.
"Kau membuat penawaran yang menarik, Lysandra. Eros tidak akan pernah bisa memberiku kepastian itu. Dia terlalu sibuk mempertahankan 'miliknya' daripada memikirkan masa depan nama keluarga."
Wajah Nenek Hera mengeras.
"Baiklah. Aku terima tawaranmu."
Lysandra merasakan kelegaan yang luar biasa, tetapi juga ketakutan. Ia baru saja menjanjikan hidupnya kepada otoritas lain.
"Apa yang harus aku lakukan, Nek?"
"Eros adalah racun yang bekerja lambat, dan pertahananmu harus lebih halus," jelas Nenek Hera.
"Kau tidak akan melarikan diri, Lysandra. Kau akan mengubah sangkar itu menjadi bentengmu sendiri. Besok, aku akan bertemu Danu. Aku akan menekankan pentingnya perjodohan ini bagi warisan kita. Eros tidak akan bisa melawan Ayahnya yang sudah mendapat dukungan mutlak dariku."
Nenek Hera memberikan pandangan terakhir.
"Kembalilah ke kamarmu. Lakukan apa yang Eros suruh, patuhi tatanan itu untuk saat ini. Biarkan dia berpikir dia menang. Tapi ingat, kau sekarang bekerja untukku. Dan bagi keluarga ini, Warisan selalu lebih besar daripada obsesi."
Lysandra mengangguk, hatinya dipenuhi tekad baru. Ia kini memiliki sekutu, tetapi ia harus memainkan peran sebagai adik yang patuh yang sedang dijebak oleh kakaknya.
Saat Lysandra berjalan kembali, ia menyentuh liontin kunci perak di lehernya. Kunci yang seharusnya mengunci dirinya di bawah kuasa Eros, kini menjadi kunci fisik yang membuka kebebasannya melalui otoritas Nenek Hera. Permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, Lysandra tahu siapa yang harus ia kalahkan.