Chapter 10

1042 Words
"Halo.." Flora sedikit berdebar ketika teleponnya diangkat. Awalnya ia tidak menyangka bahwa nomor yang tercatat di kontaknya itu masih aktif hingga kini. "Saras?" Tanya Flora memastikan. Ia menggigit bibir bawahnya cemas. Sudah cukup lama dia tidak berhubungan dengan teman SMAnya itu. Semenjak kuliah, Saras pindah ke Jogja dan kuliah di sana. Mereka tidak sempat bertukar pesan karena sama-sama sibuk mengejar target di kampus masing-masing. Lalu tiba-tiba saja Flora kepikiran dengan Saras. Akhirnya ia mencoba menelpon gadis itu. "ASTAGA FLORA!! KANGEN BANGEDDD!!" Meski telinganya sedikit terkejut dengan pekikan dari seberang sana, Flora tersenyum. Itu benar suara Saras. Bahkan Flora masih ingat suaranya dengan baik meski sudah dua tahun tidak berhubungan dengan perempuan itu. Dirinya pun merasa senang karena ternyata nomor telepon Saras masih aktif.  "Ternyata masih aktif ya." "Iyalah! Lo kemana aja astaga! Udah lama banget kita nggak kontakan." Flora terkekeh.  "Sibuk jualan. Lo udah mencapai apa aja?" tanya Flora. "Banyak bangeddd, Ra! Kita mesti cerita ini. Astaga gue kangen banget." Flora memilih untuk mendengarkan cerita dari Saras terlebih dahulu. Perempuan itu nampaknya begitu bersemangat menjelaskan ide bisnisnya yang sedang ia rintis. Saras juga memiliki hobi yang sama dengan Flora yaitu memasak. Saras memiliki cita-cita untuk membuat restoran sendiri nantinya. Saras masuk ke jurusan bisnis. Karena baginya, masalah memasak ia masih bisa usahakan sendiri. Akan tetapi ilmu untuk berbisnis itu yang sedikit sulit. Makanya ia kuliah di jurusan bisnis bukan memasak.  Berbeda dengan Flora yang masih tetap mengejar akademik dengan mengikuti berbagai lomba dan berusaha agar IPKnya baik. Saras justru tidak terlalu peduli dengan semua itu. Ia hanya butuh memahami dengan baik ilmu yang ia dapat untuk segera dipraktekkan. Masalah nilai, Saras tidak ambil pusing. "Malahan IPK gue gede banget. Padahal gue nggak seniat itu ngejer nilai." Tentu saja itu wajar karena Saras begitu menghargai prosesnya. Karena Saras fokus untuk berproses dengan baik maka hasil yang ia dapatkan juga sangat baik. Apalagi Flora tahu jika Saras termasuk gadis yang pintar.  Saras tengah menjalin hubungan dengan kakak tingkatnya dan hubungan itu sudah berjalan dua tahun. Flora tersenyum ketika Saras menceritakan bahwa pacarnya itu adalah kakak tingkat yang menghukumnya ketika masa ospek. Ternyata kakak tingkat itu sudah tertarik sejak pertama meihat Saras. Jadi metode pendekatannya pun diawali dengan menghukum Saras.  Flora kini menggigit bibirnya. Ia sungguh ingin menceritakan perihal Bayu. Ia ingin menceritakan bahwa dirinya sudah menikah dan ingin meminta saran agar Bayu bisa segera menceraikannya. Flora tidak berani memberitahukan sahabatnya di kampus, Clarissa atau yang sering dia panggil Risa. Satu-satunya sahabat yang Flora percaya di kampus hanyalah Risa. Flora merasa tidak bisa menceritakan masalah ini karena meski ia menganggap Risa sebagai sahabat, ia tidak sedekat itu dengan Risa. Sahabat lain yang ia miliki hanyalah Saras. Selain itu, sudah entah kemana teman-teman akrabnya yang menjadi tempat Flora bercerita. Ketika SMA ia hanya menganggap Saras sebagai sahabat. Lalu ketika kuliah, ia hanya menganggap Risa sebagai sahabat dan tempatnay mencurahkan isi hati. Satu-satunya yang bisa menjadi tempat Flora mengadu masalah pernikahan ini hanyalah Saras. Sahabatnya itu berada jauh dari lingkungan kampus Flora. Jadi aman jika menceritakan hal yang ingin Flora sembunyikan dari kampus. "Lo gimana sekarang, Ra? Pacaran sama siapa nih? Atau jomblo jangan-jangan." tuduh Saras kemudian diakhiri kekehan.  Flora melirik ke arah tangga. Dirinya sedang duduk di ruang tamu saat ini. Suasana sore hari begini, bi Susi entah kemana. Sementara Bayu masih berada di kamarnya tengah membaca buku. Flora jadi ragu untuk mencurahkan segala keluh kesahnya. Ada yang bilang bahwa dinding pun memiliki telinga. Bisa saja curhatannya ini di dengar oleh entah siapa tanpa sepengetahuan Flora. Tentu hal itu akan menimbulkan masalah nantinya. Flora memutuskan untuk berbisik. "Gue udah nikah." Detik kemudian Flora segera menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara pekikan Saras. Flora kembali melihat keadaan sekitar. Aman, rumah masih tetap sepi. Tidak terlihat pergerakan bi Susi ataupun Bayu yang tiba-tiba saja muncul. "Seriusan, Ra? Lo kan udah narget nikah umur 28. Ko tiba-tiba? Nggak ngundang lagi. Lo MBA? Nggak mungkin sih. Gue yakin lo cewek baek-baek." "Amit-amit astaga." Bisa-bisanya Saras menduga Flora menikah karena hamil duluan. Akan tetapi itu wajar saja. Mengingat dulu Flora menceritakan bahwa ia tidak ingin buru-buru menikah. Flora juga tidak ingin menikah di usia muda. Ia ingin menikmati masa mudanya dan melakukan banyak hal selama masih bebas. Mendengar kabar bahwa Flora menikah di usia 20 tahun padahal Saras tahu bahwa Flora sangat idealis, tentu saja dia akan berpikir demikian. "Terus kenapa? Lo nggak mungkin tiba-tiba dapat hidayah nikah muda." Flora kembali melirik keadaan sekitar. Ia hanya bersikap waspada saja. Siapa tahu tiba-tiba saja Bayu muncul, kan? Yang lebih parah adalah kalau sampai bi Susi yang muncul. Jadi Flora harus siaga memeriksa keadaan sebelum dia bicara. "Gue dijodohin." "Kok bisa? Sama siapa?"  "Nanti gue kasih tau lewat chat aja. Gue pengen liburan ke Jogja. Kalo ke rumah lo, bisa?" "Ihh suka bangett! Mau dateng kapan? Bisa banget dong, Ra. Sini aja  dateng. Gue siap melayani lu biar berasa kayak tamu hotel." Ketika SMA dulu, Flora pernah berandai bisa datang  mengunjungi keluarga Saras yang berada di Jogja. Akhirnya sekarang keinginan itu akan terkabul.  "Yes! Bener loh ya?" "Iya dong. Eh, tapi. Lo dateng kesini sendiri atau sama suami? Siapa tau bulan madu gitu." Flora rasanya ingin muntah jika membayangkan ia harus berbulan madu bersama Bayu. Ia berkunjung ke Jogja pure karena ingin temu kangen dengan Saras. Hal pertama yang terpikir oleh Flora ketika Bayu menyebut Jogja adalah Saras. Itu sebabnya Flora langsung menelpon sahabat SMAnya itu setelah lumayan lama terlupakan. Flora terlalu sibuk selama di kampus jadi jarang menjalin komunikasi dengan teman lama, seperti teman ketika SMA.  "Gue nggak tau bakal sendiri atau sama dia. Tapi yang jelas sih kayaknya bakal berdua." Saras terdiam sejenak. Flora jadi sebal jika sampai Bayu ingin ikut. "Kalau lo ngajak suami, mohon maaf rumah gue nggak bisa nampung. Nggak enak sama papa." Flora mengangguk paham. Jika Flora datang sendiri maka Saras masih berani mengajaknya tinggal di rumah. Sementara jika mengajak suami, terlebih suami sekaya Bayu Widjaja, menumpang di rumah orang untuk liburan bukanlah ide yang baik. Kesannya seperti Bayu tidak semampu itu untuk menyewa penginapan atau hotel.  Sepertinya Flora mendapatkan ide untuk masalah itu. Ia bisa meminta Bayu tinggal di hotel sementara dirinya akan menginap di rumah Saras. Bayu bilang ia pergi bersama Flora untuk menjaganya, kan? Jadi Flora bisa menjadikan keluarga Saras sebagai tameng penjaganya. Alasan itu juga bisa ia gunakan agar Bayu tidak perlu ikut liburan ke Jogja. Ah, rasanya pasti akan menyenangkan sekali jika Flora bisa menghabiskan waktu bersama Saras setelah sekian lama tidak berjumpa. Apalagi jika tanpa adanya gangguan dari Bayu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD