Chapter 15

1114 Words
Bayu mendorong koper yang mereka bawa. Hanya satu koper saja. Ia dan Flora akan berada di Jogja selama satu minggu. Jadi satu koper dirasa sudah cukup untuk menampung baju keduanya. Sementara itu Flora membawa satu tas jinjing berisi barang penting dirinya dan Bayu. Sedikit hal yang tidak Flora sangka adalah keduanya memiliki kesamaan dalam hal bepergian. Mereka sama-sama simpel dan tidak suka membawa banyak barang. Itu sebabnya mereka hanya membawa satu koper kecil dan satu tas jinjing. Karena terlalu girang berangkat ke Jogja, Flora juga tidak mempermasalahkan berbagai tas dengan Bayu. Saat ini mereka keluar menuju tempat dimana orang-orang dijemput. Bandara Adisutjipto lumayan ramai juga di sore hari begini. Flora mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Saras. Cukup ramai jadi ia khawatir tidak bisa menemukan temannya itu. Terlebih keduanya sudah tidak bertemu selama dua tahun. Bisa saja ada perubahan drastis dari Saras. Siapa tahu, kan? "Om ke villanya gimana?" tanya Flora ketika baru sadar ia tidak tahu apapun terkait rencana Bayu ketika tiba disini. Ia menempelkan ponsel di telinga karena sedang menelpon Saras. "Dijemput sama penjaga villa." Flora lantas hanya menganggukkan kepalanya karena teleponnya diangkat. "Halo. Udah nyampe nih. Dimana?" "Nengok ke belakang, Ra!" Suara Saras begitu sumringah. Flora menoleh ke belakang kemudian melihat Saras dan ia memekik kegirangan. Saras langsung berlari menghampirinya dan memeluk Flora dengan sigap.  "Kangen banget!" seru Flora.  Mereka melepas pelukannya dan Saras menatap Flora dengan wajah sumringah. Setelah dua tahun lamanya mereka tidak bertemu dan tidak berkomunikasi. "Ra. Hp." Bayu bersuara. Lebih tepatnya ia meminta tas jinjing yang dibawa Flora untuk mengambil ponselnya di dalam sana. Ia sama sekali tidak bermaksud menganggu kedua teman lama yang baru bertemu itu. Hanya saja, ia harus segera mengabari penjaga villanya bahwa ia sudah sampai. "Pak Bayu?" Saras memekik terkejut ketika melihat Bayu yang berada di belakang Flora. Flora memberikan tas yang ia bawa kepada Bayu.  "Kamu kenal saya?" tanya Bayu sedikit terkejut. Pasalnya ia tidak mengetahui siapa teman Flora. Hanya mengetahui namanya adalah Saras.  "Iya dong, Pak. Papa udah nungguin di sebelah sana." Saras menunjuk ke arah tempat papanya berada. Bayu mengikuti arah tunjuk Saras dan melihat orang yang dimaksud. "Kamu anaknya Pak Hariadi?" tanya Bayu memastikan. "Iya, Pak." sahut Saras sambil menganggukkan kepalanya. Flora yang melihat interaksi keduanya pun mulai bingung.  "Saras, kenal?" tanya Flora bingung. "Iya." Kini Saras yang menatap Flora bingung. Terlebih tadinya Flora memberikan tas kepada Bayu. "Ra. Jangan bilang kalo Pak Bayu itu.." Saras tidak melanjutkan ucapannya. Ia menatap Bayu dan Flora secara bergantian. "Suami gue," sahut Flora. Toh, Saras sudah melihatnya. Jadi Flora ingin mengenalkan Bayu kepada Saras agar lebih mudah nanti ketika curhat dengan perempuan itu. Saras membulatkan mulutnya karena terkejut. Ia menatap Flora dan Bayu lagi secara bergantian.  Pak Hariadi datang mendekat karena melihat putrinya menghampiri Bayu. Ia juga terkejut melihat Flora ada disana. "Eh, ada Flora." "Hai, Om."  Flora salim kepada ayah Saras itu. Sudah lama tidak bertemu rasanya rindu sekali. Pak Hariadi sangat baik kepada Flora selama masa SMA. Terutama setiap Flora pergi ke rumah Saras untuk belajar kelompok.  "Om sampe repot-repot ikut jemput gini. Flora jadi nggak enak." Sungguh Flora tidak menduga bahwa pak Hariadi akan turut serta ikut menjemputnya. Padahal tadi sebelum Flora memasuki pesawat, ia sudah meminta Saras agar menjemputnya sendiri saja tanpa mengajak siapa pun. Sepertinya pak Hariadi bersikeras menemani. Mengingat sejak dulu ayah Saras itu memang perhatian kepada teman-teman baik anaknya. Saras menggigit bibirnya kemudian menatap Flora. "Bukan, Ra. Itu. Anu.." Saras jadi bingung sendiri harus bagaimana menjelaskannya kepada Flora. Ia bahkan baru menyadari hal ini beberapa menit lalu. Tadinya Flora minta agar ia merahasiakan bahwa Flora telah menikah. Akan tetapi dengan situasi sekarang ini, Saras tidak bisa berbuat apapun. "Oh," Pak Hariadi terkekeh sejenak dengan kesalahpahaman Flora. "Ini, Om jemput pemilik villa yang Om jagain. Namanya Pak Bayu. Itu yang kebetulan berdiri di sebelah Flora." Flora mengernyitkan keningnya kemudian menatap ke arah Bayu. Otaknya mendadak lemot mencerna semua informasi ini. Ia kemudian menatap Saras yang kini meringis. Merasa tidak mendapatkan jawaban apapun, Flora kembali menatap ke arah Bayu. "Pak Hariadi ini penjaga villa aku. Yang jemput aku kemari. Temen kamu ini yang selama ini kamu maksud?" tanya Bayu memastikan. "Pak Bayu kenal sama Flora?" tanya Pak Hariadi ketika melihat interaksi keduanya. Bayu tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Pak. Flora istri saya." Pak Hariadi terkejut bukan main. Setahunya Flora datang ke Jogja dan bilang akan menginap di kediamannya selama satu malam. Dirinya mengira Flora datang sendiri karena meminta Saras menjemputnya. Ia juga sempat bilang ke Saras kalau pemilik villanya juga datang ke Jogja dan jam kedatangannya sama dengan Flora. Jadi mereka berangkat ke bandara bersama dan rencananya nanti Saras akan naik taksi online bersama Flora. Sementara dirinya mengantas sang pemilik villa dengan mengendarai mobil. Ia tidak menduga kalau Bayu telah menikah. Sepertinya pernikahan itu dilakukan secara tertutup. Kalau secara besar-besaran, pasti sudah diliput oleh wartawan dan menjadi topik pembicaran hangat di televisi mengingat keluarga Widjaja yang sangat disegani dan terkenal di Indonesia. "Wah. Selamat ya, Pak. Saya baru tahu kalau Pak Bayu sudah menikah. Menikahnya sama Flora lagi. Selamat ya, Flora." Flora menatap Bayu dan Pak Hariadi secara bergantian. Ia baru mengerti sekarang. Jadi, suaminya dan ayah Saras saling mengenal. Lalu sialnya mereka semua bertemu disini. Jika disini, bisa dipastikan rencana Flora gagal total. Padahal baru saja dia ingin menyembunyikan statusnya dari keluarga Saras, justru sudah lebih dahulu ketahuan. Lantas bagaimana ia bisa menginap di rumah Saras jika keadaannya sudah begini. Seandainya saja ia sedikit peduli untuk bertanya siapa penjaga villa Bayu, atau pun memberitahu Saras sejak awal. Pasti semua ini dapat dihindari dan diatasi. Ah, lagi-lagi Flora hanya bisa menyesal.  "Kalau tidak keberatan, Pak Bayu juga sekalian saja menginap di rumah saya. Istri saya masak banyak untuk di villa dan menyambut Flora. Kebetulan sekali ini. Flora kan rencananya mau nginep di rumah." Benar saja. Jika sudah begini, Flora tidak akan bisa melakukan hal lainnya. Selain berdoa agar Bayu menolak ajakan itu.  Bayu melirik Flora sejenak untuk mengamati istrinya itu. Melihat ekspresi kecewa di wajah Flora, rasanya Bayu paham jika ia sudah merusak rencana Flora tanpa sengaja. Flora ingin menginap di rumah Saras tanpa kehadiran Bayu. Entah apapun alasannya, Bayu menebak bahwa ia ingin melepas rindu dengan temannya itu. Jadi Bayu tidak ingin mengganggu sesuai permintaan Flora. Ia lantas melirik pak Hariadi dan tersenyum canggung. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Pak. Tapi mohon maaf saya tidak bisa. Ada sedikit pekerjaan yang harus saya kerjakan. Makanya Flora nanti nginep di rumah Saras karena saya nggak bisa nemenin di villa, kasihan kalau sendirian." kilah Bayu. Flora menatap Bayu dengan terperangah. Sejak kapan lelaki itu memiliki pekerjaan di Jogja? Setau Flora, Bayu datang kemari mutlak karena menemaninya. Ia bingung apakah lelaki itu benar-benar ada pekerjaan dan sengaja tidak memberitahukannya. Atau sesungguhnya itu alasan agar Flora tetap bisa menginap di rumah Saras. Apapun itu, Flora sungguh berterima kasih. Itu sebabnya ia memberikan senyuman terbaiknya kepada Bayu. Bayu yang melihat senyuman Flora ditujukan kepadanya untuk pertama kali, merasa senang. Ia pun ikut tersenyum kemudian menatap Saras. "Saya titip Flora ya. Tolong dijaga." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD