bc

Bandot Tua I Love You

book_age18+
357
FOLLOW
1.7K
READ
drama
humorous
like
intro-logo
Blurb

Ayah memang gak punya hati, demi balas budi dia tega nikahin aku sama bandot tua yang usianya selisih sedikit dengannya.

Ingin rasanya aku menolak atau kabur agar bisa terhindar dari pernikahan terkutuk ini.

Pernikahan terjadi, aku harus makan hati punya suami bandot tua dan mertua yang galak.

chap-preview
Free preview
-1-
Bandot Tua I Love You Bagian-1 ? "AYAH JAHAT, GAK PUNYA HATI!" Kuentakkan kaki sebagai tanda perlawanan atas keputusan sepihak lelaki paruh baya yang egois di hadapanku, ia sangat tega dan tidak memerdulikan air mata yang bercucuran karena ulahnya. Ayah bersikeras dengan apa yang sudah ditetapkan, menganggap aku bagai sebuah boneka yang bisa dimainkan semaunya. Aku yang kecewa pun memutuskan berlalu meninggalkan ruang tengah di mana ayah yang egois dan ibu yang termangu dan lesu. Pintu kamar kubanting dengan kencang, hingga menciptakan suara yang membahana dan tentu mengagetkan siapa saja yang berada di rumah ini. Ah, biar saja aku tidak peduli toh mereka juga cuek padaku. Rumah yang dahulu bak surga ini, kini berubah seperti neraka yang panas. Semua yang terjadi dalam hidupku sungguh membuat aku muak dan ingin sekali berteriak memberontak. Disaksikan tembok lapuk tangisku luruh bersama dengan harapanku yang kandas karena keadaan yang tidak berpihak, kubenamkan wajah dalam bantal sehingga lengkingan sedu sedan yang tercipta dapat teredam dan hanya dapat didengar olehku saja. Malam ini adalah malam terakhirku berstatus sebagai single, karena besok aku akan menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak aku kenal, apalagi aku cintai. Pernikahan yang mendadak dan tiba-tiba ini membuat batinku terguncang, serasa dijatuhkan dari atas langit lalu menimpa tanah dan menembus sampai ke lapisan yang terakhir, sangat sakit dan merasa terhina tentunya. Karena lelaki itu bukan menikahi, tapi membeli. Mentang-mentang dia banyak uang seenaknya melakukan apa saja yang dia bisa. Aku benci dengan takdir dan nasib, mengapa Tuhan memberi aku keluarga yang seperti ini? Usiaku baru akan menginjak 19 tahun bulan Mei nanti, teman-temanku semua melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Aku apa? Malah menikah dengan bandot tua yang lebih pantas aku panggil dengan sebutan 'Om', karena usianya tidak jauh dari ayah. Aku ingin kabur tapi rasanya tak mungkin, aku mau kabur ke mana? Aku sebenarnya bukan jomlo, aku punya kekasih dan kami sudah pacaran satu tahun lamanya. Tapi dasar pengecut! Pacarku si Bagas angkat tangan saat aku mengajaknya kawin lari. "Aku masih mau kuliah, kalau nikah nanti, kamu ... maksudku, kita mau makan apa? Dan siapa yang akan ngebiayain kuliah aku? Bunda aku pasti murka disangkanya aku ngehamilin kamu karena anaknya mendadak dangdut ... eh mendadak nikahin kamu dengan cara yang gak baik pula, duh aku gak sanggup. Maaf ya, Sayang!" Sayang ... sayang, pala lu peang. Kurang aj*r memang si Bagas itu, giliran ngajak ciuman aja semangatnya berkobar, eh giliran disuruh nunjukkin bukti kesungguhan dia malah melempem kaya kerupuk apek. Dasar Cemen! Gak punya nyali! Kepentingan sendiri yang dia pikirin, janji suci yang selama ini dia ikrarkan ternyata cuma isapan jempol belaka. Aku benci Bagas, aku benci Ayah, aku benci si Bandot Tua yang bakalan jadi suamiku besok. Aku benci makhluk Tuhan yang berjenis kelamin lelaki, aku benciiiii! Pernah aku coba bernego dengan Ayah tentang keputusan ini, aku coba membujuk beliau agar aku diizinkan untuk bekerja demi bisa menopang perekonomian keluarga yang mulai carut marut. Dan, daebak! Ayah menolak mentah-mentah niat mulia itu. Alhasil aku gondok dan mau tidak mau harus manut, tidak boleh tidak. Dengan berat hati aku pun menurut, semuanya kulakukan semata-mata demi membahagiakan orang tua dan adik-adikku. Calon suamiku, maksudku si Bandot Tua itu adalah seorang pengusaha yang bisa dibilang sukses, dia banyak menolong keluarga ini terutama dalam masalah keuangan. Usaha restoran ayah bangkrut setelah ibu ketahuan memiliki banyak hutang, hutang di bank, rentenir, beberapa tagihan kartu kredit dengan limit di masing-masing kartunya lumayan besar dan koperasi simpan pinjam. Alfian Wijaya, si Bandot Tua yang besok akan menjadi suamiku itu adalah seorang pelanggan setia restoran Ayah, dia sering sekali memesan catering dan tumpeng apabila sedang ada event di perusahaannya. Hubungan si Bandot Tua dengan Ayah sangat erat, maka sewaktu Ayah gulung tikar dan terpaksa menjual semua asetnya demi membayar hutang Ibu yang jumlahnya sampai ratusan juta, dia datang lalu menawarkan bantuan finansial yang jumlahnya tidak main-main, asalkan Ayah tidak menutup usahanya. Ayah menolak mentah-mentah bantuan dari si Bandot Tua, beliau tidak mau punya hutang budi. Alhasil kami pun jatuh miskin, tinggal di rumah minimalis di pemukiman padat penduduk yang kumuh. Tapi saat kami sudah melarat, Ayah tidak bisa lagi menolak apa yang diberikan oleh Bandot Tua tersebut. Sehingga hutang budi itu benar-benar tercipta, dan aku menjadi pelunasnya. Ibu hanya bisa menangis dan meminta maaf, saat aku dan adik-adik menderita terkena imbasnya . Waktu itu, aku ingin sekali membencinya tapi aku tidak bisa. Melihat itu aku bisa apa? Ya, cumq mengelus d**a serta meratapi nasib yang malang ini, sering aku berpikir keras akankah kisahku bak sinetron ikan asin terbang? Berawal tragis tapi berakhir manis, ah entahlah! Cuma Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Aku merasa sepi di dalam kamar ini, padahal di luar sana sedang ramai. Banyak orang sedang mempersiapkan acara untuk besok. Saudara jauh, tetangga dan kerabat dekat berdatangan untuk membantu. Samar-samar kudengar suara tawa mereka, begitu lepas dan tanpa beban. Aku tidak bersemangat dan masa bodoh dengan semua ritual yang harus dijalani sebelum pernikahan. Peduli amat dengan puasa dan juga tradisi pingit, aku bebas jalan dan nongkrong dengan teman-teman, Ayah dan Ibu tidak bisa melarang karena itu syarat sebelum aku mau menuruti permintaan mereka. ? Dalam kamar yang indah ini hatiku merasa terkoyak, wajah yang telah dipoles riasan tebal ini terasa bagai topeng badut saat aku lihat di cermin. Kebaya mewah nan cantik yang si Bandot Tua pesan khusus dari butik ternama pun kurasa gerah dan tidak nyaman, sama seperti perasaan yang bergejolak ini. Telinga seketika terasa panas dan memerah saat MC memberitahu kalau romongan calon mempelai pria sudah tiba, perias pengantin yang tidak tahu perihal isi hati ini pun menepuk bahuku sembari bersorak gembira. Aku meresponnya dingin, cuma tersenyum kecut, sekecut ketek tukang becak yang baru selesai ngegenjot di tanjakan. Wanita yang berperan sebagai MUA itu kembali mengecek riasan wajahku, usai sapu sana-sini senyumnya mengembang. "Perfect!" katanya. Aku memandang wajah yang menurutku seperti pemain lenong yang akan tampil di panggung. Kebaya modern putih, rambut disanggul yang dihiasi siger emas dan kembang goyangnya, dirasa bagai atribut pemain barongsai saat perayaan imlek. Tok ... tok ... tok .... Pintu kamar diketuk oleh seseorang yang hendak menjemputku, dia Vina, sepupuku. "Mel, yuk ke depan!" ajaknya mengulurkan tangannya padaku. Tanpa menjawab, aku meraih uluran tangannya dan berjalan menuju teras rumah yang dijadikan tempat untuk ijab kabul. Kulihat sekilas wajah calon suamiku, ia tersenyum ramah tapi aku pura-pura tidak melihatnya. "Kepada calon pengantin wanita kami persilahkan duduk di samping sang pangeran yang telah bersiap mengikrarkan janji suci di hadapan kita semua," ucap MC membuatku ingin muntah. Semua orang kecuali aku tersenyum mendengar ucapan MC itu. Pangeran apaan? Pangeran kodok kali atau pangeran jompo. Setelah melewati beberapa rangkaian prosesi maka tibalah saatnya pengucapan ijab kabul. Setelah dipandu oleh pak penghulu, maka si Bandot Tua itu dengan lantang mengucapkan kalimat sakral di depan semua orang yang hadir disini. "Saya terima nikah dan kawinnya Amelia Gentari Permadi binti Dodi Permadi dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat 50 gram dibayar tunai." Para saksi, tamu undangan dan keluarga mengucap syukur karena prosesi utama berjalan dengan lancar dan sukses. Bagai tersengat listrik bertegangan tinggi saat mendengar penghulu dan semua orang berkata 'SAH', itu berarti per hari ini aku akan hidup dengan si Tua Bangka. Tidaaaaaak! Mengapa aku sebut dia tua bangka? Itu karena usianya sudah 40 tahun, ia seorang perjaka tua alias bujang lapuk. Entah kenapa dia belum menikah sampai usianya setua itu, hanya Tuhan dan dia yang tahu. Acara resepsi kami diadakan secara sederhana, aku malu kalau harus pesta meriah. Teman-teman sekolah, tidak ada satu pun yang aku undang, apa kata dunia seorang Amelia yang jadi rebutan cowok-cowok populer dan terkenal sebagai play girl di sekolah dulu tiba-tiba nikah muda, sama bandot tua lagi. Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, lalu kemudian mengusirnya dari sisi ini. Sumpah aku muak, benci, dan enek harus duduk berdekatan di pelaminan dengannya. Apalagi saat dia sok perhatian menawari aku mau makan atau tidak, ih benar-benar menyebalkan. Apalagi aku sempat melirik dengan ujung mata, dia sering mencuri pandang kepadaku, ingin rasanya aku tusuk matanya pakai kembang goyang yang menancap di sanggul palsu ini. Saat duhur menjelang acara resepsi pun usai, aku dan dia dipersilahkan untuk masuk beristirahat. Si Bandot Tua sok manis, mengulurkan tangan berniat menuntunku. Tapi dengan tegas aku tolak, beralasan tidak kuat ingin buang air kecil, secepatnya aku ngacir duluan. Sejenak aku berdiam diri di dalam kamar mandi, berjalan mondar-mandir dengan pakaian lengkap. Konyol memang, tapi semua ini aku lakukan agar alasanku tadi tidak sekadar hoax. Hingga lima menit lamanya, aku pun keluar dan melangkah masuk ke dalam kamar pengantin. Segera aku kunci pintu, agar dia tidak masuk tiba-tiba di saat aku lagi buka baju. ??? -Bersambung-

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook