Cintia melangkah cepat di koridor rumah sakit. Dia mendengar kabar bahwa suaminya bertengkar, entah dengan siapa. Namun tidak menyangka jika Nadia yang membawa Hendra ke rumah sakit.
Cintia meninggalkan putranya di rumah dan langsung menuju ke rumah sakit. Selama dua tahun pernikahannya, baru kali terjadi masalah.
Untungnya baby sitter yang merawat Arka cukup telaten, sehingga dia tak perlu khawatir. Anak itu juga tak terlalu rewel asal perutnya kenyang.
"Bapak Hendra Widjaja dirawat dimana ya, Sus?"
Cintia bertanya di nurse station dimana kamar suaminya. Wanita itu begitu khawatir dan ingin segera bertemu.
Membayangakan Hendra berdarah dan pingsan membuatnya sedih. Wanita itu bahkan menangis saat menyetir menuju ke sini.
"Bapak Hendra ada di 215 ya, Bu," ucap perawat sembari menunjuk ke arah ujung lorong.
Cintia mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju kamar yang dimaksud. Ketika dia membuka pintu dan melihat Nadia duduk di samping Hendra, hatinya bergejolak.
Cintia menarik napas panjang agar bisa mengendalikan diri. Tanpa melihat Nadia, dia langsung duduk di dekat Hendra.
"Mas, kamu gak apa-apa?" tanya Cintia khawatir. Dia bahkan memeluk Hendra sembari mengusap kepala suaminya.
"Cuma luka dikit," jawab Hendra lemah.
"Kok bisa pingsan?"
"Mas kecapean habis pulang kerja."
Nadia membuang pandangan, merasakan sesak di d**a. Apalagi saat Cintia mencium pipi Hendra dengan lembut. Hal yang sama seperti yang dulu dia lakukan.
"Mana yang sakit? Aku pijat ya?" ucap Cintia mesra. Wanita itu bahkan mengabaikan Nadia dengan tak menyapanya.
"Mas gak apa-apa, Sayang," ucap Hendra sembari mengusap rambut Cintia.
Ucapan mesra dan perlakuan itu membuat d**a Nadia bergemuruh. Dia tak bisa membayangkan jika Hendra melimpahkan kasih sayang kepada Cintia. Seperti yang lelaki itu berikan kepadanya dulu.
"Itu ada Nadia," bisim Hendra tak enak hati.
Cintia menoleh dan berusaha untuk senyum walau enggan.
"Hai, Nad. Gimana kabar?"
"Alhamdulilah sehat," jawab Nadia sembari tersenyum.
"Kamu sehat tapi suamiku bonyok," sindir Cintia halus. Ucapannya itu membuat Nadia tergugu dan tak tahu harus bicara apa.
"Jangan gitu, Cin. Gak sopan," bisik Hendra.
"Kenapa kamu masih di sini? Aku usah datang, loh."
Nadia menoleh dan mendapati Cintia menatapnya dengan tajam. Nada suaranya terdengar tak suka.
Melihat itu, Nadia berpindah tempat duduk. Dia tak mau menggangu perbincangan Hendra dan Cintia.
Sikap Cintia yang tak menyukai keberadaannya membuat Nadia sadar diri. Sepertinya dia tidak boleh berlama-lama di sini.
"Nadia yang bawa Mas ke sini, Sayang. Kamu harusnya terima kasih."
Sayang? Lagi-lagi hati Nadia terluka. Hendra pernah mengatakan hal yang sama kepada dirinya, dulu.
"Terus kamu senang dijagain mantan istri?"
Cintia merasa marah dan terluka. Dia menatap suaminya dengan tajam untuk memperingatkan. Wanita kalau sedang cemburu benar-benar mirip singa betina.
"Cin, aku cuma nemenin Mas Hendra sampai kamu datang. Soalnya, mama sama yang lain gak respons telepon dari aku," jelas Nadia.
Cintia tidak mau mendengar penjelasan. Hatinya sudah terbakar api cemburu.
"Oh, mama mertuaku. Mama sudah tidur jam segini. Aku menantu yang tau jadwalnya," sindir Cintia.
Nadia merasa terpojok, tetapi dia berusaha tetap tenang.
"Aku tidak bermaksud ganggu. Hendra terluka dan aku merasa kasihan."
Hendra mencoba menengahi. Jika tadi dia berseteru dengan Surya, kini istri dan mantan istrinya yang berselisih paham.
"Cin, ini bukan salah Nadia. Harusnya kamu fokus ngurusin aku."
Cintia menatap Hendra dengan mata penuh kemarahan.
"Fokus? Sementara dia ada di sini? Dia penyebabnya, kan?"
Nadia merasa hatinya bergetar mendengar tuduhan itu. Dia hendak berpamitan. Namun, ucapan Cintia yang terus memojokkan justru menahannya.
"Itu gak benar. Aku udah berusaha melerai mereka. Tapi Mas Hendra yang emosi." Nadia mencoba menjelaskan agar tak terjadi salah paham.
Cintia melangkah maju, semakin mendekat ke arah Nadia.
"Oh, jadi kamu mau bilang kalau semua ini gak ada hubungannya sama kamu? Padahal kamu biang masalahnya."
Hendra berusaha meredakan situasi yang semakin memanas. Dia bahkan mencoba meraih lengan Cintia untuk mencegah istrinya berbuat lebih.
"Cin, kita gak bisa menyalahkan Nadia. Surya yang mulai."
Cintia menggelengkan kepala, tidak mau menerima penjelasan Hendra.
"Jadi, Mas membela dia sekarang? Apa Mas gak mengerti kalau dia mau menghancurkan rumah tangga kita?"
Nadia merasa sakit hati, tetapi mencoba berbicara dengan tenang. Tuduhan Cintia itu sama sekali tak berdasar.
"Aku gak niat menghancurkan apapun. Aku cuma peduli dan Hendra dan ingin melihatnya baik-baik saja."
Cintia tertawa sinis, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Nadia. Dia tahu jika wanita itu masih menyimpan cinta untuk suaminya.
"Peduli? Jadi ini semua tentang kepedulian? Atau kamu berencana kembali ke hidup suamiku?"
Hendra terdiam, merasakan ketegangan yang semakin meningkat.
"Cintia, cukup. Ini bukan saatnya untuk berdebat."
Cintia menatap Hendra dengan penuh kecewa. Dia tak menyangka jika sang suami malah menbela Nadia diabanding dirinya.
"Bukan saatnya? Lalu kapan? Selama ini Mas terus ngasih dia perhatian."
Hendra berusaha menahan emosinya, tetapi dia merasa tertekan.
"Aku melakukan ini untuk kebaikan. Aku gak bisa abaikan Nadia seperti itu."
Nadia melihat keduanya berdebat, merasa bingung dan sakit hati.
"Cintia, aku gak ada niat untuk menjadi masalah."
Cintia melangkah lebih dekat, menatap Nadia dengan marah.
"Kamu gak perlu khawatir tentang suamiku! Kami sudah punya kehidupan sendiri. Berhentilah menganggu kami."
Nadia merasakan kemarahan dalam dirinya, tetapi dia tidak ingin memperburuk keadaan.
"Sudah, Cin. Ini rumah sakit. Jangan bertengkar di sini."
"Kamu gak ngerti, Mas. Ini tentang kamu dan dia. Dan aku merasa seperti orang asing di rumah tangga kita!"
Nadia merasa hancur mendengar itu, dan hatinya bergetar.
"Apa alasan kamu membiarkan dia masuk ke hidup kita, Mas? Apa kamu benar-benar mencintaiku?"
Cintia tidak mau mendengar penjelasan lebih lanjut. Hatinya sudah dipenuhi amarah.
"Maaf--" lirih Nadia.
"Aku gak mau dengar. Pergi dari sini, Nadia. Aku gak mau ngeliat kamu di dekat suamiku."
"Aku pamit, Mas. Assalamualaikum."
Nadia menahan napas, berusaha untuk tetap tenang. Dia berbalik, melangkah pergi dengan hati yang berat.
Nadia tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran mereka. Namun di dalam hatinya, cinta untuk Hendra masih ada.
***
Cintia memandang Hendra dengan kemarahan dan kekecewaan.
"Kamu masih peduli sama Nadia, Mas? Kenapa kamu gak bisa lihat betapa sakitnya aku?"
Hendra merasa bingung, tidak tahu harus berkata apa. Istrinya sedang emosi. Jika dia menajwab, maka pertengkaran akan semakin panjang.
"Aku cuma ingin kita baik-baik saja. Aku mencintaimu, dan aku ingin menyelesaikan ini bersama."
Cintia menatap Hendra, tetapi hatinya masih penuh amarah dan kekecewaan.
"Aku butuh waktu untuk merenung. Kita perlu membicarakan semua. Nanti setelah kamu sembuh."
Cintia berbalik, meninggalkan suaminya dalam keheningan. Niat untuk mengurus Hendra pupus seketika. Sepertinya dia harus menenangkan diri dulu.
Hendra merasa hancur, menyadari bahwa masalah ini baru saja dimulai. Dan dia harus berjuang untuk memperbaikinya.