Peringatan

1211 Words
"Nadia, kita perlu bicara. Ini sudah terlalu jauh." Nadia terkejut saat menerima pesan dari Cintia. Wanita itu baru saja sampai di rumah dan membawa makanan untuk ibunya. Setelah kejadian di rumah sakit, Hendra tak pernah lagi menghubunginya. Namun, selalu ada uang masuk setiap bulan dari rekening yang berbeda. Nadia mencoba menghubungi Hendra untuk mengucapkan terima kasih. Tapi pesannya tak pernah terkirim. Mungkin lelaki itu sudah mengganti nomor ponsel. "Kapan?" tanya Nadia saat mengetikkan pesan balasan. "Nanti sore. Di kafe dekat tempat kerja kamu." Nadia tersentak, lalu menyari kalau kafe yang dimaksud adalah milik Surya. Sepertinya Cintia tak tahu jika itu milik temannya. "Oke." "Ini cuma antara kita berdua. Gak boleh ada orang lain yang tau." *** Mereka bertemu di kafe mik Surya. Nadia meminta lelaki itu agar berpura-pura tak kenal saat dia datang. Nadia juga datang duluan dan memilih kursi di pojok agar tak terlalu menarik perhatian. Para karyawan Surya semua mengenalinya. Bahkan menu yang dia pesan tak boleh dibayar sama sekali. "Udah lama?" tanya Cintia. "Gak baru aja. Tapi aku pesan duluan. Aku belum makan," jawab Nadia tenang. Surya sudah berpesan kepadanya agar jangan terpancing emosi. Cintia sedang cemburu, sama seperti suaminya. "Mas Hendra gak pernah hubungi kamu lagi, kan?" Nadia menggeleng. "Bagus. Harusnya suamiku sadar bahwa kamu bukan siapa-siapa lagi." "Cintia, aku gak bermaksud apa-apa." "Tapi kamu sudah mengganggu. Hendra dan aku punya kehidupan yang ingin kami jalani. Aku gak mau kamu menjadi bagian dari itu lagi." Nadia merasa hatinya bergetar, tapi mencoba tetap tenang. Selama ini dia sudah berusaha menjauhi Hendra. Nanun, justru mantan suaminya itu yang datang. "Aku tidak ingin merusak hubungan kalian. Mas Hendra yang datang ke toko," ucap Nadia jujur. "Kapan?" "Sebelum kejadian di rumahku. Mas Hendra .... gak suka aku dekat sama Surya." Cintia terbelalak, tak menyangka jika suaminya yang memulai duluan. Namun, bagi wanita itu takkan ada asap kalau tak ada api. "Kalau begitu, kenapa kamu menerima?" "Mas Hendra yang datang ke rumah. Katanya mau melihat ibu yang sakit." Cintia mencoba mencerna kata-kata itu. Berani sekali suaminya ke rumah Nadia untuk bertemu dengan mantan mertua yang sakit. "Darimana Mas Hendra tau kalau ibumu sakit?" Cintia menatap Nadia dengan penuh selidik. Dia ingin ada kejujuran untuk membuktikan praduga. Selama ini Hendra selalu menunduhnya terlalu posesif. Namun, hari ini Cintia akan membuktikan dugaannya. Bahwa Nadia yang sengaja menggoda suaminya. "Dari--" "Jawab!" Nadia menarik napas panjang lalu membuang pandangan. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, maka akan terbongkar semua. "Aku meminjam uang untuk pengobatan ibu. Gajiku--" "Cukup! Aku sudah tau." "Maaf." "Kamu sudah merusak pikiran suamiku. Kamu membuatnya bimbang. Dan aku gak bisa membiarkan itu terus berlanjut." Nadia merasakan beban di dadanya semakin berat. Dia hanya meminta bantuan financial kepada Hendra. Namun, mantan suaminya malah bersikap posesif. "Aku mengerti perasaanmu." "Kamu masih mencintai suamiku?" Cintia mendesak maju dengan suara yang semakin meninggi. Nadia membuang pandangan dan enggan menjawab. Perasaan di hatinya masih sama. Sejak mereka berpacaran sewaktu SMA. "Aku hanya meminjam uang. Gak ada maksud lain. Mungkin Mas hendra khawatir sama ibu." "Itu masalahmu. Mas Hendra sudah memilihku. Sekarang aku ingin kamu menjauh dari hidup kami selamanya." Nadia merasa hatinya hancur mendengar ultimatum itu. "Cintia, aku tidak ingin berkonflik. Aku menghargai hubungan kalian." "Tapi kamu harus pergi. Kalau gak, kamu akan membuat masalah ini lebih besar lagi." Nadia terdiam dan menyadari bahwa ini adalah salahnya. Andaikan dia tak meminjam uang kepada Hendra, mungkin ini tak akan terjadi. "Lalu aku harus gimana? Aku gak mau menyakiti siapa pun." Cintia menyilangkan tangan, menatap Nadia dengan serius. "Pergilah jauh. Kalau perlu pindah ke kota lain. Itu satu-satunya cara untuk mengakhiri ini." Nadia merasakan air mata menggenang di matanya. Ucapan Cintia benar-benar menyakitinya. Harusnya Nadia yang berkata itu. Cintia sudah merusak rumah tangga mereka. Wanita itu bahkan sengaja menjebak Hendra sehingga hamil dan harus menikahinya. "Biarkan kami bahagia. Carilah pengganti Hendra agar kamu bisa melupakannya." Nadia tersenyum pahit. Ketidak mampuannya untuk memberikan keturunan menjadi boomerang bagi pernikahan sendiri. Andaikan dulu dia menolak ajakan Hendra untuk menikah tanpa restu, mungkin kini nasibnya jauh berbeda. Melihat Nadia yang mengusap air mata, tatapan Cintia tiba-tiba berubah menjadi lembut. Meski cemburu, dia masih menyimpan empati kepada mantan istri suaminya. "Aku gak mau ini menjadi pertengkaran. Tapi kamu harus memahami posisimu. Hendra sudah memilihku." Nadia mengangguk, hatinya bergetar. "Aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat. Ingat, kebahagiaan kami tergantung pada keputusanmu." Nadia mengangguk pelan, merasa seolah-olah dunia di sekitarnya runtuh. Saat Cintia pergi, dia duduk sendiri, merasakan kepedihan dan kebingungan. Beberapa hari berlalu dan Nadia merasa semakin tertekan. Wanita itu tidak bisa tidur, tidak bisa makan, juga mengalami stres saat berangkat kerja. Setiap kali dia memikirkan Hendra, rasa bersalah kembali menghantui. *** Nadia berdiri di ruang tamu, memandang rumah yang telah lama ia tinggali bersama Hendra. Ruangan itu terasa begitu sunyi. Padahal biasanya dipenuhi dengan kenangan hangat, meskipun akhir-akhir ini lebih sering menyakitkan. Ibunyaduduk di sofa dengan pandangan penuh tanya. Rahma memegang secangkir teh hangat yang sudah mulai mendingin. "Bu, besok kita akan pindah," ujar Nadia dengan suara lembut. Ia menoleh ke arah ibunya, menanti reaksi. Bu Rahma mengernyitkan dahi. "Pindah? Kemana, Nak? Kamu belum pernah bilang soal ini sebelumnya." Nadia menarik napas dalam-dalam, berusaha menyusun kata-kata dengan hati-hati. "Aku sudah diterima bekerja di kota lain, Bu. Di sana gajinya lebih baik. Aku yakin ini kesempatan bagus untuk memulai hidup baru." "Tapi rumah kita?" "Aku sudah menjual rumah ini dan sebagian barang-barang juga sudah kuberikan ke orang yang membutuhkan." Bu Rahma terdiam, mencoba memikirkan apa yang baru saja diucapkan anak perempuannya. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia mencoba tetap tenang. "Tapi kenapa mendadak sekali, Nadia? Kenapa kamu gak bilang dari awal?" Nadia mendekat, duduk di sebelah ibunya dan menggenggam tangannya dengan erat. "Maafkan aku, Bu. Aku gak mau membuatmu khawatir. Setelah semua yang terjadi aku merasa ini yang terbaik. Kita memulai dari awal, meninggalkan kenangan lama yang terus membebani kita." Bu Rahma menarik napas panjang, menyadari bahwa anaknya sudah memutuskan jalan hidupnya. "Kota mana, Nak? Apa kita akan jauh dari sini?" Nadia tersenyum tipis. "Gak terlalu jauh, Bu. Masih bisa dijangkau dalam beberapa jam perjalanan. Aku sudah membeli rumah di sana. Kecil tapi nyaman. Dan dengan pekerjaan baru ini, aku bisa lebih fokus menata hidup." Bu Rahma mengangguk pelan, meski hatinya masih berat. "Rumah ini begitu banyak kenangan. Hendra memberikannya untukmu. Dan sekarang kamu harus pergi." Nadia tersenyum pahit, menyeka air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. "Iya, Bu. Aku tahu. Tapi untuk melangkah ke depan, kita harus merelakan apa yang ada di belakang. Aku mau kita hidup dengan damai. Tanpa harus terus-menerus diingatkan oleh masa lalu." Bu Rahma menghela napas, lalu menatap wajah putrinya dengan lembut. "Kau benar, Nak. Mungkin inilah yang terbaik. Ibu hanya ingin kau bahagia, di mana pun kau berada." Nadia tersenyum, merasa lega meskipun hatinya masih terasa berat. "Makasih, Bu. Aku janji di tempat baru nanti, kita akan memulai dengan lebih baik. Gak ada lagi beban dan juga luka." Bu Rahma memegang tangan Nadia lebih erat, mencoba memberi kekuatan meski hatinya bergetar. "Ibu percaya padamu, Nak. Kau sudah melalui banyak hal. Sekarang saatnya kau mencari kebahagiaansendiri." Nadia menatap ibunya dengan rasa syukur. "Aku akan berusaha, Bu. Demi kita berdua." Malam itu terasa berbeda. Meskipun penuh dengan kenangan yang akan ditinggalkan. Ada harapan baru yang terbit di hati Nadia. Di kota yang baru, ia yakin akan menemukan kedamaian yang selama ini dicari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD