Hana memasuki rumah dengan setengah menghentakkan kakinya. Sandy berjalan di belakangnya dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Bunyi pintu yang ditutup perlahan di belakang mereka menjadi satu-satunya suara yang terdengar di antara keheningan canggung itu. Setelah usai makan malam, Sandy tetap menyuruh Hana untuk melakukan revisi. Sehingga pada akhirnya mereka berdua bisa bersama setelah Davin pergi. Sampai mereka pulang ke rumah. Ketika keduanya sudah berada di dalam, Hana berbalik menatap Sandy sembari menyedekapkan kedua tangan. "Apa kamu berniat untuk mencari ribut?!" tanya Hana sambil menautkan kedua alis tanda kesal. "Apa maksudmu?" Sandy balik bertanya. "Davin adalah teman kuliahku. Dia juga asistenmu! Kenapa kamu seolah seperti memusuhinya?!" "Cara bicaraku memang sepe

