Jika mengingat kejadian di resto waktu itu hati Dewa seperti ada yang mengirisnya. Penyesalan yang mendalam selalu mengusik hatinya. Dia harus bisa mendapatkan maaf dari Anya agar hatinya bisa merasa tenang, pikirnya. “Tolong maafkan, Mas … Mas sudah terlalu dalam menyakiti kamu, Nya!” Tanpa ia sadari, lagi-lagi sudut matanya basah oleh air mata. Dewa pun juga terlihat berkali-kali menghembuskan napas beratnya seakan ingin mengeluarkan beban yang sedang menghimpit dadanya. Sesak, bahkan sangat sesak hingga membuat dadanya terasa nyeri. Ucapan pria asing yang menolong Anya terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya seperti sebuah audio yang terus diputar secara berulang-ulang. Bahkan, dia juga membenarkan apa yang diucapkan oleh pria itu padanya. “Aku memang pengecut,” lirihnya kemba

