***
Kebaya moderen berwarna putih yang melekat pada tubuh Finka saat ini adalah kebaya yang sama yang pernah dirinya kenakan Lima tahun yang lalu. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Ardio Jayadi untuk kedua kalinya.
Sumpah demi apapun Finka tak memiliki pilihan lain selain menerima pinangan yang Dio lakukan secara terpaksa seminggu yang lalu.
Pasalnya, baru sehari sejak Finka menolak wasiat dari kembarannya itu, Zira mengalami demam tinggi. Sempat dibawa ke rumah sakit karena panasnya tidak ingin turun. Sebagai tante, Finka kebagian menjaganya atas bujuk rayu sang Nenek yang pintar mengiba. Jengukan itu akhirnya berakhir pada sebuah perjanjian antara dirinya dan Dio.
"Saya akan berikan sebagian harta saya kalau kamu mau nikah sama saya," begitu cara Dio membujuk Finka. Berbeda sekali dengan Lima tahun silam.
Finka mendengkus. "Jangan harap aku mau jadi ibu sambungnya Zira kalau hanya setengahnya saja. Aku mau seluruh harta kamu!" tak tanggung-tanggung syarat yang Finka berikan agar Dio berhenti mengusiknya setelah sempat mengejarnya kala ia meninggalkan rumah sang Nenek di pagi pada pertemuan pertama mereka.
Tentu saja Dio terkejut mendengar permintaan tak masuk akal itu, membuat Finka tersenyum remeh hingga siap untuk kembali ke ruang rawat Zira. Namun, Finka salah dalam mengenal Dio. Lelaki itu menyanggupi persyaratan yang dirinya ajukan. "Baik! Saya akan berikan seluruh harta saya asal kamu mau menjadi ibu sambung Zira," kata-kata Dio terlalu tegas dan berlebihan.
Finka yakin masih sangat banyak yang berharap menjadi istri mantan suaminya itu tanpa harus menyerahkan seluruh hartanya seperti ini. Namun, semua sudah terlanjur. Mana mungkin Finka mundur saat ia sudah mengajukan syarat untuk kembali menikah dengan Ardio Jayadi. Maka, di sini-lah Finka sekarang.
Menunggu seorang Ardio Jayadi mengucap ijab qobul yang kedua kalinya untuk Finka Alea Meysa. Tak ada degup seperti Lima tahun yang lalu, yang ada Finka berharap pernikahan ini batal agar dirinya bisa membalaskan dendam lamanya pada Dio dengan segera.
"Fin sudah saatnya kamu keluar," teguran itu membuat napas Finka menghela dengan berat. Beberapa detik lalu dia juga mendengar seruan yang mengesahkan pernikahan keduanya bersama Dio ini. Mau tak mau Finkas harus keluar juga. Kini, dirinya sudah kembali sah menjadi istri Ardio Jayadi.
"Ini sungguh gila!" ujarnya sebal. Semua gara-gara Fina. Tidak dulu hingga sudah meninggal pun, kembarannya itu masih saja membuatnya menderita. Pulang ke Indonesia bukan untuk kembali diperistri oleh Dio, tapi ingin membalaskan segala rasa sakitnya.
"Untung saja setelah menikah harta Dio jadi milikku!" bukan karena ingin menikmati harta itu, tetapi ingin menikmati kemiskinan yang baru saja menimpa Dio. Kelak ketika mereka bercerai, maka Dio benar-benar akan jatuh miskin. Itu pasti akan membuat lelaki itu penuh penderitaan. Hanya itu yang membuat Finka merasa sedikit untung atas pernikahan paksa ini.
"Fin, ayo!" suara siapa lagi itu kalau bukan milik Neneknya, salah satu orang yang memaksanya untuk menikah dengan Dio.
Finka mengangguk singkat. Sudah basah juga, jadi sekalian saja menceburkan diri. Semoga saja dirinya mendapatkan santapan yang besar di dalam telaga dendamnya nanti.
Keluar dari kamar pengantin rumah Neneknya, Finka mendapati tamu undangan menatap lekat padanya. Bisik-bisik pun mulai terdengar. Apa lagi kalau bukan tentang pernikahan kedua mereka ini. Ck. Finka heran, apakah orang tuanya tidak merasa malu? Entahlah, yang jelas Finka merasa tak memiliki muka lagi saat menjadi pengantin wanita dari pernikahan kedua ini.
"Mama selamat ya, sekalang sudah jadi mamanya Ziya benelan," ucap Lazira. Kepala Finka bergerak untuk membalas ucapan itu. Ia meminta Zira mendekat agar bisa berpelukan dengannya. "Sekarang kan sudah jadi anak mama, Zira harus nurut ya apa kata mama?!" jari kelingking milik Finka terangkat ke arah Zira.
"Janji, mama!" kata si gadis kecil yang keluguannya telah membius Finka, menyentuh hatinya yang penuh dendam itu.
Meskipun Finka sangat membenci orang tua Zira, tetapi Finka tak bisa membenci Zira yang manis, yang selalu membuat perasaannya nyaman. Mungkin Finka merindukan buah hatinya yang telah pergi.
"Fin salim dulu sama suami kamu," bisikan dari Farida mengganggu ketentraman yang Finka rasakan. Mau tak mau ia menyalimi Dio juga. Anehnya, ketika menerima uluran tangan itu, tangan Dio yang lain berada di puncak kepala Finka. Dio terpejam setelahnya.
"Kayak mau nikah lama aja," Finka berbisik dalam hatinya.
Setelah itu, Dio dengan lancang mencium kening Finka, membuat bola mata Finka melotot dengan sempurna. Tarikan senyum di bibir Dio membuat Finka merasakan kekesalannya. Baru beberapa saat lalu mereka sah jadi suami istri, Dio sudah berani menyentuhnya. Bagaimana nanti? Finka bergidik ngeri. Sampai kapanpun dirinya tak akan pernah melayani Dio layaknya istri kepada suami.
"Nah gitu dong, kan, enak dilihat," celetukan itu berasal dari orang yang sama yang menyuruh Finka untuk menyalimi Dio sebagai bukti bakti pertamanya setelah pernikahan kedua ini.
Finka merasa tidak nyaman. Ia ingin sekali segera pergi dari sini. Namun, bagaimana bisa saat pestanya saja belum dimulai. Astaga! Sudah pernikahan kedua baginya dan Dio, Neneknya rewel meminta pesta pernikahan. Neneknya menggunakan Zira lagi dan lagi. Ck, Finka benar-benar kesal dibuatnya.
Finka menatap satu persatu tamu undangan hingga berhenti pada Papanya. Seminggu yang lalu adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Lelaki yang pernah dirinya banggakan itu meminta maaf atas nama Fina. Dia juga meminta maaf karena telah menikahkan Fina tanpa memikirkan perasaannya. Sayang, hati Finka tak semudah itu disentuh hanya dengan permintaan maaf.
Ke mana saja orang tuanya selama Lima tahun ini? Tak sekalipun mereka menanyakan kabarnya. Jangan hanya karena demi pernikahan paksa ini, Finka akan dengan mudah melupakan segalanya.
Luka yang pernah Finka terima dari orang tuanya masih sangat terasa. Terlebih pada Papanya, lelaki yang pernah sangat menyayanginya itu merupakan pria parubaya yang telah menikahkannya dengan Dio. Baik itu Lima tahun yang lalu maupun saat ini, yang juga menjabat tangan Dio ketika menikahkannya dengan Fina.
Tak mungkin dengan mudah Finka lupakan. Papanya seolah tak peduli pada kehilangan yang pernah dirinya rasakan. Bukankah terlalu cepat bagi mereka untuk berbaikan? Bukan apa-apa, Finka hanya takut hatinya terluka lagi.
"Apa Papa nggak bosan menjabat tangan orang yang sama?" tanya Finka di dalam hati semasa ia membalas tatapan pria parubaya itu dengan berani. Lalu, matanya beralih menatap Mamanya. "Entah apa yang mereka pikirkan tentang pernikahan ini?" desah Finka yang lagi-lagi berbicara dalam diamnya.
Entahlah, Finka hanya berharap keluarganya tak meminta lebih atas pernikahan paksa ini. Karena bagi Finka, tujuannya hanya ingin membalaskan dendam, tak pernah lebih dan tak bisa dikurangi lagi. Takaran itu seolah sudah pas, sehingga tak bisa diganggu gugat. Sudah cukup pernikahan dadakan ini terjadi, padahal tak pernah masuk ke dalam rencananya.
Finka yakin dirinya tak akan kalah hanya karena rengekan neneknya, tetapi tanpa Finka sadari dirinya tak pernah merasa waspada dalam menghadapi kepolosan Zira.
.
.
Bersambung.
Next ya.. Jangan lupa TAP LOVE.