Bab 5

1012 Words
*** Hari pertama sejak Finka kembali di peristeri oleh Dio menjadi hari terberat bagi lelaki itu. Jangan mengharapkan hal manis seperti Lima tahun yang lalu karena mantan istri yang pernah tersakiti tak sudi melayani suami dalam rumah tangga kedua ini. Dio pun tak mengharapkannya, hanya saja mereka berdua bagai orang asing yang terpaksa tinggal di bawah atap yang sama. Seharusnya, Dio merevisi perjanjian pasca nikah beberapa waktu lalu. Setidaknya, Finka harus menyediakan sarapan pagi untuknya. Ck. Dio masih bisa memasak sendiri, tapi apa gunanya Finka bila masak saja dia tak bisa? Sambil merengut, seorang Ardio Jayadi mengenakan celemek berwarna pink demi mendamaikan bunyi perutnya yang sudah keroncongan sejak pagi tadi. Bayangkan, saat ini sudah pukul Sepuluh mendekati sebelas, tetapi Finka tak juga keluar dari kamarnya. Iya, mereka memang memilih kamar yang berbeda. Siapa yang sudi sekamar dengan sang penipu rasa. Ceplok telur seadanya menjadi menu sarapan menjelang makan siang seorang Ardio Jayadi. Beruntung, Zira tidak ada di rumah ini. Jika tidak, mungkin anaknya itu juga akan mengalami nasib yang sama sepertinya, kelaparan hingga merasa ingin pingsan. Mata Dio menatap ke lantai atas, tepat pada pintu kamar Finka yang masih tertutup rapat, "Memangnya dia nggak lapar?" Gerutunya. Seharian berdiri menyambut tamu undangan kemarin membuat Dio kelelahan hingga tidur di kamarnya tanpa makan malam. Kini, perutnya protes meminta sarapan. Namun, tak ada apapun yang bisa dirinya makan. Dio menyantap makanan di depannya dengan lahap tanpa sadar Finka sedang menertawakan kesengsaraannya di tengah-tengah tangga. Beberapa detik setelah Dio menyibukan diri dengan nasi dan telur ceploknya, pintu kamar Finka terbuka. Kini, wanita itu terduduk di tengah-tengah tangga. Menatap Ardio yang sedang sibuk menikmati sepiring nasi yang Finka yakini berlaukan ceplok telur, sabab sisa bau goreng telur masih tercium olehnya. Ini belum seberapa, penderitaan Dio baru saja dimulai. Tidak ada yang bisa menghentikan Finka termasuk pernikahan mereka. Finka beranjak dari duduknya, sedikit membenahi gaun yang dirinya kenakan. Lalu menghampiri Dio yang ternyata sudah menghabiskan makanannya. "Lapar ya?" tanyanya sambil menunjukan ekspresi kasihan. Membuat Dio mendecakan lidahnya keras-keras. Lelaki itu tampak mengacuhkan Finka, seolah wanita yang kemarin dinikahinya lagi itu tak ada di depannya. Finka terkekeh senang. Demi apapun sikap diam Dio sama sekali tidak mempengaruhinya. Finka bersedekap manja, menatap Dio, meremehkannya. "Jangan lupa, mulai hari ini semua harta kamu jadi milik aku," ucapnya. Dio mendongakan kepala, membalas tatapan remeh yang Finka tunjukan. Senyum sinis muncul di wajah Dio. Membuat Finka sedikit waspada. Bagaimana pun juga trauma atas perlakuan Dio bertahun lalu masih membekas di hidup Finka. "Sayang sekali aku nggak punya harta lagi, nyonya Ardio Jayadi," Dio sengaja menekan setiap kata yang dirinya ucapkan. "Semua harta ini milik Lazira Jayadi, sudah kualihkan semua atas namanya," pupil mata Finka membesar mendengar pengakuan Dio. Finka menggelengkan kepalanya tak percaya. Mana mungkin hal itu terjadi? "Dasar licik!" Finka menyesal tak meminta dokumen perjanjian mereka terlebih dahulu sebelum menikah lagi dengan Dio. Tak terima Dio menipunya, Finka menyerang Dio dengan kesal. Namun, dengan tangkas Dio menghalangi. Dio menggenggam pergelangan tangan Finka, membawanya ke belakang tubuh wanita itu hingga jarak di antara mereka terkikis dengan sempurna. Kemarahan tampak jelas pada wajah Finka Alea Meysa. Wanita itu semakin tak terima karena Dio berani menyentuhnya. "Lepasin, berengsek!" tak tanggung-tanggung, Finka memanggil Dio dengan kasar. "Kenapa? Kamu gugup?" bisik Dio. Keberaniannya bertambah saat melihat bola mata Finka tak tenang saat didekatnya. Senyum remeh tersungging si bibir lelaki itu. Dengan percaya diri dia berkata, "Kamu masih cinta rupanya," menciptakan kegugupan yang tak biasa di jantung Finka. Namun, dengan cepat wanita itu kembali menguasai diri. Finka terbahak, lalu berhenti untuk sekedaf berdecih di depan Dio. Jangan harap rasa itu masih ada. Rumah tangga bahagia yang pernah Finka impikan bersama Dio telah hilang bersama gugurnya si buah hati. Tak ada lagi cinta untuk Dio di hati Finka. Hanya ada dendam yang harus segera dituntaskan. Tak masalah bila detik ini dirinya tertipu, tetapi Finka tak sudi mengaku kalah sekarang juga. Masih terlalu banyak cara untuk membuat seorang Dio jatuh, dan terluka. Finka tak akan menyerah demi rasa sakit yang pernah Dio berikan padanya. Demi buah hati yang terlanjur luruh dari rahimnya. "Cinta?" tanya Finka seraya mengejek perasaan itu. "Jangan harap kata-kata itu keluar untukmu seperti dulu, Dio! Perasaanku luruh bersama janin yang kau abaikan," sekuat tenaga Finka menahan laju air matanya karena terpaksa menyebut yang telah tiada. Sementara Dio terdiam kaku usai mendengar pernyataan itu. Sejenak rasa bersalah muncul begitu menatap mata Finka yang masih saja terluka. Namun, Dio enggan mengakui bahwa itu salahnya. "Aku pun nggak sudi dengar kata cinta itu keluar lagi dari mulutmu, Finka," balasnya. Dio mengabaikan hatinya yang merasa tercubit. Lelaki itu melepas tangan Finka, membiarkan Finka memundurkan langkahnya. "Bagus! Biar kamu tahu, aku di sini, berada di sini, dalam pernikahan ini, hanya karena ingin balas dendam sama kamu!" kecamnya. Rahang Dio mengeras, gelap. Berbeda sekali dengan warna celemek yang masih melekat di tubuhnya. Warna itu pink cerah, terkesan imut dan lucu. Tidak seperti Dio yang wajahnya menggelap kesal. Namun, Finka tidak peduli. Dia sudah mengutarakan maksudnya. Terserah Dio ingin bersiap dengan pembalasan dendamnya atau hanya diam saja. Finka berbalik, membelakangi Dio dan siap meninggalkannya. Namun suara Dio kembali mengintrupsinya. "Asal kamu tahu juga Finka, aku dan pernikahan kedua kita ini sama-sama terpaksa. Jangan harap kata cinta juga keluar dari mulutku untukmu," terdengar tegas di telinga Finka. Bibirnya tertarik membentuk senyuman. Perang di antara mereka telah di mulai. Tak ada kata menyerah sebelum ia menggenggam hasilnya. Dio harus kalah dan memohon padanya setelah merasakan penderitaan yang dulu pernah lelaki itu berikan. Luka yang sama harus dibayar dengan cara yang sama pula. "Tunggu saja pembalasanku, Dio," balas Finka tak kalah tegas. Lalu, tanpa menunggu balasan dari Dio, Finka melangkahkan kakinya meninggalkan lelaki itu. Hari ini Finka akan pergi ke makam Fina. Belum sempat ia pergi ke sana karena sibuk pada pernikahan dadakan itu. Ada banyak hal yang ingin Finka katakan pada batu nisan Fina. Tentang perasaannya selama kurang lebih Lima tahun ini.  . . Bersambung.  Lanjut ya.. Jangan lupa tinggalkan jejak. Tap LOVE dan komentar di bab ini.  Oya, sekedar pemberitahuan, Finka-Dio akan slow update ya di bulan ini :-) Happy reading, semoga sanggup menunggu hehe
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD