“Apakah kau sakit?” Tanya Kanaya, ketika mereka sudah duduk di restoran itu sembari menikmati makan malam mereka. “Apa?” Elang menatap Kanaya, ia sendiri bahkan telah melupakan perkataan perempuan itu. “Itu yang tadi dikatakan Ibu Rieka, apakah kau sakit?” Ulang Kanaya. “Oh, itu.” Elang tersenyum, “Tidak, itu hanya alasanku saja. Sejujurnya aku sangat mencemaskanmu saat kau mengirim pesan dan mengatakan sedang sakit. Aku terus memikirkanmu, Naya. Kau sendirian, pasti sangat sulit di saat seperti ini, kan?” Elang menatap Kanaya dengan tatapan mata yang begitu lembut, sembari tersenyum. “Aku senang kau sudah sehat sekarang. Kau harus menjaga tubuhmu sendiri, jangan terlambat makan, dan jangan tidur terlalu larut. Kau bisa mengatakan padaku jika pekerjaan yang kuberikan padamu terlalu ba

