Rieka mengetuk pintu ruangan direktur utama, di mana lelaki tua dengan rambut yang telah memutih itu selalu duduk di sana, mengawasi setiap gerak – gerik yang dilakukan oleh para bawahannya, terutama putra – putranya itu. Lelaki tua itu bukannya tidak tahu, ia hanya berpura – pura tidak tahu selama ini. Ketiga putranya yang seharusnya bisa ia andalkan itu, semata hanya membutuhkan warisan yang besar atas perusahaan yang ia bangun dengan susah payah. Itulah mengapa ia bahkan tidak memberikan posisi wakil direktur kepada salah seorang putranya, tapi ia justru memberikannya kepada sahabatnya sendiri. Wanita paruh baya yang telah membantunya di dalam perusahaan. Rieka masuk ke dalam, setelah mendengar suara kakeknya itu, perempuan muda dengan rambut hitam sebahu itu melangkah masuk, menghamp

