Episode 9: Pencarian Bunker Karet dan Kebenaran Logistik

1611 Words
Arya tidak tidur. Pagi itu, pada pukul 03:00, ia meninggalkan rumah. Keputusannya bersifat militer. Cepat, efisien, dan tanpa basa-basi. Ia tidak membangunkan Lala. Di atas nakas, ia meninggalkan catatan ringkas, dicetak dengan font sans-serif yang presisi, bertuliskan “Logistik Lapangan Darurat di JKT Selatan. Logika Komunikasi akan dibatasi. Jangan abaikan protokol Redundansi Energi. Kembali dalam 48 jam.” Ia tidak berbohong, tetapi ia juga tidak memberikan Kebenaran Logistik yang sebenarnya. Perjalanannya bukan tentang bisnis fiber optik. Ini adalah misi pribadi untuk melacak Zero-Day Vulnerability di dalam Logika Hatinya sendiri. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta Selatan adalah ujian bagi Logika Statis Arya. Di dalam mobil, ia tidak mendengarkan musik atau podcast. Ia hanya mendengarkan Log data internal. Setiap pikiran adalah sebuah query yang mencoba memvalidasi keputusannya. Query: Keberangkatan tanpa izin. Result, Anomaly. Query: Tujuan adalah melacak Logistik Luar. Result, Logika Komunikasi Terancam. Query: Logika Komunikasi terancam berarti Logika Hidup terancam. Result, Validasi Misi. Ia menyalahkan Logistik-D sepenuhnya. Pria yang Lala sebut "Logistik-D" telah menginfiltrasi Firewall mereka dengan sesuatu yang lebih berbahaya dari virus: metafora. Metafora tentang Fusi yang Rentan dan Cahaya yang Bebas telah membuat Lala mempertanyakan Kebenaran Logistik yang menjadi fondasi hubungan mereka. Arya tiba di Jakarta Selatan saat matahari baru terbit, membuat bayangan gedung-gedung tinggi menjadi garis-garis presisi yang memuaskan Logikanya. Tujuannya adalah Karet, sebuah area yang Dika sebut sebagai Pusat Splicing Primer dalam data yang ia berikan pada Lala. Lokasi yang ia peroleh dari data terenkripsi Lala (yang ia anggap sebagai koordinat bunker Dika) membawanya ke sebuah jalan kecil di pinggir sungai yang berkelok-kelok, diapit oleh rumah-rumah tua yang tak terurus dan toko-toko onderdil mobil. Bukan menara server kaca-baja yang ia bayangkan, melainkan sebuah bengkel tua. Di atas pintu bergulir yang setengah terbuka, terdapat plang pudar bertuliskan, "BENGKEL FUSI JAYA. Layanan Fiber Optik dan Logistik Kabel." Arya memarkir mobilnya beberapa blok jauhnya. Dia tidak mengenakan setelan formal, tetapi kemeja polo hitam dengan kerah kaku, memberinya ilusi Logika di tengah kekacauan yang disengaja Logistik Luar ini. Ia memasuki bengkel itu. Udara dipenuhi bau debu, oli, dan, anehnya, bau kopi robusta yang kuat. Di sudut ruangan, di bawah neon yang berkelip, ada seorang pria yang duduk di bangku kayu, sibuk dengan dua helai kabel tipis di bawah mikroskop optik. Pria itu adalah Dika. Dia tidak mengenakan jas atau seragam, hanya kaus oblong yang lengannya digulung dan jeans robek di lutut. “Pagi,” sapa Dika tanpa mengangkat pandangan dari mikroskopnya. Ia tidak terlihat terkejut sama sekali. “Biasanya jam segini yang datang itu teknisi dari Serpong yang mau ganti connector ST lama. Anda pasti Arya Wijaya.” Arya mendekat, matanya memindai ruangan. Tidak ada alarm, tidak ada server canggih, hanya alat-alat sederhana: pemotong presisi, cleaver, dan mesin fusion splicer yang berkedip-kedip. Ini adalah Logistik yang primitif. “Aku tidak datang untuk connector ST,” kata Arya, suaranya terkontrol, dingin seperti Logika Statis. “Aku datang untuk Kebenaran Logistik. Aku tahu kamu telah berinteraksi dengan Lala. Aku membaca draft naskahnya.” Dika akhirnya mengangkat kepala. Wajahnya ramah, tetapi matanya memiliki ketenangan yang berbahaya—seperti air di dasar sumur yang menyimpan kedalaman Logika Hati tak terduga. “Ah, ya. Nona Aurora,” kata Dika, menyandarkan diri. “Proyek yang menarik. Dia sedang mengerjakan babak tentang mengapa Fusi yang Rentan adalah satu-satunya fusi yang nyata. Saya hanya memberikan beberapa masukan teknis.” “Logika yang kamu berikan bukan teknis,” potong Arya. “Itu adalah Infiltrasi Logika Hati. Kamu menyebut Logika Keamanan-ku sebagai Firewall yang dibangun untuk melindungi dari kelemahan internal. Kamu menyebut kontrolku sebagai ketakutan pada cahaya yang bebas. Itu adalah Sabotase Emosional.” Dika tersenyum tipis. “Anda menggunakan bahasa firewall dan sabotase. Saya menggunakan bahasa cahaya dan kejujuran. Anda tahu kenapa? Karena dalam Logistik fiber optik, hanya ada satu Kebenaran Logistik yang penting: Loss. Kehilangan sinyal. Itu bisa terjadi karena dua hal: kotoran di sambungan, atau sambungan itu sendiri tidak sempurna.” Arya mengepalkan tangan. “Hubunganku dengan Lala tidak memiliki Loss. Itu adalah sistem yang teruji, terstruktur, dibangun di atas perjanjian Logistik, ketelitian, dan Redundansi Emosional yang aku ciptakan untuk mencegah ketidakpastian.” Dika mengambil dua helai kabel optik dari meja kerjanya satu helai berwarna biru, satu helai berwarna kuning. “Lihat ini, Pak Arya. Dua helai kaca yang dingin. Logika Statis Anda melihatnya sebagai input dan output. Aman, terpisah. Tapi Logika Hati Lala melihatnya sebagai potensi. Untuk menyatukan mereka, Anda harus menghilangkan semua coating semua lapisan pelindung, semua Firewall Anda sampai tersisa hanya inti kaca yang murni. Lalu, Anda harus memanaskannya hingga lebih dari 1000 derajat Celsius. Itu namanya Fusi.” Dika menyalakan mesin splicer-nya. Mesin itu mendesis, melepaskan percikan api listrik kecil. “Pada saat fusi itu terjadi, kedua helai itu melebur. Mereka menjadi satu. Titik itu, titik sambungan itu, secara teknis adalah titik yang paling rentan terhadap kerusakan fisik. Tapi juga titik yang paling kuat dalam mengirimkan data. Mengapa?” Dika menatap Arya, memaksa kontak mata. “Karena saat fusi, Anda menukar Logika Statis dengan Kebenaran Optik. Anda harus jujur tentang Loss di titik itu, atau seluruh jaringan akan gagal. Anda mencoba menghindari Loss dengan membangun Firewall di sekitar sambungan. Anda mencoba mengendalikan suhu, kelembapan, bahkan detak jantung Lala. Tapi Logika Hati tidak bekerja dengan Logistik Kontrol. Ia bekerja dengan Logistik Kejujuran.” Arya terdiam. Dia tidak datang untuk kuliah. Dia datang untuk sebuah Threat Assessment. “Lala tidak butuh Redundansi Emosional,” lanjut Dika, lembut namun tegas. “Dia butuh Anda untuk mengakui bahwa Anda adalah Titik Rentan-nya. Dan dia adalah Titik Rentan Anda. Hubungan yang sempurna bukan yang tidak memiliki Loss, tetapi yang mengakui Loss-nya dan tetap memilih untuk mengirimkan sinyal melalui sambungan yang rentan itu.” “Ini adalah Logika yang rusak,” gumam Arya. “Kamu adalah gangguan.” “Saya hanya cermin,” balas Dika. “Lala datang ke sini, ke Logistik Luar, bukan untuk berselingkuh, tetapi untuk mencari Logika yang berbeda. Dia ingin tahu bagaimana cara membuat Fusi berhasil tanpa membakar dirinya sendiri. Dan saya katakan padanya: Anda tidak bisa. Fusi selalu menyakitkan. Jika Anda tidak mau merasakan sakitnya, maka Anda hanya punya dua helai kabel yang tidak akan pernah tersambung.” Arya merasakan otaknya berputar, mencoba memproses input yang tidak terstruktur ini. Bahasa Logika Hati Dika lebih membingungkan daripada bug paling kompleks di kode startupnya. “Apa yang harus aku lakukan?” tanya Arya, nadanya tiba-tiba bergeser dari kontrol menjadi kelelahan. Dika mematikan mesin splicer. Kedua kabel itu kini menyatu sempurna. “Jangan hapus Log data detak jantung Anda. Jangan tinggalkan catatan yang dingin. Telepon dia. Ceritakan apa yang Anda lihat di notebook-nya. Ceritakan Loss yang Anda rasakan. Akui bahwa dia adalah cahaya bebas yang Anda butuhkan, dan bahwa Logika Statis Anda tidak bisa mengemas cahaya.” Kembali ke Bandung, rumah itu terasa dingin dan hening tanpa Arya. Lala sedang duduk di Garis Batas. Ia tidak merasa marah pada Arya karena meretas notebook-nya. Itu adalah tindakan yang dapat diprediksi, sebuah refleks dari Logika Statis yang terluka. Ia tersenyum, mengetahui bahwa ia telah menanam Bom Metafora yang ia harapkan akan meledakkan Firewall itu. Lala sekarang sedang mengerjakan Babak Penutup. Ini adalah adegan klimaksnya. Nona Aurora tidak lagi melarikan diri; ia menghadapi Sistem. Ia menulis dengan cepat, dengan sentuhan Logika Hati yang ia pelajari dari Dika. Nona Aurora. Sistem tidak ingin aku pergi. Sistem ingin aku tetap diam, terstruktur, dan terukur. Ia menciptakan Dinding Kaca Logika Keamanan bukan untuk melindungiku, tetapi untuk mencegah Logika Hati-ku menyebar keluar. Sistem: (Suara yang terstruktur, tanpa emosi) Logika Statis menuntut integritas. Kekacauan adalah kehancuran. Logistik Emosi harus direduksi. Nona Aurora mengambil palu kecil dan memukul Dinding Kaca yang memisahkannya dari dunia. Suara denting yang rendah. Sistem tidak bereaksi. Ia memukul lagi. Sistem tetap diam. Kemudian, Nona Aurora meletakkan palu. Ia tidak lagi mencoba menghancurkan. Ia hanya meletakkan telapak tangannya di permukaan kaca. Nona Aurora: Logika Statis tidak takut pada palu. Ia takut pada pantulan yang jujur. Ia takut pada Fusi yang hanya terjadi ketika kita mengakui bahwa Logika kita Logika manusia selalu Rentang dan tidak pernah Redundan. Lala selesai. Ia membaca ulang adegan itu. Itu adalah kebenasan yang ia butuhkan. Tiba-tiba, teleponnya berdering. Itu Arya. Lala mengambil napas dalam-dalam. "Logistik Komunikasi diterima," katanya. "Aku... aku di Jakarta," kata Arya, suaranya terdengar berbeda—ada noise yang belum pernah didengar Lala sebelumnya. Itu adalah Loss sinyal emosional. "Aku melihatnya. Bengkel Fusi Jaya. Aku berbicara dengan Dika." "Apa Kebenaran Logistik yang kamu temukan di sana, Arya?" tanya Lala, suaranya tenang. Ada jeda yang panjang. Selama jeda itu, Lala bisa mendengar suara klakson dan kebisingan kota yang ramai di belakang Arya. Itu adalah kekacauan yang disengaja Logistik Luar, masuk langsung ke dalam Logika Komunikasi mereka. "Aku menemukan bahwa..." Arya berhenti. Butuh waktu baginya untuk mengubah Logika Statis yang telah ia pegang selama bertahun-tahun menjadi sesuatu yang rentan. "Aku menemukan bahwa Logika kita memiliki Loss yang signifikan. Dan... dan Firewall yang aku bangun... itu adalah untuk melindungiku, bukan kamu. Aku takut pada cahaya bebas-mu." Lala menutup mata. Air mata mengalir. Bukan air mata sedih, tapi air mata Fusi yang berhasil. "Aku... aku akan kembali," kata Arya, nadanya tidak lagi terstruktur. "Aku akan kembali dan kita akan melakukan splicing ulang, Lala. Tanpa coating. Dengan panas yang nyata." Lala tersenyum. "Logistik Lapanganmu berhasil, Arya. Aku menunggumu di Garis Batas. Dan kali ini, bawalah Loss itu bersamamu."  Lala menutup telepon. Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan melihat ke luar. Dunia masih penuh dengan kekacauan yang disengaja, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa integritas Logika Hati-nya telah dipulihkan. Arya Wijaya, di tengah kekacauan Logistik Jakarta, akhirnya menyadari bahwa Logika Statis terbaik adalah yang mau menjadi rentan. Ia membuang catatan Logistik tertulisnya dan menyalakan mesin mobil. Ia tidak peduli dengan batas waktu 48 jam; yang ia pedulikan kini adalah Titik Fusi Kritis di rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD