21. Nina

1083 Words
Zara bangun ketika jarum jam menunjuk angka 3 pagi. Gadis itu segera mengambil air wudhu, ia akan melaksanakan sholat tahajud. Suasana rumah masih sunyi, tapi di musollah lampunya menyala. Abi dan Uminya mungkin sekarang tengah melaksanakan sholat malam. Ia pun berjalan perlahan menuju kamar mandi, agar tak menganggu kedua orang tuanya yang mungkin kini tengah khusyuk shalat malam. Jika sudah memiliki suami, Zara juga ingin shalat tahajud dengan suaminya. Pasti rasanya bahagia sekali, bisa menemui sang pencipta di waktu spesial bersama orang spesial. Kedua orang tuanya memang panutan Zara. Apa yang mereka lakukan, Zara ingin lakukan kelak bersama suaminya. Usai mengambil wudhu, gadis itu pun segera masuk ke dalam kamar lagi. Menggelar sajadah kemudian menggunakan muknanya. Sebelum shalat, Zara menghembuskan nafas panjang. Matanya terpejam sesaat seolah menikmati suasana pagi itu. Mensyukuri nikmat, karena masih diberi kesehatan oleh Allah. Setelah merasa hatinya sudah mantap kepada Allah, ia pun mengucapkan takbir dan memulai shalat. Zara selalu begitu, sebelum shalat ia diam sejenak. Menghembuskan nafas dan memperhatikan sekitar. Mensyukuri nikmat hidup yang masih di berikan Allah. Dan akibatnya jika melakukan itu, Shalatnya akan terasa lebih khusyuk. Butuh waktu lima belas menit Zara menyelesaikan shalat, setelah itu Zara segera mengambil Al-quran. Baru saja Al-quran ia sentuh, ponselnya yang ada di atas kasur berdering memecahkan keheningan. Membuat Zara sedikit terkejut. Ia pun segera mengambil ponselnya, dengan perasaan jengkel karena—siapa sih, yang telepon pagi buta seperti ini? "Agam?" Kata Zara sembari menatap layar ponselnya. "Ngapain nih anak?" Dengan pertanyaan yang menghantui benaknya, Zara menjawab telepon itu. "Assalamu'alaikum, halo Agam? Ada apa?" Kata Zara sembari duduk di pojok kasurnya. "Wa'alaikumsalam, oh lo lagi tahajud juga? Cek WA gue coba." Zara menurut, ia menekan ikon loudspeaker sebelum menuju aplikasi w******p. Chat Agam ada di atas sendiri, karena lima belas menit yang lalu cowok itu mengirimkan sebuah foto. Zara membukanya, dan Zara segera tau maksud Agam menelponnya. "Uda Ra? Sori ya, kemarin-kemarin nggak sempet ngirim foto Dio shalat. Soalnya gue ngantuk banget, dan Dio shalat sama bokap." "Kan uda gue bilang Gam, nggak usa pekek ngasih kabar segala." "Tapi kan ini bisa jadi bukti Ra," "Ya tapi ga perlu" "Oke deh, besok gue nggak usa kirimin foto Dio shalat tahajud lagi ya berarti.." "IYA!" "Beneran? Bukannya lo nungguin?" "Ngarang! Gue aja lupa, dan tadi sempet heran waktu lo telpon pagi-pagi." "Yah Zara kok jahat banget sih, Dio denger apa yang lo omongin loh!" "Biarin" Zara bohong, dalam lubuk hatinya sekarang dia nyesel uda ngomong kayak gitu. Tapi Zara emang lihai dalam menyangkal perasaannya sendiri kan? "Tapi Ra gue serius, Dio banyak perubahan. Dia uda hafal baca-bacan shalat sekarang. Mungkin karena dulu sempet hafal kali ya? Makanya sekarang dia cepet hafalnya." "Oh..." "Dia juga mulai disuruh Abi shalat lima waktu." "Oh.." "Kata Dio, shalat ternyata cukup nyenengin, bikin hatinya tenang." "Hm." Selang tiga puluh detik, Agam baru muncul kembali. "Ra," dengan suara berbisik. Sepertinya Agam pinda temlat, karena Zara tadi sempat dengar derap langkahnya dari ujung sana. "Kenapa Gam?" "Lo nggak takut?" "Takut?" "Takut apa?" "Gimana kalau entar Dio shalatnya bukan karena lo lagi, tapi karena Allah?" "Ya bagus dong Gam, artinya dia uda beriman kepada Allah." "Terus lo nggak takut—" Agam menahan ucapannya. "Takut apa?" "Kalau semisalnya Dio nggak nagih janji lo buat pacaran sama dia." "Ya bagus banget dong! Berarti dia bener-bener berhasil mendekatkan diri ke Allah." Bohong! bohong! Zara bohong! Mendengar perkataan Agam barusan, bikin ketenangan hati Zara terusik. Ia cukup resah membayangkan hal itu terjadi. Tapi lagi...lagi...Zara enggan mengakui dan malah menyangkalnya. "Hm..oke deh Ra, gue tutup ya! Assalamu'alaikum wr wb." "Wa'alaikumsalam." Zara tidak segera meletakkan ponselnya kembali. Gadis itu malah melihat gambar yang dikirimkan Agam dengan seksama. Gambar ketika Dio berdoa dengan menengadahkan tangan. Entah doa apa yang tengah Dio rapalkan kepada Tuhan. Mungkin doa agar Tuhan mau melembutkan hati Zara sehingga mau menerimanya. Atau doa yang lain? Zara tak tau, yang jelas di foto itu Dio terlihat lebih tampan sari biasanya. Atau mata Zara yang bermasalah? Yayaya, pasti mata Zara yang salah. --- "Dio?" seseorang menggoyangkan bahu Dio. Cowok itu kini tengah tertidur di atas sajadah. Matanya tak bisa ia tahan untuk tetap terbuka, bahkan seusai Abi Agam memberikan pengajian, Dio masih belum bangun. "Yoo ayo pulang, kamu harus sekola." Yang membangunkan Dio itu adalah Abi Agam. Jadi tadi, Abi meminta Dio menemaninya untuk mengisi ngaji pagi di masjid tetangga komplek. "Yooo, Diooo!!" Baru ketika Abi sedikit memukul. pipi Dio, cowok itu akhirnya tersadar. Matanya berkedip beberapa kali, hingga ia duduk dengan raut wajah terkejut.. "Loh, ngajinya uda selesai Abi?" "Udah, kamu tidur aja dari tadi?" Dio terlalu malu menjawab, akhirnya ia hanya menampakkan sederetan gigi putih bersih miliknya. Membuat Abi Agam gemas sendiri ingin menonyor kepala Dio. "Uda ah, ayok pulang! Kamu sekolah!" Dio pun menurut, mereka akhirnya meninggalkan masjid itu menaiki mobil yang dikemudikan oleh Dio. Sepanjang jalanan, pikiran Dio berjalan kemana-mana. Lari, mencari sosok yang Dio harap bisa menjadi miliknya. Siapa lagi kalau bukan Zara. Sekalipun tadi Pagi dia sudah mendengar suara Zara dari menguping pembicaraan Agam dan Zara ditelepon, tetap saja rasanya Dio ingin mendengar suara itu setiap saat. "Dio Abi tadi waktu pengajian bilang ke warga, kalau Shalat tahajud bisa merubah diri kita." "Oh ya? Abi tadi bahas shalat tahajud?" "Iya. Kamu si tidur." "ngantuk bi." "Iya Abi tau, padahal Abi pingin ngenalin kamu ke mereka." "Ha kenapa ?" "Kamu jadi berubah Dio sejak shalat tahjud. Kamu nggak ngerasa berubah emang?" "Oh, tapi kan aku ngelakuin itu semua karena Zara Bi." "Iya tapi lama kelamaan kamu akan ngelakuin itu karena Allah." Dio nggak tau harus bereaksi bagaimana. akhirnya ia memutuskan untuk diam. Sesampainya di rumah, meja makan ramai. Sudah ada Nina dan Agam tengah menyantap sarapannya. wajah Nina sontak menjadi masam ketjka mendapati Dio duduk di samping Agam. nina memang masih belum terbiasa dengan keberadaan dio di rumahnya. ia bahkan sering menghindar agar tidak bertemu Dio di rumah. Tapi usaha Nina selalu gagal, ketika sarapan wajah Dio sudah menghiasi paginya. "Nanti Dio berangkat sama Nina ya." Kata Agam. sembari menyendokkan makanan, Dio mengangguk. Dio nggak masalah, dia bisa di mobil dengan siapapun asal tidak dengan zara. karena jantungnya pasti akan berdetak cepat jika didekat gadis itu. Oh ya, sebenarnya Dio membawa motor, motornya bahkan ada di garasi keluarga Agam. Tapi Abi sudah menyita kunci motor Dio dan tak memperbolehkan cowok itu untuk.ugal-ugalan di jalan. lain halnya dengan Nina, yang kini tengah sibuk mengendalikan jantungnya. rasanya ia tak menyangka hari ini akan datang, hari dimana ia berdua dengan Dio. tbc xx, muffnr
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD