22. Nina, mobil dan Zara

1030 Words
"Nina?" Tegur Dio kepada Nina yang sedari tadi hanya diam tak kunjung naik ke dalam mobil. Nina mengerjapkan matanya, kemudian melirik sosok Dio yang sudah ada di dalam mobil melalui kaca pintu yang terbuka. "Ayo naik Nin," ucap Dio lagi. Rasa kesal menyusup ke relung hati Nina, ia kesal pada Agam yang meninggalkan mereka berdua. Entahlah kemana perginya kembarannya itu, yang jelas katanya ada urusan penting. Setelah menghembuskan nafas panjang dan menenangkan jantungnya yang tak bisa berdetak biasa saja, Nina pun membuka pintu kemudian duduk di kursi samping Dio. "Kita mampir ke rumah temen gue dulu ya," kata Dio sembari melajukan mobil. Mobil bewarna hitam itu pun pergi meninggalkan area rumah pagar coklat tua. Menembus jalanan perumahan yang masih sepi. "Hm," Jawab Nina dingin sedingin udara yang menyusup melalui jendela pintu Dio yang terbuka. Dio tidak tau, kenapa cewek di sampingnya itu sangat membencinya. Seingat Dio dulu dia tak pernah pacaran dan menyakiti hati Nina. Dio bahkan baru tau keberadaan Nina setelah cewek itu melarang Zara mendekatinya. Sebelum itu, Dio tak mengingat apapun. Yang jelas, sikap Nina selama ini membuat Dio seolah menjadi makhluk paling menjijikkan di dunia. Yang selalu Nina hindari dan Nina abaikan keberadaannya. "Nin, gue boleh tanya sesuatu nggak?" Dio memecahkan kesunyian diantara mereka. Nina yang sibuk menatap jalanan melalui jendela di sampingnya tidak bergeming. Tak ada sautan dari mulutnya, tapi Dio anggap itu sebagai jawaban. "Gue pernah ngelakuin kesalahan ya ke lo?" suara Dio terdengar tenang, tidak ada emosi di kalimat yang ia ucapkan. Tapi sukses membuat Nina terkejut. Cewek itu bahkan sontak menolehkan kepala ke arah Dio, membuat matanya dan mata Dio bertemu sekalipun tidak sampai 3 detik. Karena Nina buru-buru menyembunyikan wajahnya lagi. "Nin, kalau gue ada salah maafin gue ya? Sumpah gue nggak tau harus gimana lagi ngadepin lo." Kata Dio jujur "Yauda abaikan aja gue." Jawab Nina ketus. "Mana bisa kan kita tinggal serumah, setiap hari ketemu." "Ya bisa kalau lo keluar dari rumah." "Nin, plis dong! Gue serius!" "Iya gue juga serius." Mobil hitam itu memasuki area perumahan, Nina menebak itu adalah kawasan rumah teman Dio. Suasana di dalam mobil kembali sunyi, menyisahkan pertanyaan yang kini menghantui pikiran Nina. Hatinya menjadi sesak dan ia ingin melarikan diri dari suasana yang membuat jantungnya tak bisa berdetak normal. "Lo di sini aja," Kata Dio sebelum turun dari mobil. Nina pun bisa bernafas lega, ia sontak menyentuh dadanya untuk menenangkan jantung yang sedari tadi bekerja lebih ekstra dari biasanya. Ternyata sekeras apapun Nina menolak, perasaan itu tetap ada. Tidak bisa Nina kurangi dan hanya bisa gadis itu tutupi. Sebenarnya perasaan itulah yang menjadi jawaban atas pertanyaan Dio tadi. Sikap Nina yang membenci Dio adalah manifestasi dari perasaan terpendam Nina selama ini. Pintu kemudi terbuka, Dio masuk ke dalam mobil. Aroma tubuh Dio yang harum menyeruak ke dalam indra penciuman Nina. Membuat detak jantung gadis itu semakin berantakan. "Dia uda berangkat," kata Dio. Nina menatapnya penuh tanya, "terus?" "Ya berarti lo ke sekolah berdua sama gue." "Ha? Iya emang kan?" Nina mendadak jadi keong cantik, yang tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan Dio. "Okeh, berarti lo siap kalau ada yang gosipin lo jadi pacar baru gue?" "Kenapa gitu?" Dio melajukan mobil, memberi jeda pada Nina untuk mencerna setiap ucapannya. Kalau Nina emang anak Aksara pasti dia akan tau maksud ucapan Dio. "OH! TURUNIN GUEEE, TURUNIN GUEE SEKARANG!!" kata Nina panik. "Ya nggak sekarang juga Nin." Kata Dio tenang. "GUE NGGAK MAU DIGOSIPIN SAMA LO!!" "Ya gue juga Nin." Hati Nina merasa ngilu mendengar perkataan Dio. Sekalipun Nina tau Dio tak menyukainya, tapi mendengar langsung dari mulut Dio berhasil membuat Nina merasa patah hati lagi. Dio itu playboy di Aksara, dia sering menjadi buah bibir setiap siswa. Entah dari Kakak kelas, adik kelas atau temen seangkatan. Yang jelas, jika Nina datang ke sekolah dengan Dio pasti orang-orang akan mengira Nina adalah pacar Dio. Apalagi akhir-akhir ini Dio tak pernah menampakkan batang hidungnya dengan cewek manapun. Sekali Dio jalan dengan cewek, pasti semua orang di aksara akan menganggap itu pacar Dio. Dan Dio nggak mau itu terjadi, ada hati yang Dio jaga, dan ada janji yang kini Dio perjuangkan. Ya, janjinya pada Zara. "Entar lo gue turunin di Indomerit aja, biar nggak ketahuan anak-anak." "Terus gue ke sekolahnya naik apa? kan jaraknya lumayan jauh Yoo!" kata Nina emosi. "Deket Na, jalan masih bisa kok!" "Iya emang bisa Dio, kan aku punya kaki. Tapi capek!!" "Lucu banget sih Nin" "Ha?" Nina nggak tau, apa maksud Lucu yang diucapin Dio. Apa yang lucu? Jalan? Atau siapa yang lucu? Ninaa? Aduh, nggak-ngak! Nina nggak boleh mikir aneh-aneh. "Yauda gue turunin di halte." "Nggak, banyak anak!" "Yauda terus dimana?" "Indomerit aja." "Ya Allah kan bener kata gue tadi." "Bawel! Diem!" Dio terkekeh geli. Benar kata Agam, Nina seperti anak kecil. Andaikan Nina bisa bersikap baik pada Dio, pasti Dio akan mengajak Nina berteman. Agar ia bisa mendapat informasi tentang Zara. Ah, lagi-lagi cewek itu memenuhi pikiran Dio. Bahkan disaat ada cewek lain di sampingnya, Dio masih terus teringat Zara. Senyum gadis itu, raut wajah gadis itu, dan segalanya yang terekam di ingatan Dio kini bak video yang kembali berputar. Ini sudah hari Ke-7, Dio sudah melakukan shalat malam sebanyak tujuh kali. Jika kalian bertanya pada Dio apakah sulit? Sebenarnya bukan shalat tahajudnya yang sulit, tapi meninggalkan kebiasaan yang dulu Dio lakukan itu yang paling sulit. Abi berpesan pasa Dio untuk merubah sikapnya. Karena shalat tahajud saja tak cukup untuk merebut hati Zara, apalagi hati Abinya. Dan dengan polos, Dio menurut. Sejak seminggu ini, Dio bahkan jarang nongkrong dengan teman-temannya. Ia juga jadi berhenti merokok, ketika Agam bilang Nina tidak suka cowok perokok. Kebiasaan Dio yang banyak membuang waktu percuma, kini berkebalikan. Abi Agam selalu menyuruhnya melakukan sesuatu, agar Dio selalu sibuk. Capek? Tentu saja, Dio berkali-kali ingin menyerah dengan hal-hal baru yang ia lakukan sekarang. Tapi ia selalu ingat senyum Zara, sehingga menjadikannya lebih bersemangat. Sekalipun kini sikap Dio belum.bisa berubah, kebiasaan Dio yang tak suka sepi belum hilang, tapi Dio akan tetap mencoba untuk merubah dan menghilangkannya. Entah, apa dia bisa? Yang jelas ia setuju kata Abi. Bagaimana pun hasilnya, yang terpenting dia sudah berusaha. Xx, muffnr Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD