18. Last

599 Words
Jantung Dio berdegub kencang, keringat dinginnya pun keluar membasahi tubuh, tangannya gemetar, namun ia berlagak biasa saja. Sembari tersenyum manis, Dio berkata "Ra, lo mau jadi pacar gue nggak?" Membuat langkah Zara yang hendak memasuki area rumah terhenti. Ingin rasanya Zara pura-pura tidak dengar, dan masuk begitu saja ke dalam rumah. Namun tubuhnya berkeinginan lain. Tanpa diminta, tubuhnya sontak berbalik ke belakang. Menghadap ke arah Dio yang tengah berdiri kaku. "Lo nembak gue lagi?" Sebenarnya, Zara sudah tau jika Dio akan melakukan hal ini selepas ia menjelaskan jika tidak ada hubungan apa-apa dengan Agam. Namun Zara tidak menyangka, akan secepat ini. Dio terlihat salah tingkah ketika Zara mendekat, beberapa kali lelaki itu menghembuskan nafas panjang agar jantungnya bisa berdetak dalam irama. Namun gagal, jantung itu, entah kenapa bisa menggila hanya dengan gadis yang ia cintai menatapnya. "Gu..gu..gue sayang banget sama lo Ra." bicara Dio yang biasanya lancar pun kali ini gagu. Keahlian lelaki itu meluncurkan kata-kata manis hilang jika dihadapan Zara. "Yo," untuk yang pertama kalinya, Zara menatap Dio lekat. Menatap wajah Dio yang terlihat sungguh-sungguh, ketakutan dan sedikit malu. Zara sekarang tau, apa yang dikatakan Agam benar. Jika lelaki di hadapnnya itu tidak akan menyerah hanya dengan penolakan. Membuat Zara yakin jika menuruti saran Agam adalah hal yang tepat. "Ra, untuk kali ini aja. Beri gue kesempatan, gue akan lakuin apa pun yang lo mau. Asalkan lo mau jadi pacar gue." Zara tidak boleh menolaknya lagi, Dio akan melakukan apapun untuk perempuan itu. "Lo serius?" "Iya gue serius, i will do everything for you if you be my girlfriend. Promise!" Dio akhirnya lancar mengatakan apa yang ada di benaknya. Keringat dingin yang ia rasakan di tangan sepertinya akan menjadi sahabat yang menemani ketika ia bersama Zara. Zara terdiam lama, membuat Dio semakin gelisah. hingga kemudian.. "Oke." Dio masih mematung, mereplay kembali apa yang ia dengar. Ia tersenyum lebar, ketika ia yakin Zara mengatakan--oke. "Jadi? Lo mau?" "Gue akan jadi pacar lo, tapi sebelum itu, lo harus penuhin persyaratan dari gue." "Iya, apa persyaratannya? Gue pasti bisa memenuhi persyaratan itu." Zara menarik nafas panjang, dalam hati ia berdoa semoga ini keputusan yang tepat. "Lo harus salat tahajud selama empat puluh hari. Full nggak boleh sampek ada yang bolong." "Sa-salat tahajud?" Dio sudah bertekad pada dirinya sendiri, untuk melakukan apapun agar Zara mau jadi pacarnya. Namun Dio tidak menyangka Zara akan meminta sesuatu hal yang Dio tidak mengerti itu apa. "Kenapa? Lo nggak tau salat tahajud itu apa?" "Gu-gue tau kok." "Apa?" "Salat yang...em...itu..yang..eeee.." Di Kartu keluarga Dio, dikolom agama tertulis islam. Selama hidupnya sejak kecil, Dio hanya ingat pernah sholat beberapa kali saja. Itu pun dulu waktu praktik sholat. Jadi jangankan untuk sholat tahajud, shalat fardhu saja Dio jarang. "Udah deh, kalau lo nggak tau salat tahajud itu apa. Mending lo tanya sama Agam. Dia bakal kasih tau lo." "Gue akan tanya dia!" ucap Dio bersemangat. "Yaudah, sekarang lo pergi. Jangan temuin gue lagi atau ganggu hidup gue lagi, kalau lo belum bisa menuhin persyaratan dari gue." Akhirnya Zara bisa mengatakan hal itu. Akhirnya setelah ini Dio tidak akan menganggunya. Hidup Zara akan kembali seperti dulu. Seperti apa yang Zara inginkan. Namun, ketika melihat Dio pergi bersama mobil yang ia kendarai, di sudut hati Zara, ada yang menjerit tidak rela. Sayangnya, gadis itu pura-pura tidak dengar jeritan hatinya sendiri. Menganggap semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak tau, jika sesuatu yang datang mengobrak-abrik kemudian pergi akan menyisahkan sebuah rindu. Zara hanya tau, perasaannya sekarang tidak penting untuk ia pikirkan. tbc xoxo, muffnr
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD