Dio harap, rumah Zara ada diujung belahan dunia yang sangat jauh. Agar ia bisa bersama gadis itu lebih lama. Jika ditanya apa yang paling membuatnya bahagia, Dio akan menjawab jika berada di samping Zara seperti sekarang adalah hal yang paling membahagiakan. Iyaiya, Dio memang bucin dan dia mengakui itu. Sayang sekali, bucinnya tidak terbalas. Apalagi Zara kini memasang wajah sebal disaat Dio tengah gembira. Membuat Dio mengerti, jarak diantara mereka bukan tentang angka, namun tentang hati.
"Habis ini belok kan Ra?" tanya Dio, memecahkan kesunyian diantara mereka.
Zara tidak menjawab, gadis itu hanya mengangguk. Kemudian tangannya menunjuk rumah pertama setelah mobil hitam Dio belok memasuki g**g. "Tu rumah gue."
"Iya gue inget." jawab Dio.
"Terus kenapa tanya?"
"Pengen denger suara lo aja. Habisnya dari tadi lo diem." jawab Dio diikuti kekehan kecil. Yang membuat Zara memutar kedua bola matanya sembari menghembuskan nafas panjang,
"Oh ya, Abi lo di rumah Ra?" ucap Dio sembari sibuk memaju mundurkan mobilnya untuk mendapat tempat parkir yang tepat.
"Ha? Kenapa emang?" Zara tidak mengerti kenapa Dio menanyakan hal itu.
"Tuh," Dio menunjuk sebuah mobil yang terparkir di garasi rumah. Cowok itu pun kini turun dari mobil.
Zara terpaku, ia baru sadar jika ada mobil Abinya di rumah. Artinya, Abinya di rumah dan sudah pulang dari kantor. Mampus. Zara tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya jika Abi tau dia diantar pulang oleh cowok. Apalagi kini Dio sudah turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya.
"Lo kenapa pakai turun sih?" ucap Zara sembari turun dari mobil.
"Gue mau mampir, gaboleh?"
Zara melotot mendengar ucapan Dio, "lo gila?"
"Kenapa emang?" Dio tidak mengerti.
"Cepet sana pulang!" zara mendorong tubuh Dio untuk segera masuk ke mobil.
"Bilang makasih dulu." Dio menahan tubuhnya agar tidak berpindah kemana-mana.
Zara heran, disaat genting seperti ini, bisa-bisanya Dio seperti anak kecil. Tapi, sudah seharusnya sih Zara mengucap terima kasih.
"Yauda, makasih." Ucap Zara.
"Sama-sama." Jawab Dio sembari tersenyum manis.
"Udah cepet sana pulang!!!" Zara kembali mendorong tubuh Dio untuk memasuki mobil.
"Gue bakal pulang kalau lo udah masuk rumah."
"Ha?"
"Udah cepet sana masuk, biar gue cepet pulang."
Zara menurut, gadis itu berbalik dan memasuki rumah. Namun baru saja ia melangkah, sosok pria tampan paruh baya muncul dibalik gerbang.
"Zara?" ucap pria itu.
"A-aa-abi?" Zara terbata, ia berharap Abinya tidak melihat keberadaan Dio. Tapi MUSTAHIL!
"Kamu pulang sama siapa?" Ucap Abi Zara dengan tatapan yang menatap ke belakang, tepat dimana Dio bedada.
"Oh itu, e-e-teman Bi." ucap Zara tidak berbohong.
Abi Zara tersenyum, "terima kasih ya Nak, sudah antar Zara." ucapnya dengan sedikit berteriak karena jaraknya yang lumayan jauh dari Dio.
Srek! Srek! Srek!
Suara sepatu terdengar mendekat ke tempat Zara berada. Benar saja, beberapa hitungan kemudian, Dio berdiri di dekatnya. Meraih tangan Abi kemudian-salim. Zara menatap itu semua dengan tatapan tak percaya. Dio tengah masuk ke kandang macan ya? Ucap Zara dalam hati.
"Siang Om." Ucap Dio.
"Siang. Makasih ya sudah antar Zara." ucap Abi Zara sembari menepuk bahu Dio.
"Iya om," sebenarnya Dio sangat grogi, namun tampaknya calon mertuanya itu tak sejahat seperti mertua pada umumnya. "Kalau gitu saya pamit pulang dulu om."
"Kok pulang? Ayo mampir ke rumah dulu. Kita makan siang bareng." Ucap Abi Zara.
"Boleh Om?" bukannya menolak, Dio terlihat sangat antusias.
"Boleh dong, ayo masuk." ucap Abi Zara sembari mengajak dio masuk ke dalam rumah. Beliau merangkul bahu Dio seolah merangkul bahu anaknya sendiri.
Di belakang mereka, ada Zara yang tengah bingung dengan keadaan ini. Dulu Abinya sering bilang untuk menjaga pergaulannya dengan lawan jenis. Sebab itulah sejak dulu Zara tidak punya teman laki-laki. Namun sekarang? Zara kira Abinya akan marah besar ketika tau dia diantar pulang oleh Dio, tapi ternyata? Biasa aja dan malah ngajak Dio makan siang bareng.
"Zara udah pulang?" Umi Zara yang baru saja turun dari lantai dua itu menghampiri anaknya, kemudian sangat terkejut ketika menemukan sosok yang tidak ia kenal berdiri di samping suaminya. "Ini siapa Bi?" tanyanya.
"Halo tante," Dio salim pada Umi Zara, sembari tersenyum lebar ia memperkenalkan diri, "saya Dio, tadi saya-"
"Dia tadi antar Zara pulang, terus aku suruh ikut gabung makan siang. Kamu masak banyak kan?" saut Abi Zara.
"Oh," Umi Zara menjadi sangat antusias. "Yaudah, kalau gitu, ayok masuk Nak!"
Mereka berempat pun menuju meja makan yang di atasnya sudah ada berbagai macam masakan. Zara duduk di kursi yang biasa ia duduki, di depannya ada Dio dengan wajah bahagia menerima sepiring nasi dari Uminya. Zara tidak habis pikir, kenapa cowok itu biasa saja dan tidak cemas. Padahal dia yang makan dirumahnya sendiri saja sudah berkeringat dingin sejak tadi.
"Kamu teman sekelasnya Zara?" Tanya Umi Zara, disela-sela makan.
"Bukan tante, kita beda kelas."
"Terus? Kamu pacarnya Zara ya?"
Uhuk!
mendengar pertanyaan ngaco Uminya, Zara tersedak makanannya sendiri. Ia terkejut, bagaimana Uminya menanyakan hal itu, padahal beliau tau jika selama ini, Abi Zara sangat mewanti-wanti Zara untuk tidak pacaran.
"Pelan-pelan makannya," Umi menyodorkan segelas air minum. Zara meminumnya.
"Bukan juga tante, Pacarnya Zara bukan saya." ucap Dio sembari tersenyum kecut.
"Loh Zara punya pacar?" Abi Zara kini yang bersuara, dengan nada yang terkejut.
"Pun--"
"Nggak Bi, Dio salah paham. Zara nggak punya pacar." Jawab Zara cepat sembari memberi kode pada Dio untuk tetap diam.
"Yang bener kamu ra? Nggak bohongin Abi sama Umi kan?" tanya Umi zara.
"beneran Umi, sumpah demi Allah, Zara nggak bohong. Masak Umi sama Abi nggak percaya aih?" Kata Zara sembari mengerucutkan bibirnya sebal.
"Iya-iya Umi percaya," Kata perempuan paruh baya itu sembari mengusap kepala anak perempuannya.
"Awas ya kalau bohong!" Saut Abi zara dengan memasang wajah galak.
Zara mengangguk sembari menatap Dio malas. Semua ini gara-gara Dio yang salah paham. Huft.
"Dio pulang dulu tante, om! Terima kasih!" Ucap Dio sembari menundukkan badannya. Mereka baru saja selesai makan. Rencananya Dio akan diajak Abi Zara untuk main catur sebentar, namun Zara sudah memberi kode untuk menyuruh Dio pulang. Akhirnya mau tak mau Dio pamit dengan alasan ada urursan mendadak.
"Iya sama-sama, kapan-kapan main lagi ya yo! Tante buatin perkedel lagi!" ucap Umi zara.
"Iya Te, siap!" ucap Dio bersemangat.
"Hati-hati nyetirnya!" saut Abi zara.
"Baik, Om!" Dio berjalan keluar rumah, Zara mengikutinya di belakang.
"Ada yang mau gue omongin sama lo!" Ucap zara dengan nada malas.
Mereka berdua kini berdiri di dekat mobil Dio.
"Apa?" Tanya Dio sambil menghadap ke Zara. "Lo mau minta tolong buat gue tutup mulut soal lo pacaran sama Agam?"
"Tsk!" Zara berdecak kemudian menggeleng. "bukan!"
"terus?"
"Sebenernya gue sama Agam nggak pacaran. Lo salah paham!"
"Serius?" kata Dio histeris.
"Iya."
Tiba-tiba saja, Dio melompat kegirangan. "Yey!!" Ucapnya. Apa yang menjadi beban pikirannya beberapa hari ini mendadak hilang, rasa lega pun menyelimuti hatinya. Harapan baru terbit dan membuatnya kembali bersemangat menjalani hidup. Ternyata ia masih punya kesempatan untuk menjadi pacar Zara.
TBC