Detik waktu berjalan tanpa menunggu, apalagi kembali hanya karena hati yang menyesal.
Sinar matahari bersinar terik, bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Karena Zara terakhir mengumpulkan tugas matematika, dialah yang dipinta Pak Agus untuk membawa buku tugas teman-temannya ke kantor. Alhasil, sebelum pulang Zara mampir ke ruang guru terlebih dahulu. Mayang berbaik hati mengantarkannya.
Ruang guru ramai, para guru tampaknya baru saja kembali dari kelas seusai mengajar dan hendak pulang. Namun di meja depan samping pintu masuk, tepatnya meja Pak Marto kini dipenuhi para murid perempuan dan laki-laki yang tengah mengantri mengambil barang rampasan yang tadi Pagi Pak Marto ambil. Membuat suasana kantor menjadi gaduh. Apalagi beberapa murid itu tidak mau antri dan ribut minta terlebih dahulu diberikan barangnya, agar bisa segera pulang.
Zara dan Mayang menuju meja Pak Agus. Meletakkan buku-buku tugas kelas mereka dan memeriksanya satu-satu takut ada yang tertinggal. Setelah dirasa sudah lengkap, mereka berdua pun bergegas untuk beranjak. Pak Agus yang memang baik, memberikan Zara dan Mayang dua bungkus kue kering untuk di bawah pulang. Kata Pak Agus, kue itu didapatkan ketika rapat dengan dewan komite sekolah pagi tadi. Zara dan Mayang mengucapkan terima kasih dan pamit.
Ketika mereka hendak keluar kelas, langkah mereka dihadang seseorang. Zara sampai kaget, karena orang itu tiba-tiba muncul dari luar.
"Ehh anjir! Ngagetin aja lu bi!" Mayang mengelus dadanya sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
Orang itu Ebi. "Hehe, sori." ucapnya.
"Ngapain lo disini?" tanya Mayang.
Zara yang merasa tidak kenal dengan cowok di depannya itu, sekalipun sering liat cowok itu sama Dio pun kini hanya diam saja. Membiarkan Mayang yang berbicara.
"Mau ajak lo pulang bareng," ucap Ebi sembari tersenyum manis.
"Ha?" Mayang kaget, tentu saja. Dia dan Ebi tidak pernah saling bicara sekalipun dulu mereka satu kelas. Mayang bahkan berani jamin jika Ebi tidak pernah menotice keberadaannya dulu. Namun sekarang? Kenapa tiba-tiba ngajak pulang bareng?
"Gue tau May, rumah kita deketan kan? Gue sering liat lu beli jajan di mini market deket g**g komplek gue."
"Eee...tapi, gue....pulang bareng Zara." Mayang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jujur saja ia ingin pulang dengan Ebi, tapi dia tidak enak dengan Zara.
"Zara sama gue." terdengar suara dari dalam ruang guru. Keluarlah sosok Dio sembari menenteng sepasang sepatu warnanya.
Suasana tiba-tiba hening. Mulut Zara pun kelu, jantungnya berdegub kencang hanya karena mendapati Dio yang kini sudah berdiri di dekat Ebi.
"Yakin yo lo bisa bawa dia pulang sampai selamat?" tanya Mayang.
Zara menatap Mayang tak percaya. Zara kira, Mayang akan dengan sigap menolak ucapan Dio. Tapiㅡ
"Percaya sama gue, May."
Mayang mengangguk kemudian menatap Zara menggoda. Sembari menggengam tangannya erat, ia membisikkan, "nikmati berduaan sama Dio. Siapa tau akan jadi yang pertama dan terakhir."
"Lo gila ya May?" saut Zara.
"Ayo Bi!" Mayang hanya tertawa riang kemudian menarik tangan Ebi untuk berlajan menuju tempat parkir.
"Hadeehh," Zara menatap kepergian Mayang kesal. s****n, mayang benar-benar meninggalkannya berdua hanya dengan Dio. Dan Zara entah kenapa, merasa sangat canggung. Sebenarnya, sejak tadi ia ingin menolak, namun hati nuraninya berkata jangan.
"Pulang sama gue ya?" Dio tiba-tiba menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Zara. Zara yang sejak tadi menunduk pun sangat terkejut dan ia sontak saja memalingkan wajahnya dan mengambil beberapa jarak untuk menjauh dari Dio.
"Tenang aja, gue bawa mobil kok. Jadi lo sama gue nggak deket-deketan." melihat Zara yang menghindarinya, Dio jadi tau jika gadis itu tidak ingin dekat-dekat dengannya.
"Bawa gue pulang dengan selamat." ucap Zara setelah lama suasana di antara mereka menghening.
"Siappp!!" teriak Dio yang entah kenapa mendadak ia menjadi semangat. "tapi mampir dulu ya." ide baru tiba-tiba saja muncul.
"Kemana?"
"Rahasia!"
Zara menolak untuk mampir kemana-mana. Namun gadis itu masih menurut saja ketika Dio mengajaknya ke parkiran dan masuk ke mobil. Entah kenapa, kaki dan seluruh tubuh Zara kini ingin menuruti hati nuraninya tanpa memikirkan apapun lagi.
"Kita mau kemana?" tanya Zara.
"Lo pasti suka."
"Kemana yo, gue tanya!" Zara tidak suka jika Dio mempermainkannya.
"Makan dulu Ra, gue laper." Ucap Dio sembari memegang perutnya.
Zara membuka tas yang ada dipangkuannya. Mengeluarkan sebungkus kue kering yang diberikan Pak Agus padanya. Membuka plastik kue itu dan menyodorkan pada Dio. "Nih makan!"
Dengan sigap, Dio memakan kue ituㅡ memakan kue yang masih di tangan Zara. Jadi terlihat seolah, Zara menyuapkan kue itu pada Dio.
"Dioo!!!" Zara sangat terkejut, dunianya seolah berhenti sejenak untuk menyaksikan adegan yang terjadi begitu cepat. "Ambil!!!"
"Tangan gue nggak bisa bawa Ra. Suapin aja ya?" Dio tersenyum menggoda.
"Ogah!"
"Yauda, berarti kita mampir makan dulu."
"langsung pulang Yooo!!"
"Makanya suapin gue, laper nih!!!!" ucap Dio ngegas.
"Yauda cepet makan!" tangan Zara menyuapakan sisa kue kering tadi.
Dio menurut, hatinya senang sekali. Sepertinya feelingnya tadi pagi itu benar. Jika hari ini ia akan sangat bahagia. Benar saja, tidak ada yang lebih membahagiakan ketika bersama dengan orang yang kita sayang kan?
"Gue beneran sayang sama lo Ra." ucap Dio tiba-tiba.
Mendengar hal itu, rasanya Zara ingin menenggelamkan dirinya di lautan antartika. Hari ini, Dio benar-benar berhasil mengendalikan hatinya. Membuatnya sedih, senang bahkan kini entah apa namanyaㅡmelayang?
"Tapi gue tau, lo ada yang punya. Jadi gue nggak akan ganggu lo lagi. Gue akan jadiin ini terakhir kali, gue gangguin lo." ucap Dio mantap. Air mukanya berubah menjadi serius. Tak ada lagi senyum yang sedari tadi nampak diwajahnya.
Zara kira Dio akan menembaknya lagi, sehingga dia akan mengatakan syarat yang disarankan Agam. Namun nampaknya, Dio salah paham dan Zara juga malas menjelaskannya. Dayanya sudah habis hari ini. Biar, biar Dio salah paham tentang hubungannya dengan Agam. Agar hidupnya berjalan baik-baik saja seperti dulu. Bukankah itu keinginanya?
Mungkin benar kata mayang, ini akan menjadi terakhir dan pertama kali berdua bersama Dio. Maafin Zara ya Allah.
Muffnr
Follow ig author: muffnr