Kali ini, gosip Dio punya pacar lagi disambut kebahagiaan warga sekolah. Akhirnya, Dio yang lama telah kembali. Benar saja, pagi ini Dio datang ke sekolah dengan penampilan yang menawan. Ia tidak lagi terlihat murung. Rambutnya pun ia potong dengan gaya rambut baru yang membuatnya terlihat semakin tampan. Dio pun terlihat sangat bahagia, terbukti senyuman yang tak pernah hilang di wajahnya. Bahkan ketika bertemu Pak Marto yang hendak merampas sepatu warnanya pun ia tersenyum tidak jelas. Ia menyerahkan begitu saja sepatu yang ia kenakan kepada Pak Marto, padahal biasanya dia punya alasan untuk mengelak. Membuatnya berjalan tanpa sepatu menuju kelas dengan senyuman di wajahnya tidak hilang.
Gosip itu pun juga sudah terdengar ke telinga Zara. Gadis itu kini duduk di bangkunya dan dikelilingi Nina, Keila dan Mayang. Mereka memang sengaja bertemu sebelum bel masuk berbunyi. Entah kenapa, tapi gosip tentang Dio kali ini sangat mengusik mereka. Mungkin karena sebelumnya Dio terlihat sangat berusaha mendapatkan Zara.
"Tuhkan bener, Dio cuma main-main sama lo ra!" ucap Nina. Gadis itu bangga karena apa yang ia sangkakan pada Dio selama ini benar adanya.
"Untung kita bertiga ada, coba aja kalau nggak ada kita, pasti lo sekarang nangis dan udah termasuk jadi deretan panjang mantan Dio." Kaila mengingat kembali dulu rasanya diputusin Dio tiba-tiba dan seenaknya. Sekalipun kejadian itu sudah lama, rasa sakit masih membekas di hatinya. Sebab itulah ia bersyukur Zara tak merasakan apa yang ia rasakan.
"Iya bener," saut Nina.
"Tapi Ra," mayang menggantungkan kalimatnya, gadis itu menatap Zara yang duduk di sebelahnya, "Dio punya pacar, lo nggak papa kan?"
Zara sedari tadi hanya diam. Sejak ia datang dan ketiga temannya langsung mengajaknya bicara intens seperti ini. Sejak itu pula, raga dan jiwanya melayang tidak di sana. Lalu kini, seperti tertampar, ia mendapat sebuah pertanyaan yang menanyakan hatinya. Apa dirinya tidak papa?ㅡ
"Tentu saja dia baik-baik aja May." Jawab Nina yakin.
"Gue nggak nanya Lo Nina, gue tanya Zara." Ucap Mayang seolah menyuruh Nina diam.
"Ya tapikan selama ini Zara emang nggak baper sama Dio, jadi dia nggak papalah kalau Dio punya pacar. Bahkan bersyukur. Iyakan Ra?" Ucap Nina yakin dengan kesimpulannya sendiri.
"Iya, bener lu Nin. Aneh-aneh aja nih Mayang pertanyaannya." Saut Kaila.
Mayang menatap jengah kedua temannya. Jujur saja, selama ini ia tidak suka sekali jika mereka ikut campur perihal Dio dan Zara. Oke, dia tau Dio itu emang cowok yang suka mainin hati cewek, tapi bisa aja kan dulu Dio beneran suka sama Zara dan ada niaatan mau tobat?ㅡhuft, Mayang nggak akan biarin, hidup Zara disetir lagi oleh Nina dan Kaila.
"Gue nggak tanya lo berdua, gue tanya Zara!" Mayang yang biasanya selalu bicara santai, kali ini ngegas. Membuat teman-temannya heran.
Zara tersenyum geli, "gue nggak papa May," ucapnya.
"Syukurlah kalau gitu." ucap Mayang. "Karena kalau gue jadi lo, gue pasti bakal kecewa Ra."
"Aduh May, jangan samain Zara sama lo ya! Lo kan kalau dideketin siapa aja bakal baper!" ucap Kaila.
Zara tau, setelah ini pasti ketiga temannya itu akan bertengkar. Sebelum itu terjadi, Zara pun menyuruh bubar dan kembali ke kelas. Dengan perasaan yang masih kesal dengan Mayang, Nina dan Kaila beranjak dari duduk kemudian pergi ke kelas mereka.
"Lo beneran gpp Ra?" tanya Mayang lagi, ketika di sana hanya tersisa mereka berdua.
Zara menghembuskan nafas, sambil tersenyum meyakinkan, "gpp Mayang."
"Oke, gue akan percaya." Ucap Mayang.
Apakah yang dikatakan Zara adalah yang sebenarnya? Entahlah, ia juga tidak mengerti dengan hatinya sendiri.
Kemarin malam ketika ia membaca gosip itu dichat kelas mereka, Zara sudah hampir menangis. Entahlah, menangis karena lega, atau yang lainnya. Yang jelas, berulang kali gadis itu berucap ia tidak apa-apa. Seolah mensugesti diri sendiri bahwa dia tidak apa-apa.
---
Dio duduk di gazebo taman musolah yang baru beberapa minggu kemarin Zara disklarasikan sebagai tempat favoritnya. Jika Dio duduk sendiri, maka Zara baik-baik saja. Namun sayangnya, Dio duduk berdua bersama seorang cewek yang Zara yakini adalah pacar baru Dio. Mereka berdua tengah berbincang seru, melempar tawa dan sesekali cewek itu menatap Dio kagum.
Perasaan Zara, baru kemarin Dio bilang dia suka sama Zara. Baru kemarin pula, Dio masih rajin mengiriminya line. Baru kemarin Dio selalu menitipkan roti dan s**u untuknya pada Arif. Dan sekarang? Kemana perginya semua usaha Dio? Zara senang Dio menyerah, yang artinya tidak mengusik hidupnya lagi dan hidupnya akan tenang. Tapi, kenapa secepat ini? Tampaknya apa yang dicurigai Nina selama ini memang benar adanya.
"Cemburu?"
Mendengar suara seseorang yang sepertinya akan mendekatinya, Zara merubah raut wajahnya. Ia menghembuskan nafas berulang kali. Berharap ia terlihat biasa saja. Semburat kesedihan pun kini berganti dengan topeng pura-pura.
"Agam?" ucap Zara ketika mendapati seseorang yang kini berdiri di dekatnya.
"Lu ngapaain disini? Ngeliatin orang pacaran?" tanya Agam, sembari menahan tawa.
Zara menatap Agam kesal, "nggak lah. Gue mau ke tempat favorit gue, tapi udah ada yang nempatin."
"Terus ngapain masih disini?"
"Kayaknya gue nggak butuh saran lo yang kemarin Gam. Karena Dio udah nyerah dan punya pacar baru." Zara mengucapkannya dengan senyuman yang manis, "tuh."
"Kenapa? Lo sedih?"
"Nggak sih, tapi kok gampang banget suka cewek lain."
"Ya gpp, bukannya ini yang lo mau? Dia nggak suka lo lagi dan nggak ganggu hidup lo."
Zara diam, benar juga kata Agam. Iyaya? Harusnya dia malah seneng ya Dio punya pacar baru? Artinya ia tetap bisa menjaga prinsipnya dan bisa hidup tenang.
"Hai Gam!" seseorang menghampiri Agam dan Zara. Ia kini berdiri tak jauh dari Agam dan Zara berdiri.
Tanpa melihat siapa orang itu, Zara sudah tau. Hari ini hanya Dio yang sepatunya dirampas pak Marto. Dan lelaki itu kini hanya menggunakan sandal jepit kelas untuk alas kakinya.
"Eh dio?" Agam sangat terkejut, perasaan tadi Dio masih duduk di gazebo, sekarang cowok itu sudah berdiri di dekatnya.
"Ngapain lo? Pacaran?" Dio tidak menyapa Zara. Ia bahkan tidak menatap gadis itu sama sekali. Pandangannya hanya tertuju pada Agam.
"Pacaran sama siapa?" Agam tidak mengerti maksud kalimat Dio. "Sama Zara maksud lo?"
"Oh nama pacar lo Zara," Ucap Dio dengan nada yang sangat dingin. "Selamat ya! Akhirnya lo punya pacar! Perasan lo dulu bilang nggak mau pacaran. Eh sekarang udah punya pacar aja." Dio sebenarnya tidak menujukan kalimat itu untuk Agam. Namun lelaki itu mengucapkannya smebari menatap Agam kesal.
Agam yang mengerti ucapan Dio itu sebenarnya ditujukan pada siapapun hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal, "eh pacar lo juga baru kan yo?"
"Enggak, itu cuma gosip." ucap Dio sembari berlalu meninggalkan Agam dan Zara. "Gue duluan ya."
"Eh? Iya yo." Saut Agam.
Zara membeku ditempatnya. Sedari tadi, Zara hanya menunduk, tidak berani berkutik sama sekali sejak ada Dio. Apa yang ia dengar baru saja benar-benar membuat perasaannya campur aduk. Senang? Tidak, ia tidak senang. Namun entah kenapa, hanya dengan kata Enggak, itu cuma gosip, kesedihan di hatinya menghilang begitu saja.
Tbc.
Xx, muffnr