Zara baru saja keluar kelas dan mendapati Agam menyapanya. Semalam Zara memang bilang pada Agam untuk bertemu sebelum jam pertama dimulai. Karena gadis itu ingin menumpahkan kegelisahan hatinya selama beberapa minggu ini. Zara merasa jika Agam bisa menjadi telinga yang tepat untuk mendengar segala kegelisahan hatinya. Selain itu, sejak dulu Zara sudah mengenal Agam sebagai orang yang bijak. Semoga kali ini Agam bisa memberi tahu apa yang harus Zara lakukan untuk menyikapi masalahnya.
"Kita bicara disini ni?" tanya Agam.
Mereka berdua kini berdiri di depan kelas Zara. Suasana sekolah masih ramai. Para siswa masih berseliweran di luar kelas sekalipun gerbang sudah ditutup sejak tadi. Setiap jumat kedua, guru-guru mengadakan senam di lapangan sekolah. Sehingga kelas akan dimulai pukul setengah delapan lebih lima belas. Sekalipun begitu, para murid diberi tugas untuk gotong royong membersihkan kelas dan taman. Namun banyak yang abai dan lebih memilih untuk mengobrol di dalam kelas atau nangkring di kantin.
Masih kurang tiga puluh menit lagi, jam pertama akan dimulai. Mereka berdua masih memiliki waktu yang cukup lama, dan pasti akan capek jika sepanjang berbincang hanya berdiri. Sebab itu, Agam berniat mengajak Zara bicara di taman musolah sekolah yang pasti sepi.
"Terus dimana? Kantin?" tanya Zara seraya mengingat tempat sekolah mana lagi yang bisa dibuat untuk duduk. Dia masih belum hafal sepenuhnya seluk beluk sekolah. Karena selama beberapa bulan ini, tempat di sekolah yang sering Zara kunjungi jika tidak kelas, musolah, kantin ya kamar mandi cewek.
"Nggak, kita ke taman musolah aja." ucap Agam.
Zara pun mengangguk setuju, ia baru ingat ada taman di dekat musolah. Dan disana pun suasananya cukup menenangkan karena jauh dari kerumunan sekolah.
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Agam ketika mereka berjalan berdampingan di koridor.
"Ada sesuatu." ucap Zara.
Agam berdecak. ambigu banget jawaban Zara, pikirnya. "Iya sesuatu apa?"
"Sesuatu yang gue harap lu bisa kasih gue saran gue harus ngapain."
"Masalah besar ya?"
"Nggak sih, cuma nggak bisa kalau diabaikan gitu aja."
"Hmm." Agam tengah memikirkan sesuatu. Ia menerka masalah apa yang dihadapi oleh sepupunya itu. Apa Zara dirundung di kelas?
Zara menatapnya sambil tertawa geli. Agam menoleh dan heran.
"Kenapa ketawa?"
"Gpp, lo beda banget sama Nina."
"Ha?"
"Cobak aja kalau Nina yang gue buat penasaran, pasti dia bakal nanya sampek rasa penasarannya hilang. Nggak kek lu, yang pasrah." Zara terbahak, dengan ucapannya sendiri.
"Kita berdua orang yang beda ra, ya jelas beda lah." Ucap Agam.
"Iyasih."
Seperti prediksi Agam, taman di dekat musolah sekolah sepi, tidak seramai lapangan atau kantin. Mereka berdua duduk di salah satu gazebo yang dekat dengan musollah. Kata Agam, disini salah satu tempat favoritnya. Selain jauh dari keributan sekolah, pohon-pohon yang menjulang dan beberapa tanaman hias itu mampu menyejukkan mata.
"Apa? Lu ada masalah apa?"
".." Zara diam, ia tidak tau harus memulai cerita dari mana.
"Huft, malah diem."
"Gue seneng banget bisa pindah ke sini, karena bisa barengan sama lo dan Nina lagi." Pandangan Zara jatuh pada tanaman bunga mawar yang tumbuh subur di dekat gazebo mereka. "Sekolahnya juga bagus, temen-temennya juga baik."
Oh berarti bukan karena dirundung oleh temannya. Agam menghembuskan nafas lega. Lalu apa?
"Tapi.."
"Tapi apa ra?"
"Gue nggak tenang." pandangan Zara teralih. Tanaman bunga mawar dengan kelopak warna merah itu terlalu indah untuk ia tatap sembari mengingat ketidak tenangan hatinya akhir-akhir ini.
"Lo nggak tenang gara-gara Dio?" Agam tau betul masalah Zara dengan Dio. Nina selalu laporan masalah itu kepadanya. Terutama ketika kejadian api unggun itu. Sekalipun dia tidak ikut acara camping karena harus ikut Abinya keluar kota, Agam tau betul bagaimana kejadian itu dan kronologinya.
Zara mengangguk, "Dio udah gue tolak secara baik-baik Gam. Tapi dia nggak mau nyerah, seminggu ini dia malah rajin ngeline gue."
"Kenapa lu nolak?"
"Agam, gue rasa Abi gue sama Abi lu sama prinsipnya. Mereka berdua nggak suka kita semua pacaran kan?"
"Terlepas dari itu semua, hati lo gimana Ra?"
"Ha? Hati gue?"
"Ya, lu suka juga nggak sama Dio? Jangan munafik ya, Dio kan emang banyak banget yang suka."
"NGGAK LAH!" Zara yang tadinya wajahnya terlihat tenang, kini menjadi panik. Matanya berlarian kesana kemari, menghindari tatapan Agam. "Dio kan playboy! Mana mungkin gue suka!"
"Kan cewek-cewek di sekolah suka dia semua, ya bisa aja lu juga kayak mereka. Pemuja cogan."
"Nggak! Gue nggak suka Dio!" ucap Zara tegas.
"Ya terus lu mau gue ngapain?"
"Gue bingung sekarang Gam, gimana caranya biar si Dio berhenti ganggu hidup gue? Jujur aja gue risih tiap hari liat hp terus ada chat dia."
"Risih atau lu takut nggak bisa nahan diri lagi buat nggak bales?"
"RISIH AGAM!!! LU KENAPA SIH!" Zara berteriak, Agam terkekeh geli.
"Jatuh cinta itu fitrah manusia, kalau memang cinta, akui saja."
"Siapa yang jatuh cinta? lo gila ya Gam!" Zara menjadi sebal. Kini gadis itu mengerucutkan bibirnya.
Agam tidak berhenti tertawa, sejujurnya ia paham sesuatu. Tentang bagaimana seharusnya reaksi seseorang jika yang dituduhkan padanya tidak benar. Harusnya jika benar tidak suka, Zara akan menjawab dengan tenang dan tidak panik seperti sekarang. Puas tertawa, Agam pun berbicara.
"Gue kenal Dio Ra, dia orangnya harus dapetin apa yang ia mau. Dia juga pekerja keras, jadi gue rasa dia nggak akan nyerah hanya dengan penolakan lo." Agam tau betul sifat Dio. Mereka pernah satu kelas dan menjadi teman sebangku selama beberapa bulan. Sekalipun begitu, Agam tau betul tabiat Dio.
"Terus? Gimana dong?"
Mereka berdua terdiam sebentar. Suara keributan di lapangan terdengar samar-samar dari tempat mereka. Keributan itu pasti berasal dari para murid yang asik melihat guru-guru senam. Ponsel yang Zara genggam bergetar. Membuat suasana hening diantara mereka berdua terpecah.
"Tuhkan," Zara memperlihatkan layar hpnya pada Agam.
Layar itu menampakkan nama Dio dan chatnya yang berisi ucapan selamat pagi. Zara semakin gelisah.
"Yauda, gue ada ide." ucap Agam.
"Apa?"
"Kalau dia nembak lo lagi, bilang aja kalau lo bakal nerima dia jadi pacar asal ada syaratnya."
"Apa?"
"Selama 40 hari, dia harus sholat malam, nggak boleh bolos sehari pun."
"Ha? Sholat malam?" Zara tidak menyangka Agam akan mengusulkan syarat sejenis itu.
"Iya, ra. Sholat malam atau tahajud."
"Tapi kenapa? Kok lu bisa mikir syarat begitu?"
Agam terdiam sebentar, kemudian menghembuskan nafasnya panjang. Setelah ini dia akan menceritakan sebuah cerita yang ia tidak tau benar atau tidak, namun ia yakin kehabatan sholat malam itu memang benar adanya.
"Gue kemarin dengerin cerita tentang pemuda yang mencintai putri raja. Pemuda itu datang ke istana untuk melamar tuan putri, karena pemuda itu hanya pemuda biasa, raja pun menolak. Namun pemuda itu tidak menyerah, dia tetap saja datang ke istana untuk melamar Putri setiap hari.
"Hingga suatu saat, Raja memiliki sebuah syarat untuk pemuda itu. Ia meminta pemuda itu untuk melakukan sholat malam selama 40 hari secara berturut-turut. Jika dia berhasil, raja akan menikahkannya dengan putri."
"Terus pemuda itu mau?" tanya Zara.
"Tentu, dia pulang dan melaksanakan syarat dari raja."
"Terus?"
"Setiap hari dia melaksanakan sholat malㅡ" belum selesai Agam bercerita, bel masuk terdengar memenuhi penjuru sekolah.
"Yaa, udah bel." ucap Zara dengan raut wajah sedih.
Agam beranjak dari duduknya, "gue ke kelas duluan."
"Lah? Terus pemuda itu gimana? Terusin kek Gam, telat sepuluh menit kan gpp." paksa Zara.
"Jam pertama gue gurunya killer Ra, pokoknya kalau lu ditembak Dio lagi, kasih aja syarat seperti yang gue suruh tadi."
Sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Zara mengangguk. "Ya. Tapi lain kali ceritain tentang pemuda itu lagi ya?"
"Siyaaaap." Agam berlalu sembari memberi lambaian tangan. Ia menuju kelasnya yang letaknya tak jauh dari musolah.
Zara tau, Bu Am guru bahasa indonesia yang hasrusnya mengajar jam pertama izin tidak masuk. Sebab itulah gadis itu masih betah duduk di gazebo dan meminta Agam duluan ke kelas. Ia kini menatap tumbuhan di taman. Baru ia sadari, ada tempat semenangkan ini disekolah. Sepertinya, tempat ini akan menjadi tempat favoritnya juga.
Ah, chat dari Dio? Zara kembali mengabaikannya. Zara tidak tau, jika chat pagi itu adalah usaha terakhir Dio. Karena seminggu kemudian Dio tidak lagi rajin mengiriminya chat. Sebuah gosip pun tengah menyebar luas. Gosip tentang Dio yang tidak lagi mengejar-ngejar Zara karena sudah punya pacar baru.
Tbc.
Muffnr