Mengertilah hati, cintamu tidak mau dimiliki-Dio, 2019.
Satu minggu berlalu begitu lambat, apalagi Dio lalui dengan menunggu balasan chat dari Zara. Seperti malam ini, ia menunggu balasan chat Zara seraya menemani Ipin beli baju di distro langganan mereka. Nyatanya, melihat kaos-kaos bagus dan bermerek, tidak membuat Dio lupa untuk menunggu balasan zara. Sejak tadi, sesekali Dio selalu mengecek hpnya. Namun nihil, tidak ada balasan chat dari Zara. Seharusnya Dio sudah tau, jika Zara tidak akan membalas Chatnya.
Sejak seminggu yang lalu, selepas kejadian tembakan kedua itu, Dio sempat patah semangat. Namun Dharma, Ipin dan Ebi memberikan banyak saran. Mereka bilang, ini hanya perkara waktu. Cepat atau lambat, Zara pasti jatuh hati, apalagi jika Dio terus berusaha. Karena kata mereka bertiga, tidak ada perempuan yang mampu menolak pesona Dio-termasuk zara. Oleh sebab itu, Dio tetap berusaha. Hanya saja, sekarang ia mencoba cara yang diberikan oleh Ipin. Yakni mendekati Zara dengan mengirimi Zara chat setiap hari. Dio bersyukur sekali bisa kenal Arif-teman sekelas Zara, sehingga ia bisa mendapatkan ID Line Zara dari cowok itu.
Selama seminggu ini pula, chat dio tidak pernah ada yang dibalas zara. Tapi itu tidak membuat Dio patah semangat dan lelah menunggu. Buktinya, cowok itu kini malah kusyuk liatin profil line zara yang menggunakan foto langit. Zara memang tidak pernah menggunakan foto profil wajahnya sendiri. Padahalkan, kalau pakai foto profil fotonya, bisa Dio save dan jadikan walpaper di hp.
"lo lagi ngapain yo?" Mereka baru saja selesai membayar kaos. Kini keluar dari distro dan menuju ke food court. Sebelum pulang, Ipin mau makan dulu, karena sejak pagi, katanya dia belum makan.
Dio bukannya menjawab, malah masih sibuk liatin layar hpnya. Ipin yang penasaran pun, mengintip dan berdecak ketika tau apa yang sejak tadi Dio liatin.
"Nggak bakal dibales, jadi gausa ditunggu." Ucap Ipin.
Dio memasang wajah memelas. Semenjak Dio bilang suka dengan Zara, Ipin hanya melihat kesuraman di wajah temannya itu. sebab itu ia sedikit kasian, tapi ya..dia tidak tau harus berbuat apa.
"udah, siniin hp lo. Biar lo lupa." Ipin merampas hp Dio, kemudian memasukkannya ke dalam saku jemper yang ia gunakan.
Dio pasrah, sepertinya tidak memegang Hpnya bisa menjai opsi agar ia tidak teringat chatnya yang tak kunjung dibalas zara.
Dan benar saja, ketika makan, dio sepertinya lupa dengan chatnya yang tak dibalas Zara. Apalagi Ipin mengajak Dio mengobrol tentang bola, musik, game dan beberapa hal yang dio suka. Membuat pikiran dio tidak lagi dipenuhi, zara, zara, zara. Namun naasnya, ketika mereka memutuskan untuk pulang dan berjalan hendak menuju lantai bawah, Dio melihat nama zara. Tertulis besar di sebuah store brand fashion ternama di dunia.
"Haduh, besok-besok kalau kesini. Kita nggak akan lewat sini lagi." ucap Ipin ngomel-ngomel. Apalagi ketika melihat Dio yang memasang wajah masam. Karena tentu saja, nama store itu mengingatkannya dengan zara.
-o-
Pagi ini Dio sudah memasang wajah masam ketika memasuki kelas. Namun itu tidak membuat heran ketiga temannya, mengingat selama seminggu ini, Dio dalam mood yang sama. yakni; menunggu balasan chat zara. Mereka bertiga menyesal, telah menasehati Dio untuk tidak menyerah. Karena melihat kondisi Dio sekarang, membuat mereka ikut stres sendiri. mereka pun berencana untuk membuat Dio sadar, dan melupakan zara. Karena mereka bertiga sadar, Zara tidak akan bisa Dio taklukkan.
"Nggak dibales lagi ya chat lo?" tanya Ebi ketika Dio sudah duduk di bangkunya. Wajah dio yang biasanya terlihat tampan, akhir-akhir ini terlihat sangat mengerikan. Ada lingkar hitam disekitar matanya, rambutnya yang biasanya disisir rapi dan diberi minyak pun, beberapa hari ini ia biarkan awut-awutan dan lepek.
Dio mengangguk lesu.
"Nyerah aja bro," ucap Ipin seraya menepuk lengan Dio.
Dio menghembuskan nafas panjang. sebenarnya dia juga ingin menyerah, dan melupakan Zara. Namun jangankan untuk lupa, ketika membuka mata, hal yang pertama Dio ingat adalah zara.
"Gue kenalin temen gue, dia juga pakai kerudung, selera musiknya sama dan suka sama MU. Tipe lo banget kan?"
Dio tidak menyaut ucapan Dharma. Ia pun enggan menatap foto cewek yang Dharma tunjukkan melalui hpnya.
"liat bentar yo, cantikan dia dari pada zara. Gue yakin lo pasti suka, tipe lo banget ini." Dharma tidak pantang menyerah. Tetap mendesak Dio, untuk melihat foto teman yang ia kenal melalui twitter itu.
Akhirnya dio menyerah, ia pun menuruti ucapan Dharma dan melihat foto cewek itu. cantik, tapi nggak bikin jantung Dio bergetar hebat. Dio pun hanya mengangguk, "ya cantik." Seraya berucap.
"Mau ya gue kenalin?"
"ngggak"
"Ayo dong yo," paksa Ipin. "biar lo nggak galau terus."
"Nggak," Dio tetap menolak.
"Gimana kalau kita ngelakuin perjanjian?" ucap Ebi dengan akal cerdiknya.
Ipin dan Dharma menatap Ebi binggung, perasaan tadi Ebi nggak ngomongin masalah perjanjian apa-apa deh.
"perjanjian apa?" tanya dio.
"Kita ngasih lo satu kesempatan buat chat Zara, kalau emang masih nggak dibales, lo harus nyerah." Jelas Ebi.
Dio masih terdiam, dia tidak tertarik dengan perjanjian yang dibuat Ebi. sekalipun chatnya tidak dibalas Zara, dia nggak akan menyerah--itu tekatnya.
"NGGAK!" jawab dio tegas.
"Yaudah kalau lo nggak mau, kita nggak usah temenan lagi aja. Mending gue nggak punya temen dari pada punya temen nggak bisa dibilangin kayak lo," ucap Ebi seraya meninggalkan tempat, terlihat sekali di wajahnya jika tengah marah.
Ipin dan Dharma juga pergi begitu saja, meniggalkan Dio sendiri.
Bagi Dio, ketiga temannya adalah segalanya. Dunianya akan sepi jika tanpa ketiga temannya. Sebab itulah hatinya goyah ketika melihat ketiga temannya marah dan bersikap kekanak-kanakan. Ia tau, jika mereka melakukan itu demi kebaikannya. Namun haruskah Dio melupakan Zara? Dan melepaskan Zara begitu saja?
Setelah terdiam lama, Dio beranjak dari tempat duduknya. Ia ingin menghirup udara segar, agar hatinya tidak sesak dan kepalanya tidak lagi pening. Namun baru saja ia sampai di pintu kelas, ia mendapati Zara berjalan di koridor depan kelasnya bersama Agam. Terlihat keduanya tengah bercanda dengan tawa yang menghiasi wajah mereka. Tawa yang tidak pernah Dio lihat jika Zara bersamanya.
Hati Dio terluka, kali ini rasanya lebih sakit dari pada ketika mendengar penolakan Zara dan perkataan Nina. Dio mundur, ia berbalik kemudian duduk di tempatnya lagi. kepalanya tertunduk, dan menyadari sesuatu. Mungkin Nina benar, dia tidak pantas untuk Zara. Dan Agam yang terkenal sebagai murid pintar dan teladan itu yang lebih pantas untuk zara dari pada dirinya.
Dio sudah mengambil keputusan, kemudian mencari ponselnya. Ini yang terakhir ia mengirimkan pesan pada Zara. Jika tidak dibalas, maka sesuai perjanjian yang dibuat Ebi, dia akan menyerah dan tidak akan mengejar-ngejar zara lagi.
TBC