12. Tembakan kedua

1461 Words
Pagi ini sekolah digemparkan dengan berita Dio yang tengah patah hati karena cintanya ditolak oleh Zara. Banyak yang beranggapan jika Dio pantas merasakan itu, apalagi menginggat dia yang memang seenak udelnya memutuskan pacar-pacarnya kemarin. Namun ternyata ada juga yang merasa kasian, apalagi ketika melihat penampilan cowok itu pagi ini. Datang ke sekolah dengan wajah kusut, rambut awut-awutan dan baju yang tidak dimasukkan. Menurut netizen sekolah yang selalu mengikuti kisah percintaan Dio, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Dio ditolak. Sebab itu wajar jika Dio akan merasa buruk dan terlihat putus asa. Sementara itu disisi lain, mereka semua juga penasaran dengan sosok Zara—perempuan yang menolak pernyataan cinta playboy sekolah. Semua orang berpikir, Zara pasti bukan perempuan tulen, karena bisa menolak pesona Dio. Mengingat semua cewek di sekolah dari yang paling cantik, pinter atau yang biasa-biasa aja sudah pernah jatuh ke pelukan cowok itu. Zara pun menjadi artis seharian, kemana-mana diliatin, dibicirain dan akun instagramnya tiba-tiba banyak yang follow. Membuat gadis itu harus sedikit sakit kepala dengan kekacauan hari ini. mengingat selama hidupnya, baru kali ini ia menjadi pusat perhatian dan digosipin satu sekolah seperti sekarang. "Ra, lo nggak usah ikut ke kantin. Titip gue aja, lo mau makanan apa. Ntar gue bungkusin." Ucap Mayang ketika Bu Tutik—guru Bahasa Inggris kelas mereka mengakhiri kelas. bel istirahat sudah berbunyi dua menit yang lalu. "Yaudah, nitip batagor aja." Ucap Zara seraya menatap Mayang lesu. Sejujurnya, dia ingin ikut Mayang ke kantin, namun tadi saja ketika ia disuruh Bu Tutik pergi ke kantor untuk mengambil buku paket bahasa inggris, ia sudah diliatin anak-anak kelas sepuluh yang lagi olahraga. Bagaimana jika ketika istirahat? pasti semua orang yang ada di kantin ngeliatin dia. "Oke siap." Mayang beranjak dari duduknya, dan meninggalkan Zara duduk di bangkunya sendiri. Untung saja, teman sekelas Zara seolah masa bodoh dengan gosip itu, membuat Zara nyaman-nyaman saja tinggal di kelas. bahkan teman sekelasnya sengaja mengusir beberapa siswa yang ngintip-ngintipin Zara melaui jendela kelas. "Ra," tiba-tiba aja ketika Zara sibuk baca buku, seoraang cowok duduk di bangku Mayang. Zara lupa siapa namanya. Walau udah beberapa bulan, ia masih saja tidak bisa mengingat satu-persatu nama teman sekelasnya. Apalagi anak laki-laki. "Hm?" "Minum nih, lu pasti aus." Orang itu menyodorkan sebotol air mineral dengan merek aqua. Zara menatap ragu, namun mengambil minum itu. "Te-rima kasih." Ucapnya. "Ini juga, roti. makan, buat genjel perut." Zara bingung, sumpah. Kenapa cowok yang ada disebelahnya itu tiba-tiba ngasih dia roti. perasaan biasanya nggak adaa tuh, temen cowok di kelasnya yang baik pada Zara seperti sekarang. "Emm..ini dalam rangka apa ya?" tanya Zara bingung. Cowok itu senyum canggung, "itu dari Dio." "Ha?" "Lu harus makan dan minum, dia khawatir." Kemudian cowok itu pergi dari hadapan Zara yang kini tengah memasang wajah cengo. Zara kemudian menatap lamat sebotol air mineral dan roti yang ia letakkan di atas mejanya. Sebenarnya, lelaki bernama Dio itu baik atau Cuma sok baik sih? Atau memang ini caranya saja untuk memodusinya, seperti yang dikatakan Nina? Ah, entahlah. Zara tidak mau pusing lagi memikirkan masalah ini. Harinya sudah kacau menjadi topik utama gosip sekolah hari ini. Drtt..drtt... Hp Zara bergetar, ia meraih ponselnya. Matanya terbelalak ketika ia melihat nama orang yang mengiriminya pesan di line. Febridio? Jgn lupa makan. Isi pesan chat tersebut. Dari mana Dio tau id linenya? Apa dari cowok yang tadi ngasih Zara air minum sama roti yang pastinya bisa dia dapat id line zara dengan mudah karena mereka satu grup kelas? Zara hanya membaca chat tersebut, tidak berencana untuk membalasnya. Baru saja ia akan memasukkan ponselnya kedalam tas, ponsel itu kembali bergetar. Drtt..drrt.. Maafin gw. Pesan dari Dio. Kali ini Zara mengerutkan dahi, kenapa Dio minta maaf? Kalaupun minta maaf soal apa? Zara tidak merasa, Dio melakukan kesalahan. Baru saja Zara ingin mengetikkan balasan chat untuk dio, namun Seruan Mayang mengagetkannya dan buru-buru ia menyembunyikan ponselnya. Entah kenapa, dia tidak mau Mayang tau jika Dio tau id linenya dan menghubunginya sekarang. "Loh ini dari siapa? Lo ke kopsis? Apa ke kantin kejujuran?" "Nggak, tadi dikasih." Jawab Zara malas, bisa ditebak, setelah ini Mayang pasti banyak tanya. "Dikasih siapa?" "Nggak tau, pokoknya teman sekelas kita." "Sapa?" tuhkan. "Cowok, nggak tau May. Udah mana batagor gue." Zara pun mengalihkan perhatian Mayang. "Hmm, siapa? Agus?" Mayang masih belum mau memberikan batagor yang ada di tangannya. "Temen sekelas kita." "Ha?" Mayang terkejut, seingatnya temen sekelasnya gada yang baik deh. Apalagi yang cowok, kecuali.. "Riko? Dia kan suka modusin anak kelas." "Bukan," sekalipun Zara tidak hafal satu persatu nama teman sekelasnya, dia masih tau jika Riko—cowok yang paling sering godain cewek-cewek di kelas, termasuk Mayang. "Entar aja, kalau udah masuk. Gue kasih tau orangnya." "Makanya, nama temen sekelas apalin." Mayang masih mengomel, tak kunjung memberi Zara batagor pesanannya. "Iya, besok gue apalin. Mana batagor gue!" Mayang memberikan batagor pesanan Zara. Wajahnya terlihat kesal, mungkin karena rasa penasarannya belum terpuaskan. Zara tersenyum kecut. Dalam hati ia merasa bersalah, namun ia juga tidak mau Mayang tau jika roti dan air mineral itu dari Dio. Ia tidak mau, Mayang bilang ke Nina. Jika Nina tau, bisa dipastikan sepupunya itu kembali marah-marah karena Dio masih menganggunya. -o- Suasana sekolah sudah sepi, ketika Zara dan Mayang keluar dari kelas. Mereka berdua baru saja selesai belajar matematika dan mengerjakan tugas kimia yang dikumpulkan besok. Ketika mereka berdua hendak pulang. Tiba-tiba empat cowok muncul dibalik pintu kelas dan berdiri di depan mereka. Zara terbelalak, karena mendapati salah satu cowok diantaranya adalah Dio. Cowok itu berdiri paling depan, dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam celana. "Dio? Mau apa lagi lo?" suara Mayang, terdengar memecahkan kesunyian diantara mereka. "May, ikut kita bentar yuk?" Ebi mendekat ke arah Mayang. "Kita beli es di depan sekolah dulu." Mayang menggeleng, "Nggak. Gue sama Zara mau pulang." Tangan gadis itu meraih tangan Zara dan bergegas untuk pergi dari sana. Dio menghalangi jalan Mayang seraya menampakkan wajah memelas. "Plis May, beri gue sama Zara waktu." Mayang mempunyai hati yang lembut, dia tidak seperti Nina yang keras kepala dan berani melawan cowok. Dia selalu merasa tak enak hati jika menolak permintaan setiap orang, apalagi jika orang itu terlihat melas seperti yang Dio lakukan sekarang. Dengan berat hati, Mayang melepas tangannya dari zara. "Oke, sekarang terserah Zara. Dia mau sama lo apa nggak." Dio pun menatap zara yang sedari terdiam, dengan raut wajah penuh harap. "plis, gue mau ngomong sama lo. Bentar kok." Zara mengangguk pelan, "sepuluh menit." Dio tersenyum lebar, "Ya, sepuluh menit." Koridor kelas itu pun kembali sepi. Mayang, Ebi, Ipin dan Dharma sudah meninggalkan Dio dan zara berdua. Namun diantara mereka tidak ada yang memulai pembicaraan. Yang paling terlihat bodoh sekarang adalah Dio, cowok itu malah sibuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Untung saja Zara tidak menatap cowok itu, dan sibuk nunduk, jadi dia tidak melihat wajah bodoh Dio sekarang. "Sebenernya lo mau ngomong apa?" Zara memecahkan keheningan, pasalnya sudah beberapa menit berlalu dan Dio tak kunjung membuka suara. "Itu," Dio semakin salting, apalagi kini Zara menatapnya. "Em, ucapan gue waktu acara api unggun." "Ya kenapa?" "Gue serius Ra, gue beneran suka sama lo." Dio mengucapkan kalimat itu dengan tegas. "Lo mau kan Ra, jadi pacar gue?" Zara tidak tau bilang apa. ini adalah pertama kali dalam hidupnya. ada seorang cowok yang berani mengatakan cinta langsung di hadapannya. "Maaf yo," hanya kata itu yang dapat zara katakan. "Kenapa Ra? Lo uda punya cowok?" "Nggak, bisa yo." Zara sudah berkomitmen dengan dirinya sendiri, sejak dulu. Dia sudah memiliki prinsip untuk tidak pacaran sejak smp. Dan dia tidak mau merubah komitmennya itu hanya karena, sekarang di hadapannya ada lelaki tampan yang mengajaknya pacaran. "Maaf." "..." Dio kehilangan suaranya, hatinya hancur untuk yang kedua kali. "Oh ya, terima kasih air mineral dan rotinya. Gue uda habisin tadi, waktu istirahat kedua." Sebenarnya Dio ingin sekali meraih tangan perempuan berkerudung yang berhasil merebut hatinya itu dan mengucapkan kata-kata indah agar perempuan itu mau bersamanya. Namun Dio tidak kuasa, dunianya cukup terlihat buram ketika mendapati raut wajah serius perempuan itu yang menolaknya. Ia kira, dia punya kesempatan. Karena semalam nama perempuan itu muncul di notifikasi instagramnya. Tapi ternyata? Mungkin apa yang dikatakan Nina itu benar, jika dia memang tidak pantas untuk Zara. "Dan juga Yo, yang diomongin Nina waktu api unggun kemarin.." belum selesai Zara berucap, Dio sudah memotong— "Udah sepuluh menit, kasian Mayang nunggin lama." Dio tau Zara akan mengucapkan apa. dan ia tidak mau terlalu sakit mendengarnya. setelah tersenyum paksa, cowok itu meninggalkan zara sendiri. Sore itu sekolah sepi, rumah Dio juga pasti sepi, dan hatinya apalagi. Dio tidak tau, kemana ia harus berpulang. Hatinya punya rumah, namun sang pemilik rumah, baru saja menegaskan jika rumah yang ia kira rumah, ternyata bukan miliknya. sembari menatap langit, Dio berpikir, haruskah dia menyerah? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD