11. Zara dan Dio POV

1159 Words
Zara Pov's . . Hari ini hari Minggu, setelah membantu Bunda di dapur, aku merebahkan diri di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar yang entah kenapa kini berubah menjadi wajah Dio. Ya, ini gila sekali. Sejak malam api unggun, aku menjadi terbayang-bayang tatapan Dio waktu itu. Tatapan sedih yang entah kenapa membuatku merasa bersalah. Aku tau, ucapan Nina kemarin memang sangat keterlaluan dan aku tidak setuju dengan apa yang sepupuku itu katakan. Bagaimana bisa dia menghakimi aku adalah orang baik dan Dio adalah orang yang tidak baik. Sementara dia bukan Tuhan yang 24 jam tau apa yang kulakukan dan kurasakan. Sungguh sejatinya manusia tidak berhak menilai seseorang itu baik atau buruk, karena yang berhak hanyalah Allah. Oleh sebab itu kini aku marah sekali dengan Nina. Sudah aku jelaskan berkali-kali perihal hal ini, namun Nina malah mengira aku marah karena aku suka dengan Dio. Padahal bukan itu maksudku. Bukannya aku tidak suka Nina menganggap Dio buruk, aku tidak suka saja jika Nina selalu mengukur baik buruknya orang lain, hingga dia lupa dengan dirinya sendiri. Terlepas dari itu semua. Apakah sekarang Dio baik-baik saja? ah, kenapa aku jadi memikirkannya. Aku pun meraih ponselku yang berada di nakas dekat tempat tidur, berharap dengan memainkannya bisa membuatku lupa dengan tatapan Dio. Namun sialnya, aku malah menemukan akun ig Dio didaftar orang-orang yang ingin mengikutiku. Tentu saja tanganku reflek ingin stalking, menyentuh username Dio dan menampikan profil instagramnya yang kebetulan tidak dikunci. Dio cukup misterius di i********:, karena tidak pernah menguplod foto dengan wajah close up. Kebanyakan foto pemandangan dan beberapa fotonya dengan teman-temannya. Sekalipun begitu, followersnya cukup banyak. Menandakan jika dia benar-benar cowok populer di sekolah sekalipun terkenal playboy. Ada satu foto yang cukup menarik perhatianku. Foto Dio dengan hodie hitam, rambut acak-acakan, dan wajahnya yang terlihat sangat tampan sekalipun dari samping. Di pipinya terdapat goresan luka yang entah kenapa membuatnya terlihat sangat keren. Seperti visualisasi tokoh-tokoh baddas di cerita fiksi yang dulu sering Rizka tunjukkan. Rizka adalah teman sebangkuku di sekolah lama. Dia adalah si tukang ngayal yang setiap istirahat atau jamkos selalu membaca cerita di w*****d. kalau nggak gitu ya isi tasnya selalu novel teen fiction yang tebelnya nggalah-nggalahin buku pelajaran. Kalau pulang cepet, pasti dia minta temenin ke gramed buat baca novel yang plastiknya udah dibuka. Ah, itu apa kabarnya ya? Surabaya juga apa kabar? Sejak kecil tinggal disana membuatku sangat berat waktu harus pindah kesini. Namun benar kata Abi, seberat apapun untuk pindah pasti akan selalu indah. Dan Indah itu kudapatkan di sekolah baru. Teman-teman yang baik seperti Mayang, perpustakaan dengan tempat baca yang nyaman, dan beberapa cogan yang tidak ada di sekolah lamaku. Eh.... Tuh kan apa kubilang, aku tidak sebaik yang Nina katakan, kan? "Zara!! Waktunya sholat dhuhaaa!!" Ucap Ibu seraya mengetuk pintu kamarku. Aku adalah keburukan yang selalu diselimuti kebaikan. "Okeee buu," dengan sigap aku turun dari tempat tidur untuk melakukan ritual di hari Minggu, yakni sholat duha bersama keluarga. Sebelum itu aku menyadari sesuatu yang sedikit mengejutkan ketika menyalakan hpku. Kenapa ikon love di bawah foto dio berubah warna menjadi merah? Gawat, ke-like. Ketahuan dong kalau stalking. "AAAAAAAA Tidaakkk!!!!!" Fix, besok kalau ketemu Dio aku nggak tau harus taruh muka aku dimana. Dio pov's. Rumah gue emang bukan rumah biasa. Sekalipun hari Minggu, sepinya nggak pernah libur. Kedua orang tua gue juga bukan orang tua biasa. Setiap hari sibuk, sampek lupa punya gue di rumah. dulu waktu kecil gue nggak terbiasa dengan ketidakbiasaan di rumah. tapi tumbuh besar gue malah biasa-biasa aja. Malah heran kalau lihat mama atau papa tidur di rumah. Aneh sekali memang, seaneh perasaan gue ke Zara. Pertama kali dalam hidup, ada cewek yang bisa bikin jantung gue berdetak kencang kalau di dekatnya. Cewek pertama yang bikin hati gue sakit kayak sekarang. Zara, zara, kok bisa sih gue jatuh cinta sama lo? Kok bisa juga gue sesakit ini waktu Nina bilang lo nggak pantes buat gue? Gue memang seharusnya sadar, kalau b******k kayak gue nggak pantes buat lo, Ra. Lagi-lagi gue sedih kalau mikirin masalah ini. Sejak pulang dari camping, kerjaan gue cuma tiduran di kasur sambil mikirin omongannya Nina seperti sekarang. Hati gue terguncang, waktu Nina bilang kalau gue nggak pantes buat Zara. Dan semakin terguncang, bahkan kayak kenak gempa dan tsunami waktu gue liat Zara diem aja seolah mensetujui apa yang dikatakan Nina. Emang sih, gue emang nggak pernah ngaca diri gue ini gimana, makanya gue nggak pernah sadar sebangsat apa gue selama ini. Dan kejadian di api unggun itu, cukup membuat gue sadar kalau gue emang nggak pantes buat zara. Hati gue sakit banget sekarang, bahkan rasanya mau nangis tapi gue nggak mau cengeng. Sekalipun di rumah nggak ada siapa-siapa dan nggak bakal ada yang ceng-cengin gue cengeng, gue nggak mau nangis. Tapi hati gue sakiiit banget, hingga akhirnya air mata gue turun dengan sendirinya. Lo tau Ra, Sakit hati ini bedaa dengan sakit hati diabaikan mama dan papa, rasanya lebih sakit karena baru gue rasain. Jadi, ini yang namanya patah hati? Setelah puas nangis dalam diem, gue pun memutuskan untuk mandi. Jarum jam dikamar menunjukkan pukul satu siang, membuat gue sadar betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia. Habis ini gue mau makan, terus tidur lagi. Mood gue emang lagi nggak pengen kemana-mana. Apalagi ketemu siapa-siapa-eh, kecuali ketemu Zara. Tapi rencana gue gagal total waktu ngeliat tiga makhluk yang tidak gue harapkan lagi liat tv dan makan cemilan di ruang tengah. siapa lagi kalau bukan, Ebi, Dharma dan Ipin. "Gue kira lo mati yo," ucap Ebi ketika menjadi yang pertama kali sadar akan keberadaan gue yang kini berjalan menuju ke arah mereka. Ipin dan Dharma yang tadinya sibuk main ps pun menoleh kebelakang, menatap gue dengan hembusan nafas lega. "Gue kira juga, malahan tadinya mau gue bacain yasin." Ucap Ipin. "Terus kenapa nggak jadi?" ucap gue seraya duduk diantara mereka. "takutnya lo kristen." "s****n!" Dharma dan Ebi pun tertawa, sementara gue semakin kesal karena menurut gue gada yang lucu disini. "Makan sono!! Tadi Bi Yana masak rendang, terus gue sisain buat lo." "k*****t, kalau misalnya lo nggak sisain." Ucap gue seraya memasuki area dapur. Ketiga teman gue itu emang udah anggep rumah ini sebagai rumahnya sendri. Bahkan Bi Yana udah anggep mereka bertiga sebagai saudara gue. Makanya mereka gampang banget keluar masuk rumah. Sering juga datang ke rumah Cuma minta makan atau nggak ya main ps. Gue sih seneng-seneng aja, malah seneng kalau rumah gue rame. Tapi untuk hari ini, gue lagi pengen sendiri. "Jangan ganggu gue, kalau mau pulang pulang aja." Ucap gue seraya menuju kamar mandi. Btw kamar mandi di dalem kamar gue lagi di renovasi, makanya gue harus turun ke lantai bawah dan mandi di kamar mandi utama yang ada di dekat dapur. Selepas gue bilang begitu, ketiga temen gue nggak ada yang perduli. Mereka sibuk main ps, seolah memberi tau alasan mereka datang ke rumah bukan buat cari gue, tapi main ps. Temen terbangsaaaaat emang. Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD