Mencoba menulis bab 10 dengan cepat. Ini adalah Usaha permintaan maafku karena terlalu lama tidak up! Semoga membuat kalian senang! Selamat membaca~
Nina tidak memperbolehkan Zara kembali ke kelompoknya. Namun Pak Marto marah karena menganggap Nina bertingkah semaunya sendiri. Zara yang tidak ingin Nina dimarahi Pak Marto pun akhirnya kembali ke kelompoknya. Persetan dengan Dio yang kini menyambut kedatangannya dengan senyuman. Apa Dio itu tidak sadar jika senyumannya yang seperti sekarang itu bisa membuat Zara sangat melemah? Untung saja Zara dengan cepat membuang muka menatap yang lain. Ikut tersenyum kecil ketika melihat seluruh anggota kelompoknya menyambut kedatangannya dengan ceria. Ada apa dengan kelompokknya itu? Kenapa mereka sekarang bisa melihat keberadaannya? Perasaan sejak tadi keberadaan Zara diabaikan deh.
"Gue kira lo pindah kelompok Ra," ucap Cahaya ketika Zara duduk di sampingnya. Karena hanya di samping Cahayalah yang kosong selain di samping Dio.
"Hehe, nggak lah. Kan gue mau ikut tampil di drama yang lo usulin." Zara basa-basi, tapi naasnya basa-basinya itulah yang membuatnya masuk keperangkap Dio.
"Sip, berarti lo mau kan jadi Layla?" Ucap Dio bersemangat.
Zara bingung, dia juga merasa ada sesuatu, dibalik Dio yang kini terlihat sangat bersemangat. "Layla emang gimana?"
"Dia gadis cantik yang alim, cocok bangetlah kalau lo yang meranin Ra." saut Suga meyakinkan Zara. Dio senang sekali karena ada yang mendukungnya.
"Iya Ra, udah lo aja yang jadi Layla." ucap Daris, "toh yang cewek kan cuma kita bertiga. Gue udah jadi backing vocal, sementara si Cahaya udah capek capek bikin cerita masa iya kita suruh main."
"Memangnya judul dramanya apa?" Tanya Zara.
"Layla dan Majnun." jawab Cahaya.
"Terus yang jadi majnun?" Harusnya tanpa bertanya, Zara sudah tau jawabannya. Apalagi sejak tadi Dio memang terlihat bersemangat ketika menyuruh Zara menjadi Layla. Ternyata ini alasannya.
"Gue!" Dio dengan bangga mengacungkan tangan. "Jika gue Majnun, lo mau kan jadi layla gue Ra?"
"Ha?" Zara bengong, Dio bener-bener suda gila ya?
"Eh sori, mksud gue lo mau kan ra jadi Layla?" Dio sumpah kayak anak kecil sekarang, senyum-senyum terus.
"Nggak!" tentu saja, Zara nggak akan mau. "Mending gue jadi backing vocal aja Ris, lo yang jadi Layla." ucapnya mencari solusi.
"Maaf Ra, tapi gue udah latian nyanyi sama Dono." Daris bohong, tapi dia sudah janji sama Dio akan membantu Dio agar Zara menjadi Layla-nya.
"Udah lah, lo jadi Layla aja. Lagian nggak ngapa-ngapain kok. Ya kan Cahaya?" ucap Iyan ikut-ikut meyakinkan.
"Y-aa," jawab Cahaya ragu.
Zara menghembuskan nafas gusar, andai saja dia bisa kabur sekarang. Dia nggak mungkin mengiyakan kemauan teman-temannya, tapi dia juga nggak mungkin kabur begitu saja. Alhasil kini Zara hanya diam.
"Yaudah, karena semua sudah ada tugasnya masing-masing, kita latian sekarang!" ucap Dono.
Cahaya pun memberikan beberapa lembar kertas yang berisikan naskah drama pada Zara. Di situ sudah tertera beberapa adegan yang harus Zara tampilkan. Drama itu tidak memiliki tokoh selain Layla dan Majnun. Alhasil Suga yang tidak mendapatkan tugaspun menjadi tim bantu-bantu. Seperti sekarang, dia tengah membantu Dio untuk mendekati Zara.
"Ra, nih minum." ucap Suga seraya menyerahkan botol air putih yang masih tersegel.
Zara tidak berpikiran aneh-aneh, dia kira Suga memang baik. Zara yang tengah haus pun tanpa pikir panjang meminum botol air putih itu. "Thanks Gus."
"Nama gue Suga Zara," ucap Suga tidak terima jika ada yang memanggil nama aslinya.
"Tapi nama asli lo kan Agus." ucap Zara.
"Tetep aja, gue mau dipanggil Suga, bukan Agus." Suga bersikeras, hingga lupa tujuan awalnya. "Oh ya, kalau lo mau terima kasih jangan ke gue. Karena itu minum dari Dio. Jadi terima kasih langsung aja ke dia ya."
"Kok lo nggak bilang dari awal si kalau ini dari Dio?"
"Karena kalau gue bilang, pasti lo nggak mau minum." Ucap Suga tersenyum menang.
"Apaan sih."
"Dio itu baik Ra,"
"Siapa bilang dia jahat?"
"Dio juga ganteng kan?"
"Genteng itu relatif."
"Dio keren banget kalau main gitar, lo aja yang nggak tau."
"Lo dibayar berapa sih sama Dio? Sampek mau baik-baikin dia di depan gue."
"Tau aja lo kalau gue bayaran," Suga tertawa cukup keras, "Pujian-pujian tadi emang disuruh Dio buat gue ucapin ke lo. Tapi yang kali ini gue nggak dibayar, dan gue ngomong sebagai teman baru lo dan teman lama Dio."
"Apa?"
"Dia emang suka ganti-ganti cewek, tapi kayaknya dia beneran suka sama lo."
Sumpah, jika ada kaca sekarang maka Zara sudah bisa tau jika wajahnya sangat memerah. Namun dengan cepat, ia mampu mengendalikan dirinya. Wajahnya kembali sinis. "Oh."
"Oh aja? Lo nggak suka gitu sama dia?"
Zara diam, tidak berniat menjawab pertanyaan Suga.
"Ra," Suga kesal karena Zara kini malah sibuk membaca naskah drama yanga sedari tadi di tangannya.
"Raaa!!!" Suga semakin merancau karena diabaikan.
"Udah sono, gue mau latiaaan!"
Suga pun menyerah dan menuju ke tempat Dio berada. Dia akan melaporkan jika seharusnya Dio menyerah saja, karena menurut suga, tidak ada tanda-tanda Zara akan menyukai Dio dan menerima Dio sebagai Majnun-nya.
----
Suasana hutan malam ini sangat ramai dengan suara manusia, anginnya yang sesekali berhembus kencang pun tidak membuat para manusia kedinginan karena ditengah-tengah mereka kini ada api unggun yang menyala. Api itu turut menghangatkan suasana pensi yang berjalan sangat meriah. Setiap kelompok menampilkan penampilan yang beragam. Tidak seperti pensi biasanya yang hanya menyanyi atau puisi. Kali ini juga diwarnai dengan Stand up comedy dan sulap. Membuat semua orang sangat menikmari acara malam ini.
Namun lain halnya Zara. Gadis itu kini tengah bersiap untuk tampil. Karena setelah ini, kelompoknya lah yang akan maju. Zara terlihat sangat cemas, karena ini pertama kalinya dia tampil dan dilihat banyak orang. Sekalipun nanti dia tidak banyak bicara, karena Dio yang lebih banyak berdialog tapi tetap saja. Zara takut dia melakukan kesalahan. Lagian ini pertama kalinya Zara main drama. Dio yang sekarang ada di samping Zara pun tersenyum geli, karena wajah resah Zara terlihat sangat menggemaskan.
"Tenang, semuanya pasti akan berjalan lancar." ucap Dio seraya tersenyum manis. Untung saja Zara tidak menoleh ke arah Dio, jika menoleh, mungkin Zara akan kena diabetes. Eh.
Gadis itu kini mengabaikan ucapan Dio dan fokus menenangkan dirinya sendiri dengan menghembuskan nafas berkali-kali.
"Pokoknya tugas lo nanti cuma ngangguk aja. Apalagi kalau gue bilang, lo mau nggak jadi pacar gue? Lo harus ngangguk, kalau bisa jawab iyaaaa dengan suara lantang." Ucap Dio lagi.
Zara menghernyit heran, "ha? Emang ada ya dialog gitu?" Tanya Zara polos.
"Ya gue ada adain lah, itu namanya improvisasi."
"Improvisasi gundulmu." Jawab Zara setelah sadar jika Dio kini tengah modus.
Dio tertawa, entah kenapa dia yakin sekali jika rencananya malam ini akan berhasil. Dio yakin juga, dibalik sikap dingin Zara pasti gadis itu juga menyukainya. Terserah jika kalian bilang Dio kepedan, karena dia tidak akan menyerah sekalipun Faya tidak menyukainya.
"Diooo! Zara! Ayo!" Panggil Cahaya. Ternyata sekarang sudah waktunya mereka tampil.
"Halo semua!!" Ucap Suga membuka penampilan mereka. "Kami dari kelompok cihuycihuy akan menampilkan sebuah drama musikal yang berjudul Layla Majnun. Selamat menimati!!!"
Suara tepuk tangan yang ramai, menjadi penanda jika semua orang sangat antusias dengan drama musikal yang akan ditampilkan kelompok cihuycihuy. Penampilan itu diawali dengan suara petikan gitar Iyan yang diikuti suara Dono dan Daris. Mereka memainkan lagu Armada yang berjudul dimabuk cinta, kemudian menampilkan Dio sebagai majnun yang seolah-olah tengah dimabuk cinta.
Kemudian datanglah Layla yang diperankan Zara tengah berjalan melewati Dio. Kemudian alunan gitar Iyan berubah chord menjadi lagu Anji yang berjudul Dia, diikuti dengan Dono dan Daris yang menyanyikannya. Semua orang disana pun terbawa suasana, mereka berteriak kencang. Apalagi para perempuan yang jomblo, seperti author. Eh.
Harusnya ketika lagu berhenti, Dio akan bilang: Layla, kau cantik sekali sayang. Mau kah kau pegri ke taman denganku?
Namun bukannya mengucapkan itu, Dio malah mengucapkan hal yang tidak terduga dan membuat Zara sangat syok namun tidak dengan anggota kelompok yang lain.
"Sejak pertama kali liat lo, gue udah suka banget sama lo. Selain karena lo baik banget karena udah nolongin gue waktu gue dihajar preman, lo juga satu-satunya cewek yang bikin jantung gue berdetak cepat. Cuma lo Ra yang bisa gitu, gue juga heran. Kenapa harus lo? Mungkin karena lo baik? Dan gue mau, lo jadi pacar gue. Lo mau kan Ra?"
Zara sangat terkejut, tidak pernah dia menyangka jika Dio akan mengatakan semua itu disini. Di depan seluruh teman-temannya. Pertama, Zara malu karena ini adalah pertama kalinya mendapatkan pernyataan cinta dari seorang laki-laki dan dilakukan di depan banyak orang. Kedua, Zara bingung dengan perasaaannya sendiri. Di lubuk hatinya paling dalam, kenapa kini tengah berbahagia? Kenapa ingin sekali sekarang mengangguk dan berkata iya dengan kencang. Namun Zara masih waras. Dia masih ingat dengan prinsipnya, masih ingat dengan nilai-nilai islam bagaiman mengatur pergaulan perempuan dengan laki-laki. Dan yang terakhir, Dio tengah melakukan kesalahan dengan mengabaikan peringatan Nina.
"DIO!!!" Nina berdiri dari barisan, kemudian berteriak dengan wajah marah. "Harus berapa kali gue peringatin hah?" Kemudian berjalan ke depan seraya melerai jarak diantara Zara dan Dio yang tadinya dekat.
"Gue nggak tau harus jelasin lo pakai bahasa apa. Lo sama Zara itu nggak cocok. Lo bilang Zara baik kan? Lalu lo? Apa sudah cukup baik buat dia? Hah?
"Dirumah lo ada kaca kan? Lo ngaca sana!!! Lo itu b*****t yo! Mainin hati cewek sesuka lo! Sedangkan Zara? Sejak dulu dia selalu menjaga pergaulannya sama cowok. Dia bahkan nggak pernah pacaran sampai sekarang. Harusnya itu buat lo nyadar yo! Kalau lo itu nggak pernah pantes buat Zara!" Nina mengatakan itu panjang lebar. Membuat semua orang tercengang. Begitupun Dio. Kini ia hanya tersenyum miris, entah kenapa Zara melihat luka ketika menatap mata Dio sekilas. Zara tidak ingin mengatakan apapun. Untung saja, Nina menyeretnya untuk keluar dari acara pensi itu. Membuat suasana pensi yang tadinya meriah menjadi cangung.
Suga menatap Dio, seolah bilang: kan?
Tiga kata yang menyiratkan sejuta makna.
Tbc
Xoxo, muffnr