Zara tidak bisa berbuat apapun lagi. Mau tak mau, dia harus satu kelompok dengan Dio. Pasalnya tidak ada yang mau tukar kelompok dengan dia. Entah karena apa, mungkin saja Dio sudah merencanakan ini semua. Bisa saja kan? Apalagi mengingat cinta membuat setiap orang berbuat apa saja diluar nalar. Termasuk melakukan apapun untuk mendapatkannya.
"Yo, gimana? Nanti siapa yang tampil di pensi api unggun?" Iyan bertanya seraya menyuapkan nasi bungkus ke dalam mulutnya.
Sekarang mereka semua tengah istirahat setelah sedari tadi setiap kelompok harus mendirikan satu tenda untuk tidur, mencari kayu bakar untuk api unggun dan melakukan penjelajahan siang untuk mendapatkan misi malam. Misi malam yang mereka dapatkan adalah tampil di pensi api unggun yang akan diselenggarakan nanti malam.
Dio yang sedari tadi bukannya makan dan malah menatap Zara pun, kini mengalihkan pandangannya menatap ke depan ke arah para anggota kelompoknya yang kini tengah duduk melingkar. "Pensi ya? Em...paling gampang sih nyanyi, atau nggak gitu ya musikalisasi puisi." ucap Dio lantang, membuat semua anggota kelompok tujuh diam memperhatikannya. Zara saja yang masih sibuk makan, seolah nggak mau denger Dio ngomong.
"Tapi Yo, ini kan kita nanti semacem misi gitu. Kayaknya yang paling bagus pensinya yang menangin misi deh." ucap Iyan.
"Kalau gitu kita harus nampilin yang nggak biasa dong. Kan nyanyi sama musikalisasi udah biasa." kini Suga ikut bicara.
"Hmmm ada usulan nggak nampilin apa?" tanya Dio menengahi.
"Gimana kalau nampilin drama musikal?" ucap Cahaya, gadis berkacamata dengan rambut dikuncir dua itu tidak disangka akan menyeruakan pendapatnya. Pasalnya sejak tadi, dia yang paling pendiam.
"Bagus tuh, tapi drama apa ya?" tanya Daris, gadis yang berada di sebelahnya.
"Kita buat yang cinta-cintaan! Pasti banyak yang suka!" usul Dono, cowok berkulit gelap yang katanya punya suara bagus karena anak padus. "Tapi nanti musiknya gimana? Kita harus cari lagu dulu dong buat menyesuaikan ceritanya."
"Nggak usa lagu Don, nanti musiknya live aja. Lo yang nyanyi terus disini ada yang bisa gitar nggak?" ucap Cahaya penuh keyakinan.
"Iyan aja tuh, gue dulu belajar gitar sama dia." ucap Dio.
Iyan yang merasa namanya disebut-sebutpun mengangguk senang. Cowok itu memang salah satu anggota band paling hitz di sekolah. Yang biasanya manggung dimana-mana. Beda sama bandnya Dio yang cuma band abal-abal dan latihan pas lagi mood aja.
"Oke, deh. Tapi gua ga bawa gitar." ucap Iyan.
"Kelas gue tadi ada yang bawa gitar kok, entar gue pinjemin." Daris berseru, membuat keresahan diantara mereka terpecahkan.
Cahaya semakin bersemangat, gadis itu bahkan kini sudah menuliskan beberapa adegan untuk drama yang akan ditampilkan. "Beri gue waktu sepuluh menit, gue mau ngatur konsep dramanya dulu."
"Oke." jawab Dio. Sementara yang lain, hanya mengangguk dan kembali melanjutkan makan siang mereka.
Zara tidak tertarik untuk memberi usulan, terlihat sedari tadi gadis itu hanya diam. Ia jadi malas ikut camping. Ia ingin pulang saja. Jujur, sejak ada Dio di sampingnya, Zara jadi malas untuk mengikuti camping. Padahal tadi pagi, Zara sangat bersemangat sekali untuk mengikuti acara ini. Tapi bagaimana bisa dia bersemangat ketika seseorang ia hindari malah berada di dekatnya terus?
Sumpah Zara ingin marah, tapi tidak tau harus marah pada siapa. Zara juga ingin sekali menendang Dio ke belahan bumi mana pun yang penting tidak di dekatnya. Bukannya Zara benci Dio, Zara tidak suka saja ketika hatinya dikendalikan oleh seseorang. Apalagi seseorang itu belum Zara kenali seperti Dio. Ya, dio memang tampan tapi pliss, Zara sekarang tidak ingin menyukai siapapun. Zara tidak ingin hatinya dikendalikan siapapun kecuali dirinya dan Sang Pemilik hati.
"Ra." itu suara Dio, namun Zara enggan menoleh atau melirik Dio sekalipun yang kini ada di sampingnya. Zara masih sibuk makan. Entah kenapa dari tadi dia belum juga selesai makan padahal yang sudah hampir selesai.
"Zara, lo sebenarnya masih inget gue kan?" ucap Dio setelah mengumpulkan semua keberaniannya.
Dio bertekat, pokoknya selama camping dia harus bisa mendekati Zara. Entah dengan cara apapun, dan memaksa pak Marto agar dia boleh pindah kelompok adalah salah satu usahanya. Lihatlah, Dio memang benar-benar menyukai Zara kan? Bahkan teman-temannya heran dengan perubahan Dio yang sekarang.
Zara mati-matian menahan mulutnya untuk tidak membuka suara. Namun sepertinya gagal, karena Dio kini tengah mendekatkan wajahnya untuk menatap wajah Zara yang tengah menunduk.
"LO LAGI NGAPAIN YO!!!"
Baru saja Zara akan berteriak, namun sudah ada seseorang yang menarik tubuh Dio untuk menjauh dari Zara dan berteriak sangat keras. Mendengar suaranya tanpa menoleh saja Zara sudah tau, jika itu adalah Nina. Sepupunya itu kini terlihat sangat marah, dan ingin sekali menghantam Dio dengan kepalan tangannya namun berhasil ditahan Keila yang berdiri di samping Nina. Mayang yang ikut datang bersama Nina dan Keila pun kini sudah memeluk Zara, seolah melindungi gadis itu dari penjahat.
Melihat ketiga gadis yang kini tengah menatapnya tajam pun membuat Dio bingung. "Kalian kenapa?" karena Dio tidak tau dimana titik kesalahannya.
Mendengar pertanyaan Dio, Nina semakin sebal. "Kenapa lo bilang? Lo itu yang kenapa? Lo kenapa deket-deket Zara terus? Lo suka sama dia? Lo mau jadiin dia korban lo selanjutnya heh?" Nina teriak panjang lebar dan tentunya berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian. Hampir seluruh siswa yang berada di sana, menatap mereka. Kepo, dengan apa yang terjadi.
Dio menggelengkan kepala, suaranya serak dan matanya menatap lurus ke arah Zara. "Nggak ra, gue nggak ada niatan kayak gitu." meyakinkan Zara jika apa yang dikatakan Nina tidak benar.
Zara menunduk, sejak awal dia paling nggak bisa kalau liat mata Dio. Hatinya kayak nyetrum gimanaaaa gitu.
"Udah yo, gue peringatin! Jangan deket-deket Zara lagi!" Nina meraih tangan Zara dan membawa gadis itu pergi dari sana, meninggalkan Dio yang kini jadi bahan gosipan satu angkatan.
Sumpah Dio nggak pernah perduli dengan apa kata orang. Begitupun perkataan gadis pemarah itu yang tidak memperbolehkan Dio mendekati Zara. Dio akan tetap mendekati Zara, sekalipun banyak orang yang menentang atau Zara sekalipun. Terserah jika mereka menyebut Dio bucin, tapi dia benar-benar ingin mendapatkan hati Zara. Karena selain Zara sudah menjatuhkan hatinya, Zara juga satu-satunya perempuan yang membuatnya merasa tertantang.
Baru kali ini proses pendekatannya tidak selancar jalan tol. Biasanya, jangankan hitungan minggu. Beberapa hari saja para gadis itu sudah menunjukkan sinyal keberhasilan pendekatan dan minta dijadikan lebih dari gebetan. Jadi kali ini Dio tidak boleh menyerah, karena dia tau, semakin sulit mendapatkan sesuatu itu artinya semakin berharga apa yang ia dapatkan.
"Naskah dramanya udah jadi, sekarang gue butuh pemeran utama cewek sama cowok." Ucap Cahaya yang sedari tadi sibuk dengan naskahnya, tanpa sadar jika suasana masih canggung karena keributan yang Nina buat.
Dan Dio memiliki ide lain untuk melakukan aksi pendekatannya.
"Gue sama Zara aja!" Ucap Dio senang.
Semua orang menatap Dio heran, dan mungkin juga dalam hatinya menanyakan hal yang sama. Dio lagi tergilagila dengan zara ya?
Tbc
Xoxo, muffnr