Hari ini murid kelas sebelas akan pergi camping. Lapangan depan pun sudah dipenuhi beberapa mobil garnisun yang siap mengantarkan murid kelas sebelas menuju bumi perkemahan. Hampir seluruh peserta sudah berkumpul di lapangan depan. Wajar saja, rombongan akan berangkat tepat pukul tujuh. Sementara panjang jarum jam kini menunjuk ke angka sepuluh. Artinya kurang sepuluh menit lagi mereka akan berangkat. Sekalipun begitu, masih saja ada beberapa anak yang masih belum datang. Contohnya Mayang dan Keila. Kedua teman Zara yang katanya tadi sudah berangkat itu sampai sekarang tak kunjung datang. Membuat Zara sendiri. Gadis itu bahkan kini duduk di bawah pohon yang berada di sudut lapangan. Tidak masuk barisan, karena dia masih merasa canggung berada di tengah-tengah teman kelas barunya jika tidak ada Mayang.
"Loh Ra, kok disini?" seseorang datang, entah dari mana. Dia adalah Dio, yang kini sudah berdiri di samping Zara. Dengan satu tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana, kaos oblong, celana jins dan sepatu kets yang ia kenakan. Wajah bantal Dio dan rambut yang acak-acakannya entah kenapa bisa membuat Zara menahan nafasnya ketika melihat Dio tersenyum.
"Ra," ucap Dio lagi. Karena lawan bicaranya kini malah diam saja dan menatapnya entah dengan tatapan-terpesona? Iyakah?
Zara menundukkan pandangan, kemudian dengan cepat ia beranjak dari tempatnya, setelah membawa tas yang ia letakkan di tanah karena berat.
"Ra, mau kemana?" Dio bingung, apa Zara benar-benar lupa dengan dirinya? Bagaimana bisa Zara melupakan Dio? Dio kira kejadian di kantin itu hanya niatan Zara saja untuk tidak mengenalinya. Namun ternyata, sepertinya Zara benar benar melupakannya. Segampang itu ya ra lupain gue? Gue aja matimatiin lupain lo ra, ucap Dio dalam hati.
Dio pun hanya menatap Zara dengan tatapan nanar, gadis itu sudah masuk ke dalam barisan. Namun Dio masih bisa tau dimana gadis itu berada. Bagaimana tidak, kerudung pink Zara pagi itu sudah merenggut hatinya.
---
"Ra, lo kemana aja!" Mayang menatap Zara terkejut, akhirnya orang yang sedari tadi Mayang cemaskan, yang Mayang kira belum datang akhirnya datang juga.
Zara menerobos barisan untuk berdiri di belakang Mayang. Menatap temannya itu dengan tatapan heran. Sejak kapan Mayang datang? Seingatnya dia tidak melihat Mayang masuk ke dalam barisan. Zara terdiam sebentar, bingung. Namun membuat Mayang tidak sabar karena merasa diabaikan.
"Ra! Malah bengong!" Mayang sebal.
"Gue udah dateng dari tadi, lo nggak ngecek hp?" Ucap Zara dengan menatap Mayang malas. Sudah dipastikan jika cewek itu tidak melihat ponselnya. Pasalnya Zara sudah menelpon, mengirim pesan untuk memberi tau Mayang jika Zara menunggu gadis itu di belakang barisan, bawah pohon yang ada di pojok lapangan.
Mayang menggeleng, "nggak. Hp gue udah gue masukin tas. Mau ambil males, entar gabisa di tutup lagi tasnya." ucap Mayang serasa memperlihatkan tas ranselnya yang ingin sekali memuntahkan apa yang ada di dalamnya karena terlalu banyak muatan.
Zara memutar bola matanya, baru saja akan protes akan sikap Mayang, suara Pak Marto sudah lebih dulu terdengar lebih keras melalui toa sekolah. Sudahlah, sepertinya Zara harus melupakan masalah ini. Yang penting sekarang dia sudah bersama Mayang. Setelah ini mereka akan berangkat menuju bumi perkemahan. Zara harus bersenang-senang, dia harus melupakan segala masalah yang ada. Termasuk lelaki bernama Dio. Yang akhir-akhir ini sudah menyita segala perhatiannya.
Tapi ngomong-ngomong, liat Dio pakai baju bebas malah keliatan cakep. Eh astaghfirullah, Zara mengucapkan istighfar untuk pemikiran konyolnya.
---
Acara camping ini benar-benar seru, menurut Zara. Selain dia bisa melihat alam yang indah, dia juga bisa belajar banyak hal. Tentang menghargai alam sekitar dan tentu saja tentang kerja sama tim. Karena setelah tiba di bumi perkemahan, semua siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan tujuan acara ini adalah agar kelas sebelas semakin akrab, maka kelompok pun dipilih secara acak. Zara bersyukur sekali, karena dia tidak satu kelompok dengan Dio. Zara kelompok tujuh dan Dio kelompok tiga. Jarak kelompok mereka pun cukup jauh, membuat Dio tidak mungkin bisa dekat-dekat dengan Zara. Namun kabar buruknya, Zara tidak mengenal siapa-siapa di kelompoknya. Alhasil ketika sudah berkelompok, Zara hanya diam dan memperhatikan satu persatu wajah teman sekelompoknya secara lamat-lamat. Kebanyakan dari kelompoknya sudah saling mengenal, buktinya baru saja dikelompokkan mereka sudah saling membully seoalah teman lama. Zara yang berada di tengah-tengah mereka pun hanya tersenyum masam, ia meresa tengah tersesat di planet mars sekarang.
"Udah ah, bercandanya. Nanti pak Marto marah lihat kita cengegesan dan belum pilih ketua kelompok," ucap seorang gadis berkaca mata yang berada tak jauh dari Zara.
"Gausa dipilih cika, ketua kelompok kita mah udah jelas si Agus." jawab cowok dengan tubuh kerempeng dan rambut kriting seraya merangkul cowok disampingnya.
"Lo mah lupa terus ya yan, gue kan udah bilang kalau nama gue ganti jadi Suga." cowok yang bernama Agus itu berucap dengan menyugar rambut lepeknya kebelakang. Membuat para perempuan yang ada di hadapannya menjadi mual-mual dan ingin muntah.
"Tenang-tenang para fans, suga Oppa akan mengantarkan kalian ke puskesmas secara bergantian." ucap Agus dan semakin menimbulkan keributan di kelompok tujuh.
Sementara Zara yang nggak tau siapa suga oppa pun hanya tersenyum kecut, dia bahkan tidak bisa untuk berpura-pura tertawa. Mood Zara menjadi buruk, semakin buruk ketika mendapati Dio yang tengah berjalan menuju kelompoknya. Mau ngapain?
"Hoe!" ucap Dio yang berhasil menyita perhatian seluruh anggota kelompok tujuh. Mereka yang tadinya sibuk berbincang dan tertawa pun terdiam seketika, dan kini tengah menatap Dio heran.
"Ada apa Yo?" ucap cowok yang ngakunya bernama Suga, dengan gaya cengengesannya.
"Gue mau masuk di kelompok ini."
Zara nggak pernah tau kalau Dio punya aura yang kayak begitu. Maksudnya, ketika Dio ngomong semua orang kayak nggak berani ngebantah, dan suasanya jadi tiba-tiba hening.
"O-oh bo-boleh dong, tapi emang dibolehin ama Pak Marto?" ucap si cowok kriting yang bernama Iyan dengan terbata.
"Boleh, tapi harus ada yang mau tuker sama gue." jawab Dio santai.
Sontak saja Chika mengacungkan tangannya. "Gu-gue gue aja." tanpa menunggu persetujuan dari teman-temannya, Chika berjalan meninggalkan tempat kelompok tujuh. Membuat semua orang bingung dan membuat spekulasi yang berbeda-beda. Chika sepertinya salah satu mantan Dio atau gimana? Kenapa sikapnya seolah bertemu dengan setan? Setan sama mantan emang nggak ada bedanya kan?
Dio pun mengambil alih tempat Chika, kemudian tersenyum manis menatap Zara yang memang berada di sampingnya. "Hai Ra! Akhirnya kita satu kelompok juga." ucapnya.
Membuat semua anggota kelompok tujuh menatap mereka penasaran. Sementara itu Zara kini sudah malu abis dan menundukkan dalam-dalam kepalanya. Jika Dio sudah biasa menjadi pusat perhatian, maka lain lagi dengan Zara. Karena sejak dulu ia emang tergolong siswa yang nggak hitz dan nggak minat juga. Karena bagi Zara, lebih enak jadi siswa biasa. Yang nggak jadi bahan gosipan dan pusat perhatian.
Zara mengabaikan Dio tentu saja, tidak mengatakan apapun dan hanya menghembuskan nafas panjang seraya mengucapkan istighfar pelan. berharap dengan begitu Dio bisa menghilang. Sayangnya Dio bukan dosa, yang bisa gugur dengan mengucapkan istighfar sekalipun sudah dengan setulus hati. Dio manusia, yang bisa saja menjadi dosa bagi Zara. Itu sebabnya Zara benar-benar harus bisa menjaga diri dan hatinya dari cowok di hadapannya itu.
"Oh ya, kalian lagi milih ketua kan? gue aja ketuanya." Ucap Dio memecahkan situasi aneh diantara mereka.
Iyan, Suga dan dua anak cowok yang lainnya pun mengangguk setuju. Mereka semua lega, karena terhindar dari tanggung jawab menjadi ketua. sementara itu para cewek cuma nurut aja-tapi sebagian dari mereka ada yang kelihatan seneng ketika Dio mau jadi ketua. mungkin cewek itu salah satu fans Dio, dan Zara benar-benar tidak tau harus berbuat apa sekarang. Jika dia dan Dio berada dalam satu kelompok, maka dia akan semakin dekat dengan Dio kan? dan, Zara tidak mau itu terjadi. Zara harus mencari cara agar bisa pindah kelompok. Tapi bagaimana,,,,
Tbc!
Xoxo, muffnr