7. Lo siapa siih?

1717 Words
Bel masuk itu terdengar sangat nyaring. Kali ini Zara tidak telat, gadis itu sudah duduk di bangkunya sejak dua puluh menit yang lalu. Bersama Mayang yang ada di sampingnya. Mereka berdua tengah sibuk membicarakan beberapa berita yang menjadi tranding topic di sekolah. Salah satunya adalah berita jika kegiatan tengah semester kelas sebelas akan diisi dengan acara perkemahan di buper. Semua siswa kelas sebelas pun banyak yang kecewa mendengar berita itu, banyak yang berharap jika kegiatan tengah semester kali ini ditiadakan saja. Akan tetapi sebagai gantinya, sekolah harus mengadakan study tour ke luar pulau di akhir semester dua. Sayangnya sekolah enggan untuk keluar dari zona nyamannya. Mereka beranggapan jika melakukan kemah bersama selama beberapa malam dapat mempererat tali persaudaraan kelas sebelas. Melupakan kenyataan jika anak jaman sekarang lebih suka jalan-jalan ke tempat yang instagramable. Sekalipun begitu, Zara termasuk bariasan yang mendukung program sekolah. Dia lebih suka acara perkemahan dari pada jalanjalan. Toh sejak smp dia kemah cuma satu kali, itu aja waktu kelas satu. Jadi dia mau ngerasaain kemah lagi. Beda lagi dengan Mayang yang menolak mentah-mentah adanya kemah. Sejak pagi tadi, Mayang bahkan sudah mengomel habis-habisan. Membuat Zara yang emang nggak suka dengan perdebatan pun cuma bisa diem dan sesekali menimpali ucapan Mayang dengan tenang. "Tapi btw kalau jadi, kemahnya kapan sih?" tanya Zara. "Satu minggu lagi, habis kita pts pokoknya." "Oh, lo udah belajar pts buat hari ini kan?" Zara yang ingat jika ia harus belajar lagi pun, mengeluarkan buku paket Biologi dari dalam tasnya. Mayang seketika menegang, raut panik pun terpancar diwajahnya. "Anjir! Gue lupa!!!!" teriaknya. Kemudian dengan cepat Mayang melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Zara, yakni mengambil buku paket Pkn di dalam tasnya. "Habis ini masuk lagi, gue harep dapet keloter dua." "Amin," saut Zara yang kini sudah sibuk membaca buku Pkn. Membaca kembali apa yang sudah ia pelajari semalam. Begini deh nasipnya anak yang iqnya normal, harus jadi rajin kalau mau pinter. Sebenernya Zara nggak pengen pinter sih, dia cuma punya prinsip jujur dan nggak mau nyontek kalau ulangan. Jadi biar nilainya nggak jelek-jelek amat, Zara belajar dengan rajin. Sepuluh menit kemudian, Pak Warsono--guru pkn mereka sudah masuk ke dalam kelas. Suasana yang tadinya ramai pun menjadi senyap, beberapa dari mereka pun ada yang menghembuskan nafas gusar. Karena itu artinya ulangan tengah semester akan dimulai. "Yang ganjil keluar dulu ya." Ucap Pak Warsono. "Yaaa!!!" Beberapa anak bersorak kesal. Namun lain halnya dengan Mayang dan Zara, mereka sama-sama bernomer absen ganjil. Artinya mereka masih diberi kesempatan untuk belajar. Mayang dan Zara pun memutuskan untuk belajar di perpustakaan. Dengan harapan jika belajar disana mereka akan bisa belajar dengan tenang. Namun sayangnya, harapan hanya sia-sia. Disana banyak anak kelas lain yang juga lagi belajar buat ulangan. "Ke kantin aja yuk, laper gue." ucap Mayang. "Yah, yang ada lo malah makan May bukannya belajar." Ucap Zara. "Udahlah, ayo Raa. Lo nggak mau kan gue pingsan karena belum sarapan." "Yaudah ayo," ya dari pada nanti si Mayang beneran pingsan dan malah nggak bisa ikut uas, jadi lebih baik Zara sekarang mengalah dan mengikuti kemauan Mayang. Mereka berdua pun menuju kantin yang letaknya jauh dari perpustakaan. Melewati koridor-koridor kelas sepuluh dan kelas dua belas. Mereka juga melewati kelas sebelas ipa tiga, yang letaknya paling beda sendiri dari pada kelas sebelas ipa lainnya. Mayang tiba-tiba saja melirik Zara. Zara yang emang peka pun menatap Mayang seraya melotot. "Apa!!!" Mayang nggak jawab apa-apa, cuma cengengesan. "Gpp." "Ih gajelas luh." "Tapi jujur sama gue, aslinya lo tertarik kan sama Dio? Lo seneng kan pas lo tau kalau Dio minta nomer lo?" "Apaan sih lo May, kenapa malah bahas Dio." Zara kembali teringat kejadian malam Minggu kemarin, dimana Dio minta nomer teleponnya melalui Kayla dan membuat Nina berulang kali mengingatkan pada Zara jika Dio bukan cowok baik-baik. Tak lupa pula Nina menyuruh Zara untuk tak usah mengenal Dio lagi. Bahkan nasihat itu masih Nina sampaikan pagi tadi melalui chat. Membuat Zara hafal betul dan berjanji pada Nina untuk tidak dekat dengan Dio, sekalipun di sudut hati kecilnya ada yang tak terima jika Zara menjanjikan itu pada Nina. "Iya kan?" "Nggak." Jawab Zara cepat. "Kalau nggak ceritain gimana first impression lo pas kenal dio." "Ih, berasa main di ask.fm ditanya first impression segala." "Haha. Udahlah ayo jawab aja Ra. Lo mau gue mati penasaran!" "Alay banget lu tong!" "Tong, tong emang gue gentong!" "Kembarannya bukan?" "s****n lu, udah ayo Ra. Cerita ke gue gimana first impression lu pas kenal Dio!" Mayang tetep aja kekeh, dengan kemauannya. "Ya allah ni cowok ganteng banget, gitu." Akhirnya Zara pun menuruti kemauan Mayang. Mayang ngakak nggak habis-habis pas denger jawaban Zara. "Sama-sama, gue juga gitu. terus apa lagi?" "Lucu," "Terus?" "Baik." "Terus?" "Enak diajak ngomong." "Lo suka dia ya?" Mayang menatap Zara penuh selidik. "Nggak." Zara menjawab cepat. "Ngaku aja deh Ra, kalau lo nggak suka kenapa dari tadi lo muji Dio mulu." "Tapi kan itu first impression May, ga setiap first impression kita ke orang itu tepat. Buktinya sekarang gue tau kalau Dio itu playboy yang nggak punya hati." Jelas Zara. "Iya juga sih, kita nggak bisa judge orang cuma dari covernya doang. Dan lo tau Ra, si Dio habis mutusin cewek lagi!" "Plis jangan mancing ghibah, gue nggak mau ya dosa gue nambah!" "Ih kita ini nggak ghibah Ra, tapi diskusi." "Diskusi keburukan orang?" "Yaudah deh, kalau lo nggak mau denger." "Ya allah, serius saya nggak mau ghibahin orang. Tapi Mayang maksa ya Allah, maafin Zara ya Allah." ucap Zara pelan seraya menutup matanya. Kemudian kembali menatap Mayang dengan antusias. "yauda apa?" Mayang cuma bengong liat tingkah Zara, heran aja kok ada manusia kayak Zara. "Apaan May?" "Tapi lo jangan bahas ini ke temen-temen ya. Lo kan tau sendiri Kayla sama Nina benci banget sama Dio." "Iya-iya." "Jadi dia baru aja putus ama Eriskha temen sekelasnya. Lo tau kenapa?" "Kenapa?" "Dari kabar burung yang gue dengar sih, mereka putus karena Dio udah nggak suka lagi sama Eriskha dan dia udah suka sama cewek lain. Gila banget kan tuh cowok?" Zara nggak bisa berbicara apapun, dia cuma ngangguk-ngangguk kayak orang begok. Andai saja kabar seperti ini sering Zara dengar. Mungkin dia akan merasa jika Dio memang pantas mendapatkan kebencian dari teman-temannya. Namun untuk sekarang, gadis itu masih butuh waktu. Dalam otaknya masih ada memori tentang Dio yang mengajaknya berkenalan dengan malu-malu. Cowok gemesin yang bikin Zara berulang kali bikin Zara ngucap istighfar. "Panjang umur tuh orang," ucap Mayang ketika mereka sudah memasuki area kantin. Tatapan Mayang pun kini terarah pada meja pojok dimana Dio dan teman-temannya tengah sibuk tertawa. Zara pun menatap ke arah yang sama. Ia menatap Dio yang kini tengah tertawa entah menertawakan apa. Yang jelas tawanya terdengar merdu sekali ditelinga Zara. Sialnya sedetik kemudian, Dio pun menatap Zara. Membuat mata mereka saling bertemu. "Hai Zara," Dio melambaikan tangannya. Seketika tawa teman-teman Dio pun menjadi berhenti, dan tanpa diberi aba-aba mereka mengikuti arah mata Dio. Yakni-di tempat Zara kini berdiri. Serentak dari dalam hati mereka pun seolah berucap, oh itu Zara. "Panggil-panggil, emang kenal!!" Harapan Dio, Zara akan tersenyum dan menyapanya balik. Namum nyatanya jangankan Zara, yang kini tengah berucap adalah Mayang dengan suara galaknya. "Udah abaikan mereka, nggak penting." mayang menyeret tangan Zara untuk baranjak dari sana. Zara pun mengangguk, kemudian berlalu bergitu saja tanpa membalas sapaan Dio. Jangankan menyapa balik, bahkan Zara kini tengah memasang wajah datarnya seolah tak kenal siapa Dio. Yang tentunya membuat Dio kebingungan. "Yah kok dia pergi gitu aja, katanya kalian berdua saling kenal?" tanya Dharma pada Dio yang kini masih menatap Zara dari kejauhan. "Iya, dia kayaknya nggak ingat lo deh." saut Ebi. "Tapi btw, si Mayang cantik ya." "Ye..lo malah gagal fokus!" sorak Ipin seraya memukul lengan Ebi pelan. "Mending sekarang lo samperin aja coba, kasih minum atau makan apa kek. Biar dia seneng." Tanpa menunggu nanti, setelah mendengar perkataan Dharma, Dio langsung berdiri dan menuju warung untuk membeli makanan. Melihat hal itu, ketiga temannya mengerutkan dahi heran. Kok bisa Dio jadi kayak gitu. Padahal setau mereka, Dio nggak pernah tuh minta saran tentang percintaan. Karena Dio sendiri emang udah jago. Tapi mereka nggak tau sekarang kenapa Dio jadi begini. Jadi kayak orang yang baru pertama kali jatuh cinta. Kini di tangan kanan Dio pun sudah ada satu kantong plastik kecil yang berisikan minuman milo dan roti sandwich rasa coklat. Dengan sedikit ragu, karena tangannya menjadi panas dingin, Dio pun melangkah menuju ke temoat Zara. "Haiii" ucap Dio dengan senyuman manisnya. Mayang yang tadinya sibuk memakan bakso pun kini menatap horor ke arah Dio. "Mau apa lo?" Sementara itu Zara diam saja, masih memfokuskan diri pada buku Pkn yang ada di hadapannya. Berpura-pura tidak mendengar suara Dio. "Ini gue mau nganter makanan buat Zara." Dio meletakkan kantong plastik itu di atas meja dekat Zara. Zara mendongak, "sorry gue puasa." "Oh..lo puasa." Dio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, malu sekali rasanya. "Yauda buat buka aja." "Nggak makasih," jawab Zara cuek kemudian kembali menatap bukunya. Membuat Dio heran sendiri dibuatnya. Dio rasa, kemarin-kemarin Zara nggak sedingin ini pada dia. Tapi kenapa hari ini...Zara seolah tak mengenalnya. "Tapi Ra, gue kan udah beliin ini buat lo. Ambil aja ya, buat nanti buka puasa." ucap Dio. "Lo siapa sih?" tanya Zara dengan tatapan kesal. "Ha?" dunia Dio seolah berhenti, perasaan tidak sampai satu minggu dia dan Zara berkanalan. Kenapa Zara lupa? "Gue Dio Ra." "Gak kenal, mending sekarang lo pergi deh. Jangan gangguin gue lagi!" "Apa?" "Udah sana!" ucap Zara dengan berteriak. Dengan lemas, Dio pun berbalik arah dan kembali duduk bersama teman-temannya. Entah kenapa hatinya sakit sekali. "Gimana?" "Dia nggak kenal gue." Jawab Dio lesu, kemudian menyesap teh panasnya seolah mencari kekuatan disana. "Kok bisa?" Tanya Ipin heran. Pasalnya di sekolah ini, siapa sih yang nggak kenal Dio?? "Entah lah gue juga bingung, perasaan kemarin dia juga nggak sedingin itu sama gue. Tapi kenapa hari ini dia berubah, kayak orang nggak kenal." Curhat Dio. "Pokonya lo nggak boleh berhenti! Lo harus perjuangin Zara, Dio!" Ucap Ebi sok bijak. "Iya gue setuju sama Ebi. Udah Dio jangan sedih, lo harus usaha lebih keras lagi." Ucap Ipin. "Tujukin kalau lo emang buaya cap kapal selam!" Ucap Dharma dengan wajah cenge-ngesannya. Mendengar hal itu, Dio cuma tertawa dan semakin mantap untuk mencoba mendekati Zara lagi. Mungkin langkah selanjutnya ketika di acara perkemahan. Dio harus menyusun rencana sejak sekarang. Agar nanti Dio bisa lebih dekat lagi dengan Zara. Tbc Xoxo muffnr♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD