27. Jujur

1044 Words
Aku tidak akan denial lagi. Jika aku memang menyukai Dio. Perasaan untuk Dio ada sejak dulu, sejak kami berdua tidak sengaja bertemu di depan pagar ketika pelaksanaan MOS. Pagi itu aku merasa sangat s**l, ditinggal Agam ke sekolah lebih dulu karena bangun terlalu siang. Membuatku harus ke sekolah sendiri naik ojek online. Parahnya setelah sampai di sekolah aku baru ingat tidak membawa topi dari kertas yang dijadikan perlengkapan penting MOS. Aku tidak berani masuk, hingga seorang cowok mendekatiku. Menanyakan apa yang terjadi, kemudian dengan baik hati meminjamkan topi kertasnya untukku. Membuatnya harus dihukum mengelilingi lapangan sebanyak 20 kali karena aku. Sejak saat itulah Nina mengagumi Dio dalam diam. Hingga Dio mulai berpacaran dengan beberapa anak cewek termasuk Kaila. Membuat Nina marah, kesal dan membencinya. Mungkin saat itulah awal mula perasaan benci yang dimliki Nina mulai muncul. Perasaan yang Nina gunakan untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya. Sekarang ketika Dio seolah mencoba masuk ke dalam kehidupannya lagi, Nina merasa goyah. Pesona Dio terlalu bercanda untuk Nina lewatkan. Apalagi melihat perubahan Dio yang menjadi lebih baik, membuat Nina berharap yang tidak-tidak. Jangan-jangan tujuan Dio adalah gue? Jangan-jangan Dio mulai suka sama gue? Dan masih banyak perkara yang belum pasti tapi sudah pasti membuat Nina baper sendiri. Tebrukti cewek itu akhir-akhir ini kebanyakan nyengir sendiri. "Nin," jantung Nina rasanya mau copot mendengar nama itu. Nina sontak menooleh, suasana rumah siang itu sepi. Hanya ada mbak-mbak yang bantuin Ibu di rumah. Tanpa mengatakan apapun, nina menatap Dio dan menaikkan alisnya. Seolah bertanya—ada apa? Dio duduk di kursi yang ada di meja makan, jaraknya dengan Nina cukup dekat. Ia menatap Nina lekat, membuat Nina salah tingkah. "duduk sini dong Na." Kata Dio. Nina menurut, sekalipun dengan berkomat-kamit mengatakan kekesalannya. Yang tentunya ia pura-pura. Karena sebenarnya kini Nina grogi, kira-kira kenapa ya tiba-tiba Dio mengajaknya bicara berdua? "KENAPA?" Suara Nina keras, matanya menatap Dio sinis. Dio tersenyum kecil melihat tingkah Nina. "Gue mau ngomong sama lo." Apakah Dio akan mengungkapkan perasaannya padaku?—batin Nina. "Ngomong tinggal ngomong kan?" kerus Nina. "Gue pernah ngelakuin salah ya Na? Kenaoa lo benci banget sama gue?" Untung Nina sekarang tidak sedang makan, jadi dia tidak sedang tersedak apa-apa karena saking terkejutnya. Sejak Kapan Dio perduli sikap masa bodo Nina padanya? Bukankah sejak dulu Nina suda mengatakan berulang kali kalau dia membenci Dio? Kenapa baru sekarang Dio menanyakan hal ituu? Dan banyak sekali pertanyaan yang kini mucul dipikiran Nina. Namun hanya satu kesimpulan Nina, mungkin benar, Dio menyukainya. "Na jawab dong." "Kenapa lo tiba-tiba nanyain itu?" "Gue lelah aja lo cueki kalau di rumah." "Oh.." "Jadi?" "iya jadi, jadi kenapa lo benci gue?" "Gue benci lo karena suka mainin cewek." "Gue uda berubah Nin. Hampir dua minggu gue jomblo loh." "Iyaa kan kita nggak tau kalau sebulan lagi lo gimana. Lo kumat lagi atau lo bener-bener berubah." Dio diam mencermati perkataan nina. Benar juga sih, tapi seharusnya di diberi kesempatan agar ia bisa membuktikan. "Terus apa lagi Nin? Apa yang bikin lo benci sama gue?" "Itu aja sih." Dio diam dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Membuat Nina merasa serba salah. "Yo? Gue nggak benci-benci lo banget kok!" Kata Nina lirih, mencoba membuat Dio terhibur. "SERIUS Nin?" Dio berteriak, matanya terlihat sangat bersemangat. "Iya." "Yauda kalau gitu lo jangan cuekin gue lagi dong, gue masi lama tinggal di sini. Bisa nggak kita jadi temen aja? Biar gue makin betah." Tanpa sadar, Nina tersenyum melihat Dio yang terlihat antusias. "Iya, gue coba ya Dio." Ya, ini adalah saatnya Nina menerima perasaan itu. Bukannya terus denial dan pura-pura membenci Dio. --- Setelah berani jujur pada dirinya sendiri, Nina berencana memberi tahu teman-temannya. Agar Nina bisa mendapat dukungan dari mereka. Nina berharap sih teman-temannya akan membantunya untuk bisa memulai langkah selanjutnya. Ia bosan berada di tempat yang sama yakni mencintai dalam diam selama beberapa tahun ini. Pertama yang Nina rasa tentu saja malu. Ia takut teman-temannya akan mengejeknya. Apalagi Kaila, karena selama ini Nina selalu mengatakan hal-hal buruk tentang Dio padanya. "Nin, lo kenapa bengong? Nggak nafsu makan ya?" Kata Zara yang duduk di samping Dio. Nina juga merasa bersalah pada Zara. Ia menyuruh Zara untuk tak menyukai Dio, tapi malah Nina sendiri yang suka sama cowok itu. "Nin? Lo sakit?" Ucao Mayang. Nina menggelengkan kepala, "gue gpp gais. Tapi ada yang mau gue omongin." Kaila meletakkan garpu dan sendoknya. Kemudian menatap Nina antusias. "Ada apa Na??" "Gue sebenarnya selama ini..." "Iya lo kenapa??" "Suka Dio." Kata Nina. Ketiga teman yang kini ada di hadapannya itu sontak terdiam. Satu menit, dua menit masih belum ada yang berani membuka suara. "Nin, lo tadi ngomong apa?" Tanya Kaila memastikan lagi. Nina berdecak, "sebenarnya gue suka sama Dio." Lagi, ketiga teman Nina lagi..lagi terkejut. "Lo bohong kan Nin?" tanya Mayang. "Gue serius." Kaila tertawa, "akhirnya lo sadar juga ama perasaan lo Nin." "Kai lo nggak marah?" "Oh lo mau gue marahh???" "Ya enggak sih, tapi gpp?" Kaila tersenyum, "y gpp dong Nina. Lo pasti selama ini tersiksa yaa nyembunyiin perasaan lo." Nina terharu, respon Kaila ternyata diluar dugaannya. "Terus lo sekarang mau apa Nin? Confes ke Dio?" Tanya Mayang. "Ya enggak lah May," kata Nina. "Untuk sekarang gue mau jadi temen Dio aja dulu. sambil ngeliat situasi, dio suka sama gue apa nggak." "Bagus itu Nin, jadi nggak sakit-sakit amat kalau ditolak." "s****n lo may!" mereka bertiga sontak tertawa, sementara sejak tadi ada seseornag yang diam seribu bahasa. siapa lagi jalau bukan Zara. Dan sikap Zara yang mencurigakan itu tidak ada yang menyadari kecuali Mayang. -- "Ra?" Zara dan Mayang tiba di kelas. dan kini tengah duduk di bangkunya masing-masing. "Ya May?" Jawab Zara dengan tangan yang sibuk membalik buku Matematika. "Lo gpp?" Gerakan tangan Zara berhenti. Zara tau, kemana arah pembicaraan Mayang. "Gpp lah May!" Kata Zara dengan raut wajah ceria. "Ra, gue tau ya apa yang lo lakuin ke Dio." "Maksud lo?" "Lo kan yang jadi penyebab Dio berubah?" "Ha? Bukan Kok May." "Cukup deh Ra, pliss jujur sama gue." zara diam, kemudian menatap mata Mayang lekat. mungkin memang benar, ia harus jujur agar bisa menyelesaikan masalah yang terjadi. jika zara hanya diam dan menyembunyikannya, masalah itu pasti tidak akan selesai. "Iya." Jawab Zara atas pertanyaan Mayang. tbc xx muffnr
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD