26. Dio yang berubah

1150 Words
26.   “Lo mau nginep sini?” Tanya Agam pada Zara yang kini sudah duduk di sampingnya. Zara yang sibuk makan puding pun hanya mengangguk, sembari menatap layar TV yang menampakkan pertandingan bola  PES FIFA antara Agam dan Dio. “Lo doang apa ada sama temen-temen Nina yang lain?” “Nanti Mayang sama Kaila dateng.” “Oh,” kata Agam “jangan rame!” “Bawel,” saut Zara. “Tante kemana sih?” “Kondangan.” “Sama Om juga?” “Ya.” Suasana diantara mereka pun menjadi sunyi. Zara tak tau harus berkata apa karena Dio dan Agam kini sibuk bermain PS. Sebaiknya Zara tidak menganggu mereka, apalagi wajah dua anak laki-laki itu terlihat sangat serius. Oh ya, setelah melihat Dio main dengan Agam dan Nina malah sibuk mengurung di kamar, hati Zara jadi legah. Pikirannya tentang hubungan Dio dan Nina yang semakin dekat karena mereka tinggal serumah terbantahkan begitu saja. artinya Dio dan Nina memang tak ada hubungan apapun. tapi Zara tak bisa menjamin perasaan Nina. Yang jelas cewek itu masih membenci Dio. Mayang, Kaila sudah datang dan Zara segera menuju kamar Nina. Nina yang sudah merampungkan ritual me timenya pun menyambut mereka dengan biasa-biasa saja. Bahkan terkesan tak mengharapkan kehadiran teman-temannya. Sayang, teman-temannya  tak tau malu, sudah tau Nina kesal karena mereka jadi menginap, mereka malah menyuruh Nina memesankan sekotak Pizza untuk dimakan sembari melihat film. Itu membuat Nina semakin kesal, tapi ia tak menolak. Begitulah gadis itu, sekalipun diluar terlihat dingin, kasar tapi hatinya lembut sekali.   Malam itu pun mereka habiskan dengan melihat film bersama. sekalipun hanya begitu, hati mereka sudah penuh dengan kebahagiaan. -- Minggu memang hari santai, tapi dalam kamus Abi Nina Minggu sama seperti hari biasanya. Anak-anak tetap harus bangun pagi untuk menjalankan ibadah subuh. Setelah membangunkan Agam, belliau pun menyuruh Agam membangunkan Dio dan Nina. Agam yang masih malas untuk mengeluarkan banyak tenaga, akhirnya mengambil cara cepat. ia dorong tubuh Dio sehingga tubuh itu terjatuh dari tempat tidur. Untung saja tempat tidur itu tidak terlalu tinggi, sehingga tak menimbulkan rasa sakit. Dan berhasil membuat Dio membuka matanya lebar karena saking terkejutnya. “Bangun! Kita subuhan!” Dio masih ngantuk,satu jam yang lalu dia bangun untuk sholat malam dan sekarang Dio harus bangun lagi untuk shalat subuh? Sumpah demi dewi neptunus, Dio ngantuk banget. “skip dulu gam,” celetuk Dio seolah menganggap shalat hanya sebatas sponsor di youtube yang bisa diskip seenaknya. “Skap-skip gundulmu!” Plak! Tangan Agam memukul paha Dio yang hanya mengenakan celana pendek. “Ayooo cepet banguun! Lo nggak inget kalau Zara lagi nginep?” “....” Dio masih diam, ia naik ke atas tempat tidur kembali memejamkan matanya. “Lah malah tidur lagi,” ucap Agam. “Oke entar kalau ada Zara gue bilang lo lagi tidur dan nggak mau subuhan.” “Bilang aja” Kata Dio dengan suara seraknya. “Kan peranjiannya gue shalat malam selama 40 hari bukan sahalat shubuh. “Yeuuu lo lupa apa kata Abi? Nggak Cuma shalat malam yang harus lo dilakukan, tapi lo juga harus belajar shalat fardhu! Lagian Zaara juga mana mau sama cowok yang shalat fardunya bolong-bolong kayak lo!” Dio hanya diam, semenit kemudian ia membuka matanya dan bangun dari tidur. Walaupun Dio mencoba bodoh amat dengan ucapan Agam, tetap saja tidak bisa.  Apalagi kalimat Dio yang terakhir, benar-benar membuatnya terganggu! “Lah gitu bangun, pinter! Udah cepet wudhu! Udah ditunggu Abi di musallah” Kata Agam sembari turun dari kasur dan hendak keluar kamar. “Lo kemana?” “Bangunin Nina dan temen-temennya. Kayaknya mereka begadang deh semalem.” Dio megangguk, ia juga ikut meninggalkan kamar menuju musolah. Ia harus cari muka ke Zara, mumpung gadis itu ada di sini. -- “Itu dio?” kata Kaila ketika mereka masuk ke dalam musolah rumah Nina. Di musolah itu ada Abi Nina yang tengah duduk sembari memegang tasbihnya, dan di belakangnya ada seorang anak laki-laki melakukan hal yang sama. “Nggak mungkin ah, paling itu Agam!” celetuk Mayang. Mereka pun segera membentuk Shaf. Nina masih sibuk di kamar mandi jadi kini hanya mereka bertiga. Zara hanya diam saja menyimak pembicaraan kedua temannya. “Agam kan tadi masih di rumah.” “Oh berarti itu emang....nggak, nggak , nggak mungkin!”Ujar Mayang masih tak percaya. “Masak sih Dio jadi alim gitu?” “Apa jangan-jangan selama ini Dio itu cowok alim yang pura-pura jadi badung?” “Kayak cerita w*****d ya..” kata Mayang. “Kok lo diem aja sih Ra?” Mayang melirik Zara yang sedari tadi hanya diam. “Terus gue harus ngomong apa?” jawab Zara dengan wajah polos. “Ya ngomong apa kek!” “Apa kek, apa kek, apa kek! udah, puas?” Kaila dan Mayang sontak memasang wajah terkejut. Mereka sontak mengabaikan Zara dan kembali sibuk membicarakan Dio. Zara terkekeh sendiri, merasa senang karena berhasil membuat Mayang dan Kaila kesal. Terlepas dari apapun, Zara harus akui Dio subuh itu terlihat tampan. Bahkan jauh lebih tampan dari biasanya. Membuat Zara diam-diam merasa deg-degan. -- “Nin gue mau tanya sama lo,” mereka baru selesai shalat dan mengaji. Kini mereka kembali ke kamar Nina ketika jarum jam menunjukkan pukul 7. “Nanya Apa Kai?” Kata Nina sembari sibuk melipat mukena. “Si Dio itu tiap hari gitu?” “Ha?” Lagi-lagi, Kaila bahas tentang Dio. Kayaknya cewek itu mulai tertarik lagi sama dio, atau dia punya tujuan lain? “Ya apa setiap hari dia selalu ikut subuhan terus belajar ngaji kayak tadi?” “Iya.” Jawab Nina malas. “Sumpah ?? demi apa?” Mayang ikutan heboh dan lagi-lagi Zara Cuma diem. “Kalau nggak percaya kalian nginep di rumah gue aja tiep hari!” “Mau!!!!” “Iya gue juga mau!!!” Nina merasa menyesal menjawab seperti itu. “Maksud gue dia emang tiap hari kayak gitu! nyebelin kan? sok alim banget!” “Nina nggak boleh gitu, siapa tau dia emang lagi tobat?” “Ya tobat sih, tapi dalam rangka apa? kenapa tiba-tiba? Aneh!” “Ya kita kan tau isi hati orang Nin, siapa tau emang murni kemauannya sendiri?” “Nggak bisa gituu May, orang tobat itu pasti ada motivasinya.” Jelas Nina yang membuat Zara deg-degan. Zara takut ketahuan! “Betul kata Nina, kira-kira apa yang yang bikin Dio tobat? Apa jangan-jangan dia lagi suka sama cewek yaa? Dan pingin memantaskan diri biar cocok buat tuh cewek?” Kata Kaila. “Bisa jadi sih Kai, tapi kira-kira siapa ya...” Ujar Mayang, matanya tiba-tiba berhenti di sosok Zara yang kini duduk di sampingnya. “Siapapun cowoknya pasti dia beruntung sih karena Dio udah berkorban sampek segitunya.” Kaila ikut menimpali. Nina dan Zara diam, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. “jangan-jangan itu gue?”—kata Nina.. “Dio emang so sweet, jadi wajarkan kalau gue jadi baperr?”—Kata Zara. Tbc muffnr
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD