25. Ada satu yang Zara nggak suka
Nina tengah melanjutkan makan martabak telor yang belum habis ketika Zara, Mayang dan Kaila masuk ke dalam kelas. Kaila segera duduk di samping Nina, Zara dan Kaila meminjam kursi kosong yang ada di sekitar situ. Nina menatap teman-temannya dengan tatapan bingung.
“Ada apa ni? Kenapa kalian ngeliatin gue kayak gitu?” Nina membersihkan tangannya dengan tisu. Martabak telornya sudah habis, ia segera mengambil botol minum di tasnya.
“Lo gpp kan Nin?” Sekalipun Zara tau Nina baik-baik saja, tapi tetap saja Zara merasa khawatir.
Nina terkekeh, “gpp Ra! aman!” sembari menampakkan jempol kanannya.
“Jangan boong lu Nin!” kaila memasang wajah kesal, “masak lo nggak sedih atau takut sih habis dijadiin bahan tontonan anak satu sekolah?”
“Gue kan nggak salah Kai, kenapa harus takut? Lagian masak gitu aja gue sedih? Nggak ya!”
“Bagus, itu baru namanya sahabat gue.” Ujar Mayang sembari memeluk Nina dari samping.
“Oh ya Nin, Dio masih tidur rumah lo?” Tanya Kaila.
Raut wajah Nina yang tadinya tengah tersenyum senang pun sontak menghilang, bergantikan senyum masam yang kini menghiasi wajahnya.
“Sumpah gue mau jawab enggak, tapi sayang dia masih betah banget di rumah gue. Dia bahkan sekarang jadi supir bokap gue kalau ada undangan ceramah.”
“SUMPAH??” Kaila dan Mayang terlihat sangat terkejut.
“Iya, nggak tau deh setan mana yang masuk ke tubuh cowok itu.”
“Lo jadi sering ketemu dia dong Nin?”
Nina terdiam sebentar, wajahnya terlihat berpikir seolah membayangkan hari-harinya kemarin. “Nggak juga sih, gue sering di kamar.”
“Yaahh, padahal ada kesempatan buat cuci mata tapi lo sia-siaiin.” Kata Mayang.
Zara sontak menepuk bahu ccewek itu, “lo lupa May? Nana kan benci Dio!”
“Oh iya..Tapi benci itu kan singkatan dari benar-benar cinta.” Mayang ini emang polos banget ya? sampek nggak peka dengan kode Nina yang udah mau marah karena Mayang malah bahas begituan.
“Hahaha” Kaila terbahak.
Zara hanya diam.
Nina uda natap Mayang mau mukul tuh cewek, untung aja bel masuk berbunyi kencang. Membuat Mayang bisa menyelamatkan dirinya.
“oh ya May, Ra, kapan-kapan kita main ke rumah Nina yok?” Ajak Kaila. Nggak tau deh, apa yang ada dipikiran Kaila, kayaknya cewek itu sejak tadi senyum-senyum sendiri sambil ngeliatin Nina menggoda.
“Ha? NGGak!!!” tentu saja Nina tau niat Kaila datang ke rumahnya. Bukan untuk main, tapi untuk caper ke Dio.
“Bagus tuh Kai, oke minggu besok aja gimana?”
“Gue bilang Nggak ya!!”
“Sipp, sekalian kita nginep aja.”
“Setuju!!”
“HEEEEH!!!”
Sebelum Nina semakin marah, Mayang menyeret tangan Zara dan mengajak gadis itu keluar kelas.
Ada perasaan khawatir, dan Zara tidak tau kenapa ia merasakan seperti ini. Kenapa ia merasa sedih ketika tau Nina tinggal di atap yang sama dengan Dio? Dan perkataan Kaila tentang Nina yang menyukai Dio, bagaimana jika itu benar?
Ah, Zara tak menyangka urusan ini semakin rumit dan menyita perhatiannya. Parahnya, Zara tak bisa melupakan tatapan Dio.
--
Tiga hari berlalu semenjak kejadian Eriskha yang marah-marah di kelas Nina, tiga hari pula Zara tak lagi melihat Dio. Di koridor, di kantin atau bahkan di lapangan. Nina kira Dio tidak masuk, gadis itu sampai sengaja lewat depan kelas Dio untuk memastikan keberadaan cowok itu. Dio masuk tapi anehnya Zara tak lagi menempukannya di penjuru sekolah. mereka tidak pernah lagi tak sengaja berteemu seperti dulu. dan itu membuat Zara sedikit...rindu?
Sebab itu sekarang Zara antusias sekali ketika Mayang dan Kaila mengajaknya untuk menginap di rumah Nina. Ia bahkan sudah berada di rumah Nina padahal Mayang dan Kaila datang ke rumah Nina dua jam lagi.
“Ra?” Agam yang membuka pintu, menatap Nina dari bawah hingga atas. Bingung, tak biasanya sepupunya itu tiba-tiba datang. “Lo mau ngapain?”
Astaghfirullah...kayaknya dosa banget ya Zara datang ke rumah ini? kenapa Agam malah tanya gitu?
Mengabaikan Agam, Zara masuk saja ke dalam rumah. memasang wajah masam tanpa mengucap salam. Menuju kamar Nina di lantai dua, melewati ruang tengah dan terkejut ketika mendapati seorang cowok menatapnya dengan ekspresi yang sama.
Cowok itu hanya menggunakan celana olahraga di atas lutut dan kaos hitam dengan tulisan ‘good boy’.
Cuih, good boy katanya? Pede sekali—batin Zara mencaci tulisan di kaos itu.
“Za—ra?” cowok itu Dio, saking terkejutnya stick PS yang ia bawah terjatuh. Menimbulkan suara yang cukup keras.
“DIOOOOOOO STICK MAHAL GUEEEEE!!” heboh Agam sembari memungut stick yang udah jatuh.
“Lo ngapain ke sini Ra?”
Zara memutar bola matanya, pertanyaan yang sama. males banget!
“Lagi main aja kok yo,” tapi karena Dio yang tanya, Zara jawab.
“Oh,” dio mengangguk mengerti. “Naik aja Ra, Abi sama Mama lagi nggak ada di rumah terus Ninanya dari tadi nggak keluar kamar.”
“Oke, makasi Dio.”
Zara meninggalkan dua anak laki-laki yang kini tengah cek-cok masalah stick. Ia menaiki tangga menuju lantai dua.
“Caper banget lu sama Zara! Berasa jadi yang punya rumah lo nyuruh-nyuruh Zara naik?”
“Haha sori bos.”
“Pokoknya ganti ya stick ini.”
“Tapi kan masi bisa.”
“Gamau tau, pokoknya ganti!”
“Iya-iya entar gue ganti dua.”
Nina tengah memejamkan matanya sembari tidur di atas kasur, wajahnya tengah ia balut dengan masker bewarna coklat. Sabtu malam minggu memang jadwal Nina ngerawat tubuh.
“Hai sepupuku.” Kata Zara dengan senyum cerah, kemudian ikut merebahkan diri di samping Nina.
“s****n! Jadi ke sini kalian?” Tanya Nina dengan posisi yang tak berubah.
“Iya iyaa dongg, entar jam delapan Mayang sama Kaila baru ke sini”
“Terus lo ngapain jam ke sini sekarang? ganggu waktu me time gue lu!”
“Haha yauda gue ke bawah aja.” Zara bohong, dia nggak serius.
“Iya, itu ide yang bagus.” Tapi kok Nina bener-bener ngusir dia.
Dengan loyo, Zara turun dari ranjang dan meninggalkan kamar Nina. Sebelum Zara pergi, Nina memberitahu jika di kulkas ada pudding kesukaan Zara. Membuat Zara tak lagi loyo, dengan gerakan cepat ia menuruni tangga dan menuju dapur.
“Loh Ra kok turun?” Kata Agam dengan mata yang masih menatap layar TV. Di samping Agam, ada Dio yang juga melakukan hal yang sama. Tangan mereka memegang stick masing-masing.
“Nina nggak mau diganggu.”
“Yauda duduk sini aja.”
“Gue mau ambil puding dulu.”
“Oke-oke, Mama emang bikinin itu buat lo. Ambil aja!”
Zara pun menuju dapur, sementara Dio berbisik pada Agam.
“Zara suka puding ya Gam?”
“Iya dia penyuka segalanya.”
“Ha? Masak?”
“Eh enggak sih, ada satu yang dia nggak suka.”
“Apa Gam?”
“Lo.”
Tbc.
Xx, muffnr