Bagian 5

1100 Words
"Kita harus bicara, Muti." Selalu saja itu yang Ridwan Anggara katakan setiap kali dia bertemu dengan Mutia, baik pagi hari, siang hari maupun malam hari. Bahkan, pernah sekali saat Mutia akan pergi ke pasar bersama dengan ibunya, Ridwan masih saja membahas tentang perjodohan itu. "Pak, kenapa harus membahas tentang perjodohan itu setiap waktu? Liat waktu dong, Pak, jangan tiap menit, tiap detik. Kalau mau nanya itu kasih waktu, Pak, jangan di tanyain mulu setiap saat, yang denger juga bosen." Jangankan Mutia, bahkan ibunya saja risih dan jengkel mendengar pertanyaan itu setiap hari, pembahasan yang selalu saja tentang perjodohan itu. "Ibu nggak tau apa-apa, sebaiknya ibu diam saja." "Kenapa Ibu harus diam, Pak? bapak selalu saja bahas tentang perjodohan. Mutia nggak mau bahas itu, tapi Bapak selalu saja maksa. Nggak boleh gitu dong, Pak, bapak harus mikirin perasaan anak juga." Ridean tak menggubris, yang dia pikirkan hanyalah perjodohan itu. Baginya, menjodohkan Mutia dengan keponakannya itu adalah tindakan yang tepat, dengan begitu Mutia akan terjaga dan tidak ada yang mengganggunya lagi. "Sudahlah, Bu. Sebaiknya kita pergi ke pasar saja. Pak, kita bahas itu nanti saja, ya, Mutia sama ibu mau ke pasar." "Kenapa kamu harus ikut? Kenapa bukan ibumu saja yang pergi ke pasar?" "Pak. Bapak tahu sendiri 'kan kalau belanjaan ibu itu banyak? Ibu nggak mungkin bawa barang belanjaannya sendirian. Bapak tidak bisa menemani Ibu, jadi aku saja yang pergi menemani ibu." "Untuk apa aku menemani ibumu? Menyusahkan saja. Bapak masih memiliki banyak pekerjaan, nggak ada waktu buat ngurusin ibumu." "Kerja sih kerja, Pak, tapi harus ada penghasilannya juga. Kalau nggak ada, sebaiknya Bapak temani ibu saja, lumayan bantu ibu, jadi ibu nggak harus bayar orang buat bantuin ibu angkat barangnya, gitu juga 'kan kalian terlihat romantis, Pak." Bukannya disambut dengan senyuman atau tawa kecil dari Ridwan seperti apa yang Mutia inginkan, Ridwan justru melayangkan satu tamparan ke wajah Mutia. Senyum yang sebelumnya tersungging karena candaannya, seketika menghilang dibarengi dengan air mata yang jatuh membasahi pipi. "Bapak kenapa, sih? Kenapa Bapak tampar Mutia?" "Kenapa Bapak tampar? Kenapa ibu nggak tanya kenapa anakmu ini sangat lancang? Semakin hari dia semakin berani bantah Bapak dan ngajari Bapak." "Ngajarin apanya, Pak? Mutia hanya mengingatkan Bapak dengan candaan. Lagipula, apa yang dikatakan oleh Mutia itu benar, ngapain Bapak kerja kalau nggak ada hasilnya? Kenapa Bapak nggak bantu ibu saja bekerja, dengan begitu kita bisa menambah penghasilan kita. Lihat pekerjaan Bapak, bukannya menghasilkan uang malah menghasilkan utang." Kembali lagi tangan itu melayang, tapi kini untuk menampar ibu Mutia–Maria Putri Ayu. Jika harus tersakiti, Mutia memilih untuk merasakan sakit yang akan diberikan oleh Ridwan, tapi dia sangat tidak terima jika ibunya juga harus merasakan sakit itu. "Persetan dengan itu, aku nggak peduli. Pokoknya Mutia harus menikah dengan Irvan, titik. Sebaiknya kalian diam dan jangan berkomentar, apalagi mengomentari pekerjaanku. Kalian pikir kalian ini sudah hebat karena bisa menghasilkan lebih banyak uang dari yang aku dapatkan? Ya … sekarang kalian bisa membanggakan diri, tapi sialnya kalian lupa kalau sebelum kalian seperti ini, akulah yang berjuang habis-habisan demi kalian, supaya kalian bisa makan dan anak durhaka ini bisa sekolah dan bekerja seperti sekarang ini. Tapi setelah dia bisa menghasilkan uang sendiri, dia malah menantangku. Apapun yang kamu lakukan, tetap saja kamu tak bisa mrngimbangiku anak b******k!" teriak Ridwan, lalu dia pergi meninggalkan mereka. Bukan maksud Mutia dan Maria mengatakan hal itu, hanya saja, mereka tak ingin pria yang mereka cintai untuk saat ini harus merasakan lelah yang tiada tara tanpa adanya imbalan. Bahkan Ridwan harus menahan panasnya terik matahari untuk mendapatkan beberapa lembar uang seribuan. Jika seorang ayah melakukan hal itu demi anak dan istrinya, mungkin hal itu patut di puji, dan pastinya Mutia dan Maria akan menghargai usahanya itu. Sayangnya Ridean tak melakukan hal itu, setiap kali dia mendapatkan beberapa lembar uang, maka dia akan selalu menghabiskannya. Lelah dengan pekerjaan yang hasilnya hanya dia nikmati seorang diri, lalu dia kembali ke rumah menuntut makanan enak tanpa memberikan nafkah sedikitpun. Bukan ingin mengatur suaminya, hanya saja Maria ingin kerja keras suaminya terbayarkan. Dia selalu saja memberikan uang kepada para kuli pasar yang selalu membawa barang belanjaannya. Andai saja Ridwan mau, mungkin Ridwan bisa mendapatkan uang berkali-kali lipat dari apa yang dia dapatkan di terminal. Namun Ridwan selalu saja menolak, dia tak ingin kalau sampai dianggap suami takut istri oleh teman-temannya, padahal Maria tak pernah bermaksud demikian. *** "Mutia, apa kamu nggak bisa ambil cuti satu hari, Nak?" "Maaf, Bu, nggak bisa. Ada temanku yang minta overshift, jadi aku harus masuk siang ini." Mutia sebenarnya masih ingin berlama-lama disana, tapi dia sama sekali tidak betah karena sikap Bapaknya yang selalu mempertanyakan tentang jodoh itu kepada Mutia. Ditambah lagi hari ini teman Mutia tidak bisa masuk siang karena ada urusan keluarga, jadi mereka harus overshift, karena minggu ini jadwal Mutia masuk malam, tapi sekarang dia harus masuk siang. "Tapi Ibu masih kangen sama kamu, Sayang." "Jangan ngomong gitu dong, Bu. Mutia kan selalu pulang minimal satu bulan sekali. Kalau ibu ngomong gitu, Mutia jadi berat ninggalin Ibu. Lagipula, Mutia itu kerja nggak jauh-jauh kok, Bu. Kalau ada apa-apa dan ibu kangen sama Mutia, Ibu 'kan bisa minta Mutia untuk pulang." Maria hanya bisa mengangguk, sementara Ridwan menatap mereka dengan tatapan kesal. "Kenapa sih kamu harus kembali kerja lagi? Kenapa kamu nggak disini aja dan nikah aja? Kalau kamu disini dan nikah,hidup,kamu pasti akan bahagia." "Pak, nikah itu nggak gampang. Lagipula Mutia belum siap untuk itu. Dan lagi, Mutia juga nggak kenal dengan dia, bagaimana bisa Mutia nikah dengan orang yang nggak Mutia kenal? Meskipun dia sepupu Mutia, tapi tetap saja Mutia nggak kenal sama dia." "Halah … nanti juga kamu akan ketemu sama dia. Bapak yakin, semua wanita yang ada di kampung ini pasti tertarik padanya, jangan sampai nanti kamu menyesal karena sudah menolak ucapan Bapak." Selera makan Mutia seketika menghilang, dia sama sekali tidak ingin membahas tentang perjodohan itu untuk saat ini, apalagi saat di meja makan, rasanya selera makan langsung menghilang karena hal itu. "Sudahlah, Pak, Mutia itu mau pergi, jangan membuatnya kesal sama Bapak. Sebelum Mutia pergi harusnya Bapak membuatnya tersenyum bahagia." "Terserah kalian deh. Pokoknya Mutia harus menikah dengan Irvan, titik." "Terserah Bapak, deh, capek ngomong sama Bapak." "Sudahlah, Pak, Bu. Jangan bertengkar seperti ini. Tiap hari kalian bertengkar karena masalah yang sama, dan selalu saja Bapak yang ngotot. Apalagi ini di meja makan, bikin selera makan hilang aja. Yaudah, Bu, Pa, Mutia pergi saja." Mutia mencium punggung tangan Ibu dan Bapaknya. Meskipun perutnya terasa lapar, tapi tetap saja dia tak berselera lagi untuk menyantap makanan itu. 'Biarlah aku makan di sana nanti,' batin Mutia. 'Awas aja kamu, Maria. Aku akan membuat perhitungan denganmu,' batin Ridwan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD