Bagian 6

1128 Words
Mutia melangkahkan kakinya untuk melangkah kembali ke kota. Dia bahkan menahan perutnya yang lapar. Biarkan dia kelaparan asal tidak mendengar omong kosong bapaknya lagi. Dia sudah muak mendengarnya, tapi dia tidak bisa melawan bapak, dia hanya akan menanggapi ucapan sang bapak dengan candaan. Habisnya, bagaimanapun dia melawan bapaknya, belum apa-apa sudah langsung main tangan. Kerjaan bapaknya hanya menjodohkan Mutia dengan Irvan, dan dia berpikir dengan begitu bisa hidup enak tanpa bekerja. Sayangnya keinginan itu belum terwujud, membuat Ridwan terus mencecarnya. Mutia menghembuskan napasnya dan menahan semua kekesalan di dadanya yang membludak. Dia bahkan tidak ingin mendengarkan ucapan sang bapak selama beberapa bulan ini. Sembari menunggu ojek untuk mengantarnya ke terminal bus. Ternyata Bayu melihat Mutia, tapi dia ketinggalan di saat Mutia sudah lebih dulu menaiki ojek untuk mengantarnya ke terminal bus. Bayu mengikuti Mutia hingga sampai di terminal. Sebelum Mutia sempat membeli tiket untuk pulang ke kota, Bayu lebih dulu memanggilnya. "Mut!" katanya, membuat Mutia yang sudah bersiap mengangkat tas nya pun menoleh ke belakang. "Bayu?" katanya kaget karena tidak menyangka Bayu akan sampai di sini juga. "Kamu ngapain?" tanya Mutia. "Mau ke kota juga?" tanya Mutia lagi, tapi Bayu menggeleng. "Enggak, tapi aku ada perlu sama kamu." "Kenapa? Kamu mau bicara apa? Enggak bisa lewat telpon aja? Aku mau kembali ke kota soalnya" ujar Mutia lagi. Tapi, melihat Bayu menggeleng Mutia yakin ini juga hal penting yang ingin disampaikan oleh Bayu. "Kenapa? Bicara di sini aja kalau begitu" ujar Mutia. "Jangan di sini, di dekat ruang tunggu sana aja yuk, aku mau bicara tentang sama kamu." Katanya. Mutia mengikuti tapi tidak sampai kursi tunggu ponsel Mutia berdering. "Bay, bentar ya?" ujar Mutia. Bayu hanya memberikan anggukan sampai akhirnya dia pun melihat bahwa ibunya yang memanggil. "Ibu Bay," katanya. "Angkat dulu aja" ujar Bayu. Bayu jelas gugup, sangat terlihat dari wajahnya. Hanya saja dia mencoba memberanikan diri. Tangannya pun berkeringat dan panas dingin bagaikan demam. Keringat bercucuran dari keningnya, hanya saja dia ingin menyampaikan langsung pada Mutiara tentang perasaannya. Sudah lama dia memendam ini dan dia tidak mau menunda terlalu lama lagi. Jika pun Mutia menolaknya, setidaknya dia sudah mengatakan keinginannya. Sedangkan Mutia yang tidak memperhatikan ekspresi wajah Bayu tidak tahu kalau Bayu sebenarnya menahan sesak demi perasaannya. "Ya Bu?" ujar Mutia setelah panggilan ibunya dia angkat. "Kamu di mana Nak? Sudah naik bus?" tanya Maria. Mutia menggeleng tapi sadar kalau Maria tidak melihat pun akhirnya memutuskan untuk menjawab. "Belum Bu, kenapa?" "Mutia, kamu baik-baik aja di kota ya nak. Jangan terlalu dipikirkan apa yang dikatakan oleh bapak mu," ujar Maria membuat Ridwan yang mendengarnya di rumah pun sangat berang. "Ibu, ibu kenapa?" tanya Mutia tanpa tahu bahwa Ridwan dan Maria kembali bertengkar setelah kepergian Mutia tadi. Tapi Mutia tidak mendengar suara Maria. Yang ada hanya suara Ridwan yang marah. "Apa yang kamu katakan kepada Mutia? Ha? Maria, jawab!!" suara teriakan Ridwan yang didengar oleh Mutia membuat wanita itu tidak tenang sama sekali. Bapaknya itu suka sekali main tangan. Dan dia tidak suka ibunya menjadi pelampiasan sang bapak jika dia tidak ada. "Memangnya kenapa Bu? Ibu kenapa dengan bapak?" tanya Mutia lagi, tapi yang ada justru suara teriakan. "Maksud kamu apa sih, Pak? Kamu itu tega sekali sebagai bapak. Selalu membuat sesuka hati kamu … kamu enggak mikirin perasaan orang lain, apalagi aku dan Mutia. Kamu hanya mau hidup enak tanpa bekerja dan sebagainya, malah menyuruh Mutiara untuk menikah dengan pilihan kamu. Memangnya kamu tahu bagaimana perasaan Mutia jika dia menikah dengan pria yang menjadi pilihan kamu?" Maria sudah berang melihat Ridwan. Bahkan jika dia meminta bercerai pun, Maria siap. Tidak peduli lagi hidup dengan manusia batu dan egois seperti Ridwan. Dia selama ini karena memikirkan bagaimana perasaan Mutia, makanya masih mempertahankan pernikahan mereka. Lagi pula, tidak etis rasanya sudah tua hanya karena pertengkaran berbeda pendapat mereka harus berpisah. Memikirkan itu saja rasanya lucu. Tapi, jujur dia pun sudah tidak sanggup karena Ridwan terus saja memaksakan kehendaknya dan juga suka bermain tangan jika sudah marah. "Pak, buk berhenti! Malu pak, buk. Kalian sudah tua," ujar Mutia meringis karena mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. "Mutia, pergi saja Nak. Biarkan bapak mu. Dia hanya manusia egois." Terdengar suara Maria yang akhirnya memutuskan panggilan dari Mutia. "Tapi Bu–" Mutia tidak bisa meneruskan ucapannya lagi karena Maria benar-benar mematikan panggilannya. Bayu melihat wajah panik Mutia, dia pun mendekat. "Kenapa Mut?" tanya Bayu karena melihat wajah Mutia yang tidak seperti tadi sebelum menerima telpon ibunya. "Ibu Bay," ujarnya pelan. "Ibu kenapa?" "Ibu dan bapak kembali bertengkar. Hanya karena bapak memaksakan menjodohkan aku dengan Irvan." Ujar Mutia lagi dengan menghela napasnya. Helaan napas yang membuatnya berat meninggalkan kampung untuk kembali bekerja di kota. Tapi, jika dia terus di sini, bapak justru akan terus memaksanya. Bukan membuat keadaan menjadi baik, malah akan terus membuat Mutia merasa terbebani. "Kamu tenang aja, aku akan lihat ibu kamu." Ujar Bayu menenangkan Mutia. Mutia melihat Bayu, dan dia bisa percaya kalau Bayu akan membantunya dengan memberikan kabar ibu setiap hari. Tapi, Bayu hanyalah sahabatnya. Bisakah dia mengandalkan Bayu? Selalu membuat pria itu kerepotan. "Kamu kan juga harus bekerja" ujar Mutia tidak enak membuat Bayu menggeleng. "Tenang saja Mut, aku bisa atur itu" katanya. "Ah, ya Bay kamu tadi mau bicara apa?" tanya Mutia tapi Bayu menggeleng. Dia hanya memberikan senyuman kepada Mutia. Tidak tahu harus merespon seperti apa karena Bayu tahu bahwa Mutia juga tidak bisa fokus sekarang. Pikirannya pasti terbagi antara kembali ke kota dan keadaan ibunya. Bayu tahu betul bagaimana Ridwan. Apalagi jika Bayu mengungkapkan perasaanya entah bagaimana pikiran Mutia jadinya. "Ah, enggak jadi. Kapan-kapan aja. Atau pas aku ke kota atau telpon kamu aja nanti" ujar Bayu. Mutia meneliti Bayu, sepertinya dia tahu bahwa Bayu akan membicarakan hal penting. Tapi, karena melihat Mutia malah tidak jadi. Mutia kembali merasa bersalah kepada Bayu. "Bay, maaf sekali ya. Aku sekarang juga tidak dalam pikiran yang jernih. Dan maaf juga karena aku tidak bisa mendengarkan apa yang mau kamu katakan." Ujar Mutia kemudian. Dia benar-benar merasa bersalah kepada Bayu karena hal ini. "Tidak apa-apa Mut" ujar Bayu lagi "ayo aku antar kamu beli tiket" katanya kepada Mutia dan membawakan tas wanita itu. Akhirnya Mutia kembali ke kota dengan perasaan Bayu yang masih menjadi milik Mutia dan tidak bisa dia ungkapkan. Mutia sendiri tidak tahu kalau Bayu bahkan ingin membicarakan tentang perasaan, dia hanya melambaikan tangan kala sudah menaiki bus meninggalkan Bayu dengan segala kemelut di dadanya. Mutia sudah kembali ke kota dan Bayu justru masih berada di terminal melihat bus Mutia yang sudah menjauh, bahkan sampai tak terlihat lagi. "Mut, apa yang sebenarnya aku lakukan?" tanya Bayu kepada dirinya sendiri yang terduduk sepi. Sedangkan Mutia, dia masih memikirkan percakapan dan pertengkaran bapak dan ibunya, apalagi karena sesuatu yang terdengar terpecah. Pasti lah Maria tidak baik-baik saja. Tapi apa daya Mutia, karena dia juga sebenarnya dalam keadaan dilema.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD