Bab 9 Kedatangan Teman-teman

1091 Words
Mendengar pertanyaan umi Hanni, membuat Azham dan Selena saling berpandangan walau sesaat, karena Azham terjebak oleh perkataannya sendiri. “Sebenarnya bukan begitu, Umi. Tetapi, ya, kita tak tahu bagaimana nanti, lagi pula kami baru saling kenal satu sama lain. Jadi, biar kami jalani dulu perkenalan ini. Yang saya takutkan, Selena akan merasa tertekan,” ujar Azham berusaha menjelaskan agar tak terlihat sedang mencari-cari alasan. “Baiklah, jika itu yang memang kalian inginkan. Abi dan Umi hanya bisa mendukung kalian yang terbaik. Asal kalian tahu, pacaran setelah menikah itu sangat nikmat loh,” ujar Abi Rohim dengan tawa berderai diikuti oleh Tuan Ibrahim yang menyetujui hal itu. “Benar sekali, karena jika kebablasan pun itu tidak apa-apa, justru diwajibkan dan mendapatkan pahala, benar ‘kan, Bi?” imbuh Tuan Ibrahim yang disambut tawa renyah seisi ruangan. Derai tawa itu membuat wajah Azham dan Selena memerah menahan malu. Lebih-lebih Selena, karena tanpa sadar ia kembali teringat tentang mimpi yang ia alami beberapa saat sebelumnya. ‘Ya, ampun hanya mimpi saja gue udah blingsatan kayak gini, gimana kalau beneran? Mampus gue! Tapi nggak mungkin terjadi sih, karena gue akan tidur terpisah dengannya sampai gue cerai nanti,' pikir Selena dalam benaknya untuk menenangkan hatinya yang berdegup kencang tanpa bisa ia kendalikan. ‘Ya, tinggal bikin dia putus asa dan menceraikan gue. Tetapi setidaknya gue harus menunggu Basti memohon-mohon dan om Ryan ngejauhin gue!’ pikir Selena dalam benaknya. Dan keputusannya telah bulat. *** Setelah melepas kepergian keluarga Azham dan Tuan Ibrahim yang mengantarkan kepulangan Kakek dan Nenek Selena ke Bandung, rumah terasa lengang dan sepi. Bergegas Selena mengganti baju gamisnya dengan celana denim pendek di atas lutut dan sebuah kaus yang sangat melekat di tubuhnya yang sintal dan seksi. Gadis itu membakar sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. ‘Akhirnya gue bisa santai sekarang,' gumam Selena dalam hati merebahkan dirinya dengan seenaknya di balkon lantai 2 beralaskan karpet berbulu lembut, ‘Sialan bener. Udah sepuluh hari gue nggak bisa nyaman ngerokok begini.’ Namun, baru beberapa lama ia menikmati kesendiriannya, tiba-tiba ia mendengar bel berbunyi dari gerbang rumah. Selena mengabaikan hal itu dan tetap menikmati rokoknya hingga isapan terakhir, ia mendengar langkah kaki Azham yang menyusulnya ke atas. “Sel, kau sedang apa?” tegur Azham seraya memasuki ruang tengah yang ada di lantai 2 tersebut. Dengan malas dan enggan beranjak Selena menjawab tanpa menoleh, “Ada apa? Aku sedang tak ingin diganggu,” elaknya dengan cuek. “Ya sudah, kalau begitu aku akan menyuruh mereka pergi,” ujar Azham segera menjauh. “Mereka?” ujar Selena, kini mengalihkan wajahnya walau masih dalam keadaan rebah, mau tak mau Azham yang menatap wajah Selena pun harus menatap sebuah gundukan yang terlihat begitu sempurna melekat hingga menyembulkan sebuah tali dan renda hitam di balik kaus itu. “Aku rasa itu teman-temanmu,” sahut Azham singkat seraya membuang pandangannya, apalagi kini Selena menghadapkan dirinya dengan posisi tengkurap dan tanpa sadar memperlihatkan belahan d**anya yang terlihat putih mulus nan bulat sempurna. Mengetahui gelagat Azham yang tiba-tiba malu, membuat Selena menyadari kesalahannya, ia pun segera bangkit berdiri untuk membenahi kausnya dan mengikuti ke mana langkah Azham yang menuju ruang tamu. Sementara Azham menuju kamar pribadinya yang ada di lantai 1, bekas kamar yang digunakan Abizar menginap. “Kalian? Ada apa lagi kalian kemari?” ujar Selena menampakkan sikap tak suka kepada teman-temannya. “Sel, maafin kita-kita ya, Sel. Sumpah Sel, gue nyesel Sel. Gue nggak bermaksud begitu sama lu kemarin, Sel,” ujar Sasha berdiri dari tempat duduknya. “Iya, Sel. Maafin gue juga,” imbuh Arman seraya berdiri mengikuti Sasha, bahkan Eli dan Jeje juga bangkit berdiri. “Iya, Sel, gue nyesel banget,” ucap Eli dan Jeje hampir bersamaan dan hal spontan membuat Selena menyunggingkan senyumnya. “Gue udah maafin kalian, tapi gue udah males jalan sama kalian ....” sahut Selena berjalan menuju pintu depan dan bersandar pada daun pintu dengan bersedekap. “Sel, gue tahu selama ini gue selalu membuat lu repot dan lu sering traktir kita-kita, karena lu baik. Walau gue sedih Sel, lu menikah tapi lu nggak ngundang kita-kita,” sela Jeje dengan wajah murung. “Nah lu tahu. Dan thanks banget buat lu semua, karena lu semua juga gue harus menikah,” ucap Selena dengan menahan kesal, “Tunggu sebentar,” imbuhnya seraya mengambil ponsel yang ada di saku celana pendeknya. Untuk beberapa saat Selena mengetik sesuatu dalam ponselnya, lalu dengan wajah dihiasi senyuman sinis. Dan seraya menunjukkan ponselnya, “Man, nih, gue udah transfer hutang gue waktu itu. Gue bayar dua kali lipat,” ujar Selena dan membuat Arman berterima kasih dengan wajah tak enak hati. “Nggak usah nggak enak hati, deh. Kalian datang kemari hanya karena khawatir gue nggak bayar ‘kan? Berkat lu semua, gue terpaksa menikah dan gue mendapatkan kembali akses keuangan gue. So, thankyou, guys. Tapi gue udah cukup dengan kalian,” sahut Selena seraya menunjuk pintu utama yang terbuka lebar di hadapannya, menandakan ia ingin mereka pergi. “Ngomong-ngomong Sel, siapa laki-laki berpeci tadi? Dia tampan sekali, gila! Apa dia Ustaz? Siapa dia Sel?” desak Eli yang sejak tadi salah fokus dan celingukan tanpa memperhatikan suasana yang sedang tak enak. “Ustaz ganteng itu suamiku,” sahut Selena dengan menahan kesal. Dan entah kenapa ia lebih kesal dari sebelumnya. “Apa? Jadi beneran lu nikah sama Ustaz? Jadi beneran Basti nggak bohong?” desak Eli terkejut bukan kepalang dan saling berpandangan dengan teman-temannya yang spontan terbahak-bahak dengan geli. “Apa-apaan kalian? An***g ba***at! Belum puas juga kalian ngerendahin gue? An***g! Pergi kalian dari sini! Pak SATPAM! USIR MEREKA!” pekik Selena dengan geram. Lalu tak berapa lama kemudian dua sekuriti itu bergegas masuk ke dalam rumah dan berusaha mengusir keempat anak muda yang masih menyisakan tawanya walau mereka sempat berkali-kali meminta maaf pada Selena. Mendengar segala keributan itu, Azham pun mau tak mau keluar dari kamarnya dan menyaksikan dua sekuriti yang sedang tarik-menarik dengan Eli dan Jeje. “Sel, kalau lu mau cerai, laki lu buat gue aja, Sel. Sumpah dia ganteng banget Sel,” ucap Eli seperti orang yang kurang waras. Dengan menggeram marah dan terus mengumpat, Selena membanting pintu depan di hadapan teman-temannya dan dua sekuriti penjaga rumahnya. Dan saat ia membalikkan badan ia sangat terkejut saat Azham berdiri terpaku menatapnya di ujung ruang tamu. “Ada apa, Sel? Apa yang terjadi?” tanya Azham dengan sopan dan penuh perhatian. Entah ada setan apa yang menyusup ke otaknya, Selena mendatangi Azham dengan langkah-langkah panjang dan dengan menggeram marah, ia mendorong d**a Azham dengan kasar, “Diam! Gue benci sama lo. Gue bener-bener benci sama lo....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD