Napas Selena terengah-engah tak karuan dalam pelukan Azham. Sesekali ia memekik dan mendesah dalam waktu yang bersamaan, apalagi dengan gencarnya Azham mendaratkan kecupan-kecupan lembutnya ke leher hingga d**a Selena. Dan kini Azham mulai menerobos masuk ke dalam dirinya. Selena membeliak terkejut bukan kepalang.
“Selena, mulai sekarang kau akan terikat padaku selamanya. Dan kau tak akan bisa jauh dariku! Kau hanya akan terikat padaku. Rasakan ini Sel, rasakan...!” bisik Azham dengan menggeram di telinga Selena yang telah terbuai oleh gerakan frontal Azham.
Walaupun melihat Selena yang menjerit dan menangis kesakitan, tanpa ampun Azham terus memompanya dan bergerak dengan menggebu-gebu. Selena berusaha memberontak sekuat tenaga dan terus memohon, namun Azham seolah kesetanan dan mengabaikannya hingga ia berhasil mendorong tubuh Azham sekuat tenaga.
“Jangan! JANGAN!” pekiknya tersentak dari tidurnya.
Dengan napas memburu dan terengah-engah, Selena menatap ke sekeliling ruangan. Lalu tatap matanya berserobok pada sosok Azham yang sedang berdiri di depan pintu masuk.
“Sel...? Ada apa? Apa kau mimpi buruk lagi?” tanya Azham datang mendekat.
“Semalam kau tidur di mana?” sergah Selena malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Azham.
“Aku? Aku tidak tidur. Karena aku sedang berbicara dengan Abi. Hari ini Abi dan Umi akan pulang ke Jogja, karena tak bisa lama-lama meninggalkan Pondok. Sudah hampir seminggu beliau di sini,” papar Azham dengan tatapan teduh.
Mendengar hal itu Selena merasa sangat bersalah, ia menghela napasnya dengan berat dan membuang muka dengan malu untuk menghindari tatapan Azham yang masih bertanya-tanya.
“Apa kamar ini sudah lama kosong? Dan apa kau tak pernah tidur di kamar ini? Makanya terus bermimpi buruk?” kejar Azham kembali ke inti pembicaraan mereka dan membuat wajah Selena merona merah hingga ia harus memalingkan wajahnya kembali.
“ Mungkin. Jam berapa Abi dan Umi akan berangkat?” lanjut Selena mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nanti, sehabis salat zuhur. Ini sedang persiapan. Kau mau ikut bangun? Ini sudah hampir waktunya sarapan pagi,” ujar Azham melirik ke arah jam dinding dan spontan tatapan Selena mengikuti ke mana Azham melihat.
“Oh, ya ampun! Ini masih jam 6 pagi,” keluh Selena kembali merebahkan dirinya di dalam selimut.
“Kau mau kembali tidur? Baiklah, jika kau tak takut akan mimpi buruk lagi, karena biasanya kalau orang tidur pagi ....”
“Oke, baik. Aku akan bangun. Baiklah Pak Ustaz, aku bangun dan mandi,” gerutu Selena melompat dari ranjang dengan panik dan bergegas menuju kamar mandi yang ada di belakang Azham.
Seraya menutup pintu kamar, Azham meninggalkan kamar itu dengan menahan senyum di wajahnya. Namun, tidak dengan Selena yang masih merasakan sisa-sisa kenikmatan mimpi yang ia alami.
‘Ini benar-benar aneh. Gue baru kenal dia dan gue nggak ada perasaan apa pun. Oke, dia memang ganteng banget, tapi tetap aja. Perasaan gue ke laki-laki sudah hampir mati rasa karena Bastian dan om Ryan! Setahun pacaran dengan Basti aja, gue nggak pernah ngalamin mimpi begini! Apa ini? Sial, kenapa gue tiba-tiba merinding sih! Ah, gue harus cepat-cepat mandi dan gue mau balik pindah ke kamar gue sendiri,' pikir Selena dengan bergegas mengguyur dirinya dengan pancuran.
Selena segera memakai baju gamis pemberian Umi Hanni, ibunda Azham sebagai salah satu seserahan yang mereka bawa beberapa hari sebelum pernikahan berlangsung. Selena menatap dirinya di cermin yang menempel dalam lemari kayu besar.
‘Bagus juga sih, nggak norak. Tapi ‘kan gerah. Mana harus pakai kerudung segala, ah,' keluhnya dalam hati.
‘Nggak apa-apa Sel, tahan sebentar lagi. Hari ini mereka akan balik kampung, dan entar malem gue udah bebas. Bokap gue juga akan pergi ke Bandung selama beberapa hari buat anter Nenek dan Kakek, nggak apa-apa, tahan sebentar aja,' ujar Selena menguatkan hatinya seraya memakai hijab model instan itu.
Selena mengamati dirinya yang terpantul di cermin, dia memutar tubuhnya dengan bangga, ‘Ternyata gue cantik juga, tapi tetap aja, ini ‘kan seperti ibu-ibu yang suka ada di pasar,' gerutunya dalam hati.
Dengan menguatkan hatinya, Selena akhirnya menjumpai keluarga Azham yang kini sedang bersama ayahnya di ruang keluarga. Dan kedatangan Selena membuat suasana yang semula serius karena pembicaraan antara Tuan Ibrahim dan Kyai Rohim beserta Azham dan uminya teralih dan berubah menjadi ramai seketika, apalagi saat bukan Azham yang bangkit dari duduknya melainkan Abizar, adik Azham yang berumur 20 tahun, 7 tahun lebih muda dari Azham, datang menyongsong Selena diikuti Annisa, adik bungsu Azham yang masih duduk di bangku akhir sekolah menengah pertama.
“Wah, Kak Selena cantik sekali, Masya Allah,” ujar Abizar bersahutan dengan Annisa yang mengekornya.
Melihat keakraban Abizar dan Selena membuat Azham bangkit dari duduknya dan berdiri untuk menjemput Selena.
“Bizar, jangan begitu, mas Azham nanti cemburu loh,” tegur umi Hanni yang membuat wajah Azham merah padam dan hal itu membuat semua tertawa seketika.
“Ayo, Zham, sambut istrimu. Kalau kau tidak bergerak cepat nanti dia bisa dicuri Rahwana,” celetuk Abi Rohim yang langsung membuat Azham berjalan dan bergegas menggandeng tangan Selena untuk duduk di sebelahnya bersama umi Hanni.
“Padahal Abi hanya bercanda loh?” sindir Abizar dengan tawa renyahnya yang kini duduk di sebelah Abi Rohim bersama Annisa.
“Kamu belum tahu saja, Zar, bercandanya Abi itu bisa berarti sebuah peringatan, jadi kamu juga harus bisa mengingatnya untuk ke depannya,” ujar Azham yang membuat Abizar dan Annisa saling pandang dengan takjub.
“Sudah, sudah. Masmu Azham memang begitu, dia itu terlalu lempeng saja jadi orang. Benar-benar seperti itu, jadi Selena, Abi mohon bersabarlah jika Masmu Azham ini agak kurang peka sebagai laki-laki, karena dia tidak pernah berpacaran atau mengenal perempuan. Makanya kalau dia kurang atau tidak romantis, Selena jangan malu untuk bilang padanya, ya,” papar Abi Rohim yang langsung membuat semua tersenyum-senyum.
“Lihat saja contohnya, masa pengantin baru tak melakukan malam pertama? Malah sibuk menemani ngobrol Abinya? Katanya karena bingung harus bagaimana?” sambung Abi Rohman menggelengkan kepalanya seraya tersenyum penuh arti dan disambut derai tawa semua yang ada di sana.
Namun tidak dengan Selena dan Azham yang sama-sama memerah malu terlihat sangat jelas di wajahnya, namun dengan pikiran yang berbeda. Sementara Azham menahan malu dan salah tingkah sendiri, sementara Selena merah menahan malu karena teringat akan mimpi yang telah dialaminya.
“Heh, Nisa, kenapa kau ikut tertawa-tawa, memang kamu tahu kita sedang membicarakan apa?” sindir Azham melotot dengan gaya bercanda pada Annisa.
“Tidak tahu, sih. Tapi Nisa melihat wajah Mas Azham seperti kepiting rebus, makanya lucu banget,” sahut Annisa masih dengan tawanya yang tersisa. Mendengar itu mau tak mau Azham pun ikut tertawa.
“Umi doakan semoga Selena segera isi, ya. Umi rasanya tak sabar ingin menggendong cucu,” ucap umi Hanni dengan memegang perut rata Selena dan membuat gadis itu semakin memerah menahan malu, apalagi semua mengaminkan ucapan umi Hanni.
“Kalau untuk itu mungkin eeem...sepertinya sedikit agak lama, Mi,” sahut Azham yang membuat semua mata menatapnya terkejut. Hingga umi Hanni menggenggam tangan Selena terlihat tegang seketika.
“Kenapa, Nak? Apa ada masalah? Bukankah pemeriksaan dokter kalian sama-sama sehat dan baik-baik saja?”