Bab 7 Melewati Malam Pertama

1255 Words
Azham tersenyum menahan tawanya dan membuat Selena pun ikut tertawa, tak ayal segala tingkah laku mereka tak lepas dari jepretan foto Sang Fotografer, walaupun ada beberapa kamera yang di pasang di berbagai tempat untuk merekam semua acara pernikahan itu. “Kenapa malah tersenyum? Apa ada yang lucu, Pak Ustaz?” sahut Selena kembali bertanya. “Ya, bagus pertahankan. Ini sangat natural dan sangat bagus sekali,” ujar Sang Fotografer membidik sepasang pengantin itu dari berbagai sudut pandang. “Kau yakin dengan ucapanmu? Bukankah kemarin kau bilang kau tak ingin aku sentuh lebih dari ini? Sekarang kenapa kau meminta lebih?” ujar Azham balik bertanya. Senyum tak pernah lekang dari keduanya untuk menutupi perdebatan di antara keduanya. “Apa aku kurang cantik?” desak Selena kembali. “Kau sangat cantik,” jawab Azham cepat. “Lalu kenapa kau tak menciumku?” kejar Selena dengan tatapan nakal dan membuat Azham serba salah. Tanpa menjawab, Azham yang awalnya terdiam tiba-tiba meraih wajah Selena dan mencium kening Selena dalam-dalam dan membuat Selena membeliak terkejut. Bukan hanya Selena yang terkejut, namun seluruh para hadirin yang melihatnya pun dibuat terkejut hingga mereka bersorak-sorai dengan riuh melihat kemesraan itu. Bahkan kedua pasang orang tua pengantin yang sedang duduk di kanan-kiri panggung. Mereka tampak menatap dengan penuh haru, terutama Tuan Ibrahim. Hanya seseorang yang terlihat sangat kacau dan menahan amarahnya. ‘Kening? Hanya cium kening? Oke, nggak apa-apa. Setidaknya dia terlihat bernafsu menciumku. Bastian, apa kau melihatnya? Lihat sepuas hatimu, Sayang. Rasakan bagaimana sakitnya kau dikhianati! Dan kini kau tak akan bisa membalasku kembali,’ pekik Selena dalam hati yang melirik ke arah para tamu undangan dengan wajah penuh senyum kebahagiaan. Di salah satu sudut aula itu, dengan wajah memerah marah, Bastian mengepalkan kedua tangannya dengan marah. Apalagi saat ia melihat bagaimana Azham meraih wajah Selena dengan sayang dan mengecup keningnya dalam-dalam hingga membuat suara riuh rendah penuh doa-doa kebahagiaan. Selena melambaikan tangannya kepada semua orang seolah malu dan berterima kasih kepada semua tamu undangan yang bersedia hadir, terselip gerakan tangannya yang mengisyaratkan ia melambaikan tangan perpisahan kepada seseorang dan melihat itu, Bastian serta merta meninggalkan aula pesta itu. Hingga pesta pernikahan itu usai di gelar dengan segala kemeriahan dan kemewahannya, Selena yang kini duduk di kamar pengantin, merasa sangat aneh saat menatap ranjang pengantin yang berhiaskan bunga-bungaan yang cantik seperti di aula tempat pernikahan itu di gelar. Bahkan ranjangnya penuh dengan bunga mawar merah. Selena menyentuh bunga-bungaan itu, meraup dan mencium harumnya, namun seketika itu juga ia membuangnya dengan kesal dan marah. Sebulir air mata menetes dari mata indahnya tanpa bisa dibendung lagi. ‘Andaikan aku bisa merasakan ranjang pengantin dengan kekasihku yang sebenarnya,' keluhnya dalam hati seraya berusaha mengusap air matanya dan menahan isaknya. Akan tetapi, semakin ia menahannya semakin ia terisak. Bertepatan Azham memasuki kamar itu dan menemukan Selena yang sedang terisak di pinggiran ranjang. Tanpa banyak bicara Azham melangkah keluar dari kamar. Namun, langkahnya terhenti untuk sesaat sebelum akhirnya ia menutup pintu dari dalam dan mendatangi Selena. “Kemarilah dan luapkanlah padaku,” ucap Azham dengan lembut seraya memeluk pundak Selena. Untuk sesaat Selena tampak terkejut hingga akhirnya tanpa pikir panjang ia merengkuh pinggang Azham dan membenamkan wajahnya dalam d**a Azham yang bidang dan menangis tersedu-sedu. Azham hanya diam menunggu walau sesekali ia mengelus rambut Selena yang telah terbuka dari hijabnya. Hingga tanpa sadar ia mengecup lembut kepala Selena. “Maafkan aku... Aku tidak bermaksud....” ucap Azham dengan berbisik lembut. Akan tetapi tak ada jawaban apa pun dari Selena. Dan Azham pun merasakan Selena yang melemah dan diam. “Sel...? Selena?” panggil Azham dengan lembut. Azham menahan senyumnya saat mendapati Selena telah tertidur dalam pelukannya. Untuk Sesaat Azham menatap lekat-lekat wajah lelap Selena yang pasrah di pelukannya. Azham membelai pipi dan dagu Selena. Seolah tersihir oleh wajah ayu Selena, Azham mengecup kening Selena dengan lembut lalu membopongnya ke ranjang dan menyelimutinya. Azham mematikan lampu ruangan, hanya menyisakan lampu meja di sisi ranjang Selena dan meninggalkan Selena dalam kesendiriannya. Sepeninggal Azham, Selena membuka mata lebar-lebar dan menghela napas terengah, ia merasakan debaran jantungnya yang berdegup kencang, lalu meraba wajahnya bekas disentuh Azham, “Dia begitu lembut. Dan dia tidak memanfaatkan kesempatan saat aku tidur. Baiklah, setidaknya dia menepati janjinya untuk nggak menyentuhku dengan paksa,” pikir Selena dengan napas lega. ‘Tapi, kalau dia nggak tidur di sini, dia mau tidur di mana?’ imbuh Selena kembali bangkit dari rebahnya. ‘Tidak, tidak, tidak! Tak mungkin. Bisa jadi dia akan mencuri-curi kesempatan saat tengah malam nanti. Aku harus tetap berhati-hati. Dia pasti akan kembali dan tidur di sini. Karena walau bagaimanapun keluarganya masih menginap di rumah ini. Walaupun banyak kamar, pasti mereka akan curiga jika dia tidur di kamar terpisah denganku. Apalagi ini malam pertama pernikahan kami,' gumam Selena dalam hati. Dan benar saja, baru saja dia akan bangkit berdiri, tiba-tiba ia mendengar seseorang membuka pintu kamar. Dengan cepat Selena merebahkan dirinya kembali dengan posisi yang sama. ‘Untung dia mematikan lampunya, jadi jika aku sedikit mengintipnya dia tak akan tahu, kan?’ pikir Selena sedikit membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat sosok Azham yang sedang mengganti pakaiannya dan bertelanjang d**a, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang ternyata kekar berisi. Padahal Selena selalu berpikir jika Azham yang kurus itu hanya menarik karena ketampanan wajahnya. Namun, kini ia melihat sisi kesempurnaan Azham yang lain yang bahkan didambakan setiap wanita. ‘Bahkan Basti juga nggak sekekar dia, padahal Basti rajin berenang dan ke gimnastik. Badannya itu loh, seperti besi. Aku pikir dia kurus kerempeng gitu. Aduh... sumpah...’ pikir Selena dalam hati dan kini ia menyesali perbuatannya karena mengintip. Bayangan Azham terus memenuhi isi kepalanya hingga terbawa ke alam mimpi. “Sel...? Selena? Sel...?” Selena tersentak kaget dari tidurnya dan celingukan mencari-cari suara yang memanggilnya. “Ada apa? Kau mengigau terus, apa kau mimpi buruk?” tanya Azham duduk di samping ranjang. Selena terdiam untuk beberapa saat hingga tatapannya berserobok dengan tatapan Azham. Selena spontan menjauh dengan panik. Namun, setelah ia menyadari Azham telah mengenakan sebuah baju Koko, ia menghela napas dengan tenang. “Ada apa? Apa kau mimpi buruk? Kenapa kau begitu ketakutan seperti itu?” ulang Azham menatap Selena yang masih menatap dengan kebingungan. “Aku.... Aku....” gugu Selena dengan lidah kelu namun saat Azham mendekatinya, ia merasakan panas merambati wajahnya. “Sebentar...” ucap Azham bangkit berdiri dan keluar kamar. Dan saat itu Selena menatap Azham yang terlihat berpakaian sangat rapi. ‘Dari mana dia memakai baju serapi itu? Ini ‘kan masih tengah malam?’ pikir Selena bertanya-tanya seraya menatap jam dinding yang menampakkan pukul 03.45 menit. Azham datang dengan segelas air di tangannya dan menyerahkannya pada Selena, “Minumlah, biar kamu lebih tenang,” ucap Azham dengan tetap mempertahankan genggaman tangannya di gelas itu untuk membantu Selena minum karena ia melihat tangan Selena yang gemetaran. “Jadi kau mimpi apa? Kau tadi ketiduran karena lelah menangis, mungkin karena itulah jadi mimpi buruk karena kau tak sempat membaca doa sebelum tidur,” ujar Azham seraya menerima gelas bekas minum Selena. “Ya, aku mimpi mengerikan dan aku nggak mau inget-inget lagi. Sudah ah, aku mau tidur lagi,” elak Selena merebahkan diri dan membungkus dirinya dengan selimut. Hingga ia merasakan tubuh Azham bangkit dari ranjang dan menjauh, Selena membuka selimut dengan napas memburu. ‘Apa ini? Ini pasti gara-gara gue nggak sengaja melihat dia begitu, makanya kebawa mimpi! Sialan bener! Masa gue mimpi bercinta sama dia? Yang bener aja sih? Ogah banget gue! Walau dia mau setampan apa juga! Dia tetep laki-laki, pasti sama saja kayak Basti dan juga om Ryan! Gue nggak mau dijadiin habis manis sepah dibuang!’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD