Bab 6 Pesta Pernikahan

1177 Words
Jawaban Azham membuat Selena spontan menghentikan langkahnya dan dengan tergesa-gesa memutarbalikkan tubuhnya untuk menjawab Azham, namun ia lupa posisi tangga yang turun, hingga langkahnya oleng dan membuatnya meluncur bebas dan dalam sekejap ia mendarat tertelungkup menimpa tubuh Azham. Untuk sesaat mereka berdua sama-sama diam dan tak bergerak, hingga akhirnya Selena menyadari posisi mereka yang salah. Terutama dirinya yang seolah mengungkung Azham di bawahnya. Namun karena gerakannya yang frontal dan tergesa-gesa itu membuat wajah mereka yang berdekatan itu sama-sama bergerak tanpa sengaja dan membuat bibir mereka saling bersentuhan dan membuat Selena melontarkan desahan tertahan di bibirnya. Azham yang mengetahui hal itu berusaha menjauhkan wajahnya namun malah membuat wajah mereka kembali bersentuhan, dan kini pipi serta leher Selena tanpa sengaja menggesek jambang tipis yang memenuhi rahang Azham dan membuat gelenyar di antara mereka hingga Selena kembali melontarkan desahannya yang tertahan. “Oh, maaf...” ucap Selena berusaha menjauhkan wajahnya. Namun hal itu membuat handuk yang memang telah berantakan di atas kepalanya itu terlepas dan membuat rambut panjangnya terlepas dari lilitannya dan menguarkan wewangian yang menyegarkan, manis dan sekaligus eksotis hingga membuat Azham memejamkan kelopak matanya rapat-rapat, apalagi tiap helai rambut itu memenuhi wajahnya yang memerah malu. “Maafkan aku! Aku tak sengaja, aku lupa sedang ada di tangga,” ucap Selena dengan gugup dan bergegas bangkit dari rebahnya. Menggeser tubuhnya menjauhi Azham yang masih rebah dengan pasrah. “Apa kau tak apa-apa?” imbuh Selena menatap Azham yang kini membuka mata perlahan dan duduk di hadapan Selena. “Ya, saya tak apa-apa. Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?” ucap Azham balik bertanya. Sesaat mereka saling menatap dengan canggung. Selena mengangguk dengan canggung, hal itu membuat Azham serba salah dan terlihat tak nyaman. “Maafkan aku. Aku tak bermaksud menyentuhmu, tetapi aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Aku akan segera membawa kedua orang tuaku untuk melamarmu dan menikahimu secepatnya. Sebagai penebus dosaku karena telah menyentuhmu,” papar Azham menunduk malu dan segera bangkit berdiri. Lalu mengulurkan tangannya untuk menolong Selena yang duduk tercenung tak mengerti, namun Selena menyambut uluran tangan itu dengan kedua tangannya. ‘Kenapa dia merasa bersalah dan bertanggung jawab? Ini ‘kan nggak sengaja? ‘Kan gue yang salah?’ pikir Selena dalam hati semakin tak mengerti. Akan tetapi tiba-tiba Selena kembali limbung, karena kakinya ternyata keseleo akibat langkahnya yang tidak menapak tangga di bawahnya dengan benar dan membuatnya spontan memekik kesakitan. Lagi-lagi Selena terjatuh di pelukan Azham. Azham yang awalnya tak mendaratkan tangannya di tubuh Selena karena tak ingin menyentuh Selena kembali, namun ia melihat Selena yang memeluknya karena kesakitan, mau tak mau Azham pun membalas pelukan Selena di pinggangnya. “Aduh, sakit...” keluh Selena terpincang-pincang. “Maafkan aku, aku harus menggendongmu,” “Buruan! Kakiku sakit,” sela Selena mulai mengerang kesakitan. Akhirnya dengan terpaksa Azham menggendong Selena untuk di bawa ke sofa ruang tengah yang ada di belakang mereka bertepatan dengan Tuan Ibrahim serta Umar memasuki rumah dan membuat keduanya terkejut melihat apa yang terjadi. “Zham? Kalian mau ngapain?” sela Umar terkaget-kaget dan membuat semuanya menjadi canggung, “Kalian ‘kan belum resmi menikah?” imbuhnya dengan menimbulkan kesalahpahaman. “Apakah ini tandanya kalian menerima permintaan perjodohan ini? Jadi, ayo kita laksanakan secepatnya saja,” sambut Tuan Ibrahim dengan senyum mengembang di wajahnya dengan antusias. Berbanding terbalik dengan wajah Azham yang seolah kepergok seperti pencuri yang tertangkap basah. Laki-laki tampan itu sangat malu hingga warna merah memenuhi wajah hingga lehernya. Sama halnya dengan Selena yang terlihat tak berkutik di hadapan ayahnya namun di dalam hati kecilnya ia merasakan gelenyar aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dan untuk sesaat ia merasa nyaman akan hal itu. ‘Baiklah, menikah dengan Pak Ustaz, gue rasa bukanlah ide yang buruk. Dengan ini gue bisa membalas Bastian dan berlindung dari Om Ryan,’ pikir Selena dengan merebahkan kepalanya di d**a bidang Azham yang membuatnya semakin salah tingkah. “Lagi pula Pak Ustaz udah ngelamar Selena, Pa,” sahut Selena seraya melingkarkan lengannya di leher Azham yang semakin merah padam menahan malu. *** Dan begitulah akhirnya, pernikahan itu di gelar di sebuah gedung megah berkelas. Pesta yang meriah dan megah pun di gelar dengan persiapan yang matang walau hanya dalam dua bulan saja. Selena terlihat sangat sempurna dengan balutan kebaya putih panjang dengan rambut yang terbungkus hijab dan sebuah mahkota berhiaskan bunga melati, dipadukan dengan kain batik senada dengan Azham yang membelit kaki mereka yang jenjang. Sejak Selena keluar dari kamar dan duduk di sebelah Azham saat pengucapan sumpah sakral pernikahan itu, ia menjadi sorotan seluruh orang yang hadir karena kecantikannya yang memukau. Suasana sakral sangat kental terasa saat Selena dan Azham dinyatakan sah sebagai suami istri dan terdengar isak tangis haru dan berbahagia Amalia, mama Selena serta Hanni, ibunda dari Azham hingga Tuan Ibrahim dan Kyai Rohim, ayah Azham. Bahkan hingga mereka berdua bersanding di kursi pelaminan pun para tamu undangan sangat memuja Sang Pengantin yang terlihat sangat serasi dan terselip doa haru di setiap ucapan mereka. Azham dan Selena yang terkadang saling berpandangan tanpa sengaja, hanya bisa tersenyum malu dan itu membuat para tamu undangan menyoraki dan meledek keduanya. Apalagi saat keduanya saling menyuapi dan berpegangan tangan satu sama lain untuk berfoto. “Tidak apa-apa, Pak Ustaz, sekarang ‘kan sudah resmi. Jangankan memegang, mencium juga boleh, Pak,” ledek Sang Pembawa Acara yang membuat para tamu undangan tertawa berderai, karena melihat sikap canggung Azham yang terlalu kaku dan menandakan ia memang tak berpengalaman dengan perempuan sebelumnya. Hingga akhirnya Sang Fotografer meraih tangan Azham untuk memeluk pinggang Selena dari belakang. Dan juga beberapa gaya mesra lainnya. Dan sampailah mereka pada gaya Azham dan Selena yang saling berhadapan dan saling merangkul. “Kenapa kau sepertinya tak ingin menyentuhku? Apakah ini yang akan kau lakukan padaku nanti selama menjadi istrimu?” ucap Selena menatap Azham dengan tatapan tertahan. “Apa maksudmu, Selena? Aku hanya menghormati keinginanmu, bukankah kau sendiri yang bilang tak ingin kusentuh walau kita sudah menikah. Bukankah itu syarat utama yang kau ajukan kemarin?” sahut Azham dengan sopan. Selena tersenyum seraya membelai pipi merah merona Azham, “Untuk saat ini sentuhlah aku layaknya aku istrimu yang kau cintai,” ucap Selena yang menatapnya dengan tatapan memohon. “Baiklah. Maafkan aku,” sahut Azham dengan seulas senyum tipis di bibirnya. ‘Sumpah! Kenapa dia ganteng banget sih? Sialan! Ini benar-benar nggak sehat buat jantung,' pekik Selena dalam hatinya. Apalagi kini Azham mulai tak canggung lagi saat menyentuh jari-jemarinya dan memeluknya. Bahkan Azham yang kembali melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Selena, ia merasakan getaran dan sengatan listrik untuk sesaat dan membuat jantungnya berdetak bertalu-talu. “Apa kau mencintaiku?” tanya Selena tiba-tiba dan membuat Azham membeliak terkejut walau sesaat. “Enggak, ya?” sambung Selena dengan menundukkan wajahnya. Walau sesaat ia merasa sangat malu karena ia begitu terlihat agresif di mata Azham. “Jujur aku tidak tahu perasaan apa ini, yang jelas aku selalu ingin memandangku,” sahut Azham yang membuat Selena tersenyum merona malu. “Baiklah. Aku anggap itu benar. Kau mencintaiku. Kalau begitu buktikan padaku sedalam apa cintamu padaku. Cium aku sekarang,” bisik Selena dengan senyum mengembang di wajah cantiknya. “Apa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD