Bab 5 Bicara Berdua

1294 Words
Selena bergegas berlari memasuki kamarnya. Dengan jantung berdegup sangat kencang ia duduk dengan wajah kebingungan. Ia masih berusaha merangkai semua kronologi kejadian yang ia alami sebelumnya. ‘Omong kosong macam apa ini? Kenapa ini kebetulan sekali? Oh, astaga. Ini nggak mungkin ‘kan?’ pikir Selena seraya meraup wajahnya dengan rasa tak percaya. Lalu sorot matanya tertumbuk pada bayangan dirinya yang terpantul di cermin. Ia menatap wajahnya yang masih muka bantal dan terlihat kusut dengan rambut agak berantakan. Apalagi saat ia mendapati pakaiannya yang cukup seronok. Selena menjerit histeris dan membenamkan wajahnya dalam bantal. ‘Malu-maluin banget! Muka gue udah kayak apaan tahu ini? Oh, sumpah malu! Ya ampun!’ pekik Selena dalam hati memandang penampilan di cermin kembali. “Sel? Ada apa? Selena?” panggil ayah Selena seraya mengetuk pintu kamarnya. “Nggak, Pa. Cuma kecoak!” pekik Selena berbohong. Terdengar helaan napas dari Tuan Ibrahim, “Mana ada kecoak, sih? Aneh-aneh aja kamu. Ya sudah cepat mandi, ayo kita sarapan! Jangan kelamaan membuat tamu kita menunggu...!” ucap laki-laki paruh baya itu meninggalkan kamarnya. ‘Ah, Papa! Pake dipertegas kalau gue belum mandi! Ah... Malu-maluin banget ih!’ pekik Selena dalam hati. “Iya, Pa,” sahutnya bangkit dari rebahnya. Lalu ia pun bergegas ke kamar mandi yang ada di kamarnya dan membuka lemari pakaiannya dengan terburu-buru. Ia yang tadinya antusias namun sorot matanya berubah muram saat ia menyadari tak ada satu pun rok panjang yang ia punya. Celana denim panjangnya pun bermodel sobek-sobek di sekitar paha dan lututnya. Belum lagi modelnya yang sangat pas di kakinya yang jenjang. Selena menatap dirinya di cermin setelah mengenakan celana itu serta kemeja longgar walau berlengan pendek, tetap saja memperlihatkan kulit putihnya yang mulus dan berkilau lembut. ‘Ah, bodo amatlah! Cuma ini baju-baju gue yang panjang dan sopan. Setidaknya gue nggak dandan kayak semalem ‘kan?’ pikir Selena kembali meraup wajahnya karena malu setelah ia teringat tingkahnya di depan laki-laki asing itu. Selena membiarkan rambutnya terbungkus handuk karena masih basah setelah ia mandi keramas. Ia begitu terburu-buru hingga beberapa rambut menjuntai keluar melalui sela-sela handuk dan menghiasi sisi wajahnya. Setelah memakai pelembab kulit di wajahnya ia merasa penampilannya cukup sempurna. Dan untuk sesaat ia tercenung. ‘Apa-apaan sih gue? Kenapa gue bertingkah nggak jelas begini tiba-tiba sih?’ pikirnya yang kini tanpa ia sadari jantungnya berdegup sangat kencang. ‘Stop Seli! Stop! Dia belum tentu mau begitu saja di jodohkan dengan lu! Apalagi dia udah tahu kelakuan lu semalam.’ Selena tercenung diam. ‘Ya udahlah setidaknya gue harus bersikap sopan dan berterima kasih padanya. Oke, bener. Gitu. Iya, bener, gitu,' pikir Selena bingung sendiri dengan perasaannya sendiri sampai terdengar ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunannya. “Non? Sudah ditunggu Papa Non buat sarapan, Non,” pekik Bi Murni di depan pintu. Selena membuka pintu dengan terburu-buru, “Iya, ini sudah siap,” ujar Selena singkat dan membuat Bi Murni mengulas senyum simpul di wajahnya. “Apa sih, Bi? Biasa aja ngeliatnya,” tegur Selena merona malu. “Abisnya Non cantik sekali, duh wanginya,” ledek Bi Murni yang membuat Selena melirik tajam pada wanita paruh baya itu yang membalas lirikannya dengan tawa derainya. Kedatangan Selena disambut oleh kedua tamu itu seraya berdiri dari duduknya dan hal itu membuat kaget Tuan Ibrahim begitu juga Selena. Mereka begitu kaget melihat sikap para pemuda itu yang kelewat sopan. “Nah, Nak Azham ini adalah Selena anak Om yang Om sudah ceritakan. Dan Sel, ini adalah Nak Azham, calon suamimu. Dan ini adalah Nak Umar, teman baiknya Nak Azham,” ucap Tuan Ibrahim memperkenalkan ketiganya. Selena yang mengulurkan tangannya segera menarik tangannya kembali saat Azham dan Umar bersamaan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan d**a mereka seraya mengangguk sopan sebagai perkenalan mereka. “Salam kenal, Non,” ucap Umar seraya menyenggol Azham yang masih terpukau memandang Selena. Sementara Selena pun merasakan wajahnya memanas hingga merambat ke leher dan jantungnya yang berpacu dengan sangat kencang tersihir oleh tatapan Azham. Sungguh Selena sangat takut jika dirinya terlihat meneteskan liurnya tanpa sengaja menatap sosok tampan Azham yang sangat berbeda dengan para lelaki yang pernah ditemuinya. Kecanggungan mereka membuat Tuan Ibrahim terkekeh diikuti oleh tawa renyah Umar yang memecah kesunyian mereka. “Ah, mari duduk, dan kita segera sarapan. Ayo, sarapan. Maaf ya, seadanya saja ini,” sambut Tuan Ibrahim merendah dan membuat Azham dan Umar saling berpandangan kaget karena melihat lauk-pauk yang melimpah ruah hampir memenuhi meja seperti sedang hajatan. “Maaf ya, saya nggak tahu kalian suka makan yang mana, jadi saya menyuruh para bibi itu memasak semua jenis saja. Ayo, ayo, kita sarapan. Ayo Azham, Umar jangan malu-malu,” papar Tuan Ibrahim memulai dengan menyendok nasi di piring lalu diikuti oleh Selena dan Umar selanjutnya Azham paling terakhir. “Zham, kamu ‘kan nggak bisa makan udang, jadi kamu makan ikan saja, ya,” ucap Umar seraya mengambilkan sepotong ikan berbumbu kuning bertaburan cabai-cabai pedas di sekelilingnya. “Hei, yang benar kamu, Mar,” sela Azham pada Umar yang menyendokkan beberapa potong cabai ke piring Azham. Melihat keakraban keduanya membuat suasana canggung pun menjadi cair seketika. “Loh, Azham nggak bisa makan udang? Kenapa?” tanya Ibrahim dengan pandangan terkejut. “Saya ada alergi, Tuan,” sahut Azham dengan sikap sopan. “Sejak kecil, Azham suka gatal-gatal kalau abis makan udang, Tuan,” sahut Umar menimpali, “Dia juga sangat susah makan dan pilih-pilih makanan karena takut gatal-gatal itu, Tuan. Dan dia ini memang sangat pemalu kalau makan di tempat umum begini. Dan dia itu nggak kuat makan pedas, Tuan” imbuhnya bertepatan Azham menyingkirkan beberapa cabai itu dari piringnya, bahkan tatapan tajam dari Azham yang memerah malu pun diabaikannya. “Oh, begitu?” sahut Ibrahim menanggapinya dengan penuh perhatian. “Iya, Tuan, makanya kalau lagi keluar sama saya, Umi selalu menitipkannya ke saya, Tuan, bagaimana dengan makannya Azham,” lanjut Umar dengan bersungguh-sungguh. Selena tak kuasa menahan gelak tawanya saat melihat Azham yang terlihat semakin canggung dan malu saat Umar tetap berceloteh menceritakan tentang sisi lain dirinya dengan sangat lancar dan mengabaikan semua tatapan tajam Azham. Dan akhirnya acara jamuan sarapan pagi itu menjadi lebih ramai dan menyenangkan karena ulah Umar yang terlihat lebih sering berbicara dengan Tuan Ibrahim. Namun, karena itulah membuat Azham dan Selena tanpa sengaja lebih sering saling memandang. ‘Sumpah! Dia ganteng banget! Gue bisa gila jika terus seperti ini. Tapi mana mungkin kalau gue langsung bilang ke papa, kalau gue mau ‘kan? Sialan! Jantung gue berisik banget! Mana makannya nggemesin banget gitu sih! Lagian gue butuh dia buat ngasih pelajaran pada Basti! Lihat saja. Tapi, apa dia masih mau sama gue setelah ngelihat gue yang semalam?’ pikir Selena berkecamuk. Seperti yang terjadi saat itu, seolah Tuan Ibrahim memang sengaja sibuk dengan segala celoteh Umar dan membawanya ke teras rumah yang penuh dengan tanaman-tanaman hias dari berbagai jenis dan meninggalkan Azham bersama Selena. “Jadi, lu...em... Sorry...maksudku... Kamu calon suamiku?” tanya Selena membuka pembicaraan dan membuat Azham menatap mata Selena yang sedang berdiri di ruang tamu melihat ayahnya yang sibuk menunjukkan berbagai tanaman hias kepada Umar. “Iya,” sahut Azham singkat. Azham berdiri dengan canggung di samping Selena. Selena membalikkan badan dan menatap Azham dalam-dalam, “Kau yakin masih ingin melanjutkannya, padahal kau sudah melihat peristiwa semalam?” imbuh Selena menunggu dan sebersit sinar ketakutan ada di sana. “Iya,” sahut Azham kembali dengan singkat. “Kenapa?” sela Selena cepat. Azham terdiam. Untuk sesaat mereka hanya saling menatap satu sama lain dan ada rasa gelenyar di hati Selena yang sulit dijelaskan tiba-tiba menyerangnya. “Kalau kau memang tak yakin sebaiknya batalkan saja, jangan merasa tak enak karena Papaku, karena aku bukan wanita baik-baik,” ujar Selena seraya melewati Azham dan menaiki tangga yang ada di belakang Azham. “Jika kau bukan wanita baik-baik maka kau tidak akan datang dan meminta tolong padaku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD