“Lepaskan dia,” tegur suara laki-laki yang duduk di samping Selena. Kini laki-laki itu keluar dari taksi dan berdiri menantang Ryan.
Dengan wajah murka, Ryan menatap sosok laki-laki tampan yang berdiri menjulang di hadapannya itu tanpa melepaskan genggamannya di rambut panjang Selena. Ia malah mengayun-ayunkannya dengan kasar hingga Selena menjerit kesakitan.
“Siapa kamu? Jangan sok jagoan! Oh, jangan-jangan kamu mau jalan dengan bocah ke***at ini? Sialan kau Sel! Rupanya lu udah janjian sama dia!” umpat Ryan kepada laki-laki asing itu dan beralih kepada Selena.
“Saya hanya minta baik-baik, tolong lepaskan tangan Anda, darinya,” ucap laki-laki itu dengan suara tenang dan dalam.
Beberapa orang yang masih ada di sekitar restoran berdiam diri dengan wajah tegang melihat semua keributan yang tiba-tiba terjadi di hadapan mereka.
“Bocah kemarin sore tahu apa kau? Sok-sokan ikut campur. Minggir sebelum lu gue jadiin perkedel!” ancam Ryan dengan genggamannya yang semakin erat dan membuat Selena kembali memekik kesakitan.
Tak bisa lagi menahan pemandangan kejam di hadapannya, laki-laki itu memukul wajah Ryan dengan kuat hingga Ryan yang bertubuh tambun itu pun terhuyung tak karuan dan membuat genggamannya pada Selena pun terlepas begitu saja.
Hal itu menunjukkan betapa kuat pukulan yang mendarat pada wajah Ryan yang kini berdarah dan menampakkan hidungnya yang terlihat patah. Laki-laki itu memekik kesakitan memegangi wajahnya dan mengumpat dengan sumpah serapah dari mulutnya.
Akan tetapi harga diri menginginkannya untuk membalas kekalahannya dari laki-laki yang terlihat jauh lebih muda darinya itu. Dengan tangan gemuknya Ryan berusaha menyerang, namun berhasil di tahan oleh laki-laki itu yang telah sempurna dengan kuda-kudanya. Lalu dengan telak laki-laki itu kembali menambahkan beberapa pukulan yang lebih keras ke rahangnya dan wajahnya.
Serangan terakhir itu seketika membuat Ryan tak berdaya dan membuatnya jatuh terduduk dengan kesakitan.
Tak membuang kesempatan lagi, laki-laki asing itu segera menggandeng Selena masuk ke dalam taksi di kursi penumpang, sementara seorang laki-laki lain memasuki kursi di samping sopir, dan taksi pun bergegas meluncur pergi.
“Terima...kasih...Terima....kasih....” ucap Selena dengan terbata-bata dan berurai air mata dan gemetar di sekujur tubuhnya.
“Kalau boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kau tiba-tiba berkelahi Zham? Nih, kasih minum dulu, mbaknya,” sela pemuda yang duduk di samping sopir kepada laki-laki yang ada di samping Selena yang menatap tajam kepada temannya.
Namun ia menerima air mineral dalam botol itu untuk diberikan pada Selena yang menerimanya dengan gemetar. Selena meminum air itu setelah dibuka oleh laki-laki itu.
“Dia Papa tiriku. Dia berusaha menculikku dan berkali-kali dia ingin...ingin...” ucapan Selena terhenti dan membuatnya kembali terisak.
“Sudah, mbak, sebaiknya mbak pulang ke rumah. Jadi kami akan antarkan dulu ke rumah, mbak. Rumah mbak di mana?” tanya laki-laki yang ada di samping Selena dengan suara menenangkan.
Dengan cepat Selena menyebutkan alamat rumah ayahnya dan membuat dua laki-laki itu spontan terkejut.
“Loh, Zham, kok....” celetuk laki-laki yang ada di samping sopir saling berpandangan dengan laki-laki yang ada di samping Selena, “Jangan-jangan, Zham....” imbuhnya melirik pada Selena yang masih sibuk dengan air mata dan ponselnya.
Selena memencet nomor dari ponselnya dan dalam sekali panggilan saluran pembicaraan itu langsung tersambung, “Papa, tolong buka gerbangnya, Seli sekarang jalan pulang,” ujar Selena di sela isaknya.
Ketiga laki-laki dalam mobil itu terdiam mendengar Selena sedang berbicara dengan ayahnya yang terdengar ia mendapatkan teguran karena berkali-kali ia meminta maaf sambil menangis.
Selama hampir dua jam perjalanan mereka pun sampai pada sebuah rumah yang sangat mewah dan megah di tengah salah satu kompleks perumahan elite di kawasan Jakarta Selatan.
Dan begitu Selena melihat ayahnya berdiri di depan pintu gerbang di dampingi dengan dua sekuriti itu, tanpa memedulikan apa pun Selena segera membuka pintu taksi dan berlari memeluk ayahnya dengan berurai air mata. Bahkan ia tak memperhatikan tasnya yang tertinggal dalam taksi.
“Papa...maafin Seli...Maafin...Seli...” pekik Selena dengan berderai air mata.
“Iya, iya. Ya sudah, ayo masuk,” ujar Ibrahim membelai rambut Selena. Namun belum sempat ia melangkah tiba-tiba Selena lemas dan jatuh di tangan ayahnya.
“SEL...SELENA...!” pekik Tuan Ibrahim terkejut.
***
Selena tersentak dari tidurnya dengan panik, namun sesaat setelah ia melihat keadaan sekeliling ruangan itu ia merasakan perasaan yang luar biasa lega. Ia berada di dalam kamarnya. Walaupun begitu ia merasakan kepalanya yang berdenyut-denyut.
‘Ini kamar gue? Oh, ya ampun... Tapi gimana gue bisa ada di sini? Bukannya tadi gue ....” Selena mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi sebelumnya.
Setelah ia menyadari runutan semua peristiwa yang ia alami ia bangkit dari rebahnya dengan terkejut. Apalagi saat ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi.
‘Oh, iya bener! Tas gue ketinggalan di taksi itu? Handphone gue?’ pekik Selena dalam hati dengan panik karena merasa kehilangan.
‘Tapi gue masih nggak inget sejak kapan gue tidur? Seinget gue, gue cuma inget meluk Papa dan .... Mending gue tanya Papa. Lagian handphone gue hilang!’ gumamnya seraya bangkit dari tidurnya.
“Papa...?” panggil Selena keluar kamar.
“Loh, Non. Non Selena sudah bangun? Oh, Alhamdulillah, Ya Allah Gusti ....” pekik seorang asisten rumah tangga paruh baya mengucap syukur seraya menyatukan tangannya di depan d**a dan memeluk Selena dengan tersenyum senang.
“Bi Mur, Papa di mana? Memangnya apa yang terjadi sampai Bibi kayak mau nangis gitu?” tanya Selena seraya membalas pelukan wanita paruh baya itu.
“Ya Allah, Non. Non, semalam itu pingsan. Terus digendong sama mas-mas yang tamu itu. Ya Allah, Bibi sampai kaget, kirain Non kenapa-kenapa,” ujar Bi Murni dengan berkaca-kaca.
“Mas-mas tamu?” ulang Selena dengan wajah bingung.
“Iyaaaa...,” sahut Bi Murni seraya menggandeng majikan mudanya itu duduk di kursi ruang makan yang berseberangan dari kamar Selena.
“Mas-mas tamunya Papa, Non. Ya Allah, Masya Allah banget, Non. Orangnya ganteng-ganteng banget! Yang kumisan lagi, lebih heeemmm ....” papar Bu murni dengan gaya gemas dan membuat Selena melirik seraya mencibir yang membuat keduanya terkekeh geli.
“Emang ada tamu datang? Kapan mereka datang? ‘Kan saya pulang nggak ada siapa pun?” desak Selena masih kebingungan.
“Ish. Gimana sih, Non! Masa, Non nggak tahu. Orang tamunya datangnya barengan sama Non, kok,” ungkap Bi Murni membuat mata Selena membeliak terkejut.
Dan belum sempat ia berkomentar lebih banyak lagi, sorot matanya tertumbuk pada seseorang yang keluar dari kamar mandi yang terletak di ujung lorong lantai dua.
Untuk sesaat Selena tersihir tatapan sosok yang berdiri menjulang dengan wajah yang sangat tampan rupawan. Wajah yang terpahat sempurna dengan kumis dan jambang tipis seolah membingkai kesempurnaan itu. Namun, sosok asing itu membuat Selena segera bangkit dari duduknya saat sosok itu membuang pandangannya dan menggumamkan ucapan maaf.
“Siapa lu?” tanya Selena singkat dengan gugup seraya menutupi pundaknya yang terbuka karena ia mengenakan kaus tali satu dan celana yang sangat pendek hingga hampir ke pangkal pahanya.
“Sel, jangan seperti itu. Kamu lupa dia laki-laki yang menolongmu semalam? Dan dia inilah calon suamimu yang Papa bilang kemarin,” sela ayah Selena yang muncul dari tangga dan membuat Selena melongo bengong.
“Apa?”