Bab 3 Niat Busuk Ryan

1181 Words
Karena tak menjawab semua panggilannya, Ryan mencoba menelepon Selena. Namun, Selena tetap mengabaikan panggilan masuk tersebut. Ia tak mau menggerakkan dirinya yang teronggok lesu dengan masalah yang telah ia hadapi secara bersamaan. Dadanya terlalu sakit untuk menanggung segala yang di rasakannya saat ini. Bagai ribuan panah yang langsung menghunjam jantungnya. Dan kini masalah baru yang lebih besar kembali datang dan berdiri menunggunya di luar pintu. ‘Biarin ajalah, biar dia capek sendiri dan pergi dari sini,' pikir Selena mulai memejamkan matanya yang kelelahan menangis. Namun belum sempat ia benar-benar memejamkan kelopak matanya rapat-rapat, tiba-tiba ia mendengar keributan di depan pintu apartemennya. Suara sebuah pintu yang rusak dan beberapa orang yang masuk ke dalam dengan berlarian ke dalam. “Untung Bapak datang, saya hampir saja pergi, karena saya pikir dia pasti sudah tidur, semoga dia tidak melakukan hal-hal yang nekat,” pekik Ryan seraya memasuki ruangan. Selena mengerjap-kerjapkan matanya tak percaya saat melihat Ryan dan dua petugas sekuriti memasuki kamarnya dengan wajah penuh kekalutan. “Ada apa ini?” tanya Selena kebingungan bangun dari rebahnya. “Oh, syukurlah, Sayang! Kau baik-baik saja! Beruntung Papa datang tepat waktu,” pekik Ryan seraya mendekati Selena. “Para sekuriti itu bilang kau habis mengusir pacarmu yang berselingkuh, jadi pas mereka melihat Papa mencarimu tak ada jawaban mereka takut kau berbuat nekat, Sayang. Oh, syukurlah kau selamat! Kau tak apa-apa!” ucap Ryan penuh kekhawatiran. Ryan memanfaatkan keadaan itu untuk memeluk Selena yang masih duduk dengan wajah kebingungan. Namun saat ia merasakan tangan laki-laki itu mencengkeram pinggangnya Selena menyadari sesuatu dan segera mendorong Ryan. “Aku baik-baik saja. Dan aku tak akan berbuat nekat hanya karena mereka,” elak Selena seraya bangkit dari duduknya menjauhi Ryan. “Baiklah, Pak, terima kasih atas bantuannya tadi, syukurlah anak saya baik-baik saja,” ucap Ryan seolah mengusir kedua sekuriti itu secara halus dan mereka pun mengangguk sopan sebelum meninggalkan tempat itu. “Kenapa Om kemari? Mana Mama?” tanya Selena tetap menjaga jarak, dan kini gadis itu melangkah keluar kamar dan berdiri di tengah ruangan. Selena melirik pintu apartemennya yang masih terbuka setengahnya, ia melihat gerendel pintu yang rusak masih menggantung di satu sisinya. Ia berpikir ia bisa lari secepatnya jika memang laki-laki itu berbuat macam-macam padanya. “Mamamu sedang sakit, tadi sebenarnya dia menelepon Papamu ingin bertemu denganmu tetapi Papamu bilang kau ada di sini,” papar Ryan terlihat berbohong dan mengada-ada. ‘Pembohong! Papa aja nggak tahu gue ada di sini!’ pikir Selena ingin menyahut, namun ia urungkan karena percuma saja. Ia lebih takut jika Ryan menyerangnya saat ini juga. Makanya ia lebih baik berpura-pura patuh. “Ayo, pulang Sel. Kasihan Mamamu menunggumu, sejak kau pulang ke Indonesia kau belum menjenguknya, ‘kan?” bujuk Ryan berjalan mendekat pada Selena. “Baiklah,” ujar Selena singkat seraya meraih tas tangan dan memakai sepatunya. ‘Setidaknya gue nggak berduaan di sini sama dia. Lebih baik gue pulang ke rumah nyokap dulu, setidaknya di sana ada nyokap,' pikir Selena dalam hati. Dengan senyum mengembang di wajahnya, Ryan bergegas mengikuti langkah Selena yang lebih dulu keluar apartemen lalu menutup pintu. Mereka berjalan dalam diam hingga ke mobil Ryan. Walaupun Selena harus menahan getaran di tubuhnya yang tiba-tiba menderanya, ia berusaha mengabaikannya. Sesaat terlintas bayangan beberapa tahun lalu saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat itu ia yang tengah tidur lelap tiba-tiba dibekap oleh sebuah tangan kuat di mulutnya. Selena sangat terkejut saat ia mendapati Ryan telah siap menindihnya. Selena mencoba berontak saat Ryan dengan buas menciumi wajah dan pundaknya yang terbuka. Bahkan dengan kasar Ryan mencoba meraih kaus tali satu yang Selena kenakan dan membuatnya koyak hingga memperlihatkan bra hitam yang sangat seksi menutupi gundukan cantik dibaliknya. Sesaat Selena menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang segala kenangan buruk itu. Dan ia sangat terkejut saat telapak tangan Ryan menyentuh pahanya yang terbuka. “Sel, kau kenapa? Apa kau pusing?” tanya Ryan dengan senyum di wajahnya. Selena segera menepis tangan laki-laki berkepala plontos dan berperawakan agak tambun itu, “Enggak! Awas, tangan Om!” pekik Selena dengan kasar. Melihat penolakan Selena, Ryan memacu mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi menembus jalanan ibukota yang lengang. Lalu dengan serta merta Ryan tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup gelap dan sepi. “Kenapa berhenti, Om?” ucap Selena mulai menunjukkan rasa tak nyaman. Ryan menyunggingkan senyumnya yang terlihat buas di mata Selena, “Om, merindukanmu, Sel. Sebaiknya kita lanjutkan apa yang dulu pernah terputus di antara kita, Sayang,” ujar Ryan dengan senyum licik seraya mendekatkan wajahnya pada Selena yang terpojok. Selena meremas kursi yang ia duduki, “Yang benar saja, Om. Masa kita lakuin di sini? Gila aja, aku nggak mau digerebek orang. Kayak nggak ada tempat lain aja,” cibir Selena dengan mata nyalang. Seolah mendapat angin segar, Ryan mencoba mencium Selena dengan paksa, namun gadis itu terus mengelak dan membuatnya marah. “Om nggak punya duit buat ke hotel?” usik Selena seraya mendorong wajah Ryan yang telah terbuai nafsu gairah bej*tanya. “Oh, rupanya kau mau begitu? Oke. Baiklah!” sahut Ryan kembali menjalankan mobilnya dengan terburu-buru, “Om ingat di sekitar sini ada hotel terdekat. Tunggu ya, Sayang. o*******g akhirnya kau mau menerima perasaan cinta Om padamu,” ucap Ryan dengan tawa mesumnya. Selena hanya terdiam membisu dan terlihat tenang, namun berbanding terbalik dengan hatinya yang berdegup kencang tak karuan. Ia mencoba setenang mungkin dan menyusun rencana melarikan diri. Dan benar saja, hati Selena serasa berhenti berdetak saat melihat sebuah bangunan hotel yang berada di kiri jalan. Sementara ia belum menemukan bagaimana cara melarikan diri dari laki-laki itu. “Om, aku lapar, aku minta uang tunainya dulu untuk beli makanan,” sela Selena seraya menunjuk restoran siap saji yang berada tepat di samping hotel itu. Mendengar perkataan Selena membuat Ryan terkekeh, “Itu bukan lapar, Sayang. Kau pasti gugup karena lama tak bertemu dengan, Om,” ujarnya dengan menyisakan tawanya. “Ini ambillah,” sambung Ryan melemparkan dompetnya pada Selena sementara ia membelokkan mobilnya memasuki pelataran parkir restoran itu. Dengan tangan gemetar Selena mengambil semua uang tunai dalam dompet Ryan dan memasukkannya ke dalam tas tangannya. Dan hatinya begitu senang saat ia melihat sebuah taksi sedang terparkir di sisi gedung itu. “Sudah, Om. Di sini aja,” ucap Selena agar Ryan menghentikan mobilnya. Dan saat Selena keluar mobil ia segera berlari ke arah taksi yang terparkir itu dan memasukinya tanpa memperhatikan seseorang yang ada dalam bangku penumpang. “Pak! Tolong jalan, Pak!” pekik Selena terburu-buru kepada sang Sopir yang terkejut bukan kepalang. “Tapi, mbak, saya ada penumpang,” jawab sopir itu dengan menatap sosok laki-laki yang duduk di samping Selena dan membuat Selena sangat terkejut. Bertepatan Ryan keluar dari mobil dan bergegas mendatangi Selena seraya memanggil-manggilnya dengan penuh amarah. “Paaaak, please! Tolong saya. Saya mohon! Orang itu mau menculik saya, tolong....” pekik Selena mulai menangis dan menjerit panik karena Ryan telah sampai padanya dan membuka pintu mobil. “Selena! Apa-apaan lu! Mau ke mana lu? Lu mau bohongi Papa?” pekik Ryan seraya menjambak rambut Selena dengan kasar dan membuat Selena memekik kesakitan. “Enggak! Enggak! Tolong, dia bukan Papaku!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD