Selena turun dari taksi dengan wajah muram. Ia memilih pulang ke apartemen pribadinya karena uang tunainya hanya cukup untuk membayar itu karena posisi apartemennya yang lebih dekat dari pada pulang ke rumah.
‘Sial, uang tunai gue hanya sisa lima puluh ribu. Semoga Bastian langsung ke mari besok pagi, setidaknya gue bisa minjem uang padanya untuk beberapa hari ke depan,' pikir Selena seraya menyalakan rokoknya sebelum memasuki gedung apartemen miliknya.
Untuk sesaat ia sempat melihat arah tempat parkir mobil yang ada di sebelah kiri gedung, walau sempat menautkan alisnya tanda tak mengerti, tapi dengan jelas ia hafal pelat nomor mobil milik Bastian. Karena ia sendiri yang membantu membayar seluruh cicilan mobil itu.
‘Tapi bener, kok? Itu pelat mobil Basti? Kenapa ada di parkiran ini? Gue nggak sedang mabuk ‘kan?’ pikir Selena seraya menghisap rokoknya dalam-dalam.
Lalu ia mencoba menelepon Bastian, namun hingga panggilan ketiga Bastian tak juga membuka saluran telepon miliknya.
‘Sialan! Angkat kek. Sejak gue balik ke Indonesia dia belum nemuin gue sama sekali, apa cuma gue yang selalu menahan rindu setelah berbulan-bulan nggak ketemu? Terakhir dia nyusul ke London juga gue yang beliin tiket, itu juga udah empat bulan lalu,’ keluh Selena seraya kembali berjalan menyusuri lorong menuju pintu lift dan memencet tombol lift di hadapannya.
Ia membuang puntung rokok yang telah tersisa separuh begitu pintu lift itu terbuka. Lift terus meluncur membawanya ke lantai 7 di mana kamarnya berada.
Selena memencet kode angka untuk membuka kamar apartemennya. Dan saat ia memasuki ruangan, sorot matanya tertumbuk pada sepasang sepatu pantofel laki-laki yang sangat ia kenal. Namun bukan hanya itu saja, ia juga melihat sepasang sepatu hak tinggi perempuan yang bukan miliknya.
‘Loh? Itu sepatu Basti ‘kan? Lalu itu sepatu siapa?’ pikir Selena seraya menutup pintu dan membuka sepatu dengan tergesa-gesa.
Belum sempat ia menyelesaikan semua itu, Selena terenyak saat mendengar suara desahan diiringi dengan suara erangan yang memekik manja. Jelas itu suara perempuan.
Selena bergegas mendekati sumber suara yang berasal dari kamarnya yang terbuka lebar dan membuat suara itu semakin jelas terdengar. Dan hatinya benar-benar bergemuruh saat melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya.
Bastian, kekasihnya sedang bercinta dengan Mitha, sahabatnya sendiri. Sahabatnya sejak SMA dulu. Mitha begitu menikmati bagaimana Bastian begitu menggelora untuk menyatukan diri dengannya. Keduanya mengerang bersama di atas puncak kenikmatan itu tanpa menyadari sepasang mata yang penuh emosi telah menyaksikan semuanya.
“AN***G! BA***AT!” pekik Selena histeris memaki-maki keduanya.
Hal itu membuat Bastian dan Mitha terkejut bukan kepalang dan segera menutupi tubuh mereka yang telanjang dengan selimut.
“Sel... Selena ....” ucap Bastian mencoba membujuk seraya memakai celana bokser yang ada di ranjang.
Tanpa basa-basi Selena memukul wajah tampan Bastian hingga laki-laki itu terhuyung. Tak hanya itu, Selena terus memukuli dan mencakar-cakar Bastian sebisanya dan mendorongnya hingga terjatuh.
Tak puas dengan Bastian ia mendatangi Mitha dan menampar serta mencakar wajah Mitha kuat-kuat. Selena tak memedulikan Mitha yang memekik kesakitan dan berusaha melarikan diri. Dengan geram Selena menjambak rambut Mitha dan menyeretnya keluar kamar.
“Keluar kalian! Dasar AN***G BA***AT!” pekik Selena histeris seraya menyeret paksa Mitha dengan rambutnya dan membuat Mitha menangis kesakitan.
Melihat hal itu Bastian bergegas meredakan Selena dan menarik tangan Selena dari rambut Mitha, “Sel, sudah Sel. Jangan seperti itu, kasihan Mitha,” ucap Bastian dengan nada memohon.
Mendengar itu spontan Selena menghempaskan Mitha dengan kasar dan membuat wajah Mitha membentur lantai. Mitha menangis seraya mengaduh kesakitan.
Selena benar-benar emosi, “Kasihan! Lu bilang kasihan dia! Lalu GUE BAGAIMANA? LU PIKIR BAGAIMANA PERASAAN GUE? LU UDAH NYAKITIN GUE TAPI LU BELAIN DIA! An***g lu!” pekik Selena dengan emosi.
“BENAR-BENAR AN***G LU BERDUA! Selama ini kurang apa gue sama kalian berdua! KURANG APA? BA***AT! BA***GAN KALIAN!” ungkap Selena dengan mulut yang terus mengumpat. Emosinya benar-benar meledak.
Melihat Selena yang sedang sibuk marah-marah, Mitha segera memanfaatkan kesempatan untuk memakai pakaian dalamnya dan menyambar gaunnya yang teronggok di lantai hendak berlari.
Namun dengan cepat Selena merebutnya hingga membuat robek gaun itu, “Sel, gue mohon Sel, maafin gue, Sel,” mohon Mitha dengan berurai air mata.
“Sel, gue khilaf Sel, ini salah gue,” ujar Bastian menimpali, tetap berusaha menolong Mitha dan hal itu benar-benar membuat Selena geram.
“Gue.... Selama ini lu anggap gue apa, Bas? Semua kebutuhan lo gue penuhi? Bahkan apartemen ini boleh lu pake selama gue kuliah, karena lu bilang kita bakal nikah dan tinggal di sini. Tapi lu malah pakai buat main cinta dengan pe*** kayak dia. An***g ba***at! Laki-laki kere ba***sat!” ucap Selena berurai air mata.
Bastian mulai tersulut emosi saat mendengar segala makian yang terlontar begitu saja dari mulut Selena. Kini dengan kasar Bastian mencengkeram wajah Selena dan memojokkannya di dinding.
“Heh, denger ya, Sel. Siapa juga yang mau nikahin elu? Selama ini gue bertahan dengan mulut lu yang kotor karena uang lu. Perempuan kayak lu, kalau nggak kaya, mana ada yang mau? Jangan mentang-mentang lu kaya lu seenaknya ngehina gue. Selama ini lu yang ngejar-ngejar gue ‘kan? Lu ngerasa cantik dan seksi? Sorry ya, masih banyak yang lebih dari lu yang mau sama gue,” sahut Bastian mendorong Selena dengan kasar hingga ke dinding.
“Lu aja yang go***k! Mau aja gue manfaatin, ya lu yang cinta mati sama gue, jadi siapa yang salah? Lagian lagak lu sok suci di depan gue, padahal di Inggris lu juga pasti sudah di pake disana-sini, ‘kan? Terus lu suruh gue nikahin lu, gitu? Makanya lu selalu nolak buat tidur sama gue sampai kita nikah? Basi banget, Sel... Najis banget gue sama perempuan l***r kayak lu,” imbuh Bastian dengan tajam.
Tak terima dengan segala tuduhan Bastian, Selena segera memukul wajah Bastian sekali lagi. Namun dengan tangan besarnya Bastian balas menempeleng wajah Selena. Dengan geram Selena menendang punggung laki-laki itu dan membuatnya tersungkur, tak lupa ia juga kembali menyeret paksa Mitha yang telah memakai gaun pendeknya yang robek hingga memperlihatkan pahanya yang berkulit sawo matang.
Dengan kasar Selena menyeret keluar Mitha dan Bastian yang masih mengenakan celana boksernya. Tak lupa Selena juga melemparkan baju Bastian dan sepatu-sepatu mereka ke tubuh mereka, “KELUAR KALIAN! DASAR BA***AT! Jangan pernah lagi kalian muncul di hadapan gue lagi! PERGI” pekik Selena dengan meledak-ledak.
Suara keributan itu membuat beberapa orang yang kebetulan lewat atau pun dalam kamarnya muncul untuk melihat apa yang terjadi. Hal itu semakin mempermalukan pasangan Bastian dan Mitha membuat semua yang melihat langsung paham dengan duduk permasalahannya. Hingga dua sekuriti mendatangi mereka untuk meredakan apa yang terjadi.
“Pak, tolong ingat-ingat wajah mereka. Jangan sampai mereka mendatangi apartemen ini lagi. Walaupun saya akan mengganti password kamar saya. Tapi saya takut mereka membobol masuk ke dalam, jadi tolong usir mereka. Dari pada saya yang mengusir mereka ke kantor Polisi? Atau saya buang ke laut? Tolong, Pak. Mumpung saya masih bisa menahan diri saya,” papar Selena dengan terengah-engah.
Ucapan Selena disambut baik oleh kedua sekuriti itu yang menyuruh Bastian memakai pakaiannya dengan benar sebelum mereka dibawa pergi.
“Gue nggak pernah maafin pengkhianatan kalian berdua! INGAT ITU!” pekik Selena untuk yang terakhir kalinya sambil terus mengumpat dan membanting pintu apartemennya. Ia bahkan memasang kunci gerendel dari dalam agar Bastian tak bisa memasukinya kembali.
Di dalam kamar, Selena histeris seraya mengobrak-abrik seisinya. Hatinya benar-benar hancur. Baru beberapa menit yang lalu ia memutuskan pertemanan dengan teman-teman biadabnya kini kekasih dan sahabatnya pun menusuknya lebih kejam lagi.
Selena meraung-raung seraya meremas selimut yang basah akibat perbuatan mereka dan dengan geram ia merobek-robeknya hingga tak karuan. Selena terus menangis hingga suaranya serak dan kelelahan. Ia merebahkan dirinya begitu saja di lantai hingga ketukan di pintu membuyarkan kesedihannya.
“Sel, ini Papa Ryan. Buka pintunya Sel, kau ada di dalam ‘kan? Mamamu menyuruh Papa kemari untuk menjemputmu pulang ke rumah. Sel, buka pintunya!”
‘Oh, tidak! Gawat! Om Ryan! Si***n, kenapa om Ryan malah kemari? Ini sama saja gue lepas dari mulut buaya satu masuk ke mulut buaya yang lebih ba***at lagi! Sialan, gue harus bagaimana ini?’