Seven : Go Home

2190 Words
*10 BULAN KEMUDIAN. “Baik. Terima kasih Bapak sudah bersedia saya wawancara. Saya Alena, kembali ke studio.” Orang di hadapan mereka berdua mengacungkan ibu jarinya. Oke.  “Ahh, selesai juga,” desah Alena merenggangkan persendiannya yang pegal.  Bapak tadi juga kembali ke tempatnya semula sebagai penjaga toko kelontong. Tadi, ada kecelakaan jalan—alternatif—di daerahnya, motor vs mini bus. Dua dari penumpang mini bus dan sopirnya meregang nyawa, sementara pengendara motor terluka parah. Untungnya korban jiwa sudah ditutupi kain, atau Alena tidak mau mendekat. “Hari ini beres ‘kan, Zar?” tanyanya seraya menggulung kabel mikrofon. Suasana ramai seperti ini sulit kalau mengandalkan penangkap suara dari kamera. Nizar mengendikan bahunya. “Semoga gak ada berita lagi deh.” Alena mengangkat pergelangan tangannya, pukul 4 sore. Liputannya kali ini lebih banyak dari biasanya. Ada 3 warta berbeda, dua di antara tidak disukai Alena. Kecelakaan dan pembunuhan. Sialnya terjadi di hari yang sama. Tidak terasa Alena menjadi reporter stasiun teve swasta—khusus daerah—hampir selama setahun. Kameramennya yang sekarang bernama Nizar, bukan lagi Jo. Entah bagaimana pria itu, Alena tidak pernah berkontak lagi. Gajinya tidak besar, tapi syukurlah cukup untuk biaya sekolah Andira dibantu dari hasil bertani ayahnya. Hidup mereka mungkin tidak semakmur dulu, apalagi panen tidak melulu bagus. Akan tetapi, setidaknya Alena tinggal di rumahnya sendiri. Bukan menyewa seperti dulu. Tapi sama aja balik ke jalanan, batin Alena. “Al, telepon.” Nizar menyodorkan telepon genggamnya. Alis Alena menukik. Seolah bertanya ‘siapa?’ pada kameramennya itu. “Pak Wahyudi,” bisiknya. “Oh,” matanya membesar, terkejut. “Halo, Pak.” [“Alena, kamu ingat berita mutilasi bulan lalu?”] Alena mengangguk, sebelum sadar atasannya itu tidak bisa melihatnya. “Iya, Pak.” Kasus mutilasi itu diliput Alena sekitar tanggal 15 Januari kemarin. Seseorang tanpa identitas ditemukan dalam koper mahal yang dibuang di daerah persawahan. Tubuhnya terpotong menjadi 9 bagian, tanpa kepala. [“Kata kepolisian mereka menemukan petunjuk baru. Besok kamu ke kantor polisi buat ngeliput konferensi pers dari mereka sama Nizar.”] “Kantor polisi daerah?” [“Kota pusat. Mereka juga turun tangan dalam kasus ini.”] “Tapi kan ke kota jauh, Pak. Setengah jam ada,” protesnya. Nizar yang ikut mendengarkan ngedumel. [“Ya habis bagaimana. Ini berita besar, Alena, apalagi masuk stasiun teve nasional. Rugi kalau gak diliput.”] “Ya sudah, Pak.” Alena menutupnya tanpa penutupan basa-basi. Tidak peduli kalau pak Wahyudi tersinggung. Dulu, Alena memang kesal dengan pak Burhan, tapi setidaknya pria itu royal soal kebutuhan liputan—terlepas dari sikap nyebelinnya dan status stasiun teve. Sedangkan pak Wahyudi baik, tapi pelit keluar uang sendiri. Alena pernah beberapa kali liputan di kota dan stasiun daerahnya tidak mampu menyediakan alat transportasi. Jadi hanya memberi dana setengah dari keseluruhan biaya. Sisanya? MM, alias masing-masing. “Zar, kamu tahan tiga tahun dipimpin pak Wahyudi?” tanya Alena sewaktu TKP agak sepi. Para korban sudah dilarikan ke rumah sakit dan orang-orang tadi membubarkan diri. Nizar belum menjawab sampai dia duduk di bangku dekat pohon kelapa. “Tahan-tahan aja. Dia memang pelit, tapi Cuma kalau biayanya gak bisa ditanggung stasiun. Wajarlah, gaji kita ‘kan kecil. Selebihnya dia baik toh, daripada bos kamu yang dulu itu.” Bola mata Alena berotasi. “Iya-iya, terserah.” Kakinya bergoyang-goyang. Seharusnya dia pulang, tapi suasana di jalan alternatif seperti ini terasa menenangkan. “Aku jadi kangen Jakarta.” Pria di sebelahnya terkekeh. “Di Jakarta mah kamu liputan hampir setiap hari. Kalau di sini ‘kan gak tentu, gimana beritanya aja,” kata Nizar. Rambut gondrongnya menutupi kening ketika dia menunduk. Alena mengangguk-angguk. Oleh karena itu hari ini tergolong melelahkan untuknya yang terbiasa liputan paling banyak dua kali sehari. Kepalanya mendongak, menatap hamparan langit luas yang mulai dihiasi semburat jingga. Bahkan langit yang dilihatnya setiap hari terasa berbeda jika diamati di Jakarta. Seolah-olah, langit terlalu sia-sia untuk dinikmati di kota metropolitan itu. Dan langit pun enggan terlihat lebih indah jika dihiasi asap knalpot dan hiruk pikuk keadaan. “Kamu gak ada niatan balik ke Jakarta?” celetuk Nizar membuyarkan kegiatan Alena menatap langit, mengundang pelototan wanita itu. “Kamu bosen sama aku?” tanyanya sewot. “Ya enggaak atuh,” Nizar bersungut-sungut, “Nanya doang. Sewot amat kamu.” Alena cekikikan. “Becanda,” katanya, “aku mah gimana dari sananya aja. Dipanggil lagi syukur, enggak juga gak papa, betah sama keluarga.” “Tapi kan ini mah kota kecil. Beda sama Jakarta. Hape kamu yang bagus aja gak kepake da gak ada sinyal buat internetan. Bisa teleponan aja pake hape cinitnit.” Logat Sunda Nizar mulai keluar. Mereka memang dibiasakan memakai bahasa Indonesia yang baik di jam kerja. Berhubung sudah usai, kembali ke setelan pabrik. Hihi. “Da ada sinyal juga gak rame. Enakan kayak gini. Kalau kamu ke kota, semuanya hape terosss.” Alena tertawa ngakak.  “Kamu mah kayak anak kecil. Inget umur atuh, udah tua juga,” sindir Nizar becanda. “Eh, besok ‘kan kita ke kota. Kamu gak mau bawa hape kamu yang bagus itu? Siapa tau di pesbok ada berita rame.” Alena menjitak pria yang 2 tahun lebih muda darinya itu. “f*******:. Aku bilang juga punya kamus teh dibaca-baca, terus latihan biar ngomongnya gampang.” Nizar berdecak sambil mengusap kepalanya. “Ah males.” “Da males-males terus.” Tangannya diangkat tinggi-tinggi. “Mau dijitak lagi?” “Sakit atuh!” *** Keesokannya, bu Asih—Ibu Alena—memberitahu Alena kedatangan Nizar ketika dia selesai mandi. Agak mengejutkan sebab biasanya pria itu bangun di bawah jam 8, justru sudah nangkring jam 7 kurang di rumahnya. “Bu, kalau ada mah pangbikinin teh,” pesan Alena. Wanita itu sibuk dengan tumpukan bajunya yang akan lecek jika terus diacak-acak. Bu Asih berkata, “iya, kalau gula masih ada dibikinin.”  Sang ibu pergi sementara Alena merenung. Keuangan keluarganya sedang tidak stabil dikarenakan hasil tani kurang bagus. Ditambah biaya ini-itu adiknya, perlahan mengikis tabungan Alena yang dikumpulkannya dulu. Mungkin tanpa sepengetahuannya, hutang mereka menumpuk di warung tetangga. Kalau ada kesempatan ke kota lagi, gak masalah mau di jalan mau di mana aja asal keluarga makmur, batinnya nelangsa.  “Teh! Ini kasian si aa’nya nungguin!” “Iya, sebentar, Bu.” Alena bergegas siap-siap. Seragam rapi. Bawa note, bolpoin, id press, tas selempangan ... ah! jangan lupakan smartphone-nya. Kemarin sudah dia isi kuota, yahh meski hanya dipakai sekali. Dia perlu cari lowongan pekerjaan di kota, paling tidak dia berusaha. “Bu! Teteh bawa hape yang dulu, kalau nelpon nomernya ke nomor yang satu lagi ya. Pergi dulu,” pamit Alena menyalami ibunya yang sedang menyapu. Padahal kalau disapu, tidak kelihatan bersih pasalnya lantai mereka berlapiskan semen dengan tekstur kasar. “Iya, hati-hati,” timpal bu Asih lanjut menyapu. Alena mendapati Nizar duduk di kursi tua ruang tamu keluarganya, menyesap secangkir teh panas yang masih mengepul. Pria itu lebih rapi dari kemarin. Atensinya jatuh pada rambut gondrong Nizar yang tampak berkilap dan tertata. “Zar, hayu,” ajak Alena. Nizar menyesapnya lagi sekali setelah ditiupi. “Kamu pake pomade ya?” tanyanya menahan tawa, menyentuh ujung rambut Nizar yang langsung ditepis. “Jangan pegang-pegang.” Dia merapikan kembali tatanan rambutnya. “Sengaja. Siapa tau nanti aku ketemu cewek cantik. Aku ‘kan harus kece biar kayak Iko Uwais.” “Pengennya,” cibir Alena. Wanita itu spontan menghentikan langkahnya di depan rumah, terkejut. “Eh, ini mobil siapa, Zar?” serbu Alena begitu Nizar membuka pintu pengemudi sebuah mobil van putih. Nizar tertawa pongah sambil mengelus bodi mobil. “Ya punya ... gak tahu.” Diakhiri cengiran. Alena mengernyit. “Kok gak tahu sih?” “Pak Wahyudi minjemin, gak tau punya siapanya.” Pria itu mengendikan bahu. “Udah ah cepetan, takutnya macet ntar masuk kota.” “Iya, iya, bawel dasar!” * Sampai di kantor kepolisian kota, jejeran bangku konferensi pers sudah terisi hampir dari setengahnya. Alena juga mendapati banyak stasiun teve nasional ikut meliput berita yang sempat viral ini. Lahan parkir juga terisi begitu banyak mobil van liputan, belum lagi yang sengaja ke sana tanpa keperluan dokumentasi. “Zar, keliatan gak kalau dari sini?” tanya Alena. Mereka sampai satu setengah jam kemudian setelah terjebak macet, jadi posisi yang ada tidak begitu menguntungkan. Di pojok kanan baris ketiga, lebih buruk lagi jika memilih sayap kiri maka yang didapat bagian belakang. “Keliatan, Cuma gak jelas kalau kp-nya mulai.” “Gimana atuh?” gumam Alena. “Bisa gak kalau kita titip kameranya aja di depan, kayak biasa?” Nizar mengendikan bahunya. “Ya ‘kan di depannya juga udah penuh, Len. Kalau bisa mah aku gak papa ‘gogoleran’ juga.” Alena menghela napas dalam. Beginilah kenyataan pahit jadi reporter dari stasiun swasta daerah, tidak ada yang merasa perlu didahulukan. Tidak seperti dahulu seberapa pun telatnya sang kameramen, tempat kamera dan kursi pers sudah ditandai dan pantang diisi. Ya, itu hanya sebagian kecil dari banyaknya perbedaan. “Alena!” Wanita itu menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Agak sulit karena suasana ramai dan dia tidak mengenali suara orang yang memanggilnya. “Al, ini!” Panggilan kedua membuat Alena melihat ke depan dan mendapati seseorang melambai-lambai. Dia wanita dari baris pertama. Alena merasa familiar, sepertinya dari stasiun tevenya yang dulu, terlebih dia mengenali logo stasiunnya. “Oh, Jane!” Ingat Jane? Dia adalah seorang reporter yang dulu sering Alena bandingkan dengan Clarissa. Reporter jujur yang tidak banyak tingkah. Jane tampak beda dengan rambut pendeknya dan seragamnya dengan desain yang baru dari seragam stasiun yang dulu. Jane berbisik pada orang di sampingnya, lalu keluar dari jajaran terdepan bangku pers. Berjalan memutar ke belakang, rupanya dia hendak menghampiri Alena. Wanita itu tersenyum lebar begitu duduk di samping Alena, setelah meminta Nizar untuk bergeser. “Hai, apa kabar?” tanya Jane memeluk singkat Alena. “Baik.”  Jane tampak meneliti pakaiannya, pasti dia menangkap banyak perbedaan dari Alena. Sudah setahun, dan di sini dia tidak cukup sadar untuk menjaga penampilannya meskipun dia seorang wartawati. Toh stasiunnya tidak banyak ditonton orang, jadi Alena tidak memperhatikan dandanannya. “Kamu kerja di stasiun mana?” “Ah, itu ... aku kerja di stasiun daerah,” kata Alena pelan.  Tatapan Jane tidak sesemangat sebelumnya. “Aku dengar tentang kamu seminggu setelah kamu pergi. Selama sebulan Clarissa terus membanggakan dirinya. Aku ikut bersimpati, Alena. Pak Burhan memang pantas diganti.” Alena mengangguk, sebelum sadar. “Eh? Pak Burhan diganti?” “Heem. Dan tebak siapa yang menggantikannya?” “Siapa?” Alis Alena mengangkat, tidak memiliki tebakan yang terlintas di benaknya. “Glen?” “Bukann,” kata Jane geregetan. “Ayo dong tebak. Kamu bakal kaget kalau tahu siapa orangnya.” Alena menggeleng. “Beneran, Jane. Aku enggak bisa tebak.” “Ahhh.” Jane mendesah kecewa. Agak lucu mengingat usianya di atas Alena, tapi tidak malu mengekspresikan perasaannya. “Jadi, pengganti pak Burhan itu ... Jo!” “Haah!? Jo!?” Tanpa sadar Alena memekik keras sekali, sampai seisi ruang pers yang tidak begitu besar itu menatapnya terganggu. Alena tersenyum malu dan mengangguk-angguk, isyarat minta maaf. “Kok bisa? Bukannya pak Burhan udah mecat kita?” tanya Alena, kali ini lebih pelan. “Nah itu, aku juga gak tau. Sekitar beberapa bulan lalu pak Burhan kena kasus penggunaan obat terlarang dan masuk rehabilitasi. Otomatis bangku kosong dong. Tiba-tiba, ada pengumuman Jo yang ganti pak Burhan. Padahal itu ya, si Clarissa sama Glen udah pede bakal gantiin secara mereka ‘kan anak emas.” Jo jadi pengganti pak Burhan? Kenapa dia tidak memberitahu Alena dan menawarkannya pekerjaan lagi di stasiun? Tidak mungkin posisi berpengaruh seperti itu tidak bisa menggeser beberapa staf kan. Lagi pula Alena pikir Jo akan bekerja dengan Jason. Ah, dia masih belum dapat titik terang kenapa kedua orang itu bisa saling mengenal. Tapi, apa mungkin Alena punya kesempatan menanyakannya? “Eh ngomong-ngomong, kamu yakin bakal ngeliput dari sini?” tanya Jane membuyarkan lamunan Alena. “E-eh? Ya, habis gimana, ini bangku yang paling bagus.” Jane mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada dagu, berpikir. “Mungkin nanti bagian siaran gak akan sadar kalau nanti kamu pake liputan punyaku dari depan.” “Hah? Maksudnya?” timpal Nizar yang terkacangi. Ternyata diam-diam dia menyimak percakapan dua rekan lama itu. Apalagi wajah Jane yang menarik, membuat Nizar susah melepaskan pandangan. “Ya nanti aku minta Owi buat copy liputannya ke kalian. Kalau kalian mau,” usul Jane. Alena mengangguk semangat. “Boleh banget. Eh tapi kamu gak bakal kena masalah, Jane?” “Santai. Jo pasti ngerti.” Wanita itu mengerling. “Makasih banyak, Jane,” kata Alena sebelum Jane kembali ke kursinya di depan. Selama ini, Alena selalu berpikir teman-temannya di kota pasti melupakannya. Jo, Jane, Hanin. Tapi siapa sangka Jane yang notabenenya kenalan jauh mengingatnya, mungkin orang-orang kota tidak seburuk itu. “Len,” kata Nizar mendekat ke kursi Alena. “Itu cewek cantik pisan. Kenalin dong.” “Hush! Usia dia sama kamu jauhhhhh banget tahu. Gak pantes, Nizar.” Nizar memberengut. “Jahat mulu kamu, Len. Jadi pengen karungin, terus buang ke rawa-rawa.” “Lawak kamu, Nizar. Lucu, jadi pengen garuk tembok.” Saatnya bilang ... selekedep! *** A.N: Kesan tentang Nizar? Jane?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD