Six : Fired

1028 Words
Di hadapan Alena, berdiri dengan kokoh gedung yang mungkin tidak akan lagi menjadi tempatnya mencari penghasilan. Dia juga tidak lagi memakai seragam biru tua, melainkan baju rumahannya tanpa takut dipotong gaji. Ah, mungkin dia nanti harus mampir ke gudang dan mencari box kayu untuk barang-barang yang ditinggalkannya. Di pertigaan lorong, lekas kakinya melangkah maju menuju lift. Biasanya dia akan mengintip acara teve terdekat, tapi sekarang itu tidak lagi penting. Para staf acara yang lalu lalang sedikit membuat Alena sedih, apalagi mungkin di lantai atas. Alena meyakinkan dirinya untuk kuat. Begitu lift sampai di lantai dua, papan pusat berita menyapa indra penglihatannya. Beberapa orang yang dia kenal menatapnya bertanya, tapi tak ada satupun yang dibalas Alena. Bergegas dia ke ruangan pak Burhan. Oh, sudah ada Jo di sana. “Hai,” sapanya diacuhkan Alena. “Bagus. Kalian sudah sampai.” Pak Burhan menyentakan sebuah koran berita. “Jadi, berita mingguan kali ini bukan berita kalian, ‘kan? Silakan kalian taruh seragam serta id press kalian, ke bagian keuangan dan ambil pesangon kalian.” “Pak.” Alena berdiri. Matanya tampak memohon. “Tolong, saya bersedia kembali ke jalanan.” Pak Burhan bersedekap d**a, bossy. “Tidak. Perjanjian tetaplah perjanjian.” “Tapi, Pak, saya—” Alena ditarik Jo, sama seperti terakhir kali mereka keluar dari ruangan itu. Alena meronta-ronta bahkan hendak menggigit pria yang tidak lagi jadi rekannya itu. Tadi Jo sempat melemparkan id press mereka berdua. “Apa-apaan sih, Jo! Aku gak bisa kehilangan pekerjaan ini kamu sendiri tau!” cercanya langsung. Menatap Jo penuh permusuhan. Kadang wanita itu pendendam—atau hanya Alena. Yang pasti, dia tidak bisa membiarkan Andira kesusahan bersekolah. “Ada banyak pekerjaan di luar sana, Al. gak usah merendah kayak begitu,” geram Jo. Orang seperti Burhan tidak layak dipintai belas kasih. “Kamu ini kenapa sih, Jo!?” teriak Alena. Tingginya yang hanya sepundak Jo memaksanya mendongak. Jo menunjuk Alena tepat di wajahnya. “Kamu yang kenapa, Al. Kita gak bisa kembali ke jalanan, dia—” “BODO! EGOIS!” Alena berbalik setelah meneriaki Jo. Ekor matanya menangkap banyak orang menyaksikan perdebatan mereka, Alena tidak ambil pusing. Toh mulai besok dia tidak akan datang lagi. Dia juga sempat menangkap berita yang dicetak di bagian tengah pusat berita dengan judul yang begitu besar, Jason D. Kyle. Tentu saja Clarissa yang menang. Salahnya terlalu mempercayai keajaiban. Ah, dulu dia sering mengeluh ingin pulang siang. Dan itu terkabul hari ini. Bahkan dia tidak lagi harus menghadapi polusi asap knalpot, teriknya matahari, atau bisingnya ibu kota. Dia bebas, tapi hampa. Ada tiga orang yang kini dibencinya; Jonathan, Burhan dan ... Darius. *** Jason.  Pria itu baru saja menyelesaikan rapat penting bersama investor dari Singapura. Dia merenggangkan dasi yang terasa mencekiknya. Seharusnya ini menjadi tugas adiknya, tapi karena keringanan sang Papa memberinya libur di hari Jum’at, pekerjaan Jason bertambah. Bahkan beberapa kali dia tetap bekerja di hari Minggu. “Jason,” panggil seseorang setelah seluruh anggota rapat tadi berhamburan. “Oh, hai.” Jason tersenyum dan menyambut salaman tangan orang itu. “Ada apa?” Orang itu celingukan. “Ayo ke ruanganmu.” Melihat dari pakaian yang digunakannya, Jason yakin ini soal bisnis. Bukan kunjungan seperti biasanya. Dan mengingat orang itu tidak memberitahunya, ini darurat. “Kau mau minum?” tawar Jason hendak memanggil office boy sebelum pria itu menitahnya duduk.  “Kau masih bisa minum di saat seperti ini?” tukasnya. Jason bungkam. Oke, ini benar-benar serius dan tidak bisa ditunda. “Oke.” Postur tubuh Jason menegap. “Jadi, ada masalah apa?” “Jas, pria itu ...” Jason membungkuk, mendekatkan telinganya agar permasalahan mereka tidak bisa didengar siapapun. “Dia sudah ditangkap,” bisiknya. Respons Jason tidak seperti yang diharapkan sang pria. Wajahnya tenang, tak terusik meski kabar itu bisa menjadi bahaya. Dia hanya berseloroh, “Oh.” Tubuhnya rileks kembali. Pria itu mengernyit. “Hanya itu? Kau tau kan apa yang akan terjadi kalau dia buka mulut?” Jason tersenyum, jenis senyum picik. Sungguh, pria itu masih belum mengenalnya setelah berteman cukup lama. “Aku tidak sebodoh itu, Hans. Biarkan saja, dia bukan lagi urusan kita,” pungkasnya penuh rahasia. Hans merinding, aura keluarga Kyle memang tidak main-main. “Lagipula, adikku pasti akan senang. Kalau dia tau itu aku, dia akan berterima kasih.” Ah, tidak ada orang yang benar-benar baik. Bahkan peran protagonis sekalipun. *** Pagi ini, Alena enggan bangun. Dia ingin terlelap lagi, tapi tidak bisa. Hari hampir siang. Sialnya, pertama kali Alena merutuki kebiasaannya bangun pagi. Dengan malas, dia bangkit dari tidurnya yang hanya berlandaskan tikar. Sengaja kasurnya dilipat agar dia tidak terlalu lelap dan ketinggalan keberangkatan keretanya. Dia mengedarkan pandangannya meneliti ruangan yang sudah akrab di penglihatannya. Pasti nanti akan dirindukannya. Ke mana Hanin? Semalam wanita itu menginap setelah diberitahu Alena dia akan pulang kampung. Dia juga berkeras ambil cuti untuk mengantarnya ke stasiun. Alena menyambar handuk untuk mandi. Satu tas besar dan koper tersandar di dekat rak sepatu. Mungkin bawaannya akan bertambah kalau nanti dia mampir ke toko oleh-oleh ala kadarnya. Uang pesangonnya belum cair, dialihkan ke rekening. “Alenaaa, jangan pergi.” Sayup-sayup Alena mendengar teriakan seorang wanita, ah, siapa lagi kalau bukan Hanin. Alena geleng-geleng, lanjut mandi. Tingkah orang kantoran itu ada-ada saja. “Astaga, Hanin! Kamu mau ke mana pakai kayak begitu?” pekik Alena begitu keluar dari kamar mandi. Bagaimana tidak? Hanin mengenakan gaun kemeja, topi laken, celana gauko lengkap dengan sepatu bot dan kacamatanya. Astaga, style macam apa itu? “Ihhh,” Hanin merengut. “Aku ‘kan mau anter kamu ke stasiun tauuu.” Alena bergumam kecil. “Udah, kamu keluar dulu, aku mau pake baju.” “Ihhh, aku kan—” Jengah, Alena mendorong paksa Hanin ke luar. Tidak sepenuhnya keluar mengingat dia cuma handukan. “Tunggu di sini,” titahnya membanting pintu. Masih sempat ngedumel sebelum lanjut berpakaian. “Alena Alena Ale-Ale-Ale.” “Ale-Ale-Alena.” “BERISIK, HANIN!” * Tuttt! Tuttt! Stasiun begitu ramai di hari Senin. Untungnya Alena pesan tiket lewat daring. Padahal Alena harap cukup lenggang karena ini bukan weekend. Jurusan kereta juga satu per satu datang selama beberapa menit lalu pergi, untuk tak lama datang kereta lain. Kereta jurusan Jakarta-Bogor tiba sekitar 20 menit lagi.  Pengeras suara sudah meminta penumpang untuk ke kursi tunggu dekat rel, tapi Hanin belum mau melepasnya. Wanita itu masih merengek, kaca matanya dikaitkan pada kerah baju. Padahal jarak ke peron cukup jauh dan membingungkan, tapi Alena masih harus berurusan dengan bayi besar ini. “Aleennn. Jangan pulang.” “Hanin,” tegur Alena. “Aku harus masuk. Gerbong keretanya sebentar lagi sampe.” Hanin menggeleng kuat-kuat. “Al. Kamu bakal balik lagi gak?” Alena berdeham. “Ya sudah.” Hanin menjauh. Hidungnya merah karena terlalu sering ditekan. “Janji ya balik lagi.” “Iyaaa.” Alena mendelik di akhir. Kakinya sudah pegal berdiri dari tadi, belum lagi orang-orang yang melihatnya sebab mendengar rengekan Hanin. “Aku pergi ya.” Diraihnya koper dan disandang tas, juga menenteng oleh-oleh dari Hanin—katanya. “Dadah Alen! Jangan lupa balik lagi!” “HEEM!” *** Yaah, Alena pulang ke kampung halamannya :(  Apakah kalian juga gedeg sama Darius atau pak Burhan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD