“JO, sepertinya aku mengacau.”
Pagi ini, Jonathan mengirimkan pesan pada Alena untuk bertemu di kafetaria dekat gedung stasiun teve. Perlu setengah jam untuk Alena sampai dengan baju turtle neck, cardigan dan celana abu-abu. Dan di sinilah Alena, duduk gelisah di depan Jo yang tampak berbeda dengan pakaian santainya itu. Pria itu belum membuka suara sejak Alena datang dan mengoceh.
“Joo, bicara sesuatu.”
“JO!” Alena memekik ngeri karena Jo hanya menatapnya. Tidak jelas dia marah atau tidak. “Iya aku tau aku salah, tapi jangan kayak orang kerasukan begitu dong, Jo.”
Akhirnya setelah mendiamkan Alena, Jo menghela napas dalam gusar. Dia menyugar rambutnya ke belakang. “Aku gak tau harus ngomong apa, Al.”
Sudut bibir Alena turun ke bawah. “Jangan gitu dong, Jo. Maafin.”
“Ya, kamu gak sepenuhnya salah, Al, aku juga teledor gak kasih foto Jason yang jelas ke kamu.”
“Nah, itu!” Alena menduga pria itu sudah diberitahu Jason tentang apa yang terjadi tadi malam. Mungkin lain kali dia harus menanyakan bagaimana Jo bisa kenal dengan Jason yang notabenenya adalah pengusaha sukses.
“Lagian salah pak Darius juga ngaku-ngaku.”
“Darius?” tanya Jo.
Alena mengangguk. “Iya, emangnya pak Jason gak bilang soal pak Darius?”
Mata pria itu menajam sambil bergerak-gerak. Tangannya bahkan terkepal di samping pesanan mereka. “Ngapain si Darius itu?”
“Jo, gak sopan deh,”
“Dia ngapain, Alena?”
Alena kicep. Kalau Jo sudah memanggil namanya seperti itu, artinya dia tidak mau dibantah. Mengalirlah semua cerita Alena dari semenjak Jo meninggalkannya di hotel, wawancara, sampai akhirnya dia diantar oleh Jason. Pria itu mendengarkan dengan tangan terkepal. Tidak Alena sadari ada aura kemarahan yang pekat menguar dari Jonathan.
“Jadi, kamu masih ada rekamannya?” Nada pria itu terdengar berat.
“Kayaknya aku simpen deh. Bentar.” Alena meraih ponselnya dan mengotak-atik benda sejuta umat itu. Raut wajahnya serius mencari file rekaman kemarin malam. “Ada!” pekiknya lalu men-klik.
“Ahh,”
Alena menutup mata malu mendengar desahan itu dibarengi tatapan aneh Jo.
“Ehm, bisa kita mulai?”
“Mulai saja.”
“Apa pak—”
“Just call my name.”
“Apa kamu mabuk ..., Jason?”
Terdengar erangan. “Just call my ....” ada jeda sebentar. “Oh, Jason.” Jo berdecak diam-diam. Picik sekali Darius.
“Tidak. Kau bisa lanjutkan.”
“Baiklah. Oke, hari ini tanggal dua puluh satu Februari, saya Alena Widya Astara dan narasumber saya pak Jason D. Kyle. Kali ini, topik yang mendasari saya mewawancara calon penerus DK groups adalah berbincang dengan pengusaha muda.”
Mereka mendengarkannya dengan kesan yang berbeda-beda. Alena dibuat malu sendiri karena suaranya itu menggambarkan dengan jelas emosinya, terutama ketika dia menyadari itu bukan Jason. Sementara Jo, Alena tidak mengerti kenapa pria itu tampak begitu tidak bersahabat.
Jo, pria itu benci mendengar suara Darius yang terdengar menantangnya untuk melayangkan kepalan tangan pada wajah yang banyak dikagumi kaum hawa itu. Susah payah dia mengubur kembali emosi yang tidak seharusnya muncul. Dia punya kemarahan yang belum saatnya untuk diketahui.
“Jo, kamu kenapa?” Alena memberikan sentuhan ringan pada punggung tangannya.
Jonathan membuang mukanya masam. “Enggak papa.”
“Kamu marah sama aku?” cicit Alena.
“Enggak, Al. Kamu gak akan ngerti.”
“Ya sudah jelasin biar aku ngerti.”
Jo mengusap wajahnya kasar. “Udah. Gak usah dibahas.”
“Ya sudah.” Alena mendesah pasrah. “Jadi, wawancaranya kita muat atau enggak?”
“Gak.”
Alena memprotes, “Kok enggak? Terus kita muat berita apa dong? Deadline-nya sehari lagi loh, Jo, kalau bukan berita ini terus kita muat berita yang mana?” Wartawati itu gusar. Jika mereka tidak bisa jadi pemenang topic on the week, dia akan kehilangan pekerjaannya.
“Kalau kita muat berita ini, pasti pihak direksi bisa banned karena narasumbernya bukan Jason seperti di pembukaan kamu. Bisa jamin kamu kalau kita gak akan dicabut izin wawancara?”
“Ya terus gimana, Jo? Atau kita potong saja deh bagian aku nyebut nama Jasonnya.”
“Gak bisa, Al. Itu melanggar kode etik. Lagian Clarissa pasti muat beritanya, dia bisa jadiin kita kambing hitam. Apalagi dia juga wawancara pak Jason, berita dia udah pasti lebih banyak dibaca.”
“Tapi aku denger dia belum sempet dokumentasi, kita masih punya peluang,” keukeuh Alena.
“Terus apa bedanya sama kita? Kita juga gak punya, Al. Suara Darius dan Jason itu beda banget, siapa pun tau mana suara Jason mana suara adiknya.”
Bahu Alena merosot turun. “Dibanding jadi pengangguran, Jo,” bisik Alena buntu. Wanita itu mulai putus asa.
Wajah Jo lebih kalem dari sebelumnya, tampak tidak keberatan dengan fakta kalau dia bisa dipecat.
“Kasian Andira,” tambah Alena. Dia menidurkan kepalanya di meja dengan pikiran yang berkecamuk sejenak. Tunggu, Alena menemukan titik terang. “Gimana kalau kita nego aja Jo sama pak Burhan. Kita batalin saja,” katanya bersemangat.
Jo menggeleng. “Dan kembali ke jalanan? Gak, Alena, aku gak mau.”
“Tapi Jo, daripada kita dipecat. Kamu lebih milih kita dipecat daripada kembali ke jalanan?” tanya Alena tak percaya.
“Aku lebih baik dipecat kalau harus kembali ke sana,” tukas Jo berdiri. Dia menaruh beberapa lembar uang untuk membayar kopi cappucino yang dia minum. Dia meninggalkan Alena, tidak peduli seberapa kali wanita itu memekikkan namanya.
***
“Ah, s**t!”
Darius mengerang merasakan mual dan pusing yang hebat, efek dari mabuk semalam. Pria itu buru-buru menerobos pintu toilet saat mual itu semakin menjadi-jadi. Cairan bening yang terasa pahit menyentuh lidahnya, begitu banyak sampai butuh beberapa detik untuk Darius tetap membungkuk.
Setelah reda, dia bergegas menuju kulkas dan mengambil sebotol air mineral dan diteguknya rakus. Dia melirik meja, penuh dengan kaleng bir semalam, pekerjaan tambahan untuk staf hotel. Darius berdecak. Jam bangunnya terlalu siang, padahal dia hendak eksekusi hari ini.
Setiap hari Jum’at, Darius diberi libur oleh Mr. Kyle untuk mengurusi bisnis mereka yang lain sehari penuh. Gantinya, Jason yang mengambil alih. Kakaknya itu akan selalu menuruti perkataan papanya, meski dia disukai karena penurut dan mudah dimonopoli.
“Mark.” Darius menghubungi Mark yang langsung terhubung dengan tangan kanannya itu.
[“Ya, Darius. Kau di mana?”]
Oh, Darius memberikan Mark hak untuk memanggil namanya atas sebuah alasan. Terlebih, menjadi tangan kanannya tidak lantas membuat Mark mirip sepertinya. Pria itu tetaplah Mark yang mudah dipengaruhi emosi dibalik wajah datarnya.
“Bagaimana dengan mainanku?” Darius bisa mendengar beberapa teriakan di tempat Mark.
[“Ah, aku memberinya banyak obat bius. Sejak dia siuman di jam datangmu sebelumnya, dia merepotkan.”]
Dagu Darius mengeras. “Kenapa kau membiusnya? Tidakkah kau mengerti apa yang harus dilakukan jika mainanku berulah?”
[“A-aku pikir kau tidak ingin mainanmu cacat seperti terakhir kali.”]
“Sudahlah.” Darius memutus panggilan itu sepihak. Astaga, bagaimana bisa dia bertahan dengan Mark selama 18 tahun dengan sifatnya yang bertolak belakang itu?
*
Butuh waktu seperempat jam bagi Darius bersiap-siap dan menghilangkan rasa mualnya. Pria itu sudah siap dengan pakaian serba hitam lengkap dengan coat dan topinya, kelihatan lebih muda dari kenyataan usianya nyaris berkepala tiga beberapa tahun lagi.
Di lantai parkir, sudah stand by supir yang kemarin mengantarnya. Darius tidak peduli di mana pria tua itu tidur dan menunggunya berjam-jam.
Tempat eksekusi Darius hanya memakan waktu 17 menit menggunakan mobil Koenigsegg Ccxr Trevita. Lokasinya yang cukup menjorok ke daerah minim penduduk mempersingkat waktu tempuh sehingga tidak perlu terjebak macet.
Begitu Darius sampai, dia mengumpat karena lupa membawa kaca mata hitamnya mengingat hari mulai terik. Untuk ke gedung itu memang tidak bisa sepenuhnya dimasuki kendaraan roda empat, sekitar 4 meter ditempuh dengan jalan kaki. Darius menolak pakai payung, katanya terkesan banci.
Gedung berlantai dua itu tampak tua dan tidak terurus dengan dindingnya yang mulai ditumbuhi lumut dan tanaman merambat. Tapi di dalamnya sangat kontras, begitu terawat oleh orang-orang suruhannya.
Kedua orang yang menjaga di luar bangunan membungkuk saat Darius mendekat. Pun sama seperti orang-orang yang menjaga di dalam.
“Bagaimana mainanku?” kata Darius begitu memasuki basement. Sebuah ruangan gelap yang hanya bermodalkan sebuah lampu ber-watt rendah sebagai pencahayaan.
Mark menyibak sebuah tirai yang terhubung dengan ruangan lain. Seorang pria terduduk lesu di kursi besi dengan tubuh terikat dan mulutnya disumpal. Matanya membelalak dan menggumam tak jelas. Beberapa orang Darius juga ada di sana.
Darius menyeringai. “Well, well, coba kita lihat siapa penghianat ini.” Mark berinisiatif menyerahkan sebuah dokumen. “Miraquel Alfarizi,” desisnya.
Tubuh ringkih Alfarizi bermandikan keringat. Dia sudah lemas diberikan obat bius dan disetrum karena banyak memberontak. Dia tahu bagaimana kejamnya Darius, tapi masih berani mencuranginya.
“Oh, jadi kau ikut andil dalam pengkhianatan di b******k itu. Menarik.” Lidah Darius bermain di rongga mulut, kebiasaannya jika terlalu bersemangat. “Ayo kita lihat seberapa tangguhnya dirimu, Alfa.”
(Skip, adegan gore. Komen dulu skuy kalau mau digamblangin kesadisan seorang Darius D. Kyle)
Darius berdecak begitu Alfa menghembuskan napas terakhirnya setelah pisau menghunjam d**a kiri pria itu. Seharusnya dia masih bisa bertahan beberapa menit, tapi luka-luka lain juga masih basah. Alfarizi payah, tidak menyenangkan. Beraninya pria itu berkhianat.
Sementara di belakang, Mark menahan diri untuk tidak muntah. Sesering apa pun dia melihat kebrutalan Darius, itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap lumrah. Sial, bosnya sudah mampu mengendapkan sisi iblisnya selama setengah tahun, apa yang membangkitkannya kali ini?
Darius menarik pisaunya dari tubuh tak bernyawa Alfa. Hampir saja dia kembali menerjang wajah Alfa, tapi tidak, dia perlu agar wajah itu tetap dikenali—sebagai peringatan.
“Bereskan. Mark, ikut aku,” singkat Darius datar. Berlalu keluar ruangan.
Sebelum mengikuti bosnya, Mark melihat jijik tubuh Alfa yang rusak. Banyak sayatan, kaki kirinya terpisah, lehernya membiru, dan luka menganga di d**a kirinya. Darius terhitung cukup baik membunuh pria itu, tidak membiarkannya tetap hidup untuk disiksa.
Namun, Darius sudah tahu informasi tentang Peter. Tidak lama lagi, mereka pasti akan kembali ke tempat eksekusi ini.
“Bagaimana transaksi?”
Mark gugup.
Darius melirik di balik kaca matanya. “Bagaimana transaksi, Mark?”
“Ehm, actually, we got a little problem, Dar.”
“You know an answer i want to hearing, right?”
“Mark?” ulang Darius.
“Uh, everything’s good,” dusta Mark terpojok. Darius tidak mau mendengar yang sebenarnya, terlebih kekasihnya dalam bahaya.
“I’m satisfied with your work.” Darius menyeringai, lalu tanpa aba-aba mencengkeram kerah Mark. “But, you know i hate a liar.”
Mark tercekat. Tangannya menggapai-gapai Darius agar kerahnya dilepaskan. Mark bisa mencium bau darah pada kemeja Darius yang terkena cipratan Alfa. Kelereng hitam legam Darius terpampang tajam di depannya. Darius tidak mungkin membunuhnya, ‘kan?
“Ada beberapa transaksi ... gagal,” ujar Mark terbata-bata.
Darius mendesis. “Kenapa?”
“Mereka dengar soal—Peter.”
“Pria itu benar-benar sialan,” umpat sang bos lalu melepaskan tekanannya pada leher Mark, membuat pria itu meraup napas sebanyak mungkin. “Tapi kau tetap akan kuhukum, Mark. Kau payah.”
“Oh ya. Dan cari tahu tentang reporter bernama Alena—atau apa namanya. Dia mewawancaraiku kemarin. Jangan sampai dia macam-macam.”
***
“Omong kosong, Alena. Darius itu spesimen pria langka yang tidak ada bandingannya tau.”
Pagi-pagi di hari liburnya—ralat: cuti pra pemecatan, Alena sudah direcoki dengan tetangga kontrakannya, Hanin. Alena menceritakan semuanya tentang wawancara kemarin. Wanita itu kebetulan bekerja di DK groups. Alena lupa bagian apa, yang jelas Hanin katanya selalu melihat Darius kalau pria itu ke kantor. Yang artinya wanita itu tidak turun langsung menjual furniture perusahaan.
Alena menjitak Hanin yang ngemil kripik. “Kamu itu di pihak siapa sih, Nin? Aku atau bos kamu itu?”
Jari Hanin mengetuk-ngetuk dagunya. “Ehm, kamu sih. Tapi pak Darius juga.” Hanin cengar-cengir. Alena mendengus.
Mereka dekat semenjak Alena pindah satu setengah tahun yang lalu untuk mencoba peruntungannya jadi wartawati. Hanin itu orangnya supel, ceria dan kurang lebih tidak tahu malu. Alena bukannya kesulitan berteman, tapi di kota besar seperti ini perspektifnya kira mengutamakan individualisme. Jadi dia tidak keberatan tidak akrab dengan siapa pun.
“Al, nyalain kipas dong. Gerah nih,” titah Hanin mengibas-ngibas ujung kaosnya.
“Yee, gak tau diri kamu.” Tapi tetap saja Alena menyalakan kipas angin portable-nya. Daerah ibu kota memang tiada hari tanpa panas.
Hanin anteng dengan setoples kripik dan tontonan di teve Alena. Alena menyapukan pandangannya pada ruangan kontrakan yang mungkin akan ia tinggalkan.
“Nin.” Hanin menoleh. “Nanti kalau aku gak lagi tinggal di sini, jaga kontrakan ini ya. Kalau yang sewa cewek, bilangin jangan jorok. Kalau cowok, asal cogan gak papa deh.” Alena terkekeh di ujungnya.
Tapi Hanin tidak merasa itu lucu. “Apaan sih, Al. kamu emangnya mau ke mana?”
Alena menghela napas dalam. “Aku ini anak rantau, Nin, gak selama di sini. Lagian jadi reporter gak ada masa kontrak selamanya.”
Hanin melompat dari kasur Alena, duduk di bawah dengan wanita itu. “Kamu dipecat?” Alena mengangguk dengan wajah murungnya. “Kok bisa?”
“Gara-gara bos idaman kamu itu.”
“Pak Darius?! Gara-gara wawancara kamu itu?!”
“Jangan sebut namanya deh,” gerutu Alena.
Mulut Hanin menganga. Dia cengo sambil melihat Alena membuat wanita itu risik dan berujar, “Apa deh, Nin.”
“AAA ALEN!!” Hanin histeris dan memeluk Alena begitu erat. Wanita dengan rambut panjang disanggul itu menangis keras sekali. Tangan Alena mendorong Hanin, tapi dia rengkuhannya terlalu kuat sampai napasnya sesak.
“Ha-nin.”
“Oh, maaf.” Hanin spontan melepas Alena yang langsung meraup oksigen sebanyak mungkin. “Terus kamu mau kerja apa, Al?”
Alena yang masih tersengal-sengal menjawab, “Gak tauh.”
***
A.N :
No comment deh.
Oke, see you tomorrow.