“MENYADARI sesuatu, Alena?” Pria yang ternyata bukan Jason itu entah sejak kapan membungkuk di samping Alena, begitu dekat hingga dia bisa mencium bau alkohol dari mulutnya. Alena bahkan bisa melihat tangannya sepergelangan sampai siku yang disusupi urat tampak menonjol dan kekar.
Alena hendak berdiri, tapi pria itu mencengkeramnya agar tetap duduk—mengurungnya. “Ma-maaf. Saya kira Anda Jason.” Alena gelagapan. Astaga, dia menyesal sudah memuji pria itu tadi.
Tangan pria itu terulur ke arah meja, mematikan alat perekam ponsel Alena. Matanya menusuk bola mata coklat wanita yang dia sudutkan sedemikian rupa. “Jadi, kau pikir aku bukan Jason, lalu siapa aku?”
“S-saya tidak tau,” kata Alena cepat dan gugup.
Dirut perusahaan itu berdecak berkali-kali, mengejek Alena yang tak berdaya dan tampak ketakutan. Matanya meneliti busana Alena dengan tatapan menilai. “Kau tidak memenuhi kode etik jurnalistik, Nona. Kau membuatku meragukan kalau kau reporter sungguhan.”
Alena melotot tidak terima. “Apa maksudmu? Aku mematuhi semuanya. Tidak ada yang kulewatkan.”
“Pakaianmu dan caramu ini ... sungguh tidak profesional.” Matanya meruncing. “Informasimu juga tidak tersedia di internet. Katakan, untuk pihak mana kau memihak?”
“A-apa?” tanya Alena. Dia semakin terjebak oleh tubuh atletis pria ini. “Aku hanya wawancara karena memang itu pekerjaanku.”
“Kau—”
“Oh ya? Boleh—astaga, Darius!”
Pekikan seseorang itu membuat Alena lega terbebas dari kurungan karena pria itu menjauhkan tubuhnya setelah berdecak sebal. Kancing jas-nya terbuka, yang selanjutnya ditanggalkan ke kepala sofa. Kinerja jantung Alena masih berdetak lebih cepat dari biasanya, sehingga dia belum menyadari siapa orang yang menginterupsinya dari terkaman.
Matanya membelalak tak lama kemudian. Da-Darius? Sang adik.
“Mau apa kau ke sini?” tanya Darius terdengar kesal pada seseorang yang baru datang itu.
Alena mendongak kemudian, ke arah pintu. Matanya membesar, syok, begitu juga dengan salah seorang di sana. Mungkin dia sama kagetnya karena reporter biasa seperti Alena bisa di sini. Dua orang itu, satu di antaranya Alena kenal. Sialan! Kebetulan macam apa ini?
“Seharusnya aku yang bertanya, tidak biasanya kau mau menggantikanku di atas podium? Ada apa dengan kali ini? Dan siapa dia?” balas si pria yang bersama Clarissa. Ya, reporter wanita yang siang tadi merendahkannya.
Diam-diam Alena berdecak. Clarissa tampak seperti wanita malam dari pada seorang wartawati dengan pakaian minim hitamnya itu. Sama sekali tidak mencerminkan citra baik seorang reporter. Astaga, Alena malu sendiri menjadi rekannya.
Darius memutar jengah bola matanya, bersandar di dinding. Sebelah kakinya diangkat membentuk sudut 45 derajat berdampil ke dinding. “Bukankah sejak dulu memang seharusnya aku yang berbicara? Kau hanya beruntung si tua bangka itu berbaik hati padamu,” tukasnya.
“Darius!”
“Pak Jason, aku butuh dokumentasi untuk beritaku,” sela Clarissa terdengar merengek, mendelik pada Alena sementara wanita itu terkejut. Jason juga tampaknya tidak mempersalahkan Clarissa yang bergelayut manja padanya.
Wait. Kepala Alena berdenyut-denyut. Bahkan rasanya akan meledak. Terlalu banyak hal yang tidak dia mengerti di sini. Ini gara-gara Jo tidak ikut jadi dia kebingungan sendirian.
“Ja-Jason?” gumam Alena.
Darius yang mendengarnya menyeringai. Ah, wanita malang itu terjebak kebodohannya sendiri. “Oh, kau ada tamu, Jason.” Dia menekan nama kakaknya dengan nada mengejek.
Jason mengernyit. “Benarkah? Aku tidak merasa punya janji.” Atensinya beralih pada wanita yang bungkam sejak kedatangannya. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya itu salah satu tamu perusahaan. “Kau mencariku, Nona?”
Alena spontan berdiri. ‘Kan, dia sudah berfirasat kalau interview ini tidak akan berjalan lancar. “Y-ya, Jonathan membuat janji wawancara, ‘kan?”
“Iya. Betul ‘kan, nona Clarissa?” Clarissa mengangguk malu-malu.
“Apa? Tapi, Pak, saya rekannya Jonathan,” protes Alena. Dia melirik Clarissa yang tidak tahu malu sudah mengaku-aku.
Jason terkejut. “Benarkah?” dia melihat bergantian Clarissa dan Alena. “Tunggu. Saya tidak mengerti. Jadi, si antara kalian berdua, siapa rekannya Jonathan?”
“Aku,” kata Alea dan Clarissa bersamaan.
Darius terkekeh rendah menyaksikan drama menggelikan itu. “Kau sudah seperti tukang selingkuh, Jas.” Entahlah, Darius merasa tidak keberatan bersikap akrab dengan kakaknya kali ini. Dua setengah kaleng alkohol mempengaruhi kesenangan dan kesadaran Darius.
“Oh, ayolah.” Jason menyugar rambutnya.
“Pak, dia berbohong. Aku rekannya Nathan. Lagi pula kita ‘kan sudah wawancara tadi. Aku hanya butuh dokumentasi untuk beritaku,” kata Clarissa memelototi Alena. Tidak, dia sudah bertahun-tahun mengincar keluarga Kyle untuk beritanya. Kali ini, hanya untuk sebuah foto, Clarissa terpaksa menyebut nama Jonathan si kameramen payah itu.
“Clar, apa-apaan sih? Gak usah bohong.”
“Bohong apa sih? Pak, jangan percaya dia.”
“Tidak bisakah satu dari kalian jujur?” tanya Jason kebingungan menyela Alena dan Clarissa yang berdebat.
Baik Alena maupun Clarissa saling menyalahkan meskipun kita tahu siapa yang benar. Alena yang tanpa sadar bersikap seolah-olah dia butuh Jason untuk mempercayai alibinya, justru membuat Jason semakin bingung. Clarissa dan Alena sama-sama tidak membuktikan pihak lain lebih kuat.
“Dia yang benar,” kata Darius menunjuk Alena.
Clarissa melotot tidak terima. “Apa? Aku yang benar.”
“Bagaimana kau tau, Darius?” kata Jason mengabaikan protesan Clarissa.
Pria yang setengah teler itu mendekati ketiganya. “Dia,” Darius menunjuk Alena dengan dagunya. “Benar. Kau tidak perlu tahu alasannya.”
Jason yang tak puas berkata, “Tentu aku perlu. Kau—”
Sebelum Jason menyelesaikan ucapannya, Clarissa sudah terlebih dulu pergi keluar terburu-buru. Masa bodo dengan dokumentasi, dia tak ingin hasil wawancaranya ini diambil jika terbukti dia berbohong. Sementara itu, Jason mematung—agak terkejut, Alena mendesah lega dan Darius datar.
Jason beralih pada Alena. “Well, jadi kau rekannya Jonathan?” Alena mengangguk. “Ah, aku merasa tidak enak ... siapa namamu?”
“Alena.”
“Alena. Kudengar kalian sangat memerlukan laporan ini. Ah, bodohnya aku.”
“Kalian memang bodoh,” komentar Darius acuh. Dia agak limbung, memutuskan untuk duduk di sofa yang tadi diduduki Alena.
“Jadi, bagaimana, wawancaranya masih perlu?” tanya Jason setelah memelototi adiknya.
Alena melirik jam dinding. Sudah jam 9, akan sulit menemukan transportasi jika dia tertahan lebih lama. “Saya rasa tidak perlu, Pak. Sudah larut. Lagi pula, Clarissa pasti akan memuat beritanya. Lebih baik, saya pamit.”
“Kalau begitu biar kuantar. Ayo.” Jason meraih sebuah kunci di gantungan kunci dekat pintu.
“Ah, tidak perlu. Aku akan naik taksi,” tolak wanita itu.
“Tidak baik wanita berkeliaran malam-malam. Ayo, aku juga hendak pulang.”
Akhirnya, dengan sedikit basa-basi, Alena menerima tawaran itu. Dia tidak mau sibuk berpamitan dengan Darius. Citra pria itu sudah buruk di matanya. Dasar pengaku!
Singkatnya, Alena diantar sampai kontrakannya oleh Jason. Ya, terbukti Jo memang benar, pria itu menyenangkan—jauh berbeda dengan Darius. Mereka juga sempat mengobrol ketika sudah di depan kontrakan Alena. Syukurlah, lampu sekitar kontrakannya sudah padam.
“Alena.” Jason mencekal tangannya ketika hendak keluar. “Tenang saja. Tak lama lagi, kau akan dapat berita yang spektakuler.”
Jujur, Alena berharap banyak dari ucapan Jason. Dia tidak ingin jadi wartawan lepas. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Dia tidak ingin adiknya kesulitan mengenyam bangku pendidikan. Ini semua karena Darius, lihat saja!
***
“Baiklah, Darius. Bisa kau jelaskan kenapa kau berpura-pura jadi aku pada wanita tadi?” Alena sudah menceritakan semuanya pada Jason di perjalanan tadi.
Darius yang baru saja mandi mengenakan bathrobe hotel mendengus. “Tukang adu,” umpatnya. Pria itu tampak lebih segar setelah Jason tinggal. “Pulang sana.”
“Kau mengusirku?” Jason seolah tersinggung, tapi malah berbaring di kasur sebelah Darius yang dipandangi tak suka pria itu.
“Ya.”
“Jangan mengalihkan. Kenapa kau berpura-pura jadi aku?”
“Tidak ada.”
Darius pura-pura—sebenarnya dia memang—sibuk. Dia malas berkata gamblang alasannya. Karena pertama, dia penasaran bagaimana diwawancara karena keluarga Kyle memiliki pantangan untuk ‘mejeng’ di sampul berita. Kedua, bisa saja dia dapat sebuah informasi tentang sesuatu, tentang apa yang dikatakan publik. Ketiga, dia benci kakaknya.
Jason melirik ke arah laptop adiknya yang menampilkan sebuah grafik yang dibagi dua dengan room chat. “Jangan terlalu keras bekerja, Darius. Mama akan sedih jika melihat kau terlalu gila kerja dan mengabaikan diri sendiri.”
Gerakan jari-jemari Darius berhenti menekan keyboard. Dia terhenyak sekejap sebelum kembali menguasai dirinya. “Bilang saja kau merasa terancam.”
Jason mendesah berat. Dipandangi adiknya itu penuh simpati. Darius memburuk semenjak orang tua mereka bercerai dan dia ikut papanya. Umurnya 18 tahun, tapi dia bersedia menjalankan bisnis ilegal. Kuliahnya berhenti, sikapnya semakin menghawatirkan. He is trully different.
Dia menjelma menjadi iblis didikan keluarga Kyle yang tidak segan melukai jika merasakan bahaya.
“Di mana Mark?”
“Bussy,” jawab Darius singkat tidak mau diganggu.
“Ohh,” Jason mengangguk-angguk. “Aku mendengar soal rekanmu itu. Peter?” Darius memperingatinya tajam. Keberatan nama pengkhianat itu terdengar.
“Oke, oke. Jadi, benar kasusnya seserius itu?”
“Keluar,” titah Darius datar. Dia mudah merasa terganggu, dan kakaknya itu seharusnya mengerti dia bukan lagi Darius dulu yang bisa mentoleransi apapun. “Kita tidak pernah akur. Jangan lupakan itu.”
“Tapi sejam yang lalu kau menerimaku, Darius.”
Muak, Darius meraih kerah kemeja putih Jason dan menariknya sampai keluar kamar. Dia tidak mempedulikan kakaknya yang terseok-seok lantas menyentaknya sesampai di luar. “You kill our mother,” desisnya tajam sebelum membanting pintu berkata sandi itu. Beberapa orang menyaksikannya, tapi tak berani ambil sikap karena merasa bukan urusan mereka.
Jason bergeming. Setelan rapinya kusut dan celananya kotor karena duduk di lantai. Perasaannya memburuk. Darius membencinya karena alasan yang bahkan tidak pernah dia lakukan. Jason menatap lekat pintu di depannya, berharap ada tarikan dari dalam. Akan tetapi, itu mustahil dilakukan seorang Darius.
Di balik pintu, Darius sama kacaunya dengan Jason. Dia selalu keberatan dengan benci ini, tapi tanpa sadar justru membesarkannya. Bagaimanapun, Jason adalah kakaknya. Salah satu sosok yang pernah Darius kagumi. Bahkan sampai sekarang. Dia hanya iri.
Dia menekan earphone wireless di telinganya. “Mark, aku ingin bersenang-senang. Siapkan satu b******k untuk kuhias.” Seringaian tercetak di bibirnya. Malam ini, Darius kelam kembali muncul ke permukaan setelah sekian lama dipendamnya.
***
A.N:
Hiyyy, gimana reaksi kalian kalau ada di posisi Alena?
Kesan kalian ketemu Jason D. Kyle? Pastinya tersihir dengan kegantengan sekelas Shawn Mendez, OMG. Kalau Darius ‘kan ganteng-ganteng wajahnya dingin kayak Dylan Wang. Wait, apakah kalian tau Dylan Wang? Meteor Garden yang versi kemarin tuh, 2018 apa ya? Eh, bukan, tau deh. Pokonya Dylan Wang.
Oh ya, apakah kalian penasaran arti D dalam nama D. Kyle? Kira-kira artinya apa ya?
Oke, see you tomorrow.