ALENA bergerak tak nyaman sejak tiba di ballroom hotel dengan pakaian yang membuat pergerakannya terbatas, walau sedikitnya dia beruntung menyamai style dengan dress code pemilik pesta yang katanya Jo salah satu calon pewaris DK groups itu. Jadi yang bisa dia lakukan hanya duduk di kursi tinggi sisi ruangan bersama Jo yang mengenakan tuxedo lengkap dengan jasnya, menunggu pelayan yang lewat membawa makanan kecil.
“Jo, kamu yakin pak Jason itu mau kita wawancara?” tanya Alena ke sekian kalinya. Pesta itu begitu elegan dan beberapa tamunya publik figur terkenal, dia tidak percaya mendapat kesempatan sebesar itu.
Pria yang meneguk satu gelas kecil wine itu menoleh. “Percaya aja, Alena. Siapkan pertanyaannya, oke?”
Perkataan Jo tidak menyurutkan sedikit pun kegelisahan Alena. Dia masih merasa asing—tidak ada yang dia kenal selain Jo—dan tak nyaman dengan orang-orang di pesta itu, jenis orang kaya yang suka menghamburkan uang. Dekorasi pesta juga tampak berlebihan hanya untuk anniversary perusahaan. Bahkan sejak memasuki ruangan, para tamu sudah disuguhi kue putih yang tinggi, besar dan puluhan lapis.
“Dengarkan aku,” kata Jo, Alena memperhatikan. “Pria yang kutunjukkan tadi, yang namanya Jason itu akan menunggumu di lantai tiga untuk diwawancarai. Ingat-ingat tentang informasi yang kuberikan dan tanyakan pertanyaan yang sudah kubuat. Kau bisa, ‘kan?”
Alena mengangguk. “Kita pergi sekarang?”
Tadi sehabis dari kafe, Jo memberikan kliping lain dari yang ditunjukkannya. Bundelan kertas yang dibacanya selama setengah jam itu berisi seluk beluk informasi tentang Jason D. Kyle dan bisnisnya. Pria itu juga sudah membuatkannya pertanyaan di secarik kertas terlipat, tapi katanya tidak boleh dibuka sampai waktu wawancara tiba.
Jo melirik arlojinya lalu turun dari kursi. “Maaf, Alena. Aku rasanya tidak bisa menjadi kameramenmu saat ini.”
Mata Alena membesar. “Apa?!” pekiknya dengan suara keras, mengundang perhatian orang-orang. Hanya sekejap setelah Alena bergelagat meminta maaf. “Kamu gila ya? Terus gimana aku buat liputan kalau kameramennya gak ada?” katanya lagi, kali ini dengan berbisik.
“Kita bukan buat liputan. Kita buat blog untuk ikut seleksi berita mingguan. Inget?”
“Tapi kamu juga harus inget kalau kita perlu menyertakan bukti dari wawancara ini. Kamu mau berita ini dianggap hoaks?”
Jo menghela napas sebelum mengeluarkan sebuah kamera polaroid dari saku jasnya. “Nih.”
“Hah? Kamu gila, Jo? Kenapa harus kamera polaroid, sih?” kesal Alena. Sejak awal dia tidak merasa hal ini akan berhasil. Sekarang Jo malah main-main. Kamera polaroid?! Tolong, Alena enggak mau melempar gelas wine tadi ke Jo.
“Kalau kamu pake kamera bagus, bisa aja ada yang kira kita ambil dari Pinterest.”
“Ya tapi gak pake kamera ginian juga. Ish!” Alena bersedekap d**a sambil membuang muka dan cemberut. Mood-nya rusak, bahkan dia tidak yakin masih bisa tersenyum apabila wawancara ini tetap terjadi.
Dia berdecak. Alena harus, tidak ada pilihan lain lagi. “Ya udah, gampang. Aku bisa pake kamera hape atau perekam suara nanti,” sinisnya.
Ruangan dengan tinggi yang mungkin bisa dimasuki seekor jerapah itu semakin ramai oleh cakap-cakap para tamu, terkecuali Alena tentu saja karena dia sendirian, bahkan dia sendiri tidak tahu bagaimana Jo bisa mendapatkan sebuah undangan eksklusif ini. Sampai berpuluh-puluh menit kemudian dengan Alena yang nyaris mati bosan tanpa Jo—pria itu pergi setelah memberinya secarik kertas, barulah acara itu dimulai oleh seorang mc wanita.
Yah, Alena tidak mau pusing-pusing mengingat tahapan acara yang amat membosankan itu, dia hanya ingat satu orang yang akan jadi narasumbernya. Jason D. Kyle. Keningnya mengernyit sepanjang pria itu menyampaikan beberapa katanya. Oh, benar-benar beberapa kata. Hanya: “Malam. DK groups akan tetap berjaya sampai kapan pun. Jangan macam-macam.”
Hell, siapa yang akan menggunakan kalimat seperti itu di hari bahagia perusahaannya? Seharusnya Direktur Utama itu sudah sering tampil di depan umum, tidak wajar sambutannya seperti itu sebagai penerus perusahaan yang kesannya ancaman. Lagi pula, itu jelas bertentangan dengan deskripsi Jonathan tentang pria itu.
“Dia orangnya ramah, jadi bersikap sebaik mungkin.” Nah, siapa yang salah di sini?
Jadi, Jason itu di mata Alena: tampan—wajib dinomor satukan dari mata wanitanya, tubuhnya cocok jadi model celana dalam, kulitnya putih pucat mengingatkannya pada Edward Cullen di Twilight, dan wajahnya tampak tak ingin disentuh. Objek halu sempurna setiap wanita lajang.
Jelas, bukan hanya Alena yang katakanlah terpesona. Nyaris seluruh wanita di sini melihat penuh minat ke arah pria berjas hitam itu yang baru saja turun dari podium. Pekikan terdengar sepanjang langkah kaki jenjang itu menapaki lantai marmer sampai pria itu keluar ballroom.
Oh, lantai tiga! Alena lekas membereskan dompetnya yang berisi sejumlah uang untuk transportasi, ponsel, dan secarik kertas dari Jo. Cukup sulit keluar dari ruangan berkapasitas sekitar 200 orang itu. Alena harus mendengar berbagai makian orang ‘sok’ pemilik bumi dari versi menggerutu sampai mengutuk.
Gaun dengan renda di pinggang ini menyulitkan Alena memasuki lift yang sama dengan Jason. Jadi, dia memasuki bilik lift sebelah yang kebetulan langsung sampai begitu Alena menekan tombolnya.
“Cepet, cepet,” gumamnya gregetan. Dia menekan berkali-kali lift agar tertutup di lantai satu padahal ada orang yang hendak naik. Lift kembali berhenti di lantai dua, tapi dia malah melihat punggung tegap Jason di sana. Tunggu, bukan lantai tiga? Tapi kata Jo tadi .... Ah, masa bodoh, ini masalah pekerjaannya.
“Pak Jason!” panggil Alena begitu lift terbuka dan untungnya dia mendapati itu masih berada di lorong lantai dua yang nyaris tidak ada orang—belum masuk ke kamar hotel. Lekas dia berlari karena pria itu hendak melanjutkan jalannya dan mencekal tangannya. “Pak, saya rekannya ... Jonathan,” katanya terengah-engah.
Pria itu mengernyit sebelum menghempaskan cekalan Alena, wajahnya tampak terganggu. “Jonathan?” Nada bicaranya terdengar bingung dan dingin di waktu bersamaan.
Alena mengangguk. “Iya, kami ‘kan hendak mewawancarai ... Bapak.” Wartawati itu menumpu tangannya di lutut, butuh waktu untuk menegakkan punggungnya. “Maaf,” ujarnya saat menangkap tatapan tajam Jason.
Jason melanjutkan jalannya dan Alena percaya itu adalah simbol bahwa dia diterima. Setidaknya dia tidak lagi terlihat terganggu mengetahui Alena mengikutinya.
Oh, tadi Alena sudah membuka kertas yang diberikan Jonathan. Berisi:
1. Jason suka orang yang berpengetahuan luas, jadi cobalah untuk banyak bicara.
2. Dia orangnya ramah, tapi jangan mudah tertipu keramahannya.
3. Singgung tentang adiknya, sebanyak mungkin.
Alena inisiatif mencoba mengakrabkan diri, “Saya dengar DK groups itu berdiri sudah tiga puluh tahun ya, Pak? Bagaimana bisa tetap menjadi perusahaan teratas Indonesia selama itu? Oh ya, ke mana pak Kyle? Banyak rumor yang bilang bahwa pak Kyle itu sebenarnya ma—”
Ucapan Alena terhenti begitu pria itu menoleh dan iris matanya menghunuskan sinyal permusuhan. Alena menciut, takut, waspada. Itu adalah satu tatapan pria yang akan diingatnya sampai kapan pun karena di waktu itu, rasa takut Alena melebihi dari ketakutannya pada kegelapan dan mata pisau. Banyak yang menyanjung bahwa Alena itu wartawati yang berani, tapi dia meragukannya saat ini. Dia ketakutan hanya di hadapkan sebuah tatapan tajam.
“Katakan.” Itu hanya satu kata, tapi membuat perasaan Alena campur aduk.
“I-itu ....” Dia menghela napas dalam, mengubur keinginannya berlari ke lift dan pulang ke kontrakannya. Demi Andira—adiknya. “Banyak rumor mengatakan kalau pak Kyle itu sebenarnya ... masuk rehabilitasi.”
Alena dapat mendengar napas tertahan yang dihembuskan oleh pria di depannya ini. Entah hanya perasaannya saja, atau memang suasananya tidak semengintimidasi tadi. Jason agak lebih nyaman. Wanita itu masih menunduk, tidak berani mendongak.
“Baiklah.”
Alena menghela napas lega, hembusan napasnya yang paling dia syukuri. Wanita itu memberanikan diri mendongak, tetap berusaha menjauhi terjadinya kontak mata. “Jadi ... interview-nya, Pak?”
Pria itu menekan sesuatu di telinganya, yang belakangan Alena sadari Jason menggunakan sebuah alat komunikasi tanpa kabel. “Cancel,” katanya singkat lalu kembali menatap Alena lekat-lekat. “Siapa namamu?”
Alena menegak ludahnya. Dia termasuk wanita beruntung dari para tamu di lantai bawah itu karena bisa menemui seseorang yang dikaguminya secara eksklusif. Holy s**t, Jason jauh lebih fantastis dilihat sedekat ini. “Alena Widya Astara.”
Jason tersenyum tipis, tapi Alena merasa itu jenis senyum kaku yang dipaksakan. “Baiklah. Ayo, ke kamar yang sudah ku pesan.”
***
Serius, Alena bukannya norak atau tidak pernah ke hotel sebelumnya. Meskipun keluarganya tidak seberkecukupan itu untuk bolak-balik check-in hotel, tapi pekerjaannya sebagai reporter beberapa kali memberikannya fasilitas sewa hotel ketika ada liputan di luar kota. Namun, siapa sangka hotel ini jauh berbeda dengan semua hotel yang pernah Alena singgahi.
Kamar hotel itu super luas, super lengkap, super nyaman. Alena yakin jika ruangan ini dua kali lebih besar dari kamarnya. Ada satu ranjang king size, satu set sofa, dua buah lemari—yang satu semacam walk in closet, dapur dengan mini bar, dan sebuah kamar mandi yang Alena yakin disertai bathub. Alena sempat melongo melihat fasilitas super-super itu.
Jason berdeham, menyadarkan Alena yang terbengong di depan pintu. Wajah wanita itu bersemu sampai telinga karena malu ketahuan ‘ndesonya. Dengan kikuk Alena duduk di single sofa sementara Jason membuka sebuah kulkas dekat mini bar.
“Minum?” tawar Jason mengangkat sebuah minuman kaleng.
Alena menggeleng, tahu maksudnya itu menawarkan bir. Jo pernah mabuk dan Alena ingat itu minumannya. Rekannya itu bahkan rela menghabiskan seperempat dari gajinya hanya untuk membeli sekaleng bir. “Aku tidak minum. Terima kasih.”
Pria itu mengendikan bahunya dengan tetap membawa dua bir dengan sebotol air mineral. Jason memperhatikan Alena yang mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan fitur rekam suara serta secarik kertas lecek. Dia menegak bir sampai setengahnya.
“Ahh,” desahnya merasakan bagaimana minuman itu memberikan efek terbakar pada tenggorokannya. Akan tetapi, di situlah Jason merasa puas hingga kecanduan meminumnya lagi dan lagi. Jenis panas yang bisa membuatnya tenang dari semua beban pikirannya.
Alena melihatnya disertai kernyitan. Dia masih heran ada saja orang yang menikmati minuman itu, padahal kata Jo alkohol terasa panas ketika diteguk. “Ehm, bisa kita mulai?”
“Mulai saja,” kata pria itu menghabiskan sisanya. Alena khawatir Jason terlalu mabuk untuk diwawancarai dan mengacaukan sesi interview.
“Apa pak—”
“Just call my name.”
Alena terdiam sebelum melanjutkan. “Apa kamu mabuk ..., Jason?”
Jason mengerang ketika duduk tegak, tadi dia bersandar. Tatapan tajamnya kembali. “Just call my ....” Pria itu bungkam sejenak, membuat Alena agak was-was. “Oh, Jason.” Dia kembali bersandar. “Tidak. Kau bisa lanjutkan.”
“Baiklah.” Alena menghela napas. Dia mengeraskan suaranya agar nanti terdengar saat rekamannya diputar ulang untuk di-check pihak penyeleksi. “Oke, hari ini tanggal dua puluh satu Februari, saya Alena Widya Astara dan narasumber saya pak Jason D. Kyle. Kali ini, topik yang mendasari saya mewawancara calon penerus DK groups ini adalah berbincang dengan pengusaha muda.”
Jason menyeringai diam-diam. Jadi sebenarnya siapa calon penerus DK groups yang dipandang semua orang?
Alena mengulas kembali beberapa informasi yang dimuat Jo dalam klipingnya kemarin. Dia mengungkit tentang riwayat, jalan karier, hingga keluarga Jason yang diingatnya. Pria itu tidak banyak merespons dengan kata-kata, paling responsif ketika menanggapi tentang moto bisnisnya: “No mercy for a betrayer.”
“Oke, pertanyaan pertama. Menurut Anda, seperti apa karyawan DK groups yang membawa nama perusahaan besar di Indonesia ini menjadi perusahaan yang diperhitungkan?”
“Cekatan, disiplin, cerdas,” jawab Jason mantap.
“Selanjutnya. Dalam tiga puluh tahun, DK groups hanya mengalami nilai saham anjlok dua kali saja. Bagaimana bisa DK groups tetap kokoh saat itu padahal kondisinya sedang krisis? Apakah ada bisnis lain di luar bisnis furniture dan resort?”
“Ya.”
“Bisa disebutkan?” Alena berharap Jason mau berbaik hati memberi beritanya peluang untuk jadi berita mingguan, tapi jelas Jo salah besar tentang pria berumur 25 tahun ke atas itu.
“Tidak.” Satu kata itu memupuskan senyum Alena.
“Oh, baiklah. Selanjutnya—” Ah, dia baru ingat tentang arahan Jo. Satu hal belum ditanyakannya. “Bisakah Anda jabarkan sedikit mengenai adik pertama Anda?” Sebenarnya Alena merasa aneh harus membawa adik Jason, tapi dia bisa apa? Jo yang mengatur semuanya. Semoga ini tidak melanggar kode etik apa pun.
Alis Jason menukik tajam. “Kurasa adikku tidak ada hubungannya sama sekali dengan hal ini.”
Wartawati itu menggaruk kepalanya kikuk. “Ah, hanya sebagai informasi tambahan.”
Putra dari Mr. Kyle itu terjaga sepenuhnya dari pengaruh bir. Dia bangkit, lalu menumpukan lengannya pada lutut—mengintimidasi Alena, ditambah dengan tatapan elangnya. “Sekarang aku yang bertanya. Tahu apa kau soal adikku?”
Alena bungkam. Ruangan ini rasanya panas, terutama gaun koktail itu berkain tebal. Bola matanya bergerak-gerak. Apa harus dia mengatakan semua informasi dari kliping itu? Tapi itu gila, informasi yang gila. Terutama jika hal itu benar.
“Ehm, aku yakin nama belakangnya juga D. Kyle.” Alena tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana dan merelakskan tubuhnya yang terasa kaku.
Wajah Jason berubah datar. “Hanya itu?” Alena mengangguk ragu-ragu melihat perubahan yang dirasakannya. “Keluar.”
Wanita itu terhenyak. “Maaf?”
“Keluar,” ulang Jason dengan nada dingin. Alena bergeming, mana mungkin dia mau keluar jika hanya itu saja yang dia dapatkan?
“Tunggu!” pekik Alena ketika Jason bangkit dan menarik tangannya. “Aku tau sesuatu yang tidak diketahui publik.”
Alena bisa merasakan tubuh pria itu menegang. “Katakan.”
Huh ... demi Andira, batinnya. “Adikmu ... katanya dia terlibat sindikat kriminal dan ....”
Alis mata Jason terangkat sebelah. “Dan?”
“Dan dia seorang mafia narkoba.”
Reaksi Jason di luar perkiraan Alena. Dia kira pria itu akan terkejut dengan fakta yang mungkin tidak diketahuinya atau dia tahu hal yang disembunyikan keluarga Kyle, tapi yang wanita itu tangkap Jason justru lebih rileks. “Ada lagi?”
Bibir bawah Alena digigitnya kuat. “Ehm, adikmu juga seorang pemakai?”
Jason tertawa dengan keras begitu Alena menyebutkannya. Pria itu bahkan mengeluh perutnya sakit dan terbungkuk-bungkuk. “Ahh ... kabar dari mana itu?” tawanya masih berderai membuat Alena tidak menentu.
“Jadi itu hoaks?”
“Tentu saja. Adikku masih muda dan tidak pernah memakai barang seperti itu.” Tentu saja tidak satu pun dari keluarga kami memakai barang dagangan. Tanpa Alena sadari, Jason menyeringai. Wajahnya tampak puas dengan informasi yang didengarnya dan matanya berubah tajam meski tidak dipahami wartawati itu.
“Ah, baiklah. Terima kasih sudah mengoreksi,” kata Alena. Jo i***t, dari mana dia dapatkan informasi seperti itu?
“Ada lagi pertanyaannya?” tanya Jason dijawab anggukan oleh Alena. “Silakan.”
“Apakah benar bahwa Anda akan ....” Wanita itu tertegun ketika membaca pertanyaan yang dibuat Jo. Apa-apaan? Menurut Alena itu tidak pantas dan ... membingungkan.
“Teruskan,” kata Jason sembari bangkit dan mengambil satu kaleng bir lagi. Mungkin peminum bir yang menitipkan birnya di sini itu bisa menunggunya untuk beberapa informasi lagi. Minuman itu membuatnya kecanduan setelah menahan diri cukup lama.
“... menjadi penerus DK groups, bahkan jika jabatan Anda hanya ... manajer?”
Alena menegang begitu menyadari maksud dari pertanyaan Jo. M-manajer? Ja-jadi, Direktur Utama?? Sialan Jonathan! Dia tidak menuliskan apa pun soal jabatan di kliping itu. Jo hanya mengungkit calon penerus saja, tidak menyinggung jabatan Jason.
Siapa sangka bahwa Jason yang notabenenya putra sulung dari pengusaha besar itu hanya berjabatan Manajer?
“Menyadari sesuatu, Alena?”
***
A.N :
Siapa tuh?? Jangan-jangan .... Mang Oleh? Ahaha, duh, Ironman ehe
Oke, see you tomorrow.