PAK BURHAN mencermati surat permohonan penggantian topik yang dibuat kedua reporter serta kameramen di hadapannya—Alena dan Jonathan. Kedua orang yang ditugaskan meliput berita jalanan itu meminta padanya secara resmi dengan materai untuk pindah acara, minimal tidak lagi meliput jalanan. Kumisnya bergerak-gerak, kebiasaannya jika sedang menyudutkan seseorang.
“Alena dan Jonathan.” Pak Burhan menurunkan kaca mata bacanya, menatap kedua orang yang berdiri tegap itu dengan pandangan menilai—cenderung memandang remeh. “Kenapa kalian mau hengkang dari liputan jalanan?”
Jo berdeham. “Kami ... merasa sudah terlalu lama meliput jalanan, Pak. Mohon dimengerti.”
“Iya, Pak. Selain itu, jujur saja, saya butuh dana yang lebih dari sekedar gaji meliput jalanan,” kata Alena menambahkan.
Pak Burhan memainkan janggut tipisnya. “Bukannya kamu dulu pernah meliput di luar jalanan, Alena? Kamu juga yang bilang ingin tetap meliput jalanan meski waktu itu ada reporter lain yang bersedia mengisi bagian breaking news.”
Alena menggigit bibirnya sambil menunduk, sesekali melirik Jonathan. Dia gugup. Suasana ruangan Kepala Direksi Berita itu terasa mencekam, begitu sepi dan tegang. Biasanya, mereka berdua akan meliput jalanan macet di tengah hari begini. Lantai dua ini juga begitu sunyi, bahkan suara-suara syuting dari lantai dasar tidak terdengar.
“Saya waktu itu memang menyukai saat liputan jalanan, Pak. Tapi sekarang rasanya sudah membosankan.”
Pak Burhan berdiri dari kursi beroda miliknya, membuat Alena dan Jo siaga. “Kamu di sini itu dibayar, tidak ada yang peduli apa kamu bosan atau tidak. Selama kamu menghasilkan berita, di mana itu tidak penting. Dulu kamu sudah diberi kesempatan untuk memilih dan kamu memilih jalanan.”
“Tapi Pak—” Ucapan Jo dipotong.
“Kalau begitu beri kami kesempatan satu kali saja, Pak, buat ikut reporter lepas dan ambil topic on the week. Kalau berita kami tidak memuaskan, kami siap kembali ke jalanan sampai Bapak sendiri yang memindahkan kami,” potong Alena. Jo menoleh, ragu dengan perkataan Alena. Topic on the week? Yang benar saja, hanya satu tim bertahan yang selalu bisa menempatinya.
“Tidak,” bantah pak Burhan tegas, bersedekap d**a. “Kalau berita kalian gagal, kalian keluar dari acara berita. Bagaimana?”
Alena dan Jo terkejut mendengarnya. Mereka berdua sama-sama menikmati karir menjadi peliput berita, dan pastinya hal itu akan berbeda meski jika nantinya Jo menjadi penata kamera sinetron atau film. Sedangkan Alena, jika dia keluar dari acara berita, dia mau pindah ke acara apa? Akan fatal akibatnya jika mereka gegabah.
“Keluar, Pak?” beo Alena pelan.
Pak Burhan mengangguk singkat. Tatapan matanya seolah menantang kedua orang itu untuk mengambil keputusan.
“Kita ....”
“Kita ambil, Pak.” Jonathan berkata mantap mengundang tatapan protes dari Alena. Itu sangat berisiko. Alena tidak bisa kehilangan pekerjaan ini.
Atasan mereka itu mengendikan bahu dengan tangan berkacak pinggang. “Ya sudah. Ingat, kalian hanya punya waktu tiga hari sampai pengumuman berita mingguan ditempel di pusat berita.”
Setelah pak Burhan mempersilakan mereka untuk keluar, Alena langsung menarik Jo keluar. Wanita itu tidak peduli adanya beberapa pasang mata penasaran yang melihat dari sekat bilik meja kerja mereka, Jo perlu diluruskan.
“Kamu apa-apaan sih, Jo?” tukas Alena langsung.
“Apanya gimana?”
“Kamu kok bisa-bisanya ambil keputusan begitu. Itu susah, Jo, bahkan kalau kamu meliput Selena Gomez naked saja belum tentu bisa jadi berita mingguan.” Alena mendengar tawa tertahan dari belakangnya, dari bilik-bilik itu. “Kenapa kalian ketawa? Gak ada yang lucu.”
Terang saja wanita itu kesal. Dia sedang sebal begini para rekan sedivisinya malah menertawakan hal tidak jelas. Mode serius, enggak ada yang lucu. Ini menyangkut pekerjaannya, dan Jo malah ikut-ikutan tertawa?!
“Kamu kok ikut-ikutan sih? Aku lagi serius tau!” semburnya kesal.
“Oke.” Jo berusaha membendung tawanya yang masih berderai itu dengan menghela napas dalam. “Alena, denger. Aku tau kamu lagi butuh banget pekerjaan ini, jadi tenang aja. Kamu tau apa yang lebih buruk dari kegagalan? Takut mencoba.”
Dahi Alena mengerut. “Gara-gara kamu bener-bener pengen keluar dari liputan jalanan kamu bisa jadi bijak gini ya?”
Jonathan terkekeh lalu merangkul Alena menjauh dari depan ruangan pak Burhan. “Nah, karena waktu kita tinggal sedikit, kita harus cari berita yang bener-bener bisa meledak.”
“Kamu beneran yakin berita kita bisa jadi berita mingguan? Kamu ‘kan tau kita gak pernah cari berita yang bisa booming gitu.” Alena masih ragu dengan keputusan rekannya itu. berita jalanan mana pernah jadi trending.
Jo mengangguk mantap. “Yakin.”
“Wah-wah, dua upik abu ini pengen jadi Cinderella tanpa sihir.” Mereka berdua menoleh begitu mendengar tepukan tangan dan sindiran itu. Tampak dua orang yang menatap mereka remeh. “Mimpi di siang bolong emang seindah itu ya.”
“Halu mereka terlalu tinggi, girl,” kata yang lainnya.
Itu Clarissa dan Glen, satu tim yang beritanya langganan jadi news on the week di stasiun teve mereka. Tentu saja mereka jauh tingkatnya di atas Alena dan Jo yang liputannya hanya ditayangkan sekitar satu menit, berbeda dengan mereka yang berdurasi lebih lama dan ditayangkan lebih sering.
Liputannya juga tidak berhenti pada satu topik liputan, tapi pak Burhan dengan senang hati memberikan mereka berita yang viral untuk diliput. Bahkan jika pun orang itu tidak memungkinkan untuk dihubungi, Ketua tim berita itu menghubunginya langsung atas nama mereka. Lihat, kurang pilih kasih apa lagi pria paruh baya itu?
“Tadi apa katanya, mereka mau bikin news on the week? Glen, lo merasa tersaingi dengan kedua orang halu ini gak?” Clarissa alih-alih menatap Alena dan Jo malah memainkan kukunya yang dicat warna-warni, gestur tubuhnya meremehkan.
“Absolutely not, sist. Level kita jauh lebih tinggi buat mereka saingi.”
Alena menatap jengah kedua orang ini. Bukan jadi rahasia umum betapa mereka dibanggakan para pemegang program acara, terutama oleh pak Burhan. Lihat saja seragamnya, jauh lebih glamour dan berkelas dibanding baju seragam yang lain—yang warnanya biru tua dengan desain yang membosankan.
Di sosial media Clarissa dipenuhi dengan dirinya dan Glen yang berswafoto dengan artis, pejabat tinggi negara ataupun tamu-tamu dari luar negeri. Tapi dengan begitu, justru para rekan tidak menyenangi kebiasaan keduanya yang sombong, membicarakan prestasi ini dan itu kepada setiap orang yang dia temui. Padahal itu hasil pemberian pak Burhan, bukan murni kerja keras sendiri.
“Gak ada yang gak mungkin, Clar,” kata Alena bersikap biasa saja. Memperlihatkan keengganannya hanya membuatnya menunjukkan bahwa misi kedua orang itu berhasil.
Glen tertawa rendah. “Tapi terlalu mustahil buat kalian.”
Tangan Jo tampak mengepal. “Lihat aja, kita berdua ....” Pria itu menunjuk Clarissa dan Glen. “Akan ngalahin lo, minimal buat minggu ini,” ujar pria itu geram. Sifat Jo kadang mudah terpancing dan emosi.
“Uw, takut.” Clarissa berdigik, pura-pura termakan ancaman Jo. “Yu ah, Glen, kita ‘kan ada wawancara sama pak Anies.” Wanita itu berdadah ria dengan tatapan yang masih sama. Merendahkan.
“Jo, udah,” kata Alena begitu melihat Jo masih emosi. Dia juga tidak pernah menyukai sikap sombong Clarissa dan kameramennya, hampir semua orang tidak menyukainya. Mereka bisa selaris itu ‘kan ada campur tangan pak Burhan selaku orang penting, kalau tidak?
Alena lebih menyukai Jane, reporter di bawah Clarissa yang berjuang sendiri dan sikapnya menyenangkan, tapi kesannya jauh lebih bermartabat. Bukan seperti orang yang baru saja keluar dari ruang informasi itu, penuh pencitraan.
Jo menghela nafas dalam, meredam emosinya. Dia menarik Alena ke papan pusat berita. Kedongkolannya kembali begitu melihat hampir separuhnya diisi oleh time line berita Clarissa dan Glen yang sengaja dipasang berminggu-minggu. Alena menyikut Jo saat dia melihat topic on the week yang jauh dari persepsinya. “Gawat,” umpat Jo.
Wartawati itu sama meringisnya seperti Jo. Ini pasti sulit, dan sialnya harus berhasil atau dia kehilangan pekerjaannya.
Bincang-Bincang Bersama Pengusaha Muda Sukses di Indonesia.
***
“Gimana ini?” Alena mendesah frustasi.
Otaknya sudah diperas selama dua jam, tapi semua pengusaha muda sudah diwawancarai. Tanpa terkecuali. Semua blog, halaman, akun, dan daftar pengusaha yang sukses di bawah kepala tiga, tidak ada sasaran empuk yang bisa membawa beritanya jadi berita mingguan. Memang tidak masalah jika mewawancarai yang sudah ada, tapi tidak akan terlalu meraup perhatian publik.
Wanita itu menyesap habis coffee latte miliknya. Bahkan itu sudah cangkir ketiga yang dia pesan di sebuah kafe, ya malulah menumpang Wi-Fi tapi Cuma pesan secangkir kopi. Alena juga sedang butuh banyak kafein untuk membuat kesadarannya tetap terjaga sedangkan matanya sudah begitu berat.
Pengusaha muda katanya? Alena mana tahu pengusaha-pengusaha sukses. Dia memang reporter, tapi apa pernah dia mengikuti perkembangan berita perbisnisan? Tidak, jangankan berita orang lain, beritanya sendiri jarang dia putar ulang selain dari kamera Jo. Justru karena itu dia lebih memilih liputan jalanan, Alena cukup gaptek untuk cari berita sendiri dan mengemas beritanya semenarik mungkin untuk versi blog.
Omong-omong soal Jo, pria itu entah ke mana. Sehabis dari stasiun teve, Jo bilang dia akan mencari topik berita langsung—lebih ke survei mungkin, sedangkan Alena lewat media sosial dan daring.
Bagusnya, begitu check web tempat berita yang mengikuti program news on the week diunggah, head line-nya belum disinggahi berita hasil tangan Clarissa. Biasanya jika sudah, beritanya akan menempati urutan teratas selama beberapa jam. Itu jugalah faktor beritanya laris. Semoga, tim itu sama buntunya seperti Alena.
Ponsel Alena berdering singkat. Ada satu pesan mampir di pop-up.
Jojo: Share lock
Alena mengernyit, tetap melakukan apa yang perintah Jo. Memang sudah lama, tapi untuk survei langsung waktunya terhitung singkat. Dia berharap Jo membawa sebuah berita bagus, sehingga mereka tidak akan terancam kehilangan pekerjaan.
Pria itu datang sekitar 13 menit kemudian, tepat saat cangkir ketiganya habis. Alena tidak bisa menebak apakah Jo datang dengan kabar baik atau tangan hampa, wajahnya begitu-begitu saja dan Alena tidak paham betul ilmu membaca bahasa tubuh.
“Gimana, gimana? Dapet?” tanya Alena langsung menggebu-gebu saat pria itu menarik kursi di depannya. Jo mengabaikannya, malah memesan sebuah chicken teriyaki dengan secangkir minuman. “Jooo. Gimana?”
Setelah memesan, Jo menatap Alena lama dan intens, membuat Alena mengernyit. Ketika dia hendak menegur Jo, pria itu meletakkan telunjuknya di depan bibir Alena. “Say goodbye to road.”
“Hah?” Alena panas dingin. Selamat tinggal jalanan? Jadi Jo tidak dapat dan mereka dipecat begitu?!
Jo merotasikan bola matanya. “Tau deh.”
Melihat wajah kesal Jo, baru ketika Alena memahami maksud Jo yang sesungguhnya. Wanita itu memekik dan melompat-lompat kecil di kursinya. “Jadi kamu dapet?”
Bukannya menjawab, Jo mengeluarkan sebuah bundelan semacam kliping yang kira-kira tebalnya kurang dari 50 kertas HVS. Dia membuka setiap lembarnya acak dan cepat, membuat Alena belum tahu pengusaha muda mana yang akan diwawancarai. “Pelan dong, Jo. ‘Kan aku jadinya gak tau itu siapa.”
“Coba deh search Jason D. Kyle.”
Alena mengernyit. Jason D. Kyle? Sepertinya begitu asing. Jason terdengar seperti nama bule, apa iya mereka wawancara pengusaha luar negeri? Akan tetapi, dia pernah mendengar sebuah nama yang berakhiran dengan Kyle.
Kerutan di dahinya semakin tampak saat hasil pencarian Google tidak ada yang cocok. Eh, ada! Tapi hanya satu, itu pun hanya blog asing bahasa Inggris. Jadi maksudnya mereka beneran akan wawancara pengusaha asing?
“Gak ada, Jo. Liat aja sendiri.” Alena menggeser laptopnya.
“Good,” kata Jonathan tanpa melihat layar laptop malah fokus pada bundelan itu.
Sumpah, Alena tidak paham cara berpikir Jo padahal mereka sudah rekanan nyaris setahun lebih. “Kok bagus? Kalau kita mau wawancara ini orang sedangkan di Google aja search tentang dia gak ada, gimana berita kita bakal booming?”
“Kamu tahu DK groups?” Jo bukannya memberikan titik terang malah memberinya kebingungan lain.
Alena mencoba mengingat-ingat, rasanya memang pernah dia lihat atau dengar. Meski samar, DK itu rasanya dilihat Alena belum lama ini. Intinya tidak se-unfamiliar itu.
“Beneran? Gak tahu?” tanya Jo ketika Alena menggeleng, tidak kunjung ingat pernah melihatnya di mana. “Itu gedung besar di ujung jalan, Al. Kamu gak tau mungkin karena arah dari kontrakan kamu gak lewat gedung itu.”
Wanita itu ber’oh ria dan mangut-mangut. Pantas saja tidak seasing dan se-familiar itu, fifty-fifty. “Terus?”
Jo membuka halaman kedua kliping, menunjukkan sebuah sketsa bergambar seseorang yang kemungkinan hanya bermodalkan pensil. Alena menyipitkan matanya. Jo apa enggak punya gambar yang lebih jelas? Ini abad 20 loh, gambar hitam putih sudah enggak zaman lagi.
“Siapa dia?” tanya Alena.
“Calon pewaris DK groups.” Jo menyeringai. “We got him.”
***
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” seru seseorang dari dalam membuat Mark berani mendorong handle pintu. Pria itu disuguhi ruangan kantor yang didominasi warna putih dan kaca besar sebagai pembatasnya dengan dunia luar, kontras dengan ruang kerja Darius yang sebagian besar warnanya gelap. Tata letak ruangannya juga lebih ramah, tapi jangan tertipu dengan topeng sesaat.
“Oh, Mark.” Pria itu berdiri dan menghampiri Mark. Dia mempersilakan tangan kanan Darius itu untuk duduk di sofa ruang kerjanya. “Ada apa?”
Mark berdeham. “Tentang tuan Darius.”
“Ah, aku sudah dengar tentangnya.” Pria itu mengangguk. “Jadi, memang seserius itu?”
“Ya.” Jari-jari tangan Mark bersinggungan. “Tuan Darius memintaku untuk ....” Dia keberatan melanjutkannya. Bagaimanapun, pria ini bisa dibilang lebih tinggi tingkatnya dari Darius dan Mark, tidak bisa secara gamblang menyampaikan tugasnya walaupun itu pesan dari Darius.
Pria itu terkekeh. “Katakan saja,” katanya dengan nada yang ramah. Karakternya memang menipu, begitu ramah saat waktu normal. Di sisi lain, begitu kejam di waktu gelapnya.
Mark mengeluarkan sebuah berkas dari jasnya. Berkas coklat pudar itu menampung pesan Darius untuk si pria karena Darius sudah menduga Mark tidak mampu menyampaikannya secara langsung. Well, aura keluarga Kyle memang tak mudah dibantah siapa pun walau pria ini tidak menguarkannya secara sengaja.
Senyum di wajah si pria perlahan lenyap ketika mendapati sebuah kertas yang sudah lama tidak dilihatnya dikirim secara pribadi. Mark menelan salivanya dengan susah payah, keluarga Kyle memang menakutkan. Sialnya, monster dari segala monster keluarga Kyle itu adalah atasannya sendiri.
Pria itu menekan sebuah tombol tersembunyi pada mejanya. Seketika pria-pria berbadan besar berotot keluar dari sudut-sudut ruangan dengan sebuah senjata api berbagai jenis. Tidak ada lagi keramahan yang tersisa dari wajah sang pria. “Let’s go hunt.”
Habislah siapa pun yang mencurangi seorang monster seperti Darius.
***
A.N :
Hayoh, ada yang atasannya kayak pak Burhan? Kuy mewek berjamaah :’(
Kemarin ‘kan aku bicara soal reporter di author note, kali ini aku bicara soal mafia dan pekerjaan kantoran. Kalau soal mafia, ada cukup banyak ya cerita yang bahan utamanya mafia jadi aku cukup pede untuk mengulasnya. Kalau soal pekerjaan kantor, aku sama was-wasnya kayak reporter. Memang Dirut juga banyak ceritanya, tapi gak banyak yang mengulas detail segala tugas sama t***k bengeknya.
Oh ya, kalau kalian punya saran cerita tentang reporter, mafia, atau kerjaan kantoran yang sekiranya bisa membantu aku, boleh dong bagi-bagi di sini. Juga jangan lupa rekomendasikan cerita ini kalau kalian suka kepada teman-teman kalian.
Oke, see you tomorrow.