Aku sempat panik dan tak dapat berfikir. Orang-orang bertanya-tanya siapakah gadis malang yang tertimpa musibah naas ini?
"Ini adikku, pak. Adikku!" Jawabku cepat.
"Ayo di bawa ke rumah sakit mas, pakai mobil saya saja." Teriak seorang bapak agak sepuh dengan kumis tebal.
Setelah mencoba tenang dan menjernihkan pikiran. Kuhubungi bapak kumis tebal yang tadi sempat meninggalkan nomor teleponnya. Kuucapkan terima kasih atas pertolongannya, juga maaf karena mobilnya terkena noda darah hingga tercium aroma amis. Bapak kumis tebal juga yang membantu mengamankan motorku yang kutinggalkan begitu saja di tempat kejadian.
Tak kusangka, mungkin ini juga bagian dari keberuntungan Afi d tengah kemalangannya. Bapak kumis tebal adalah seorang polisi dengan posisi babinkamtibmas yang kebetulan melintas. Dengan bantuannya, sopir truk yang menyrempet Afi berhasil diamankan.
Sopir truk, yang kemudian ketahui truk itu milik si keriting. Di kantor polisi, kulihat pria muda di tahan. Dia duduk menekuk lutut di dalam jeruji besi. Geram sekali aku melihatnya. Ingin sekali rasanya kupukuli dan kupatahkan tangannya hingga serupa dengan yang dialami Afi. Apakah ini benar-benar kecelakaan atau tindakan yang disengaja.
Belum reda amarahku, datang seorang polisi berseragam diikuti dua pemuda dari arah pintu kantor menuju padaku. Ternyata si keriting dan pria gemuk yang kemarin Afi temui di warung bakso.
Setelah membuka kunci, pria muda sopir itu keluar berjalan mengekor pada si keriting. Aku setengah berlari.
"Pak, kok sudah dikeluarin?" Tanyaku.
"Kejadian kecelakaan murni tanpa ada unsur kesengajaan pak. Dikarenakan jalan berlubang dan ban kempes maka truk oleng dan menyerempet pengguna jalan lain." Jelas polisi itu.
Aku terus protes namun polisi itu terus menyampaikan bahwa tidak ada bukti kuat bahwa tindakan itu disengaja. Si keriting tersenyum kecut lalu berbisik ke arahku.
"Untunglah. Pacarmu tidak mati." Dia lalu berlalu keluar bersama dua ekornya. Sopir truk sialan itu dan si gemuk yang tak berani bicara sepatah kata pun.
Amarahku memuncak. Aku semakin yakin bahwa tindakan ini disengaja. Pastilah mereka mengira bahwa aku adalah pacarnya Afi. Sehingga saat itu juga mereka melakukan tindakan jahat.
"Lumayan juga, si keriting itu." Kataku dalam hati.
Pastilah dia bukan orang sembarangan yang berani melakukan tindakan semacam itu. Targetnya Afi mati, biadab sekali. Dia juga dengan mudah dapat membebaskan sopirnya dari buaian jeruji besi. Pastilah uangnya turut berbicara. Tak bisa asal-asalan menghadapinya.
Tunggu saja, akan ku buat kalian menyesal karena mengusik adikku.
Teringat dengan Afi di rumah sakit, Bapak dan Ibu cemas di sana.
"Gimana to, nduk. Kamu kok nekat sekali." Ucap ibu di samping ranjang Afi.
Afi enggan menjawab karena bibirnya memar dan terdapat beberapa luka. Pastilah sakit jika dipakai untuk bicara.
"Gak apa-apa buk. Semua baik-baik saja." Kataku mencoba menenangkan.
"Gak apa-apa piye to, mas. Keluarga mereka itu terkenal pendendam. Makanya ibu gak mau menolaknya. Ibu juga takut terjadi hal-hal buruk seperti ini." Ibu lirih mengucapkan kalimatnya. Tersirat penyesalan di raut wajahnya.
Kalau tau keluarga mereka terkenal pendendam, bagaimana bisa bapak dan ibu merelakan putrinya untuk dijadikan mantu. Bagaimana bisa bapak dan ibu mau besanan dengan keluarga orang-orang kejam.
Pertanyaanku terjawab oleh penjelasan singkat saat ngobrol dengan bapak. Ternyata keluarga besar si keriting memang mudah tersinggung dan pendendam. Mereka terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Harta dan kuasa yang memudahkan mereka mendapatkannya. Bapak memang sempat berfikir untuk menolak pinangan dari mereka. Namun urung karena mengingat resikonya. Mereka arogan, pemarah, pendendam dan nekat.
Di sisi lain bapak berfikir, jika Arif benar mencintai Afi tentu Afi akan diperlakukan dengan baik. Afi akan diratukan sebagai istrinya. Mereka dari keluarga kaya dan berpengaruh, Afi akan mendapatkan kehidupan yang berkecukupan dan mudah. Bapak dan ibu berusaha berfikir hal-hal baik ke depan.
Namun aku teringat argumen Afi kemarin. Bahwa, Arif adalah orang yang tidak komunikatif dan tidak menjalani syariat agama. Bagaimana nanti biduk rumah tangganya akan berjalan. Uang, kemewahan, dan kekuasaan tentu bagi Afi tidak cukup memberikan kebahagiaan. Bagaimana pula jika nanti terjadi perbedaan pendapat, cek cok, atau permasalahan rumah tangga yang lain. Apakah juga akan diselesaikan sesuka hatinya. Rugi sekali jika akhirnya yang timbul adalah kekerasan dalam rumah tangga atau perceraian. Aku sangat prihatin mendengar cara pandang bapak dan ibu. Aku juga prihatin dengan kondisi Afi saat ini.
Belum selesai aku ngobrol dengan bapak, hpku berdering. Mama menelepon.
"Di, ada temanmu. Katanya, Nita namanya." Kata Mama singkat. Suara gemuruh mesin penggiling pagi terdengar pula dari speaker telepon. Aku belum sempat menjawab, Mama sudah menutup teleponnya.
Kugaruk-garuk kepalaku. Pusing memikirkan gadis yang satu ini. Aku masih proses menyelidiki, Nita. Dia selingkuh dan membodohiku. Sementara aku masih berpura-pura tidak tahu.
"Ayo masuk. Tau rumahku darimana, dek?" Tanyaku sambil membukakan pintu.
Rumah kosong karena Mama dan Papa masih di penggilingan padi. Pintunya segera ditutup namun tidak dikunci agar debu dari tempat penggilingan tidak terbang dan masuk rumah.
"Gampanglah itu." Jawab Nita singkat.
Aku duduk di bangku ruang tamu yang masih berdebu karena belum sempat di lap. Nita mengusapkan tangannya ke bangku dan tidak jadi duduk karena banyak debu yang menempel di tangannya.
"Kenapa, setiap aku pengen tau rumah Mas Adi, selalu di larang? Kenapa sampai sekarang, aku belum dikenalkan ke orangtua Mas Adi?" Tanya Nita beruntun seperti suara petasan.
Awal mengenal Nita, ku nilai dia sebagai gadis yang mandiri karena tinggal jauh dari orang tuanya. Dia adalah gadis Jawa yang tinggal di Merauke karena ayahnya dinas di sana. Ayahnya seorang perwira TNI. Aku juga menganggapnya gadis yang disiplin dan tangguh karena latarbelakang keluarga nya. Ditambah lagi, sangat jarang ada Taruni di kampusku. Hampir 98% yang menempuh pendidikan pelayaran adalah laki-laki. Nita, ku anggap sebagai gadis pilihan yang mandiri, disiplin dan tangguh. Namun, entahlah kenyataan berbeda.
"Orangtuaku kan tadi di depan rumah penggilingan padi itu? Kamu gak lihat dek?" Jawabku datar. Aku malas menjawabnya karena dia juga tak menjawab pertanyaanku sebelumnya.
"Gak lihat mas. Cuma ada kuli-kuli tua di sana. Kasian ya mereka, dekil banget. Kerja keras banget sekedar buat makan. Keluarga mas Adi baik banget, memperkejakan orang-orang miskin." Katanya dengan gaya kemayunya.
Dulu sikap itu kuanggap manis karena melekat pada gadis yang kuanggap baik. Ahhh sudahlah.
Batinku. Bisa- bisanya orangtuaku dibilang dekil dan miskin. Karena ini hari Minggu, pekerja pasti libur. Kalau ada pesanan dadakan pasti Mama dan Papa kerjakan sendiri di bantu operator mesin giling gabah. Mereka memang sudah berusia sepuh, namun masih kuat dan bugar. Saat menggiling padi atau gabah pasti banyak debu dan brambut kulit padi yang menempel. Debu-debu dari dedak atau bekatul bisa menutupi sebagian wajah. Mereka biasanya juga sengaja memakai kaos atau celana harian yang biasa digunakan ke sawah. Tentu kaos dan celananya terlihat lusuh karena sering dipakai.
Ingin sekali ku kuncir mulut gadis itu. Jengkel dengan ucapannya.
Nita lalu berjalan berkeliling sekitar rumah. Melihat dan memeriksa setiap sudut. Tidak sopan sekali. Dia tiba dibelakang rumah tempat kandang sapi.
Dia mengomel melihat gundukan tai sapi.
"Ihhh, jijiknya. Rumahmu kok banyak tai sapi nya to Mas? Itu sapi-sapinya bau banget pasti." Dia menutup hidung dengan kedua jarinya.
Belum tau dia. Tai sapi dari 17 ekor sapi memang bau dan terlihat jijik. Tapi 17 ekor sapi bisa bernilai ratusan juta.