Penolakan Airin
Setelah keberangkatan suaminya menuju perusahaan, Airin segera bergegas menuju kebun kesayangannya untuk mengecek beberapa tanaman bunga dan juga buah-buahan yang sengaja ia tanam sendiri.
Airin Nadira adalah wanita berusia 26 tahun yang kini mengabdikan dirinya kepada sang suami sebagai Ibu Rumah Tangga. Kesehariannya tidak berbeda dari kebanyakan IRT lainnya, mulai dari membereskan rumah, mencuci dan memasak selalu Airin lakukan setiap hari.
Airin tidak pernah mengeluh sekalipun dirinya harus bangun sangat pagi untuk membereskan seisi rumah dan mempersiapkan kebutuhan suaminya.
Justru kebiasaannya itu adalah satu peluru untuk membunuh kejenuhannya selama tiga tahun terakhir akibat tidak adanya buah hati yang hadir di dalam rumah mewah, mahar dari suaminya.
Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Airin meminta suaminya untuk memberhentikan ART yang sempat bekerja di rumah mereka agar Airin dapat dengan leluasa menghabiskan waktu seharian dan tidak menyisakan waktu untuk ia sekadar melamunkan keinginannya.
“Sayang!” seru Radit, yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Raditya Mahendra, 28 tahun, adalah lelaki yang berhasil membuat Airin jatuh cinta. Tak hanya parasnya yang tampan, kebaikan dan juga kejujuran Raditya adalah salah satu alasan yang mendasari Airin dalam memilih Radit untuk menjadi imam di dalam hidup Airin.
Meski sebenarnya bukan Radit yang dulu Airin inginkan, melainkan lelaki lain yang selalu Airin sembunyikan di dalam hatinya tanpa diketahui oleh siapa pun termasuk almarhum kedua orang tuanya.
Airin adalah seorang anak yatim piatu yang selamat dari kecelakaan beruntun empat tahun lalu yang melibatkan 7 mobil saling bertabrakan dan menyebabkan 8 orang meninggal dunia termasuk kedua orang tua Airin yang menjadi korbannya.
Airin merasa syok, hingga akhirnya Airin dibawa oleh Radit untuk bisa tinggal bersamanya yang sama-sama anak yatim piatu.
Sejak saat itulah Airin belajar mencintai Radit dan menjalani hidup bersama Radit yang begitu tulus mencintainya.
Airin mengetahui jika sebenarnya Radit sudah menaruh hati kepadanya, di saat Airin menjadi salah satu junior di kampus tempat Radit memperjuangkan gelar Sarjana.
Meski berawal dari keterpaksaan, tetapi akhirnya seiring waktu yang berputar Airin mampu membuka hati untuk Radit, bahkan kini hatinya sudah terpenuhi oleh seorang Raditya Mahendra.
“Ada apa Mas, kok balik lagi. Apa ada yang ketinggalan?” Airin memastikan setelah Radit menghampirinya.
Airin mengerutkan dahinya, ketika melihat Radit yang hanya tersenyum manis menanggapi pertanyaannya.
“Kamu kenapa, sih?” tanyanya kembali.
Tak ada yang berbeda dari jawaban Radit, dia tetap mengulas senyum sambil menatap penuh damba kepada istri yang tidak pernah ia sangka akan begitu tulus menerima kehadirannya.
“Mas!” Airin menaikkan nadanya satu oktaf.
“Jangan teriak-teriak, aku enggak tuli, Sayang,” jawab Radit sambil menjawil hidung bangir Airin.
“Ya habis, Mas gak jawab pertanyaan aku. Bikin kesel aja.” Airin menyimpan kedua tangannya di depan d**a dengan bibir yang mengerucut.
Radit tertawa menatap tingkah Airin sambil mencomot bibirnya, “Jelek ih, kayak bebek.”
Airin semakin mengerucutkan bibirnya, kali ini mata indah Airin membulat menyertai kekesalannya.
Radit sangat suka menjahili Airin, membuat Airin kesal itulah salah satu obat mujarab yang bisa Radit lakukan demi mengobati pikiran buruk istrinya yang selalu memikirkan bahkan mendambakan buah hati.
Bukan Radit tidak memikirkan hal itu, tetapi ia lebih tahu bagaimana caranya meluapkan penantian yang selalu membuatnya rindu akan kehadiran seorang anak. Bukan melamun, bahkan mengeluh seperti yang selalu Airin lakukan.
Radit memiliki caranya tersendiri, yaitu dengan bersimpuh di atas sajadah di sepertiga malam bersama air mata yang menjadi saksi kerinduannya.
“Aku lupa, kalau hari ini akan ada pertemuan dengan klien di Bandung. Aku mau bawa kamu ke sana,” ucap Radit sambil menyalipkan anak rambut yang menutupi wajah Airin.
“Ih, kok Mas bisa lupa, sih?”
“Aku lupa gara-gara kamu.”
“Kok gara-gara aku?”
“Olahraga semalam membuat aku lupa segalanya, Sayang. Habisnya kamu bisa banget mengalihkan duniaku.” Radit kembali menjawil hidung Airin bersama satu mata yang ia kedipkan.
Airin membulatkan matanya dengan sempurna dan mendaratkan beberapa cubitan di perut suaminya, membuat Radit meringis kesakitan.
“Aduh ... udah, dong. Sakit tahu.”
Airin menghentikan aksi cubit mencubitnya setelah Radit berhasil membawanya ke dalam pelukan.
“Aku itu mau kamu ikut ke Bandung, Sayang.” Radit kembali berujar sembari mendaratkan kecupan hangat di kedua pipi Airin.
“Berapa lama?”
“Hanya dua hari. Itu sebabnya aku ingin kamu ikut, aku tidak ingin melewatkan satu hari pun tanpamu. Sekalian kita akan honeymoon di sana.”
“Honeymoon terus, jadinya enggak.”
“Kan usaha mah boleh, Sayang. Masalah jadi atau enggaknya, serahkan semuanya kepada Tuhan. Biar Dia yang menentukan.”
“Tapi—”
“Husnudzon.” Radit menyelak kalimat Airin, dia tahu jawaban apa yang akan istrinya lontarkan.
Airin mengatupkan bibirnya dengan anggukan kepala yang menjadi pelengkapnya. Airin tidak ingin jika keluhannya hanya akan membuat Radit merasa bosan.
“Ya sudah. Ayo siap-siap. Kita berangkat sekarang,” titah Radit setelah melepaskan pelukannya dan memutar langkah membawa Airin untuk memasuki rumah mewah bernuansa klasik itu.
“Tapi Mas. Aku gak bisa ikut.”
“Aww ...,” sambung Airin ketika kepalanya menabrak punggung Radit yang tiba-tiba berhenti mendadak.
Terlihat Airin mengusap keningnya yang dirasa ngilu, “Mas ini kalau berhenti bilang-bilang, dong!”
“Kenapa kamu gak bisa ikut? Kamu mau ke mana?” Bukannya merasa kasihan kepada Airin, Radit malah melontarkan pertanyaan yang membuat Airin menghelakan napas sambil menggelengkan kepala.
Airin tidak habis pikir, jika sifat suaminya tidak pernah berubah sedikit pun. Berjauhan dari dirinya adalah salah satu kesulitan yang akan Radit rasakan.
Semenjak membina rumah tangga bersama Airin, berdekatan dengan Airin adalah kecanduan yang tiada obat bagi Radit. Itu sebabnya Radit selalu memboyong Airin ke mana pun dirinya pergi meskipun hanya satu hari.
“Mas ‘kan tahu kalau besok aku ada interview. Jadi aku gak bisa pergi ke mana-mana,” ujar Airin ketika melihat tatapan Radit yang kurang bersahabat.
“Kamu batalkan saja interview-nya. Biar nanti kamu melamar kembali di perusahaan yang lain, atau bila perlu kamu bekerja di perusahaanku saja. Asalkan hari ini kamu ikut denganku!” jawab Radit penuh penegasan.
Airin kembali menghelakan napasnya, jika Airin tidak menuruti keinginan Radit, pertengkaran pasti akan terjadi di dalam rumahnya. Tapi jika Airin memenuhi keinginan Radit, kesempatan untuknya bekerja akan kembali sulit untuk bisa ia dapatkan.
Bukan Radit tidak bisa mencukupi segala keperluannya, bahkan Radit selalu membuat Airin menjadi ratu di dunia dengan harta yang dimiliki Radit yang membuat Airin merasa beruntung memilikinya.
Tapi seberapa banyaknya harta yang Radit miliki tidak bisa membunuh semua rasa sepi yang menyelimuti hati Airin. Itu sebabnya mengapa Airin memilih untuk menjadi wanita karier dulu. Meski Radit sempat menolak, tetapi demi kenyamanan Airin, Radit rela memberikan izin asal Airin bahagia.
Radit sempat menawarkan agar Airin bekerja di perusahannya saja, tetapi Airin menolak dengan dalih merasa tidak enak jika harus bekerja di bawah pimpinan suaminya.
Sebenarnya bukan itu alasan yang sesungguhnya bagi Airin, melainkan ada satu nama perusahaan yang membuatnya merasa penasaran dan di perusahaan itulah kali ini Airin akan melakukan wawancara.
“Tapi Mas. Ini kesempatan emas buatku. Mas ngerti, dong.” Airin berusaha membujuk Radit.
“Tapi Airin, kamu tahu ‘kan Mas itu tidak bisa jauh dari kamu?”
“Aku tahu—”
“Ya kalau kamu tahu turuti keinginanku!”
Radit menatap Airin dengan tatapan yang sedikit menyalak. Bukan Radit tidak tega, tetapi cara itu Radit yakini dapat membuat Airin menurut.
“Maaf, Mas. Aku gak bisa,” lirih Airin.
Radit melepaskan genggaman tangannya dengan kasar dan berlalu meninggalkan Airin menuju mobil mewah yang selalu menemaninya ke mana pun dirinya pergi.
“Mas tunggu!” teriak Airin ketika langkahnya tertinggal dari Radit.
Radit membiarkan saja istrinya berteriak-teriak, ini adalah salah satu cara yang kembali Radit yakini jika Airin akan menurut.