BAB 6 - Protection

2136 Words
Aku terus mengikuti langkahnya karena Dia terus memegang erat tanganku tanpa mau melepaskannya. Kami pun Berhenti di sebuah toko antik yang berisi dengan berbagai macam barang antik. Aku tidak tau kenapa Jensen membawaku ke tempat ini,aku sempat berfikir apakah ia penggemar barang barang antik tapi kurasa tidak. Kami masuk ke dalam toko aku melihat ada berbagai mainan dan pajangan yang berada di sekelilingku bagus fikirku tapi ada beberapa barang jika ku perhatikan lebih terkesan menyeramkan mungkin bagi sebagian orang barang antik seperti ini memiliki nilai tersendiri sebab itulah mengapa harga mereka bisa sangat mahal jika di jual. Aku ingat Ayahku penah berkata padaku dulu,bahwa barang-barang antik semacam ini biasanya menjadi wadah bagi parah roh roh halus untuk bersemayam. Ku pikir itu memang benar karena mereka nampak sangat sulit untuk di jangkau. Jensen menghampiri seorang wanita paruh baya yang duduk di belakang meja kasir. Mereka terlihat berbincang sesuatu dan tak lama menoleh padaku, wanita itu tersenyum padaku membuatku ikut tersenyum ke arahnya. "Kemarilah."panggil Jensen. Aku menunjuk diriku sendiri. Seolah mengatakan, apa kau memanggilku. Aku menghampirinya, saat aku hampir dekat dengannya dia menarik tanganku hingga berdiri di sisi tubuhnya. Hal ini membuatku gugup bukan main. "Dia sangat cantik. Siapa namamu?."Tanya wanita itu padaku dengan suaranya yang terdengar lembut dan halus. "Namaku Liana."jawabku menyebutkan namaku.  "Jangan terlalu jauh."ucap wanita itu. Apa ini peringatan, aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. "Ini akan menjadi terlalu jauh, itu sebabnya aku membawanya kemari."aku menoleh pada Jensen,untuk bertanya apa maksudnya. Tapi saat dia menatapku,dia hanya tersenyum tipis. "Jika kau khawatir seharusnya kau tidak memulainya dan menyebabkan dia menjadi dalam bahaya."wanita itu berucap dengan suara yang lembut namun berisi peringatan. Aku tidak bisa berkata apapun, suaraku tertahan, bibirku keluh. Tidak ada yang bisa ku pikirkan untuk menyanggah dan menjawab apa yang wanita itu katakan. Aku hanya diam dan memperhatikan mereka berdua. "Andai aku bisa. Karena ini semacam magnet."Jensen pernah bilang kalau dia merasa tertarik ke arahku. Jadi.. Apa mereka sedang berbicara tentang ku. Jensen memperhatikanku dengan tatapannya yang lembut, aku membalas tatapannya dan tersenyum sebelum kembali menatap wanita itu lagi. Aku melihat wanita itu tampak berfikir sejenak. "Baiklah tunggu sebentar."ucapnya. berjalan pergi keluar dari mejanya. lalu menuju ke arah tempat barang barang antik itu berada.Aku menatapnya,entah ia pergi untuk mengambil apa? Lalu tak lama Ia kembali dengan membawa 1 buah kotak kecil yang terbuat dari kayu di tangannya. Itu lebih mirip sebuah kotak perhiasan mini, dia menaruhnya di atas meja lalu menyodorkannya ke arah kami. "Aku rasa barang ini bisa membantu." "Aku harap begitu,terima kasih."ucap Jensen mengambilnya. Lalu menyodorkan kartu kreditnya. Aku memalingkan wajah,pura-pura tidak melihat kartu kreditnya yang berwarna hitam. Dia adalah nasabah prioritas. Wow. Bukankah dia begitu kaya. Itu wajar saja berapa limitnya. Lianaaaaaaa apa yang kau pikirkan. "Ayo pulang."ajak Jensen, ia menarik tanganku saat sudah selesai membelinya apa yang dicarinya. Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah kakinya ketika dia menarikku pergi dari sana. "Jaga dirimu."ucap wanita tersebut saat kami ingin pergi.Aku tahu itu kata biasa untuk seseorang, namun rasanya memiliki arti ketika dia berkata dengan tatapan khawatir seperti itu. Aku hanya diam mengamatinya untuk beberapa saat sebelum menjawab. "Terima kasih."jawabku sebelum pergi keluar dengan Jensen di sampingku. Saat tiba di luar ia berhenti sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke arahku. “Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?.”Tanya nya padaku “Tidak, aku ingin pulang.“awabku. Ya,.. itu adalah hal yang ku inginkan saat ini. Aku ingin berbaring di atas kasurku. Jensen hanya diam mengamatiku sebelum mengangguk kecil dan menggenggam tanganku lebih erat.  "Baiklah aku akan mengantarmu pulang."ucapnya lalu kembali menarikku untuk segera pergi dari sana menuju mobilnya yang terparkir. "A... Apa!."dia bilang apa, aku memandanganya dengan tanda tanya."Aku akan mengantarmu pulang."Ucapnya dengan cepat. Aku tidak berharap dia mengantarku pulang, namun setelah apa yang aku alami aku rasa akan aman berada bersamanya karena saat ini aku yakin Jensen tak menginginkan darahku. Rasanya kejadian aneh ini akan membuatku gila. AKu hanya diam mengikutinya yang menarikku lagi. Kenapa Jensen selalu membuatku kehilangan kata-kata dan bersikap seperti anak kucing yang mengikuti kemana majikannya membawanya pergi. *** Kami sampai di depan kamar Apartemenku. Aku berniat untuk memencet tombol password apartemenku namun ku urungkan."Bisa kau berbalik sebentar."Aku beralih menatapnya yang berdiri tepat di sebelahku. Sebelah alisnya mengenyit ketika aku menyuruhnya untuk membalikan tubuh agar dia tidak bisa mengetahui password kamar Apartemenku. "Aku tetap bisa masuk ke dalam sana walaupun aku tidak tahu passwordnya."ucapnya memang benar karena beberapa kali dia membuktikannya dengan masuk ke apartementku secara tiba tiba, aku bahkan tidak tahu kapan ia masuk ke dalam dan lewat pintu atau jendela. Dia mirip seperti pencuri, aku hampir saja menerikakinya kadang-kadang. "Tetap saja. Kau tidak tahu password saja tetap seenaknya masuk ke dalam Apartementku bagaimana jika kau tahu."Jensen mengedikan bahunya tidak peduli, tapi ia tetap menurutiku lalu membalikan tubuhnya membelakangiku. Memberikanku privasi aku tersenyum melihatnya lalu dengan cepat aku menekan tombol password hingga pintu Apartemenku terbuka. Ketika kau membuka pintu ku lebar-lebar dan berbalik untuk menatapnya ia sudah berdiri menghadapku dan membuatku terkejut. "Oh.. Kau mau masuk?."tawarku. "Lalu untuk apa aku menunggumu hingga membuka pintu. Tentu saja karena aku ingin masuk."ucapnya terkesan mengejekku.Aku berjalan masuk dengan Jensen yang mengikutiku dari belakang. Jam sudah menunjukan pukul tengah hari. Aku pergi menuju dapur untuk memasak. Sementara Jensen berada di ruang tengah. Sedang Melihat-lihat. Seolah-olah dia baru pertama kali saja masuk ke dalam sini fikirku. Aku bergegas memasak untuk makan siang. "Kau mau kopi?."tawarku. Dia melirikku lalu menganggukkan kepalanya. "Kau tidak perlu memasang benda tidak berguna ini."Aku berbalik ke arahnya dan dia menunjuk ke arah bawang putih yang tergantung di gorden ruang tv, hal itu membuatku tersenyum dengan cengiran di wajahku.Ini memalukkan, seorang vampire berkata seperti itu, betapa tidak bergunanya kewaspadaanku tentang mereka. Ternyata tidak berguna. "Apa itu tidak mempan untukmu?."dia mendengus, tersenyum remeh.Meledekku. Ini memalukkan. "Aku kasihan padamu. Kau menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan fakta kuno tentang kami. Kau bisa bertanya langsung pada ku." "Memangnya kau mau menjawab pertanyaanku?."tanyaku. "Tentu saja tidak."jawabanya membuatku mendengus sebal. Jensen juga sanat menyebalkan seperti James, apa semua laki-laki seperti itu. Aku baru saja selesai menggoreng ikan dan menaruhnya di dua tempat berbeda. Satu untukku dan satu lagi untuk James. Sama halnya dengan sayur dari dalam kulkas aku selalu memisahkan menjadi dua bagian. "Kau menaruhnya di dua tempat?."tanyanya menghampiriku di dapur. "Ya. Untuk James."alisnya bertaut bingung. Dia duduk di kursi meja makan ketika aku menaruh kopinya di sana dan ikut duduk di hadapannya. "Apa vampire juga makan nasi seperti manusia?."tanyaku merasa penasaran.Beberapa film menunjukkan tidak. Aku tidak tahu kebenarannya itu sebabnya aku bertanya. "Kami bisa memakannya. Tapi aku tidak tertarik. Darah 1 juta kali lebih nikmat dari makanan apapun."Aku yang tidak tertarik, setelah mengetahui tentang vampire aku mencoba untuk menghindar dari makanan yang berwarna merah karena hal itu membuatku terus berpikir tentang darah. Betapa menyebalkannya hal ini, biasanya aku tidak pilih-pilih makanan. "Jadi jika aku menawarkan makanan seperti ini, apa kau bisa memakannya?." "Kami bisa memakannya Liana. Bahkan aku sering minum kopi,untuk bisa menyesuaikan diri dengan manusia. Kami melakukan apa yang mareka lakukan di hadapan mereka. Minum alkohol. Kami melakukannya. Tapi kami tidak merasa kenyang dengan itu. Seolah-olah kami tidak makan. Tapi hanya memasukan sesuatu ke dalam mulut kami."Perkataannya membuatku bertanya-tanya pada hal lain. Aku tidak tahu apakah ini bisa menjadi sebuah pertanyaan yang pantas karena bertanya tentang hal ini membuatku canggung. Aku berdehem untuk menutupi kegugupanku. "Kau meminum darah manusia?."aku gugup menanyakan sesuatu tentang hal ini. Tapi aku sangat penasaran.Menunggu reaksinya aku emnatapnya dengan cemas, aku harap tidak tapi aku tetap saja penasaran. "Hanya di waktu-waktu tertentu."jawabnya. Kepalaku bergerak miring ke satu sisi. "Maksudnya?."aku tidak mengerti apa yang baru saja ia katakan. "Makanlah."serunya memerintah.Aku kehilangan selera makan, aku masih menatapnya dengan ekpresi bodoh yang bahkan bisa aku rasakan saat ini. "Apa ketika aku melihatmu malam itu. Itu adalah waktunya?."tanyaku lagi terlalu penasaran. Dia melirik ke arah kopinya sebelum kembali menatapku. Kepalanya bergerak miring ke kanan dan aku tahu jawabannya.  "Apa kau mau makan?."tanyaku gugup. "Kau sudah tahu siapa aku. Jadi.. Aku tidak perlu repot-repot terlihat seperti manusia. Makanlah. Kopi ini sudah cukup untukku." "Baiklah."aku mulai makan, kegugupan ini tak bisa hilang. Rasanya tidak nyaman karena aku makan sementara dia hanya diam memperhatikanku dan hal itu membuatku jadi salah tingkah . Setelah selesai makan aku mengantar makanan yang sudah ku pisahkan ke apartemen James , aku tahu passwordnya. Yaitu. Tanggal lahirku dia bilang agar aku bisa langsung masuk tanpa harus repot-repot menyuruhnya membukakan pintu. Saat aku masuk ke dalam apartementnya, suasana tampak sepi ia tidak ada di dalam sini. Entah sedang pergi kemana. Aku menaruh makanan yang sudah ku masak di meja dapur James lalu kembali ke Apartemenku. Saat kembali ke apartementku Jensen sedang berdiri menatap fotoku di atas meja belakang sofa. Lalu dia menoleh padaku. "Kemarilah."Jensen menarikku. Hingga aku berdiri di hadapannya. Ia mengeluarkan kotak yang tadi dibelinya lalu sebuah kalung ia keluarkan dari dalam sana. Liontinnya sama seperti lambang. "Apa itu?."aku menatapnya bertanya-tanya yang membuatnya membalas tatapanku. "Aku mau jujur padamu. Ini salahku. Mengajakmu pergi ke klub malam itu dan membuat kehidupanmu terancam."ekspresinya terlihat menyesali sesuatu. "Apa!."aku terkejut dan juga tak mengerti dengan apa yang dia katakan. "Kau adalah buruan yang lezat bagi mereka. Kejadian malam itu membuatmu menjadi bidikan empuk untuk menjadi sasaran diburu oleh para vampire itu." "Apa.. A.... Apa maksudnya. Jadi Mereka mengincarku sekarang."Aku menatap Jensen tidak percaya. Aku bahkan sudah ketakutan saat melihat Jensen mengancam untuk menghisap darahku. Dan sekarang. Seluruh anggota Klub malam yang diisi oleh puluhan Vampire itu. Ingin memakanku. "Jujur saja. Tidakah mereka bisa lihat. Darahku tidak cukup untuk mereka semua. Haruskah aku berbangga menjadi idola para vampire. Aku rasa aku tidak perlu berterima kasih padamu untuk itu." "Aku akan menjagamu."ucapnya tapi itu malah membuatku tidak percaya padanya "Kau ingin aku percaya, setelah ancamanmu waktu itu. Kau pikir!." "Percayalah padaku aku akan menjagamu."ucapannya penuh tekad dan menekan setiap kata-katanya. Berharap aku mempercayainya. Aku memejamkan mataku. Merasa begitu frustasi. Hingga rasanya kepalaku berdenyut-denyut. Ini bukan berita bagus. Tapi berita mengerikan karena Seolah-olah dia baru saja mengumumkan kematianku,ya dia memang mengumumkannya dengan sangat baik. Aku merasakan kedua tangannya berada di atas bahuku. Aku membuka mataku dan dia berdiri begitu dekat denganku. Membuatku membeku. Aku mendongak menatapnya. Dia sedang menatapku juga sambil Memakaikan sesuatu di leherku. "Itu akan menjagamu."aku melihat ke arah leherku ternyata dia memberikanku Sebuah liontin yang mirip dengan lambang tato para vampire. "Jangan di lepaskan. Apapun yang terjadi kau harus tetap memakainya."Aku menarik nafas dalam-dalam. Baru sadar aku menahan nafasku sejak tadi. Sebelah tanganku terangkat. Memperhatikan bentuk liontin itu. "Ini mirip.. "Ucapanku terhenti karena Jensen sudah menjawabnya. "Ya.."Jawab nya singkat. "Cukup bagus."jujur ini memang bagus. Sangat bagus. Warnanya kuning keemasan. Liontinnya tidak terlalu besar. Berbentuk bulat kecil. "Aku harus pergi. Sampai bertemu besok di Kantor." aku mengangguk, sebelah tangan Jensen terangkat. Menyentuh pipiku membuatku kembali menahan nafas aku bahkan bisa merasakan bahwa jantungku berdegub dengan cepat. Dia tersenyum. "Wajahmu memerah."Aku merasa wajahku memanas. Aku tidak pernah sedekat ini dengan pria manapun selain James. Ini benar-benar membuatku gugup. bahkan sangat gugup. Aku terkejut, Jensen sudah berada di ambang pintu Apartemenku. Menoleh padaku sebentar sebelum akhirnya pergi meninggalkanku sendirian. "Bernafaslah Liana."gumamku. Karena Merasa begitu kacau. Aku mengambil gelas kopiku yang berada di atas meja. Menegguknya. Lalu mengecap. Merasakan rasa sedikit aneh pada kopiku. Aku mengedikan bahu. Mengabaikan rasanya yang agak aneh dan menengguknya hingga habis tak tersisa. *** Jensen menekan tombol lift. Sebelah tangannya mengeluarkan sebuah botol kecil yang terdapat cairan merah pekat di dasar botolnya dengan warna seperti darah. *** Liana baru saja selesai mandi dan memakai piyamanya. Liana menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dan menatap kagum pada kalung yang Jensen berikan padanya. Liana tak mengerti. Melindungi dirinya dari vampire dengan kalung ini. Apa maksudnya. Lalu bagaimana cara kerjanya Liana pun tak mau ambil pusing akan hal itu. Liana menyiapkan seragam untuknya pergi bekerja besok. Setelah selesai dan memakai pelembab. Liana beringsut naik ke atas tempat tidur. Berbaring miring seraya menatap kalungnya. Tiba-tiba Liana merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Rasanya seperti panas dan terbakar. Liana mulai menggeliat. Merasakan rasa terbakar pada tubuhnya. Dan itu bertitik pusat pada bahu sebelah kirinya. Rasanya sakit sekali. Seolah-olah kulitnya sedang di kuliti hingga terlepas dari tubuhnya. "Akhhhhhhhhhhhh..."rintihan lolos dari bibir Liana. Tiba tiba angin berhembus dengan kencang. Dan pintu kamarnyapun terbuka. Jensen berlari ke arahnya. Membuat Liana menatapnya dengan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Jensen memeluk tubuhnya erat. Liana meronta-ronta berteriak merasakan rasa sakit yang seakan-akan kulitnya sedang dirobek dengan paksa. "Sakit Jensen.... Rasanya sakit sekali."Keringat, dan air mata. Dan jeritan yang teredam dalam pelukan Jensen. Liana tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Rasa sakit itu semakin hebat. Membuatnya ingin mati saja. Merasa begitu putus asa. Liana mencengkram kemeja Jensen dengan kuat,sementara Jensen memeluk Liana begitu erat hingga tak lama tubuh Liana mulai melemah. Jeritan kesakitannya teredam dalam dekapan Jensen. Cengkraman tangannya juga mulai melemah. Nafasnya mulai teratur. "Semua akan baik-baik saja. Ini tidak akan lama."gumam Jensen tepat di telinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD